Buku Pendidikan Diniyah Formal
Buku Pendidikan Diniyah Formal
Pasal 2
(1). Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta dan Pemegang Hak
Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang timbul
secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi
pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 72
(1). Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.
1.000.000,- (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh)
tahun dan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,- (lima miliar
rupiah).
(2). Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, meng-
edarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil
pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud
pada Pasal 2 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5
(lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima
ratus juta rupiah).
ii
iii
PENDIDIKAN DINIYAH FORMAl
Pusat Kaderisasi Ulama Toleran
Penulis:
Mulyani Mudis Taruna
Editor:
Dani Muhtada, Ph.D.
Layout Isi:
Yuli Pratiwi
Desain Cover:
Abu Fadhel
Diterbitkan oleh:
PUSTAKA RIZKI PUTRA
Jl. Hayam Wuruk No. 42-G Semarang
Telp. (024) 8449557 Faks. (024) 8311268
Email: [email protected]
Anggota IKAPI
ISBN: 978-602-6244-43-7
iv
KATA PENGANTAR PENULIS
v
menciptakan “majikan” minimal untuk dirinya sendiri
menjadi lembaga yang berorientasi pada profan.
vi
Membaca buku ini paling tidak memunculkan empat
pertanyaan mendasar, yaitu pertama, mungkinkah pen-
didikan diniyah menjadi lembaga pendidikan formal
sebagaimana sekolah formal pada umumnya? Hal ini karena
pendidikan diniyah dalam sejarahnya adalah lembaga
pendidikan non formal. Kedua, Kalau ada ulama toleran
maka secara implisit terdapat ulama yang intoleran,
bagaiman dengan ulama yang didik pada Pendidikan Diniyah
Formal (PDF) Ulya Al Fithrah? dan yang ketiga benarkah
pendidikan diniyah yang diformalkan dapat dijadikan pusat
kaderisasi ulama? lalu bagaimana dengan pondok pesantren
salafiyah yang selama ini memproduk ulama-ulama penerus
ulama salafussholih sebagai pertanyaan yang keempat. Dari
keempat pertanyaan tersebut dijawab dalam buku ini
melalui kajian riset yang mendalam.
Surabaya, 2018
vii
viii
KATA PENGANTAR EDITOR
Oleh: Dani Muhtada, Ph.D.
ix
kemerdekaan, system pendidikan nasional memperkuat
dualisme pendidikan, yaitu umum (sekuler) dan agama, yang
benihnya sudah muncul sejak zaman kolonial. Lembaga
pendidikan umum berada di bawah Kementerian Pen-
didikan, sedangkan lembaga pendidikan agama menjadi
domain Kementerian Agama. Dualisme system pendidikan
ini pada gilirannya melahirkan efek samping yang kurang
menguntungkan bagi madrasah, yaitu marginalisasi
madrasah dalam konstelasi pendidikan nasional.
x
lantaran materi pendidikan umum (sekuler) menjadi
komponen mayoritas dalam kurikulum. Marjinalisasi
komponen agama dalam kurikulum madrasah itu semakin
kuat ketika pemerintah menerapkan Kurikulum Madrasah
1994, dimana proporsi mata pelajaran umum naik menjadi
82-86%, sementara proporsi pelajaran agama turun menjadi
16-18% (Azra & Afrianty, 2005).
Turunnya komponen agama dalam kurikulum madrasah
ini membuat beberapa pengelola bersikukuh memper-
tahankan identitas Islam dengan mempertahankan model
madrasah diniyah. Di madrasah diniyah ini, para peserta
didik dapat sepenuhnya belajar dan mendalami materi-
materi keagamaan, tanpa komponen mata pelajaran umum
(sekuler). Hanya saja, karena pendekatannya informal, dan
biasa dibuka siang atau sore hari selepas sekolah formal,
madrasah diniyah mengalami berbagai kendala untuk
mempertahankan eksistensinya. Baik kendala-kendala
finansial, maupun kendala yang terkait dengan minat
pesertadidik untuk belajar di madrasah. Jumlah siswa
madrasah diniyah semakin menurun, seiring dengan
semakin susahnya pengelola madrasah diniyah menarik
minat para calon guru untuk mengajar di madrasah
diniyah.Hal ini tentu mengancam eksistensi madrasah
diniyah di tengah masyarakat.
xi
diniyah. Beberapa pemerintah daerah mengeluarkan
peraturan daerah yang mencoba memperkuat eksistensi
madrasah diniyah. Mereka mewajibkan para peserta didik di
daerah masing-masing untuk juga menjadi peserta didik di
madrasah diniyah. Tidak hanya itu, di beberapa daerah,
ijazah madrasah diniyah menjadi salah satu prasyarat untuk
mendaftar di sekolah-sekolah lanjutan umum. Selain itu
penguatan kelembagaan madrasah diniyah dilakukan oleh
pemerintah dengan memberikan dukungan financial bagi
operasional madrasah, termasuk insentif tambahan bagi
guru-guru madrasah (Muhtada, 2014). Upaya “formalisasi”
madrasah diniyah ini tak pelak memberikan harapan baru
bagi penguatan eksistensi madrasah diniyah bagi pendidikan
agama di Indonesia.
xii
Mampukah pendidikan diniyah mencetak kader-kader ulama
toleran di tengah tantangan yang tidak mudah ini. Mungkin-
kah pendidikan diniyah formal mengatasi beragam tantang-
an pendidikan Islam dewasa ini, sehingga mampu me-
wujudkan Islam rahmatan lil’alamien di negeri nusantara?
Melalui buku ini, pembaca akan mendapatkan perspektif
baru tentang bagaimana madrasah diniyah memainkan
perannya di tengah masyarakat Indonesia kontemporer.
xiii
xiv
DAFTAR ISI
Bab I PENDAHULUAN___1
Pendidikan Diniyah Formal; Kajian yang masih
terbatas___9
xv
Implementasi PDF Ulya di Pondok Pesantren Al
Fithrah; Struktur Pengelolaan PDF Al
Fithrah___54
Jumlah santri PDF Al Fithrah___56
Kurikulum PDF Al Fithrah___58
Tujuan dan Ruang lingkup Mata Pelajaran___65
1. Kelompok Mata Pelajaran Keagamaan
Islam___66
2. Kelompok Mata Pelajaran Umum___87
BAB V PENUTUP___127
DAFTAR PUSTAKA___131
LAMPIRAN: PMA Nomor 13 Tahun 2014___135
TENTANG PENULIS___171
xvi
Bab I
PENDAHULUAN
Induunisiyyaa Biilaadii
Anta „Unwaanul Fakhomaa
Kullu Man Ya‟tiika Yaumaa
Toomihan Yalqi Himaamaa
Indonesia negeriku
Engkau panji martabatku
Siapa datang mengancammu
„Kan binasa di bawah dulimu
Kelahiran pondok pesantren sebagai benteng dari
kekuatan moral dan bersumber dari ajaran agama tetap saja
tidak mengalami pergeseran orientasi yaitu sebagai lembaga
pendidikan tradisional dengan kajian kitab kuning. Karakter
ini (terutama pondok pesantren salafiyah) sampai sekarang
tetap dipertahankan seperti pondok pesantren sehingga
kemandirian setelah santri lulus dari pondok pesantren
dapat dijadikan model bagi lembaga pendidikan. Pondok
pesantren menciptakan suasana kelembagaan yang serba
mandiri seperti memasak dan mencuci serta membentuk
pola kehidupan yang sederhana. Model kehidupan seperti ini
denga sendirinya akan membentuk karakter santri yang
mandiri dan biasa bekerja sendiri dan tetap pada tujuan
utamanya, yaitu memperdalam ilmu-ilmu agama. Lulusan
pesantren sebagian besar bekerja di sektor swasta daripada
menjadi pegawai negeri. Menurut A. Mukti Ali (1987: 20),
Pondok pesantren bukanlah suatu lembaga pendidikan
untuk mencetak “pegawai” yang mau diperintah oleh orang
Process
Semua input diproses dan terproses melalui
pengelolaan dan pelayanan pembelajaran kitab
kuning dan mapel umum yang dikembangkan Output
Raw-Input
dan dilaksanakan oleh Pengelola Pendidikan Kader Ulama
Santri PDF Ulya
Diniyah Formal Ulya Al Fithrah. Keterlayanan Toleran
tersebut dalam rangka transformasi isi dan nilai
yang diemban oleh kurikulum/kitab kuning dan
mata pelajaran umum. Proses ini dalam
kerangka kaderisasi ulama toleran
Data
Collection
Data
Data Display
Reduction
Conclusion
Drawing/Verifying
3
Menurut Achmad Kunawi (Kepala PDF Ulya Al Fithrah), sebelum
KH. Achmad Asrori Al Ishaqy meninggal dunia telah memberikan sinyal,
yaitu ketika memimpin jamiahan di masjid selalu ijin karena kondisi fisik
yang lagi sakit dan menunjuk diantara jamaah thariqat untuk memimpin
menggantikan dirinya. Pada setiap permintaan penggantian imam selalu
berganti-ganti yang diminta sehingga para tokoh thariqat merasa diangkat
derajatnya. Kegiatan seperti ini terus terjadi sampai pada akhirnya KH.
Ahmad Asrory Al Ishaqy meninggal dunia tidak menunjuk satu muridpun
yang menjadi mursid. Disinilah Thariqat Naqsyabandiyah Qadiriyah
Usmaniyah menjadi sangat populer dan semakin bertambah jamaahnya
karena dipimpin berdasarkan koletif kolegial.
5
Secara akademis, tenaga pendidik memiliki latarbelakang
pendidikan S.1 dan S.2. Namun demikian, pada tataran praktis tidak
semua guru mengajar atau memegang mata pelajaran sesuai dengan
ijazah atau kompetensi yang dimiliki. Sebagai salah satu contoh adalah
lulusan S.1 dari jurusan Tafsir/Hadis mengajar mata pelajaran
matematika. Meskipun secara keilmuan mumpuni, hal ini dapat
dibuktikan dengan lulusan PDF Al Fithrah angkatan 1 tahun 2018 yang
diterima di Perguruan Tinggi Negeri dengan jurusan Matematika. Sekedar
informasi bahwa pada tahun pelajaran 2017/2018 PDF Al Fithrah telah
meluluskan santri angkatan 1 dengan jumlah 225 santri. Dari jumlah
tersebut diterima di berbagai Perguruan Tinggi, seperti di UIN Malang,
Universitas Negeri Malang, Universitas Trunojoyo, dan mayoritas diterima
di Ma’had ‘Aly. Khusus yang diterima di Ma’had ‘Aly di lingkungan Ponpes
Assalafi Al Fithrah dengan konsentrasi tasawuf dan thariqah yaitu Ma’had
‘Aly Alfithrah bekerjasama dengan STAI Al Fithrah prodi Akhlak dan
Kepala Pondok
Musyaffa’ M.Th.I
Kabag.Pendidikan
Nasiruddin, M.M.
179
164 161
153
139
110
X XI XII
Jumlah Keterangan
No Kelas
PA Pi - Dalam setiap kelas jumlah santri antara
34 sampai 41 santri, meskipun secara
1 XA 41
ideal dalam 1 kelas hanya bisa diisi
2 XB 41 4 kelas maksimal 30 santri, akan tetapi karena
3 XC 41 164 santri kondisi kelas dan guru yang cukup
4 XD 41 terbatas, maka masih terdapat kelas
jumbo.
5 XE 26 - Apabila menerapkan kelas ideal
6 XF 4 kelas 28 membutuhkan 17 kelas untuk Putra dan
7 XG 110 santri 28 15 kelas untuk putri
- Pada kelas jumbo (38 – 41 santri), PBM
8 XH 28
nampak berdesakan.
9 XI A 35 - Meskipun berdesakan dengan meja
10 XI B 36 belajar yang terbatas maka dalam setiap
5 kelas kelas terdapat santri yang belajar tanpa
11 XI C 36 179 santri meja
12 XI D 36 - Untuk kelas Isti’dad tidak menggunakan
13 XI E 36 kelas akan tetapi masih menggunakan
14 XI F 34 gedung pertemuan bagi santri putra,
sedangkan untuk santri putri masih
15 XI G 4 kelas 139 35
menggunakan kamar putri.
16 XI H santri 35
17 XI I 35
18 XII A 41
19 XII B 40 4 kelas 161
20 XII C 40 santri
21 XII D 40
22 XII E 39
23 XII F 4 kelas 153 38
santri - Untuk mengejar target kurikulum, PBM
24 XII G 38 berjalan sejak pagi sampai malam
25 XII H 38
Isti’dad
24
26 Pa
Isti’dad 3 kelas
18
27 Pa 61 santri
Isti’dad
19
28 Pa
Isti’dad
29 Pi 2 kelas 34
30 Isti’dad 68 santri 34
Pi
2. MATA PELAJARAN
Mata pelajaran yang masuk dalam struktur kurikulum
PDF ‘Ulya terdiri atas kelompk mata pelajaran keagamaan
Islam, pendidikan umum, dan muatan lokal. Struktur
kurikulum tersebut adalah sebagai berikut.
KOMPONEN MATA PELAJARAN Kelas dan Alokasi Waktu per
Minggu
1 2 3
A. Keagamaan Islam
1 Al Qur’an 2 2 2
2 Tafsir – Ilmu Tafsir 4 4 4
3 Hadits – Ilmu Hadits 4 4 4
4 Tauhid 2 2 2
5 Fiqh – Ushul Fiqh 4 4 4
6 Akhlak – Tasawuf 2 2 2
7 Tarikh 2 2 2
8 Bahasa Arab 3 3 3
9 Nahwu Sharf 4 4 4
10 Balaghah 2 2 2
11 Ilmu Kalam 2 2 2
12 Ilmu Arudh 2 2
13 Ilmu Mantiq 2 2 2
14 Ilmu Falak 2 2
B. Pendidikan Umum
15 Pendidikan Kewarganegaraan 2 2 2
16 Bahasa Indonesia 2 2 2
17 Matematika 2 2 2
18 Ilmu Pengetahuan Alam 2 2 2
19 Seni Budaya 2 2 2
C. Muatan Lokal 10 6 6
Jumlah 53 53 53
4. KALENDER PENDIDIKAN
Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk
kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun
pelajaran. Cakupan kalender pendidikan adalah permulaan
tahun pelajaran, waktu pembelajaran efektif, dan hari libur.
Kalender pendidikan yang diselenggarakan PDF ‘Ulya adalah
a. Satuan PDF ‘Ulya meyusun kalender pendidikan
sesuai dengan kebutuhan setempat, karak-
teristik pesantren, kebutuhan peserta didik dan
masyarakat dengan memperhatikan kalender
pendidikan sebagaimana yang dimuat di dalam
dokumen.
b. Permulaan tahun pelajaran adalah waktu di-
mulainya kegiatan pembelajaran pada awal
tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.
Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Syawal
setiap tahun berahir pada bulan Sya’ban tahun
berikutnya.
6
Pendidikan Diniyah Formal diselenggarakan berdasar pada SK
Dirjen Pendidikan Islam No. 5839 Tahun 2014 Tentang Pedoman
Pendirian Pendidikan Diniyah Formal. Dalam SK tersebut dipersaratkan
antara lain bahwa Ponpes boleh menyelenggarakan PDF dengan sarat
memiliki ijin operasional Pesantren dari Kementerian Agama
Kabupaten/Kota, memiliki AD/ART, memiliki santri mukim dan belajar
pada pesantren yang bersangkutan minimal 300 orang pada setiap tahun
selama 10 tahun, mendapat rekomendasi dari Kanwil Kementerian
Agama, memiliki jumlah dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan
yang memadai, memiliki calon peserta didik minimal 30 orang, memiliki
kurikulum pendidikan diniyah formal, memiliki sistem evaluasi, memiliki
sumber pembiayaan untuk kelangsungan pendidikan paling sedikit untuk
1 pelajaran berikutnya, memiliki sarana dan prasarana pembelajaran yang
berada di lingkungah pesantren, dan melampirkan rencana induk
pengembangan. Adapun diantara persaratan teknis antara lain kualifikasi
pendidikan bagi Pendidik dan Kepala PDF minimal S.1. Dari hasil FGD
yang melibatkan Ponpes salafiyah di Kota Surabaya bahwa persaratan
terutama harus memiliki santri mukim minimal 300 orang pada setiap
tahun selama 10 tahun terlalu berat karena banyak santri yang berasal
dari wilayah sekitar (tidak mukim).
a. Al-Qur’an
Tujuan dari mata pelajaran al Qur’an agar peserta didik
memiliki kemampuan antara lain;
1) Memperoleh keyakinan terhadap Allah SWT
2) Mengembangkan kemampuan dalam menghafal
juz ‘Amma dan surah-surah pilihan al Qur’an
3) Meningkatkan kemampuan membaca dengan
standar teori tahsin tartil
4) Meningkatkan kemampuan menulis ayat-ayat al
Qur’an dengan Rasm Imla’i maupun Rasm
Utsmani
5) Meningkatkan kesadaran untuk memahami arti
dan kandungan ayat-ayat al Qur’an untuk di-
terapkan dalam kehisupan sehari-hari
6) Memperoleh bekal pengetahuan dan keteram-
pilan membaca, menulis, menghafal dan meng-
artikan juz Amma dan surah-surah pilihan
sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara
7) Sebagai bekal untuk menjadi imam shalat agar
diperkaya dengan ayat-ayat pilihan
Adapun ruang lingkup mata pelajaran al Qur’an adalah
1) Tahsinut Tilawah berupa praktek membaca al
Qur’an bin Nazhar 30 juz dengan menjelaskan
dan mengaplikasikan ilmu-ilmu tajwid
b. Tafsir-Ilmu Tafsir
Dalam Permenag No. 1 pasal 27 ayat 3 tahun 2014
tentang Pendidikan keagamaan Islam bahwa mata pelajaran
tafsir-ilmu tafsir menjadi dasar bagi peserta didik untuk
dapat memahami kandungan makna kitab suci al Qur’an
yang merupakan dasar pada setiap ilmu dalam ajaran agama
c. Hadits-Ilmu Hadits
Penyampaian mata pelajaran hadits-ilmu hadits pada
peserta didik PDF Ulya bertujuan untuk ; meningkatkan
kecintaan peserta didik terhadap hadits, membekali peserta
didik dengan dalil-dalil yang terdapat dalam hadits sebagai
pedoman dalam menyikapi dan menghadapi kehidupan,
mengingatkan pemahaman dan pengamalan hadits baik dari
segi isi kandungan maupu keilmuan, dan membekali ke-
terampilan menelusuri hadits dari sumber aslinya dan
menilai secara kuantitas dan kualitas.
Ruang lingkup hadits-ilmu hadits meliputi;
1) Tema-tema yang ditinjau dari perspektif hadits
dalam kitab Riyadh al-Shalihin tentang berakhlak
dengan sifat terpuji dan menjauhi sifat tercela
seperti ikhlas, tawbah, shabar, muraqabah,
taqwa, yaqin, tawakkal, istiqamah, al-mubaa-
darah ila al-khayr, al-mujaahadah, al-hats ‘ala al-
izdiyaat min al-khayraat, katsrat thuruq al-khayr,
iqtishad, muhaafazah ‘ala al-a’mal, al-amru bi al-
e. Fiqh-Ushul Fiqh
Prinsip dari mata pelajaran ini adalah menekankan pada
kemampuan cara melaksanakan ibadah dan muamalah yang
benar dan baik disertai dengan kemampuan memahami
cara-cara menetapkan hukum dari sumber hukum agama.
Tujuan dari pembelajaran ini adalah sebagai berikut;
1) Mengetahui dan memahami prinsip-prinsip,
kaidah-kaidah, dan tatacara pelaksanaan hukum
Islam baik yang menyangkut aspek ibadah
maupun muamalah untuk dijadikan pedoman
hidup dalam kehidupan pribadi dan sosial.
2) Mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan
benar dan baik sebagai perwujudan dari ketaatan
dalam menjalankan ajaran agama Islam baik
dalam hubungan manusia dengan Allah Swt.,
dengan diri manusia itu sendiri, sesama manusia,
dan makhluk lainnya maupun dengan ling-
kungannya.
f. Akhlak Tasawuf
Mata pelajara akhlak tasawuf pada peserta didik PDF
‘Ulya diberikan dengan tujuan mewujudkan manusia
Indonesia yang berakhlak mulia dan menghindari akhlak
g. Tarikh
Materi tarikh secara substansial terkait dengan asal usul
perkembangan dan peranan kebudayaan dan peradaban
Islam di masa lampau mulai dari dakwah rasulullah SAW
sampai periodesasi perkembangan Islam, baik di Indonesia
maupun dunia. Tujuan dari mata pelajaran tarikh adalah
sebagai berikut
1) Membangun kesadaran peserta didik tentang
pentingnya mempelajari landasan ajaran, nilai-
nilai dan norma-norma Islam yang telah di-
bangun Rasulullah SAW dalam rangka mengem-
bangkan kebudayaan dan perdaban Islam
2) Membangun kesadaran peserta didik tentang
pentingnya waktu dan tempat yang merupakan
sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan
masa depan
3) Melatih dengan kritis peserta didik untuk
memahami fakta sejarah secara benar dengan
didasarkan pada pendekatan ilmiah.
h. Bahasa Arab
Bahasa Arab di madrasa merupakan mata pelajaran
yang masuk rumpun bahasa. Meskipun demikian secara
substansi tidak terdapat perbedaan yang signifikan dilihat
dari aspek tujuan pembelajaran bahasa Arab itu sendiri. Pada
PDF Ulya, tujuan pembelajaran bahasa Arab agar peserta
didik memiliki kompetensi linguistik, komunikasi, budaya
yang dibutuhkan untuk mampu berkomunikasi aktif dalam
bahasa Arab lisan maupun tulis, baik interpretif, presentasio-
nal maupun interpersonal. Adapun tujuan khusus dari mata
pelajaran bahasa Arab adalah;
1) Membekali peserta didik dengan kemampuan
menguasai kompoenen bahasa yang berkaitan
dengan bunyi, kosa kata (mufrodat kontekstual
dan ibarat ishtilahiyah) dan tarkib praktis dan
fungsional.
j. Balaghah
Mata pelajaran balaghah menekankan pada pemahaman
dan penggunaan bahasa sastrawi termasuk yang digunakan
dalam al-Aqur’an al-Karim. Tujuan secara spesifik dalam
mata pelajaran balaghah ini adalah
1) Membaca dan memahami teks-teks kalam Arab
baik puisi (syi’ir) maupun prosa (natsar) khusus-
nya ayat-ayat al_Qur’an dengan baik dan benar
k. Ilmu Kalam
Tujuan pemeberian mata pelajaran Ilmu kalam pada
santri adalah agar memiliki kemampuan memahami dan
membedakan secara faktual dan konseptual pemikiran
kalam yang benar dan yang salah (sesat), memiliki sikap
keberagamaan atau keberimanan yang berakidah kalam
ahlussunnah waljamaah yang moderat dan penuh kasih
sayang (rahmah), tetapi tetap memiliki sikap yang tegas
terhadap penganut akidah dan kalam yang sesat, dan agar
juga memiliki pola pikir dan pola tindak dalam mem-
l. Ilmu ‘Arud
Ilmu arudh adalah ilmu bantu (alat) terutama terkait
dengan syair Arab. Tujuan pemberian materi melalui mata
pelajaran ilmu arudh adalah
1) Mamahami mabadi’/dasar dasar ilmu arudh dan
kaidahnya
2) Memahami macam-macam wazan/bahar syair
dan laqab bait
3) Memahami perubahan wazan/zihaf dan illat
4) Memahami dasar-dasar ilmu Qafiyah
5) Memahami aib qafiyah
Ruang lingkup mata pelajaran ilmu arudh adalah sebagai
berikut
1) Aspek wazan dilihat dari wazan tertentu terkait
dengan kebenaran, kerusakan, dan zihaf dan illat
(perubahan)nya
2) Aspek Qafiyat yakni bagian ahir dari bait syair
yang meliputi huruf qafiyah, haraqat qafiyah,
macam-macam qafiyah, laqab qafiyah, dan aib
qafiyah.
m. Ilmu Mantiq
Ilmu mantiq merupakan kaidah-kaidah yang dijadikan
pedoman untuk berfikir agar tidak keliru dan informasi yang
diterima tidak salah. Tujuan materi ini adalah agar santri
mampu menunjukan kemampuan berfikir logis, kritis, dan
kreatif serta kemampuan analisis yang produktif sesuai
dengan kaidah-kaidah penalaran yang logis. Ruang lingkup
ilmu mantiq adalah konsep al-ilmu dan al-adalah, lafadz,
qadhiyah, istidlal, dan lawahiq qiyas (qiyas tambahan). Kitab
rujukanya adalah kitab karya Muhammad Nur Ibrahimi
untuk kelas 1, dan untuk kelas 2 dan 3 al-sulam al-munawraq
fi ilm al-manthiq karya Abd Rahman al-Akhdari.
n. Ilmu Falak
Ilmu falaq diberikan agar santri memiliki wawasan
terhadap fenomena benda-benda langit yang senantiasa
bergerak. Dengan demikian santri mampu memahami seluk
beluk tata surya khususnya yang berkaitan dengan gerak
edar bumi, bulan dan matahari. Tujuan secara khusus adalah:
1) memahami ketentuan nash tentang waktu-waktu
ibadah
a. Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan kewarganegaraa yang diajarkan di PDF Ulya
memiliki karakteristik tersendiri karena diajarkan dalam
kerangka nasional yang berbasis pada nilai, budaya, dan
karakter pesantren. Dengan demikian, peserta didik
diharapkan akan memiliki semangat kebangsaan dan cinta
tanah air, mendukung demokrasi yang berkeadaban dan
mendukung kesadaran hukum dan menghormati ke-
ragaman. Secara operasional tujan pembelajaran mata
pelajaran pendidikan kewarganegaraan adalah
1) Mengembangkan sikap positif dan menampilkan
perilaku yang mendukung semangat kebangsaan
dan cinta tanah air
2) Mengembangkan sikap positif dan menampilkan
perilaku yang mendukung demokrasi ber-
keadaban
3) Mengembangkan sikap positif dan menampilkan
perilaku yang mendukung kesadaran hukum dan
keragaman.
b. bahasa Indonesia,
Bahasa Indonesia diajarkan agar peserta didik memiliki
penguasaan keterampilan berbahasa yang memadai. Oleh
karena itu kompetensi yang diharapkan adalah sebagai
berikut.
1) Keterampilan bahasa yang ingin dicapai yaitu
keterampilan menyimak/mendengarkan dengan
berbagai ragam bahasa lisan dan fungsinya,
keterampilan berbicara dengan menggunakan
wacana lisan yang tepat, keterampilan membaca
untuk memahami wacana tulis, dan keterampilan
menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasa-
an, dan informasi dalam bentuk teks naratif-
artistik, teks informatif-ekspositoris, dan teks
argumentatif-persuasif.
c. Matematika,
Cabang matematika dalam dunia pesantren dengan
istilah ilmu hisab. Kompetensi yang diharapkan melalu mata
pelajaran matematik di PDF Ulya adalah sebagai berikut.
1) Menunjukan kemampuan berfikir logis, kritis,
analitis, sistematis, kreatif, dan inovatif dalam
pengambilan keputusan
2) Mengusai konsep-konsep matematika terutama
konsep aritmatika dan aljabar dalam memecah-
kan masalah kehidupan sehari-hari dan masalah-
masalah perhitungan dalam masalah fiqh zakat
dan fiqh mawaris
3) Mengusai konsep dan aturan dalam logika
matematika yang berguna bagi masalah peng-
ambilan keputusan dan argumentasi serta lebih
mampu menerapkannya pada disiplin ilmu
mantiq
e. Seni budaya
Pembelajaran Seni Budaya di PDF Ulya diupayakan
untuk meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap
seni budaya relegi dengan segenap nilai, ajaran dan
2. STANDAR ISI
Standar isi kurikulum PDF Ulya Al Fithrah secara ideal
harus dimiliki pada setiap mata pelajaran yang menjadi
beban belajar santri. Namun demikian masih terdapat
beberapa mata pelajaran atau yang menjadi beban belajar
santri. Hal ini dapat dilihat pada standar isi kurikulum di
bawah ini
a. Hafalan Juz 1 dan juz 30 serta surat al ma’tsurat
(Yasin, Waqiah, Al Mulk, dan As Sajadah) belum
memiliki kurikulum hafalan yang khusus
sebagaimana buku paket. Tantangan ke depan
PDF Ulya Al Fithrah harus membuat Standar Isi
untuk mempermudah santri untuk menghafal.
3. STANDAR PROSES
Standar proses dalam pembelajaran PDF Ulya Al Fithrah
memiliki keunikan tersendiri dibandingkan sekolah formal
pada umumnya. Standar proses terbagi menjadi dua
meskipun tetap sama dalam kelas (klasikal). Strategi
pembelajaran di pesantren dikenal dengan adanya model
8
Proses pembelajaran sistim halaqah adalah model pembelajaran
dalam satu kelas (biasanya di masjid) dengan posisi para santri duduk
membuat setengah lingkaran menghadap ustadz (guru). Proses
pembelajaran ini biasanya digunakan untuk pembelajaran model
bandongan (bersama-sama dalam satu materi/kitab. Lawanya bandongan
adalah sorogan dimana pembelajaran santri maju satu persatu
menghadap Kyai)
9Ada 2 jenis ujian akhir di PDF Ulya Al Fithrah untuk mata pelajaran
kutub at-turats (kitab kuning) yang kemungkinan tidak dilakukan oleh
PDF Ulya yang lain. Kedua jenis ujian tersebut adalah 1) ujian kenaikan
kelas dimana santri maju satu persatu dan diuji oleh 2 orang ustadz.untuk
membacakan kitab, menerjamahkan, menyampaikan isi, dan pertanyaan
lain dari penguji. 2) Ujian akhir setelah Imtihan Wathaniyah (ujian
nasional). Ujian kelulusan ini bisa ditunda selama santri siap akan tetapi
belum bisa mengambil ijazah selama belum mengikuti ujian akhir. Dalam
ujian ini kitab yang harus dikuasai adalah kitab Fathul Mu’in dan ketika
ujian santri didampingi kedua orang tua berhadapan dengan 3 orang
penguji. Bahkan dalam perencanaan berikutnya adalah ujian publik di
Masjid dengan model yang sama akan tetapi dihadapan jamaah.
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI AGAMA
TENTANG PENDIDIKAN KEAGAMAAN
ISLAM.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Pendidikan keagamaan Islam adalah pendidikan yang
mempersiapkan peserta didik untuk dapat men-
jalankan peranan yang menuntut penguasaan penge-
tahuan tentang ajaran agama Islam dan/atau menjadi
ahli ilmu agama Islam dan mengamalkan ajaran
agama Islam.
BAB II
PESANTREN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 4
Pesantren wajib menjunjung tinggi dan mengembangkan
nilai-nilai Islam rahmatan lil’alamin dengan menjunjung
tinggi nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945,
Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhineka Tunggal
Ika, keadilan, toleransi, kemanusiaan, keikhlasan, keber-
samaan, dan nilai-nilai luhur lainnya.
Pasal 5
Pesantren wajib memiliki unsur-unsur pesantren yang
terdiri atas:
a. kyai atau sebutan lain yang sejenis;
b. santri;
c. pondok atau asrama pesantren;
d. masjid atau musholla, dan
e. pengajian dan kajian kitab kuning atau dirasah
islamiyah dengan pola pendidikan mu’allimin.
Pasal 6
(1) Kyai atau sebutan lain yang sejenis sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 huruf a wajib berpendidikan
pesantren dan memiliki kompetensi ilmu agama
BAB III
PENDIDIKAN DINIYAH
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 20
Pendidikan diniyah terdiri atas:
a. Pendidikan diniyah formal;
b. Pendidikan diniyah nonformal; dan
c. Pendidikan diniyah informal.
Bagian Kedua
Pendidikan Diniyah Formal
Paragraf 1
Pendirian dan Penamaan
Pasal 21
(1) Pendirian satuan pendidikan diniyah formal wajib
memperoleh izin dari Menteri.
(2) Satuan pendidikan diniyah formal didirikan dan
dimiliki oleh pesantren.
(3) Peserta didik pendidikan diniyah formal wajib
bermukim dalam lingkungan pesantren.
(4) Pendirian satuan pendidikan diniyah formal sebagai-
mana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
BAB V
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 54
(1) Pembinaan dan pengawasan terhadap pendidikan
keagamaan Islam dilakukan untuk menjamin mutu
dan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan.
(2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan oleh pengawas pendidikan
Islam di lingkungan Kementerian Agama.
(3) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan sesuai ke-
tentuan peraturan perundang-undangan.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 18 Juni 2014
MENTERI AGAMA
REPUBLIK INDONESIA,
SURYADHARMA ALI
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 18 Juni 2014
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
AMIR SYAMSUDIN