KKK
KKK
NAMA : JABRODIN
NIM : 19300419
B.
- LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA PASCA AMANDEMEN UUD 1945
1. Majlis Permusyawaratan Rakyat (MPR)
Sebelum amandemen MPR adalah pemegang kekuasaan negara tertinggi atau
pemegang kedaulatan rakyat. Sebagai pemegang kekuasaan negara tertinggi, MPR
membawahi lembaga- lembaga negara yang lain. Tetapi setelah amandemen pemegang
kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilakukan menurut UndangUndang Dasar.
Perubahan itu mengisyaratkan bahwa kedudukan MPR tidak lagi sebagai lembaga
tertinggi negara, dan tidak lagi memegang kedaulatan rakyat. Perubahan tersebut juga
berimplikasi pada pengurangan kewenangan MPR, yaitu MPR tidak lagi berwenang
memilih Presiden dan Wakil Presiden. Susunan MPR terdiri atas anggota Dewan
Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih melalui
pemilihan umum.
Sebagai Lembaga Negara, MPR mempunyai tugas dan wewenang sebagai
berikut:
a. Mengubah dan menetapkan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Melantik Presiden dan/atau Wakil Presiden hasil pemilihan umum;
c. Memutuskan usul DPR untuk memberhentikan Presiden dan/ atau Wakil Presiden
dalam masa jabatannya, setelah Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa Presiden
dan/atau Wakil Presiden terbukti melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan
terhadap Negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan
tercela dan/atau terbukti bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi
syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden;
d. Melantik Wakil Presiden menjadi Presiden apabila Presiden mangkat, berhenti,
diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya;
e. Memilih Wakil Presiden dari 2 (dua) calon yang diusulkan oleh Presiden apabila
terjadi kekosongan jabatan Wakil Presiden dan masa jabatannya; dan
f. Memilih Presiden dan Wakil Presiden apabila keduanya mangkat, berhenti,
diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya secara
bersamaan, dari 2 (dua) pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang diusulkan
oleh partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calon Presiden dan Wakil
Presidennya meraih suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan umum
sebelumnya, sampai berakhir masa jabatannya.
Keanggotaan Majlis Permusyawaratan Rakyat (MPR) diresmikan dengan
keputusan Presiden. Sedangkan masa jabatan anggota MPR adalah 5 (lima) tahun dan
berakhir pada saat anggota MPR yang baru mengucapkan sumpah/janji.
2. Dewan Perwakilan Rakyat ( DPR )
Setelah amandemen UUD 1945, terjadi pergeseran kekuasaan Presiden dalam
membentuk undang-undang, yang diatur dalam pasal 5, berubah menjadi Presiden
berhak mengajukan rancangan undang-undang, dan Dewan Perwakilan Rakyat
memegang kekuasaan membentuk undang-undang (pasal 20). Pergeseran kewenangan
membentuk undang-undang dari sebelumnya di tangan Presiden dan dialihkan kepada
DPR merupakan langkah konstitusional untuk meletakkan secara tepat fungsi-fungsi
lembaga negara sesuai bidang tugasnya masing-masing, yakni DPR sebagai lembaga
pembentuk undang-undang (kekuasaan legislatif) dan Presiden sebagai lembaga
pelaksana undang-undang (kekuasaan eksekutif). Perubahan UUD 1945 yang tercakup
dalam materi tentang Dewan Perwakilan Rakyat dimaksudkan untuk memberdayakan
DPR dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga perwakilan yang dipilih oleh
rakyat untuk memperjuangkan aspirasi dan kepentingannya.
DPR terdiri atas anggota partai politik peserta pemilihan umum yang dipilih
melalui pemilihan umum, yang berkedudukan sebagai lembaga negara. DPR
mempunyai fungsi:
a. Legislasi, dilaksanakan sebagai perwujudan DPR selaku pemegang kekuasaan
membentuk undang-undang.
b. Anggaran, dilaksanakan untuk membahas dan memberikan persetujuan atau tidak
memberikan persetujuan terhadap rancangan undang-undang tentang APBN yang
diajukan oleh Presiden.
c. Pengawasan, dilaksanakan melalui pengawasan atas pelaksanaan undang-undang dan
APBN.
Anggota DPR berjumlah 560 (lima ratus enam puluh) orang, berdomisili di ibu
kota Negara Republik Indonesia, hal tersebut dilakukan untuk menjamin
kelancaranpelaksanaan tugas dengan penuh waktu. Masa jabatan anggota DPR adalah 5
(lima) tahun dan berakhir pada saat anggota DPR yang baru mengucapkan sumpah/
janji. Keanggotaannya diresmikan dengan keputusan Presiden.
3. Dewan Perwakilan Daerah ( DPD)
Lembaga baru yang muncul melalui perubahan ketiga UUD 1945 antara lain
Dewan Perwakilan Daerah ( DPD ). Hadirnya DPD dalam struktur ketatanegaraan
Indonesia diatur dalam Pasal 22 C dan 22 D UUD 1945. Dewan Perwakilan Daerah
( DPD ) terdiri atas wakil daerah provinsi yang dipilih melalui pemilihan umum, yang
berkedudukan sebagai lembaga negara.
DPD mempunyai fungsi:
a. Pengajuan usul kepada DPR mengenai rancangan undang-undang yang berkaitan
dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta
penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi
lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah;
b. Ikut dalam pembahasan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi
daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan, pemekaran, dan penggabungan
daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta
perimbangan keuangan pusat dan daerah;
c. Pemberian pertimbangan kepada DPR atas rancangan undang-undang tentang
anggaran pendapatan dan belanja negara dan rancangan undangundang yang berkaitan
dengan pajak, pendidikan, dan agama; dan
d. Pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah,
pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah,
pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya,pelaksanaan APBN,
pajak, pendidikan, dan agama.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah dari setiap provinsi ditetapkan sebanyak 4
(empat) orang,yang keanggotaannya diresmikan oleh keputusan Presiden. Dan secara
keseluruhan jumlah anggota DPD tidak lebih dari 1/3 (satu pertiga) dari jumlah anggo-
ta Dewan Perwakilan Rakyat. Dalam menjalankan tugasnya, anggota DPD berdomisili
di dae rah pemilihannya dan mempunyai kantor di ibu kota provinsi daerah
pemilihannya, dengan masa jabatannya 5 (lima) tahun dan berakhir pada saat anggota
DPD baru mengucapkan sumpah/janji.
4. Presiden dan Wakil Presiden
Pada pasal 6 UUD 1945 sebelum amandemen tertulis “Presiden dan Wakil
Presiden dipilih oleh MPR dengan suara terbanyak” Pasal tersebut diubah menjadi
“Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat”
(pasal 6A ayat (1). Perubahan ini diharapkan rakyat dapat berpartisipasi secara
langsung menentukan pilihannya sehingga tidak mengulang kekecewaannya yang
pernah terjadi pada Pemilu 1999. Dan dengan perubahan ini pula diharapkan Presiden
dan Wakil Presiden akan memiliki otoritas dan legitimasi yang sangat kuat karena
dipilih langsung oleh rakyat.
Selanjutnya hasil perubahan UUD 1945 yang berkaitan langsung dengan
kekuasaan Presiden dan Wakil Presiden, adalah pembatasan kekuasaan Presiden
sebagaimana diatur dalam pasal 7 (lama), yang ber- bunyi “Presiden dan Wakil
Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali”.
Kemudian pasal 7 tersebut diubah, yang bunyinya menjadi “ Presiden dan Wakil
Presiden memegang jabatannya selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih
kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan”. Perubahan
pasal ini dipandang sebagai langkah yang tepat untuk mengakhiri perdebatan tentang
periodesasi jabatan Presiden dan Wakil Presiden.
Sebelum ada perubahan pasal 13, Presiden sebagai kepala Negara mempunyai
wewenang untuk menentukan sendiri duta dan konsul serta menerima duta negara lain,
tetapi setelah adanya perubahan”dalam hal mengangkat duta dan menerima penempatan
duta negara lain, Presiden memperhatikan pertimbangan DPR”. Perubahan ini penting
dengan alasan: (1) dalam rangka menjaga objektivitas terhadap kemampuan dan
kecakapan seseorang pada jabatan tersebut, karena ia akan menjadi duta dari seluruh
rakyat Indonesia di negara lain; dan (2) dalam rangka membangun akurasi informasi
untuk kepentingan hubungan baik antara kedua negara dan bangsa.
Pasal 14 hasil amandemen berbunyi sebagai berikut: (1) Presiden memberi
grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung. (2)
Presiden memberi amnesti dan abolisi dengan memperhatikan pertimbangan Dewan
Perwakilan Rakyat.
Alasan perlunya Presiden memperhatikan MA dalam hal memberi grasi dan
rehabilitasi, pertama: grasi dan rehabilitasi itu adalah proses yustisial dan biasanya
diberikan kepada orang yang sudah mengalami proses; dan kedua: grasi dan rehabilitasi
lebih banyak bersifat perorangan. Sedangkan perlunya Presiden memperhatikan DPR
dalam hal memberi amnesti dan abolisi, pertama: amnesti dan abolisi lebih bersifat
politik; dan kedua: amnesti dan abolisi lebih bersifat massal.
Perubahan lain terjadi pada pasal 15, berbunyi sebagai berikut: “Presiden
memberi gelar, tanda jasa, dan lain-lain tanda kehormatan yang diatur dengan undang-
undang”. Perubahan dilakukan agar Presiden dalam memberikan berbagai tanda
kehormatan kepada siapapun (baik warga negara, orang asing, badan atau lembaga)
didasarkan pada undang-undang yang merupakan hasil pembahasan DPR bersama
pemerintah, sehingga berdasarkan pertimbangan yang lebih objektif.
5. Mahkamah Agung
Perubahan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah membawa
perubahan dalam kehidupan ketatanegaraan, khususnya dalam pelaksanaan kekuasaan
kehakiman. UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan bahwa
Indonesia adalah negara hukum. Prinsip ini semula dimuat dalam penjelasan, yang ber
bunyi:”Negara Indonesia berdasar atas hukum (rechtsstaat) tidak berdasar atas
kekuasaan belaka (machtsstaat)”. Disamping itu,ada prinsip lain yang erat dengan
prinsip negara hukum yang juga di muat dalam penjelasan:”Pemerintahan berdasarkan
atas sistem konstitusi (hukum dasar), tidak bersifat absolutisme (kekuasaan yang tidak
terbatas)”. Prinsip ini mengandung makna bahwa ada pembagian kekuasaan negara dan
pembatasan kekuasaan (tidak absolute dengan kekuasaan tidak terbatas). Dengan
ketentuan baru ini, maka dasar sebagai negara berdasarkan atas hukum mempunyai
sifat normatif, bukan sekadar asas belaka. Sejalan dengan ketentuan tersebut maka
salah satu prinsip penting negara hukum adalah jaminan penyelenggaraan kekuasaan
kehakiman yang merdeka, bebas dari pengaruh kekuasaan lainnya untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.
Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan
peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan
peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha Negara,
dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.
Kekuasaan kehakiman yang mandiri diangkat dari penjelasan menjadi materi
Batang Tubuh UUD 1945. Hal ini lebih menguatkan konsep negara hukum Indonesia.
Sejalan dengan hal tersebut, untuk memperkuat prinsip kekuasaan kehakiman yang
merdeka, sesuai dengan tuntutan reformasi di bidang hukum telah dilakukan perubahan
terhadap UU No.14 Tahun 1970 tentang Kekuasaan Kehakiman dengan UU No. 35
Tahun 1999 tentang perubahan atas UU No. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan
ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman, dan telah dicabut dengan UU No. 4 Tahun
2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Melalui perubahan tersebut telah diletakan
kebijakan bahwa segala urusan mengenai peradilan baik yang menyangkut teknis
yudisial maupun urusan organisasi, administrasi, dan finansial berada di bawah satu
atap di bawah kekuasaan Mahkamah Agung. Hal ini dianggap penting dalam rangka
perwujudan kekuasaan kehakiman yang menjamin tegaknya negara hukum yang di
dukung oleh sistem kekuasaan kehakiman yang independen dan impartial. Selanjutnya
mengenai pengangkatan, pemberhentian, tugas pokok dan fungsi serta yang lainnya
yang berkaitan dengan Hakim Agung atau Mahkamah Agung di atur oleh UU Republik
Indonesia No. 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU No. 14 Tahun 1985 tentang
Mahkamah Agung.
6. Mahkamah Konstitusi
Perubahan UUD 1945 melahirkan lembaga baru di bidang kekuasaan
kehakiman yaitu Mahkamah Konstitusi, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 24 ayat
(2), yang berbunyi sebagai berikut: “Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah
Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan
peradilan umum, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah
Konstitusi”.
Berkenaan dengan tugas dan wewenang Mahkamah Konstitusi, Pasal 24C
menegaskan bahwa “Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama
dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap
UUD, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan
oleh UUD, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil
pemilihan umum. Di samping itu, Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan
atas pendapat DPR mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil
Presiden menurut UUD. Perlu dicatat bahwa putusan ini sifatnya tidak final karena
tunduk pada (subject to) putusan MPR, lembaga politik yang berwenang
memberhentikan Presiden (Pasal 7A).
Pada mulanya memang tidak dikenal adanya Mahkamah Konstitusi. Bahkan,
keberadaan gagasan Mahkamah Konstitusi itu sendiri di dunia memang dapat dikatakan
relatif masih baru. Oleh karena itu, ketika UUD 1945 dirumuskan, gagasan Mahkamah
Konstitusi ini belum muncul. Perdebatan yang muncul ketika merumuskan UUD 1954
adalah perlu tidaknya UUD 1945 mengakomodir gagasan hak uji materiil ke dalam
kekuasaan kehakiman. Namun, di kalangan negara-negara yang mengalami perubahan
dari otoritarian menjadi demokrasi pada perempatan terakhir abad ke-20, ide
pembentukan Mahkamah Konstitusi ini menjadi sangat popular. Oleh karena itu setelah
Indonesia memasuki era reformasi dan demokratisasi dewasa ini, ide pembentukan
Mahkamah Konstitusi itu menjadi sangat luas diterima.
Dalam prakteknya tidak ada keseragaman di negara-negara di dunia ini
mengenai kewenangan Mahkamah Konstitusi, melainkan disesuaikan dengan sejarah
dan kebutuhan masing-masing negara. Ada konstitusi negara yang menyatukan fungsi
Mahkamah Konstitusi ke dalam Mahkamah Agung, ada pula konstitusi negara yang
memisahkannya sehingga dibentuk dua badan kekuasaan kehakiman yaitu MA dan
MK.
7. Komisi Yudisial (KY)
Sebenarnya ide tentang perlunya suatu komisi khusus untuk menjalankan
fungsi-fungsi tertentu yang berhubungan dengan kekuasaan kehakiman bukanlah hal
yang baru. Dalam pembahasan RUU tentang ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan
Kehakiman sekitar tahun 1968, sempat diusulkan pembentukan lembaga yang diberi
nama Majelis Pertimbangan Penelitian Hakim (MPPH). Majelis ini berfungsi
memberikan pertimbangan dan mengambil keputusan terakhir mengenai saran-saran
atau usul-usul yang berkenaan dengan pengangkatan, promosi, kepindahan,
pemberhentian, dan tindakan atau hukuman jabatan para hakim, yang diajukan, baik
oleh MA maupun Menteri Kehakiman.
Ide tersebut muncul kembali dan menjadi wacana kuat sejak adanya desakan
penyatuan atap bagi hakim tahun 1998-an. Sebagaimana diketahui, pada tahun 1998
MPR mengeluarkan Ketetapan MPR RI No. X/MPR/1998 tentanul ke Pokok-pokok
Reformasi Pembangunan Dalam Rangka Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan
Nasional sebagai Haluan Negara. TAP MPR tersebut menyatakan perlunya segera
diwujudkannya pemisahan yang tegas antara fungsi-fungsi yudikatif dan eksekutif.
Namun, ternyata masalahnya tidak sesederhana itu. Setelah adanya komitmen
politik untuk memberlakukan penyatuan atap pemindahan kewenangan administrasi,
personel, keuangan dan organisasi pengadilan dari departemen ke MA – muncul
kekhawatiran baru dikalangan pemerhati hukum dan organisasi non pemerintah yaitu
kekhawatiran akan lahirnya monopoli kekuasaan kehakiman oleh MA. Selain itu, ada
kekhawatiran pula bahwa MA tidak akan mampu menjalankan tugas barunya itu dan
hanya mengulangi kelemahan yang selama ini dilakukan oleh departemen. Untuk
menghindari permasalahan-permasalahan diatas, kalangan pemerhati hukum dan
organisasi non pemerintah menganggap perlu dibentuk Komisi Yudisial. Komisi ini
nantinya diharapkan dapat memainkan fungsi-fungsi tertentu dalam system yang baru,
khususnya rekrutmen hakim agung dan pengawasan terhadap hakim.
Untuk itu, perubahan UUD 1945 merumuskan kewenangan Komisi Yudisial
sebagaimana tercantum dalam pasal 24B dengan rumusan sebagai berikut:
(1) Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan
hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan
kehormatan, keluhuran martabat, serta prilaku hukum.
(2) Anggota Komisi Yudisial harus memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang
hukum serta memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela.
(3) Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan
persetujuan DPR.
(4) Susunan, kedudukan, dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan undang-
undang.
Berdasarkan ketentuan Pasal 24B ayat (4) UUD 1945 di atas, dikeluarkanlah
UU No. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisal. Menurut ketentuan Pasal I angka I
ditegaskan bahwa Komisi Yudisial adalah lembaga negara sebagaimana dimaksud
dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Lebih lanjut, dalam Pasal 2
ditegaskan, bahwa Komisi Yudisial merupakan lembaga negara yang bersifat mandiri
dan dalam pelaksanaan wewenangnya bebas dari campur tangan atau pengaruh
kekuasaan lainnya.
Dari penegasan diatas dapat diketahui bahwa kedudukan Komisi Yudisial
dalam struktur ketatanegaraan Indonesia adalah termasuk kedalam lembaga setingkat
dengan Presiden dan bukan lembaga pemerintahan yang bersifat khusus atau lembaga
khusus yang bersifat indipenden yang dalam istilah lain disebut lembaga negara
mandiri (state auxiliary institution).
Melalui lembaga ini diharapkan dapat diwujudkan lembaga peradilan yang
sesuai dengan harapan rakyat sekaligus dapat diwujudkan penegakan hukum dan
pencapaian keadilan melalui putusan hakim yang terjaga kehormatan dan keluhuran
martabat serta perilakunya.
8. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
Cikal bakal ide pembentukan Badan Pemeriksa Keuangan berasal dari Raad
van Rekenkamer pada zaman Hindia Belanda. Beberapa negara lain juga mengadakan
lembaga yang semacam ini untuk menjalakan fungsi-fungsi pemeriksaan atau sebagai
external auditor terhadap kinerja keuangan pemerintah. Misalnya, di RRC juga terdapat
lembaga konstitusional yang disebut Yuan Pengawas Keuangan sebagai salah satu pilar
kelembagaan yang penting. Fungsi pemeriksaan keuangan yang dikaitkan dengan
lembaga ini sebenarnya terkait erat dengan fungsi pengawasan oleh parlemen. Oleh
karena itu, kedudukan kelembagaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ini
sesungguhnya berada dalam ranah kekuasaan legislatif, atau sekurangkurangnya
berhimpitan dengan fungsi pengawasan yang dijalankan oleh DPR. Oleh karena itu,
laporan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan ini harus
dilaporkan atau disampaikan kepada DPR untuk ditindaklanjuti sebagaimana mestinya.
Sebelum dilakukan perubahan UUD 1945, kelembagaan BPK diatur dalam
Pasal 23 ayat (5) berada dalam Bab VIII tentang Hal Keuangan, yang berbunyi: “
Untuk memeriksa tanggung jawab tentang keuangan negara diadakan suatu Badan
Pemeriksa Keuangan, yang peraturannya ditetapkan dengan undang-undang. Hasil
pemeriksaan itu diberitahukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat.” Setelah ada
perubahan UUD 1945 kelembagaan BPK diatur tersendiri dalam Bab VIIIA tentang
Badan Pemeriksa Keuangan. Pasal 23E menentukan bahwa: “ (1) Untuk memeriksa
pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara diadakan suatu Badan
Pemeriksa Keuangan yang bebas dan mandiri; (2) Hasil pemeriksaan keuangan itu
diserahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah, sesuai dengan kewenangannya; (3) Hasil pemeriksaan
tersebut ditindaklanjuti oleh lembaga perwakilan dan/atau badan sesuai denagn undang-
undang”. Pasal 23F menentuakan bahwa: “(I) Anggota Badan Pemeriksa Keuangan
dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan
Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden;(2) Pimpinan Badan Pemeriksa
Keuangan dipilih dari dan oleh anggota”. Pasal 23G menentukan bahwa: “(I) Badan
Pemeriksa Keuangan berkedudukan di ibukota negara, dan memiliki perwakilan di
setiap provinsi; (2) ketentuan lebih lanjut mengenai Badan Pemeriksa Keuangan diatur
dengan undang-undang.”
Dipisahkannya Badan Pemeriksa Keuangan dalam bab tersendiri (Bab VIIIA),
yang sebelumnya merupakan bagian dari Bab VIII tentang Hal Keuangan, dimaksudkan
untuk memberi dasar hukum yang lebih kuat serta pengaturan lebih rinci mengenai
BPK yang bebas dan mandiri serta sebagai lembaga dengan fungsi memeriksa
pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Dengan adanya ketentuan mengenai
hal ini dalam UUD 1945, diharapkan pemeriksaan terhadap pengelolaan dan tanggung
jawab keuangan negara dilakukan secara lebih optimal. Dengan demikian, diharapkan
meningkatkan transparansi dan tanggungjawab (akuntabilitas) keuangan negara.
Menurut saya, kehadiran lembaga baru tersebut ada yang efektif dan ada yang
tidak efektif dalam melakukan tugas dan tanggung jawabnya, misalnya pada DPR bisa
saja menjadi Koruptor.
C.
4. Berbagai permasalahan pada aspek administrasi negara yang muncul selama
ini berkaitan dengan citra dan kinerja administrasi negara yang belum dapat
memenuhi keinginan masyarakat banyak. Pemasalahan administrasi negara
tersebut saling terkait dan mempengaruhi, mulai dari hubungan dan
kewenangan antar lembaga negara, sistem pemerintahan, kelembagaan
(institusi pemerintah dan institusi diluar pemerin-tah yang semakin bertambah
seperti komisi-komisi dan badan atau dewan-dewan), pengelolaan keuangan
negara, kinerja pelayanan publik yang masih buruk, hubungan kelembagaan
antara pusat dan daerah, dan SDM aparatur yang kurang atau belum
profesional.
Rendahnya kualitas pelayanan publik merupakan salah satu sorotan yang
diarahkan kepada pemerintah. Perbaikan pelayan-an publik di era
reformasi merupakan harapan seluruh masyarakat, namun dalam
perjalanan reformasi yang memasuki tahun ke enam, ternyata tidak
mengalami perubahan yang signifikan. Berbagai tanggapan masyarakat
justru cenderung menunjukkan bahwa berbagai jenis pelayanan publik
mengalami kemunduran yang utamanya ditandai dengan banyaknya
penyimpangan dalam layanan publik tersebut. Sistem dan prosedur
pelayanan yang berbelit-belit, lambat, mahal, tertutup, dan diskriminatif,
serta berbudaya bukan melayani melainkan dilayani. Di samping itu
rendahnya partisipasi masyarakat dalam menggerakkan fungsi-fungsi
pelayanan mengakibatkan monopoli yang tak terkendali, dan belum
adanya standar tolok ukur terhadap optimalisasi pelayanan publik oleh
aparatur kepada masyarakat dapat menimbulkan kesulitan dalam
pengukuran kinerja pelayanannya.
Sejak diberlakukannya otonomi daerah, pelayanan publik menjadi ramai
diperbincangkan, karena pelayanan publik merupakan salah satu variabel yang menjadi
ukuran keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah. Apabila pelayanan publik yang
dilakukan oleh pemerintah daerah baik/berkualitas, maka pelaksanaan otonomi daerah
dapat dikatakan berhasil. Di samping sudah menjadi keharusan bagi
pemerintah/pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas berbagai pelayanan yang
diberikan kepada masyarakat, isu tentang kualitas pelayanan publik ini juga dipicu
adanya pengaruh perubahan paradigma ilmu administrasi, termasuk perubahan global
yang terjadi di berbagai bidang kehidupan dan di berbagai belahan dunia. New Public
Service (NPS) sebagai paradigma terbaru dari administrasi negara/publik meletakkan
pelayanan publik sebagai kegiatan utama para administrator negara/daerah. Salah satu
intisari dari prinsip NPS adalah bagaimana administrator publik mengartikulasikan dan
membagi kepentingan (shared interests) warga negara.
Sebelumnya, istilah public administration selalu diarahkan kepada administrasi
negara, dan tentu saja orientasi administrasi negara dalam prakteknya pada masa itu
lebih cenderung kepada “negara” sebagai sesuatu yang harus diikuti, ditakuti, dan
dilayani. Apapun kalau untuk negara, maka semuanya harus ikut dan harus turut.
Semua energi dan pikiran harus disumbangkan untuk negara.
Optimalisasi pelayanan publik berbasis digital semakin penting guna
memperkuat tata pemerintahan dan demokrasi. Namun hingga kini, masih banyak
kelemahan dan hambatan dalam proses Digital Public Service ini. Kemajuan teknologi
khususnya dalam penyediaan kemudahan pelayanan publik juga harus didukung dengan
kesiapan sumber daya manusia yang unggul sebagai aktor pengelola teknologi itu
sendiri. Selain itu, masalah adaptasi juga menjadi salah satu tantangan besar masyarakat
untuk menyesuaikan diri dari transisi manual ke arah digital sehingga edukasi yang
tepat sasaran ini menjadi penting dilakukan. Begitu pula dengan beberapa hambatan
yang harus siap siaga ditangani seperti gangguan jaringan dalam mengakses pelayanan
publik. Dalam hal ini permasalahan terkait dengan implementasi pelayanan publik
berbasis digital dibagi menjadi tiga fokus permasalahan dimana nantinya akan
menghasilkan alternatif solusi yang bisa diterapkan Pemerintah Kota Bandung. Fokus
permasalahan tersebut yakni 1) sumber daya manusia yang belum optimal dalam
memanfaatkan pelayanan publik berbasis digital, 2) penggunaan aplikasi-aplikasi
pelayanan publik yang belum efektif, dan 3) aplikasi pelayanan publik yang digunakan
masih sering mengalami gangguan seperti server down serta rendahnya kapasitas SDM
(Sumber Daya Manusia), khususnya pegawai pemerintahan di bidang Teknologi
Informasi dan Komunikasi. Oleh sebab itu, masalah ini merupakan masalah vital yang
penting untuk segera diselesaikan melalui penguatan sinergi antara pemerintah dan
seluruh elemen masyarakat.
Contoh Masalah Pelayanan Publik dalam proses “PEMBUATAN KARTU
KELUARGA” Masalah pelayanan publik yang diberikan oleh aparatur pemerintahan
menjadi keluhan utama masyarakat. Ini disebabkan karena dalam proses pelayanan
sering kali tidak sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan. Padahal standar
pelayanan minimal (SPM) dalam setiap instansi pemerintahan pasti ada. Inilah
permasalahan dari implementasi penyelenggara pemerintahan.
Hal-hal yang sering dikeluhkan masyarakat terhadap proses pelayanan publik,
khususnya mengenai masalah pembuatan kartu keluarga, adalah sebagai berikut:
1. Terjadinya Diskriminasi dalam Memberikan Pelayanan
Ini memang bukan rahasia lagi, karena hal ini sudah biasa dan sering terjadi
di lapangan. Banyak masyarakat sudah menjadi korban dari adanya diskriminasi dalam
pelayanan publik. Diskriminasi ini bisa menyangkut hubungan kekerabatan,
pertemanan, keluarga, etnis, status sosial dan lain sebagainya.Bisa dilihat bagaimana
seorang aparatur pemrintahan masih padang bulu dalam memberikan pelayanan.
Misalnya, dalam memberikan pelayanan dalam pembuatan KK akan berbeda sikap dan
tata cara aparatur pemerintahan menerima orang berdasi dengan orang tidak berdasi.
Kalau kepada orang berdasi biasanya para petugas sangat ramah, tetapi kalau orang
biasa raut mukanya bisa berubah 180 derajat.
2. Sering Terjadinya Pungli
Dalam memberikan pelayanan publik biasanya para petugas menawarkan
dua cara kepada masyarakat, yaitu cara cepat dan lambat. Cara cepat inilah yang kita
maksud sebagai proses pungli. Biasanya cara cepat ini membutuhkan biaya yang tinggi.
Dalam hal ini yang menjadi korban adalah masyarakat yang tidak memiliki uang atau
masyarakat miskin.
Dalam pembuatan KK biasanya pungli sering dilakukan. Dengan beribu
alasan para petugas menyatakan proses pembuatan KK membutuhkan waktu yang
lama. Padahal pembuatan KK hanya membutuhan berapa jam saja.
3. Tidak Adanya Kepastian
Dalam memberikan pelayanan publik juga, instansi pemerintahan biasanya
tidak memberikan kepastian, baik itu dari waktu dan biaya yang dibutuhkan. Dengan
ketidak ada pastian inilah maka aparat pemerintah sering melakukan KKN. Ini
merupakan peluang bagi aparatur pemerintahan untuk meningkatkan income dengan
cara tidak baik. Dalam pembuatan KK biasanya petugas meminta uang supaya waktu
penyelesaiannya cepat. Inilah potret dari pelayanan publik di negeri ini.
Tiga masalah di ataslah yang menjadi inti dari keluhan masyarakat dalam
proses pelayanan. Tidak hanya terjadi pada proses pebuatan KK, tetapi ini terjadi di
semua proses pelayanan public lainnya.
·
Solusi Masalah Pelayanan Publik :
Dalam memperbaiki pelayanan publik kepada masyarakat, pemerintah harus
segera bisa mengubah paradigma para aparatur dari mau dilayani menjadi pelayan,
karena fungsi utama dari pemerintahan adalah memberikan pelayanan. Fungsi
pelayanan inilah yang sering dilupakan oleh para birokrat.
Hal-hal yang harus dilakukan untuk memperbaiki pelayanan publik, khususnya
pembuatan KK, diantaranya:
1. Memperbaiki Sistem Rekrutmen
Sistem rekrutmen sangat penting, karena inilah awal dari adanya aparatur
pemerintahan. Seleksi aparatur pemerintahan harus diperketat lagi dan tesnya harus
diperbaiki, sehingga mampu menghasilkan pegawai yang professional.
2. Memberikan Sangsi yang Tegas
Dalam proses pelayanan sering kali petugas tidak melakukan apa yang sudah
diatur dalam aturan, sehingga masyarakat tidak mendapatkan kepuasan. Petugas yang
sering melanggar harus diberikan sangsi yang tegas, kalau perlu dipecat. Dengan
adanya sangsi yang tegas ini diharapkan para aparatur pemerintahan tidak berani
melakukan tindakan yang melanggar aturan.
3. Mempermudah Proses
Proses pembuatan KK yang bisa dikatakan berbelit-belit sering mengundang
untuk terjadinya pungli. Jadi dalam pembuatan KK harus disederhanakan, supaya
masyarakat senang mengurus dan membuat KK.
4. Pelatihan dan Pendidikan Berkala
Pemerintah juga harus melakukan pendidikan dan pelatihan secara berkala bagi
aparatur pemerintahan, sehingga memiliki kapabilitas dan profesionalitas tinggi dalam
melayani masyarakat.