0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
331 tayangan190 halaman

Buku Pendidikan Diniyah Formal

Buku ini membahas tentang pendidikan diniyah formal sebagai upaya menjadikan pendidikan agama Islam sebagai lembaga pendidikan formal dan pusat kaderisasi ulama toleran. Buku ini menjelaskan perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, tantangan yang dihadapi madrasah diniyah, dan upaya pemerintah dalam memperkuat eksistensi madrasah diniyah melalui regulasi dan dukungan kelembagaan.

Diunggah oleh

kim hyun
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online dari Scribd
Unduh sebagai pdf atau txt
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
331 tayangan190 halaman

Buku Pendidikan Diniyah Formal

Buku ini membahas tentang pendidikan diniyah formal sebagai upaya menjadikan pendidikan agama Islam sebagai lembaga pendidikan formal dan pusat kaderisasi ulama toleran. Buku ini menjelaskan perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, tantangan yang dihadapi madrasah diniyah, dan upaya pemerintah dalam memperkuat eksistensi madrasah diniyah melalui regulasi dan dukungan kelembagaan.

Diunggah oleh

kim hyun
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online dari Scribd
Unduh sebagai pdf atau txt
Unduh sebagai pdf atau txt
Anda di halaman 1/ 190

i

UNDANG-UNDANG HAK CIPTA NO. 19 TAHUN 2002

Pasal 2
(1). Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta dan Pemegang Hak
Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang timbul
secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi
pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 72
(1). Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.
1.000.000,- (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh)
tahun dan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,- (lima miliar
rupiah).
(2). Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, meng-
edarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil
pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud
pada Pasal 2 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5
(lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima
ratus juta rupiah).

ii
iii
PENDIDIKAN DINIYAH FORMAl
Pusat Kaderisasi Ulama Toleran
Penulis:
Mulyani Mudis Taruna

Editor:
Dani Muhtada, Ph.D.

Layout Isi:
Yuli Pratiwi

Desain Cover:
Abu Fadhel

Diterbitkan oleh:
PUSTAKA RIZKI PUTRA
Jl. Hayam Wuruk No. 42-G Semarang
Telp. (024) 8449557 Faks. (024) 8311268
Email: [email protected]
Anggota IKAPI

ISBN: 978-602-6244-43-7

Hak Cipta dilindungi Undang-undang No. 19 Th. 2002


All right reserved
Cetakan Pertama, Agustus 2018

iv
KATA PENGANTAR PENULIS

Perkembangan Pondok pesantren salafiyah mengalami


lompatan dalam penyelenggaraan lembaga pendidikan
formal. Pada awalnya pondok pesantren salafiyah hanya
memfokuskan pada penguasaan kitab kuning (kutub at-
turats) dengan orientasi pada tafaqquh fi ad-diin, akan tetapi
dalam perkembangannya membuka pembelajaran klasikal
dengan tingkatan kitab dan pembelajaran dengan model
bandongan. Bahkan selanjutnya menyelenggarakan pem-
belajaran dengan model klasikal berdasarkan pada tingkatan
kelas atau dengan istilah sistem madrasi.

Seiring dengan perkembangan zaman dan tuntutan


masyarakat secara umum, pondok pesantren mulai mem-
buka dan menyelenggarakan lembaga pendidikan formal
yang dapat melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi
diluar pondok pesantren. Penyelenggaraan sekolah formal
ini memiliki konsekuensi harus mengakomodir kurikulum
dari Pemerintah dan transaksi ini biasanya dengan model
30% kurikulum umum dan 70% kurikulum keagamaan
Islam. Dari aspek ini, pondok pesantren sudah mengalami
pergeseran orientasi dari tafaqquh fi ad-ddin yang meng-
khususkan pada perkaderan ulama dan lembaga yang

v
menciptakan “majikan” minimal untuk dirinya sendiri
menjadi lembaga yang berorientasi pada profan.

Jargon Almukhaafdlotu ‘alaa al-qodiimissholih wal


akhdzu bil jadidil ashlah yang menjadi jargon pondok
pesantren salafiyah merupakan sifat adaptifitas pondok
pesantren salafiyah terhadap perkembangan zaman. Namun
demikian, ketika mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik
tidak sedikit pondok pesantren “terjebak” dalam rutinitas
kelembagaan pendidikan formal yang yang tidak lagi
mencetak kader ulama tafaqquh fi addiin. Persoalan ini
menjadikan Kementerian Agama yang selalu bersinggungan
dengan pondok pesantren salafiyah dan ulama menyusun
regulasi agar dapat mengakomodir seluruh kepentingan
pondok pesantren salafiyah.

PMA Nomor 13 Tahun 2014 adalah jawaban dari


keinginan pondok pesantren salafiyah menyelenggarakan
pendidikan formal akan tetapi tetap pada koridor utamanya
sebagai pencetak kader ulama. Dengan demikian, diharapkan
santri pondok pesantren salafiyah adalah sekaligus peserta
didik pada lembaga pendidikan formal. Hal ini dikarenakan
berada pada dua “sisi mata uang” yang tidak dapat
dipisahkan, yaitu tetap sebagai kader ulama dan pada sisi
yang lain memiliki ijazah formal yang dapat digunakan untuk
melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi yang diinginkan.

vi
Membaca buku ini paling tidak memunculkan empat
pertanyaan mendasar, yaitu pertama, mungkinkah pen-
didikan diniyah menjadi lembaga pendidikan formal
sebagaimana sekolah formal pada umumnya? Hal ini karena
pendidikan diniyah dalam sejarahnya adalah lembaga
pendidikan non formal. Kedua, Kalau ada ulama toleran
maka secara implisit terdapat ulama yang intoleran,
bagaiman dengan ulama yang didik pada Pendidikan Diniyah
Formal (PDF) Ulya Al Fithrah? dan yang ketiga benarkah
pendidikan diniyah yang diformalkan dapat dijadikan pusat
kaderisasi ulama? lalu bagaimana dengan pondok pesantren
salafiyah yang selama ini memproduk ulama-ulama penerus
ulama salafussholih sebagai pertanyaan yang keempat. Dari
keempat pertanyaan tersebut dijawab dalam buku ini
melalui kajian riset yang mendalam.

Surabaya, 2018

vii
viii
KATA PENGANTAR EDITOR
Oleh: Dani Muhtada, Ph.D.

Sejarah pendidikan Islam di Indonesia mengenal dua


lembaga pendidikan tua yang perannya dalam pengem-
bangan pendidikan tidak bisa diabaikan, yaitu pesantren dan
madrasah diniyah. Keduanya sama-sama mengajarkan
pendidikan agama. Bedanya, jika pesantren menggunakan
system pendidikan berasrama, maka madrasah meng-
gunakan system klasikal dalam pengajaran agama. Meski-
pun ada yang menganggap usia dua lembaga ini sama
(Alwasilah, 2009), namun kebanyakan ahli berpendapat
bahwa madrasah hadir jauh setelah pesantren eksis.
Madrasah diduga baru lahir setelah abad ke-20 (Steenbrink,
1974; Kelabora, 1976; Zuhairini et al., 1992; Azra & Afianty,
2005; Yunanto & Harun, 2005). Para ahli berpendapat bahwa
kelahiran madrasah di Indonesia dipengaruhi oleh ke-
bangkitan Islam di Timur Tengah dan system pendidikan
colonial Belanda (Zuhairini et. al, 1992; El-Saha, 2008).

Dalam perkembangannya, kedua model pendidikan


agama ini mengalami tantangan yang tidak ringan. Di awal

ix
kemerdekaan, system pendidikan nasional memperkuat
dualisme pendidikan, yaitu umum (sekuler) dan agama, yang
benihnya sudah muncul sejak zaman kolonial. Lembaga
pendidikan umum berada di bawah Kementerian Pen-
didikan, sedangkan lembaga pendidikan agama menjadi
domain Kementerian Agama. Dualisme system pendidikan
ini pada gilirannya melahirkan efek samping yang kurang
menguntungkan bagi madrasah, yaitu marginalisasi
madrasah dalam konstelasi pendidikan nasional.

Untuk menyelematkan madrasah dari posisi marginal


tersebut, pemerintah melakukan upaya-upaya untuk
“menyetarakan” eksistensi madrasah. Salah satunya dengan
mengadopsi kurikulum pendidikan nasional untuk diterap-
kan di madrasah. Melalui SKB Tiga Menteri Tahun 1975,
yang ditandatangani oleh Menteri Agama, Menteri Pendidik-
an dan Kebudayaan, dan Menteri Dalam Negeri, pemerintah
memperkuat posisi madrasah dengan menyetarakan lulusan
madrasah dengan lulusan sekolah umum. Dengan kata lain,
alumni sekolah madrasah dapat langsung meneruskan
pendidikan lanjut di sekolah umum. Sebagai konsekuensi
dari penyetaraan ini, madrasah harus merevisi kurikulum-
nya dengan komposisi 70% matap elajaran umum dan 30%
mata pelajaran agama (Ramayulis, 2012; Azra & Afianty,
2005; Zuhairini et al., 1992). Walhasil, karakter “pendidikan
agama” di madrasah mulai berkurang secara signifikan

x
lantaran materi pendidikan umum (sekuler) menjadi
komponen mayoritas dalam kurikulum. Marjinalisasi
komponen agama dalam kurikulum madrasah itu semakin
kuat ketika pemerintah menerapkan Kurikulum Madrasah
1994, dimana proporsi mata pelajaran umum naik menjadi
82-86%, sementara proporsi pelajaran agama turun menjadi
16-18% (Azra & Afrianty, 2005).
Turunnya komponen agama dalam kurikulum madrasah
ini membuat beberapa pengelola bersikukuh memper-
tahankan identitas Islam dengan mempertahankan model
madrasah diniyah. Di madrasah diniyah ini, para peserta
didik dapat sepenuhnya belajar dan mendalami materi-
materi keagamaan, tanpa komponen mata pelajaran umum
(sekuler). Hanya saja, karena pendekatannya informal, dan
biasa dibuka siang atau sore hari selepas sekolah formal,
madrasah diniyah mengalami berbagai kendala untuk
mempertahankan eksistensinya. Baik kendala-kendala
finansial, maupun kendala yang terkait dengan minat
pesertadidik untuk belajar di madrasah. Jumlah siswa
madrasah diniyah semakin menurun, seiring dengan
semakin susahnya pengelola madrasah diniyah menarik
minat para calon guru untuk mengajar di madrasah
diniyah.Hal ini tentu mengancam eksistensi madrasah
diniyah di tengah masyarakat.

Lahirnya era reformasi dan otonomi daerah seluas-


luasnya membawa angin segar bagi eksistensi madrasah

xi
diniyah. Beberapa pemerintah daerah mengeluarkan
peraturan daerah yang mencoba memperkuat eksistensi
madrasah diniyah. Mereka mewajibkan para peserta didik di
daerah masing-masing untuk juga menjadi peserta didik di
madrasah diniyah. Tidak hanya itu, di beberapa daerah,
ijazah madrasah diniyah menjadi salah satu prasyarat untuk
mendaftar di sekolah-sekolah lanjutan umum. Selain itu
penguatan kelembagaan madrasah diniyah dilakukan oleh
pemerintah dengan memberikan dukungan financial bagi
operasional madrasah, termasuk insentif tambahan bagi
guru-guru madrasah (Muhtada, 2014). Upaya “formalisasi”
madrasah diniyah ini tak pelak memberikan harapan baru
bagi penguatan eksistensi madrasah diniyah bagi pendidikan
agama di Indonesia.

Buku “Pendidikan Diniyah Formal: Pusat Kaderisasi


UlamaToleran” ini memotret peran pendidikan diniyah
dalam mencetak kader-kader ulama toleran di Indonesia.
Buku ini memberikan pencerahan tentang beberapa hal.
Pertama, tentang upaya penguatan pendidikan agama di
tengah masyarakat melalui formalisasi pendidikan diniyah.
Kedua, tentang peran pendidikan diniyah dalam mencetak
para ahli agama yang mampu mengembangkan paham Islam
wasathiyah, Islam moderat. Pengembangan paham Islam
wasathiyah ini sangat penting di tengah menguatnya arus
ortodoksi dalam tubuh masyarakat Muslim di Indonesia.

xii
Mampukah pendidikan diniyah mencetak kader-kader ulama
toleran di tengah tantangan yang tidak mudah ini. Mungkin-
kah pendidikan diniyah formal mengatasi beragam tantang-
an pendidikan Islam dewasa ini, sehingga mampu me-
wujudkan Islam rahmatan lil’alamien di negeri nusantara?
Melalui buku ini, pembaca akan mendapatkan perspektif
baru tentang bagaimana madrasah diniyah memainkan
perannya di tengah masyarakat Indonesia kontemporer.

xiii
xiv
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR PENULIS___v


KATA PENGANTAR EDITOR___ix
DAFTAR ISI___xv

Bab I PENDAHULUAN___1
 Pendidikan Diniyah Formal; Kajian yang masih
terbatas___9

Bab II PONDOK PESANTREN: LEMBAGA PENDIDIKAN


TAFAQQUH FI ADDIEN___15
 Indigenous Pondok Pesantren Salafiyah___19
 Pesantren; Sejarah dan Orientasi
Pendidikan___22
 Kitab Kuning di tengah tarik menarik Kurikulum
Pemerintah___27
 PDF Ulya Pusat Kaderisasi Ulama Toleran;
Sebuah Kerangka Berfikir___29
 Metodologi dan Teknik Analisis Data___31

Bab III PENDIDIKAN DINIYAH FORMAL (PDF) ULYA AL


FIHTRAH; PENCETAK KADER ULAMA
TOLERAN___35
 Tantangan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah
Menghadapi Era Lembaga Pendidikan
Formal___46

xv
 Implementasi PDF Ulya di Pondok Pesantren Al
Fithrah; Struktur Pengelolaan PDF Al
Fithrah___54
 Jumlah santri PDF Al Fithrah___56
 Kurikulum PDF Al Fithrah___58
 Tujuan dan Ruang lingkup Mata Pelajaran___65
1. Kelompok Mata Pelajaran Keagamaan
Islam___66
2. Kelompok Mata Pelajaran Umum___87

Bab IV PENDIDIKAN DINIYAH FORMAL; MENERUSKAN


PERJUANGAN ULAMA SALAFUSSHOLIH___99
 PDF Ulya Al Fithrah; Langkah Strategis
Menyelenggarakan Pendidikan Diniyah
Formal___105
 PDF Ulya Al Fithrah; Membentuk Kaderisasi
Ulama Toleran___118
 Pendidikan Diniyah Formal Menyongsong Masa
Depan Bangsa___121

BAB V PENUTUP___127

DAFTAR PUSTAKA___131
LAMPIRAN: PMA Nomor 13 Tahun 2014___135
TENTANG PENULIS___171

xvi
Bab I
PENDAHULUAN

Perjalanan Pondok Pesantren di Indonesia selalu


mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara, bahkan
pondok pesantren di Indonesia lebih dahulu ada di-
bandingkan keberadaan bangsa Indonesia. Maklum
keberadaan pondok pesantren jauh sebelum Indonesia
merdeka. Dilihat dari akar sejarah kemerdekaan bangsa
Indonesia, pondok pesantren tidak dapat dilepaskan dari
salah satu elemen yang kuat untuk melawan penjajah, baik
secara kelembagaan maupun perseorangan. Secara ke-
lembagaan, pesantren melibatkan seluruh komponen yang
ada di pondok pesantren untuk melawan penjajah dan
secara person, Kiai sebagai pimpinan pondok pesantren
menjadi penggerak anak bangsa terutama para santri untuk
berjuang memerdekakan bangsa Indonesia. Dari sinilah,
pondok pesantren secara kelembagaan maupun secara
person seorang Kiai mampu menciptakan bangsa Indonesia
menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Pendidikan Diniyah Formal | 1


Era kemerdekaan sampai pada era reformasi dan pasca
reformasi, pondok pesantren masih menjadi daya tarik
tersendiri terutama ketika terjadi perhelatan pemilihan
Presiden dan Wakil Presiden maupun pemiliah anggota
Dewan. Pondok pesantren menjadi barang mahal yang
memiliki daya tawar tinggi, sehingga para politikus lintas
agamapun menggunakan simbol pesantren dan mengadakan
kunjungan ke pondok pesantren demi meraih simpati. Daya
tarik pesantren ini disebabkan oleh sifat pondok pesantren
sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang memiliki
watak indigenous ke Indonesiaan yang selalu terbuka
dengan siapapun (open minded). Di samping itu, Kiai sebagai
pimpinan pondok pesantren juga memiliki sifat tasamuh
(mudah bergaul dan ramah) kepada siapapun yang
mengajak berkawan.
Dalam konteks sejarah pondok pesantren, watak
keasliannya tetap dipertahankan dan dijadikan jargon untuk
berkemajuan. Istilah mempertahankan tradisi lama dan tetap
bertahan pada ortodoksi Islam yang bersumber pada nilai-
nilai Islam yang dibangun oleh para ulama salaf melalui
kitab-kitab kuning cukup kuat. Sementar itu menerima
pembaharuan dalam berbagai bidang karena sesuatu atau
hal-hal baru adalah konsekuensi logis yang harus disikapi
dengan positif. Ketika negara mengalami lompatan-lompatan
teknologi dan terjadi shock culture di berbagai wilayah,
pondok pesantren tetap “Kekeuh” mempertahankan tradisi-
nya tanpa sedikitpun tergeser dan tergusur. Dalam bahasa

2 | Pendidikan Diniyah Formal


Moeslim Abdurrahman bahwa peranan pesantren adalah
sebagai agen ortodoksi Islam yang paling penting dalam
sejarah yang berarti lebih banyak memperhatikan bagai-
mana menjaga kesinambungan ajaran Islam dari tarikan
akulturatif berbagai unsur sistem kepercayaan lokal atau
asing yang dianggap dapat menyimpangkan Islam dari
keasliannya (1995: 48).
Jargon pondok pesantren sangat terkenal dan telah
menjadi motto di berbagai pondok pesantren adalah Al
Muhaafadlotu ‘alaa alqodiimisshoolih wal akhdzu bil jadiidil
ashlah atau memelihara dan melestarikan nilai lama yang
baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik. Motto ini
selalu terpampang di halaman paling depan pondok
pesantren atau dalam bilik-bilik santri. Kekuatan motto tidak
sekedar sebuah jargon yang bermakna karakter pesantren
salafiyah yang selalu ingin terus berkembang dan ber-
kemajuan, melainkan respons pondok pesantren salafiyah
terhadap perkembangan sains dan teknologi serta per-
kembangan kebijakan Pemerintah dalam dunia pendidikan.
Menurut Azyumardi Azra, pesantren bukan hanya mampu
bertahan tetapi lebih dari itu yaitu mampu mengembangkan
diri dan bahkan kembali menempatkan diri pada posisi yang
penting dalam sistem pendidikan nasional Indonesia secara
keseluruhan (Madjid, tt; xxiv-xxv).
Kesadaran pondok pesantren salafiyah terhadap
fenomena berkembangnya lembaga pendidikan di Indonesia
muncul seiring dengan tuntutan santri dan orang tua santri

Pendidikan Diniyah Formal | 3


yang menginginkan ijazah formal bagi santrinya. Sementara
itu, berdirinya pondok pesantren modern maupun lembaga
pendidikan model boarding school yang mengadopsi sistem
pesantren berkembang cukup pesat. Oleh karena itu, apabila
pondok pesantren salafiyah tidak mengikuti perkembangan
lembaga pendidikan formal, maka keinginan orang tua untuk
memondokan anaknya akan semakin berkurang dan lambat
laun pondok pesantren salafiyah kekurangan santri.
Tuntutan zaman dengan berbagai dinamika dalam
kebijakan pendidikan menuntut pondok pesantren salafiyah
harus mampu beradaptasi dan pada saat yang sama pondok
pesantren salafiyah juga harus tetap tidak kehilangan jati
dirinya sebagai pusat kaderisasi ulama. Dari aspek
pengalaman, pondok pesantren salafiyah cukup akomodatif
untuk mengikuti irama perkembangan zaman terutama
terkait dengan dunia pendidikan. Bahkan semakin memiliki
daya saing dengan model pendidikan formal yang ada karena
sudah memiliki kepercayaan sebagai lembaga pendidikan
yang membangun karakter santri dengan karakter yang
agamis. Pondok pesantren sering dengan lembaga pen-
didikan yang “tahan banting” karena kemampuannya
beradaptasi dalam situasi dan kondisi seperti apapun.
Dinamika perkembangan lembaga pendidikan di
Indonesia mengalami pertumbuhan yang masif dan
Pemerintah terus menumbuhkembangkan lembaga
pendidikan yang berorientasi pada persaingan global. Akibat
dari fenomena ini, masyarakat diberi banyak alternatif

4 | Pendidikan Diniyah Formal


pilihan untuk menyekolahkan anaknya dan pada sisi yang
lain pemerintah dengan mudah menyusun regulasi untuk
memberikan kesempatan seluruh elemen masyarakat
membangun dan menyelenggarakan lembaga pendidikan
formal. Berbagai regulasi penyelenggaraan pendidikan
formal ini direspons positif oleh pondok pesantren karena
telah memiliki santri sebagai model input peserta didik.
Namun demikian, beberapa pondok pesantren salafiyah
memiliki kekhawatiran karena pondok pesantren adalah
penyelenggara pendidikan sekaligus pencetak kader ulama.
Berbagai tantangan pondok pesantren dalam pe-
nyelenggaraan lembaga pendidikan formal dijawab dengan
mengadakan “penyesuaian”. Namun demikian, penyesuain
tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan santri, orang
tua santri, dan masyarakat secara lebih luas. Di antara
respons pondok pesantren salafiyah terhadap regulasi
pemerintah dan keinginan santri dan masyarakat lebih luas
adalah dengan membuka program Paket B atau C dan juga
membuka sistem Muadalah. Program Paket B dan C serta
Mu’addalah ternyata berdampak positif, seperti alumni
pesantren sudah dapat mengikuti kompetisi untuk mengikuti
tes menjadi Pegawai Negeri Sipil (ASN) dan dapat masuk
menjadi pengurus partai politik dan dapat mengikuti
pemilihan umum menjadi anggota dewan. Penyesuaian ini
ternyata terus berlanjut sesuai dengan regulasi yang di-
tetapkan oleh Pemerintah, baik Kementerian Agama
maupun Kemendiknas.

Pendidikan Diniyah Formal | 5


Program paket B dan paket C bagi pondok pesantren
salafiyah tidak terlalu sulit karena hanya mengikuti
pembelajaran yang tidak banyak menyita waktu. Program ini
menjadi sangat populer setelah Menteri Kelautan (Susi
Pujiastuti) adalah salah satu peserta yang lulus program
paket C. Hal ini berbeda dengan sistem Mu’addalah yang
diberikan pada santri pondok pesantren karena telah
mengikuti pendidikan di pondok pesantren salafiyah dalam
waktu yang cukup lama dan telah menyelesaikan beberapa
kitab yang distandarkan oleh Kementerian Agama. Model
Mu’addalah merupakan model yang dianggap paling ideal
bagi santri pondok pesantren salafiyah untuk memperoleh
ijazah formal yang disetarakan dengan ijazah sekolah umum
sekaligus sebagai pengakuan pondok pesantren salafiyah
oleh negara.
Model ideal Mu’addalah adalah model yang disambut
positif dengan gegap gempita. Hal yang menjadi daya tarik
secara substansial adalah khitthah pondok pesantren
salafiyah sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang
memiliki kekhasan tersendiri, yaitu mencetak kader ulama
terus dipertahankan. Bahkan lulusan Mu’addalah mampu
menduduki kursi dewan dan menjadi kepala Daerah (Bupati)
di beberapa tempat, seperti Bupati Kabupaten Demak Jawa
Tengah. Keberhasilan model Mu’addalah ternyata tidak
dapat berlangsung lama karena Kementerian Agama RI
mengeluarkan regulasi baru yang diharapkan lebih memacu
pondok pesantren salafiyah bukan saja untuk bersaing dalam

6 | Pendidikan Diniyah Formal


dunia Pemerintahan dan Dewan, akan tetapi berkompetisi
memasuki dunia Perguruan Tinggi.
Akomodasi dari Pemerintah khususnya Kementerian
Agama RI adalah dengan memberikan alternatif baru yaitu
membuka Pendidikan Diniyah Formal (PDF) sebagai langkah
konstruktif dalam dunia pendidikan. Hal ini tertuang dalam
Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 13 tahun 2014
tentang Pendidikan Keagamaan Islam. PMA ini merupakan
turunan atas Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 tahun
2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan. Langkah
ini menjadi “angin segar” bagi dunia pesantren yang tetap
mempertahankan tradisi lama dengan tetap memelihara dan
melestarikan nilai-nilai lama melalui kitab kuning akan tetapi
membuka dan menerima nilai-nilai baru melalui pendidikan
umum. Melalui PDF ini pondok pesantren tidak kehilangan
jati dirinya sebagai lembaga pencetak para ulama sekaligus
lembaga pewaris ilmu karya ulama salaf. Hal ini sesuai
dengan yang disampaikan Kasubdit Pendidikan Diniyah
Ahmad Zayadi, bahwa “PDF pada berbagai tingkatan ini
merupakan jenis layanan pendidikan keagamaan Islam yang
bersifat formal. Karena pendidikan keagamaan Islam, maka
tujuannya untuk mencetak para kader ulama yang ahli di
bidang ilmu agama Islam”. http://www.ponpesmanggisan.
com/manggisan/berita-165-pesantren-yang-
menyelenggarakan-pendidikan-diniyah-formal.html
diupload tanggal 30 Mei 2018.

Pendidikan Diniyah Formal | 7


Berangkat dari regulasi dibukanya PDF di pondok
pesantren salafiyah ini, diperlukan kajian secara mendalam
melalui penelitian tentang bagaimana implementasinya dan
bagaimana bentuk kaderisasi ulama yang dikembangkan
pondok pesantren melalui PDF. Penelitian ini diperlukan
karena PDF merupakan program yang dimulai tahun 2014
dan baru meluluskan santri sebagai angkatan pertama. Di
samping itu, penelitian untuk meyakinkan bahwa pendidikan
diniyah yang selama ini berjalan di pondok pesantren
salafiyah dapat menjadi lembaga pendidikan formal. Apakah
dengan model PDF menjadikan kader ulama terjadi
pergeseran yaitu menjadi lebih toleran karena menerima
mata pelajaran umum? Inilah beberapa pertanyaan yang
terus perlu dikaji.
Untuk mempersempit kajian dan lebih fokus pada
pembahasan, maka rumusan masalah yang menjadi inti
pengkajian adalah 1) Bagaimana implementasi Pendidikan
Formal berbasis pesantren dalam bentuk Pendidikan
Diniyah Formal (PDF)?, dan 2) Bagaimana bentuk kaderisasi
ulama toleran melalui PDF pada tingkat Ulya di Pondok
pesantren Assalafi Al Fithrah Kota Surabaya? Adapun tujuan
penelitian secara umum adalah untuk mengetahui secara
lebih komprehensif tentang implementasi PDF Ulya Al
Fithrah di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Kota
Surabaya dalam mencetak kader ulama yang toleran. Tujuan
secara lebih mendetail dalam penelitian ini adalah untuk 1)
Untuk mengetahui secara lebih mendalam dan komprehensif

8 | Pendidikan Diniyah Formal


tentang implementasi Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ulya
Al Fithrah, dan 2) Untuk mengetahui bentuk kaderisasi
ulama yang toleran yang dibentuk melalui PDF Ulya Al
Fithrah di Pondok pesantren Assalafi Al Fithrah Kota
Surabaya.

 PENDIDIKAN DINIYAH FORMAL; KAJIAN YANG


MASIH TERBATAS
Pendidikan Diniyah Formal (PDF) merupakan lembaga
pendidikan yang diselenggarakan oleh pondok pesantren
salafiyah dengan persaratan tertentu, baik persaratan
administrasi, teknis, maupun kelayakan sesuai aturan.
Persaratan secara administrasi diantaranya adalah memiliki
ijin operasioanl dari Kementerian Agama Kabupaten/Kota,
merupakan organisasi nirlaba yang berbada hukum,
memiliki AD/ART, struktur organisasi/Pengurus, dan
memiliki santri yang mukim dan belajar pada pesantren yang
bersangkutan paling sedikit 300 (tigaratus) orang pada
setiap tahun selama 10 (sepuluh) tahun pelajaran terahir.
Jumlah santri 300 (tigaratus) orang ini merupakan jumlah
minimal yang benar-benar mukim pada 1 (satu) pesantren.
Persaratan teknis berkaitan dengan pesantren sebagai
penyelenggaran pendidikan diniyah formal, satuan
pendidikan formal (Rekomendasi dan struktur organisasi,
Jumlah/Persentase dan kualifikasi pendidik dan tenaga
kependidikan, memiliki calan peserta didik, kurikulum,
manajemen dan proses pendidikan, sistem evaluasi

Pendidikan Diniyah Formal | 9


pendidikan, sumber pembiayaan, dan sarana dan prasarana)
serta rencana induk pengembangan). Persaratan kelayakan
adalah persaratan kelayakan izin pendirian Pendidikan
Diniyah Formal. (Keputusan Dirjen Pendidikan Islam Nomor
5839 Tahun 2014). Adapun PDF yang diselenggarakan oleh
pondok pesantren salafiyah adalah 3 tingkatan, yaitu PDF
tingkat Ula (setingkat MI/SD), Wustho (setingkat MTs/SMP),
dan Ulya (setingkat MA/SMA/SMK).
Dengan adanya persaratan yang harus dipenuhi oleh
pondok pesantren salafiyah untuk menyelenggarakan PDF
cukup ketat, maka tidak semua pondok pesantren mampu
menyelenggarakan. Di seluruh Pondok pesantren salafiyah
yang ada di Indonesia hanya beberapa yang mampu menye-
lenggarakan PDF wustho dan ulya. Di antara PDF yang telah
berjalan dan memiliki legalitas formal dari Kementerian
Agama adalah sebagai berikut.
1. PDF Wustho Malindo Manbaul Ulum Pekalongan,
Jawa Tengah.
2. PDF Wustho Al-Munawaroh Pekanbaru, Riau
3. PDF Wustho Apik Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah
4. PDF Wustho Minhaajurrasyidiin, Lubang Buaya,
Jakarta Timur.
5. PDF Wustho Al-Fitrah Surabaya, Jawa Timur.
6. PDF Wustho Nurul Qadim, Probolinggo, Jawa Timur.
7. PDF Wustho dan PDF Ulya Al-Mubarok, Wonosobo,
Jawa Tengah.
8. PDF Ulya Salafiyah Parake, Polewali Mandar,
Sulawesi Barat.

10 | Pendidikan Diniyah Formal


9. PDF Ulya Minhaajurrasyidiin, Lubang Buaya, Jakarta
Timur.
10. PDF Ulya Al-Falah, Jepara, Jawa Tengah.
11. PDF Wustho Al-Fitrah Surabaya, Jawa Timur
12. PDF Ulya Al-Munawaroh, Pekanbaru, Riau.
13. PDF Ulya Malindo Manbaul Ulum Pekalongan, Jawa
Tengah.
Dinamika perkembangan lembaga pendidikan formal
yang berada dalam lingkup pondok pesantren salafiyah
murni biasanya mengalami tarik menarik untuk menye-
lenggarakan pendidikan formal. Hal ini dikarenakan pada
satu sisi harus tetap melestarikan kitab kuning yang diajar-
kan sekaligus menjadi pewaris ulama salaf dan keinginan
pendiri pondok pesantren. Sementara itu apabila menyeleng-
garakan pendidikan formal harus mengikuti aturan
Pemerintah dengan berbagai administrasi dan kurikulum
yang harus terpenuhi. Dari dua hal ini, pondok pesantren
assalafi al Fithrah mampu mengadaptasikan antara pondok
pesantren salafiyah murni dengan model lembaga
pendidikan formal dengan mengikuti regulasi Pemerintah.
Hal ini sesuai dengan motto yang ada di pondok pesantren
yaitu Al Muhaafadlotu ‘alaa alqodiimisshoolih wal akhdzu bil
jadiidil ashlah yaitu tetap mempertahankan kitab kuning
sebagai rujukan pembelajaran sekaligus tetap menerapkan
model sorogan dan bandongan sebagai ciri dari pondok
pesantren salafiyah dan menerima sesuatu yang baru yang
baik. Sementara itu, dengan PDF berarti mempunyai

Pendidikan Diniyah Formal | 11


konsekuensi membuka pembelajaran dengan mata pelajaran
umum sesuai dengan peraturan Pemerintah dan pem-
belajaran dengan metode pembelajaran sebagaimana pada
sekolah formal pada umumnya.
Secara umum kajian dan penelitian tentang Pendidikan
Diniyah Formal (PDF) belum banyak dilakukan. Hal ini
dikarenakan 1). regulasi penyelenggaraan program PDF
ditetapkan pada tahun 2014 dengan Peraturan Menteri
Agama (PMA) Nomor 13 tahun 2014 tentang Pendidikan
Keagamaan Islam, 2) Belum semua pondok pesantren
salafiyah menyelenggarakan program PDF, dan 3) Lulusan
PDF tingkat Ulya yang pertama tahun ajaran 1438 H/ 1439
H. atau ajaran 2018 M. /2019 M. Namun demikian, untuk
memperkaya dalam penelitian ini terdapat beberapa kajian
yang telah dilakukan oleh para peneliti pondok pesantren.
Di antara tulisan yang memiliki sedikit ketersinggungan
dengan penelitian yang dilakukan adalah tulisan Aswan yang
dimuat dalam jurnal Falasifa, Vol. 7 Nomor 1 Maret 2016
terbit STAI Al Falah Assunniyyah Jember. Judul artikel
“Integrasi Pendidikan Formal Dan Pendidikan Diniyah
Salafiyah Terhadap Santri Assunniyyah Kencong Jember
Sebagai Antisipasi Ouput Pesantren Di Era Regulasi
Pendidikan Nasional”. Artikel ini menekankan pada regulasi
tentang integrasi sistem pendidikan di pondok pesantren
Assunniyyah sebagai pesantren murni salaf akan tetapi
dalam bidang kurikulum ditunjang dengan sistem yang
sudah modern/formal klasikal dan telah terjadi integrasi

12 | Pendidikan Diniyah Formal


melalui kurikulum dan pembelajaran tradisional dari pola
pengajaran sorogan, bandongan, wetonan dan muhafazhah/
hafalan sebagai syarat kenaikan kelas santri sampai pada
pola klasikal dengan penjenjangan.
Tulisan kedua yang mencoba “membedah” ke-
tradisionalan Pesantren dari persoalan kultur, tradisi, dan
pemikiran adalah tulisan Mochammad Achyat Ahmad
dengan judul Liberalisasi Islam di Pesantren. Dari tulisan
tersebut bahwa setelah pesantren banyak melakukan
pergeseran-pergeseran penting dari tradisionalisme ke
modernisme berdampak pada tidak terdapatnya perbedaan
dengan penerapan sistem pendidikan modern. Hal ini karena
pesantren harus maju mengikuti perkembangan zaman dan
realitasnya sistem dan produk pesantren relatif dapat
bersaing dengan dunia luar. Di sinilah pesantren ketika
melakukan penyesuaian-penyesuaian sistem adalah sebuah
keniscayaan meskipun tidak berarti harus menghilangkan
identitas diri atau abai terhadap karakter dan status asalnya.
Penelitian yang langsung terkait dengan PDF Ulya Al
Fithrah telah dilakukan oleh beberapa Mahasiswa Perguruan
Tinggi Islam di Surabaya sebagai tugas penyusuna Skripsi. Di
antara penelitian tersebut adalah tentang efektivitas
Cognitive Behavior Therapy Dalam Meningkatkan Self-
Regulated Learning Santri Kelas Isti’dad Ulya B (Kelas
Persiapan) di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah oleh
Muhammad Ulil Absor. Hasil penelitian bahwa konseling
dengan Cognitive Behavior Therapy Dalam Meningkatkan

Pendidikan Diniyah Formal | 13


Self-Regulated Learning Santri Kelas Isti’dad Ulya B (Kelas
Persiapan) di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah melalui 5
(lima) tahapan yaitu identifikasi, diagnosisis, prognosis,
treatment, dan follow up.
Penelitian berikutnya adalah tentang Pengaruh
Mindfullness Therapy dalam Meningkatkan Regulasi Emosi
Santriwati Kelas Isti’dad Pendidikan Diniyah Formal (PDF)
Ulya Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Penelitian yang
dilakukan oleh Tri Anita Jumaroh menyimpulkan bahwa
penggunaan Mindfullness Therapy berpengaruh dalam
meningkatkan regulasi emosi santriwati kelas Isti’dad Ulya di
Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya.

14 | Pendidikan Diniyah Formal


Bab II
PONDOK PESANTREN: LEMBAGA
PENDIDIKAN TAFAQQUH FI ADDIEN

Kajian pondok pesantren selalu mengalami per-


kembangan seiring dengan dinamika pondok pesantren
dalam mengikuti “irama” peradaban bangsa. Pondok
pesantren salafiyah dituntut untuk tetap mempertahankan
tradisi penguasaan kitab kuning (kutub at-turats) sebagai
sumber pendidikan agama dan juga dituntut untuk ber-
adaptasi dengan pola pendidikan yang dikembangkan oleh
Pemerintah yang notabene lebih mengedepankan pen-
didikan umum. Dualisme orientasi dalam aspek pendidikan
antara kepentingan pondok pesantren salafiyah dengan
Pemerintah membutuhkan “penyatuan”, sehingga kedua
kepentingan tersebut dapat terakomodasi. Pondok
pesantren tetap berjalan sesuai dengan tujuan utamanya
sebagai lembaga pencetak kader ulama sekaligus
mengakomodir model pendidikan umum yang menjadi

Pendidikan Diniyah Formal | 15


regulasi Pemerintah. Ja;an keluar biasanya 70% kurikulum
pendidikan keagamaan Islam dan 30% Pendidikan umum
atau dengan membuka program B setingkat MTs/SMP dan
atau paket C setingkat MA/SMA.
Sementara itu, dalam dunia pondok pesantren juga
mengalami pergeseran orientasi kelembagaan. Pergeseran
ini paling tidak terlihat dalam pengembangan model pondok
pesantren, yaitu;
1. Pengembangan kelembagaan pendidikan model
pesantren salafiyyah murni dengan membuka
sekolah formal berbasis pendidikan umum. Contoh
model pesantren ini adalah Ponpes Al Hikmah Benda
Sirampog Jawa Tengah yang membuka sekolah
formal berbasis pendidikan umum.
2. Pengembangan kelembagaan pendidikan model
pesantren salafiyyah murni dengan membuka
sekolah formal berbasis pendidikan keagamaan Islam
(madrasi). Contoh model pesantren ini adalah
Ponpes Al Fithrah yang berpusat di Kedinding Kota
Surabaya.
3. Mendirikan pondok pesantren modern yang me-
madukan dua unsur sekaligus yaitu menyeleng-
garakan pendidikan umum akan tetapi juga tidak
menyampingkan pendidikan keagamaan Islam yang
bersumber dari kitab kuning,
Pergeseran orientasi pondok pesantren merupakan
jawaban pondok pesantren terhadap keinginan santri dan
orang tua santri agar setelah selesai mondok dapat

16 | Pendidikan Diniyah Formal


melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Bagi pondok pesantren
seperti pondok modern Gontor tidak lagi membuka sekolah
formal karena ijazah dari Ponpes Gontor telah diakui
Pemerintah dan Perguruan Tinggi, sehingga alumninya dapat
tidak memerlukan lagi ijazah formal. Sebenarnya pondok
pesantren salafiyah juga dapat menggunakan Sistem
Mu’addalah sehingga tidak perlu lagi membuka lembaga
pendidikan formal.
Meskipun varian model penyelenggaraan pondok
pesantren semakin banyak akan tetapi secara prinsip
memiliki tujuan tunggal yaitu sebagai lembaga tafaqquh fi
addien. Disinilah pesantren punya keunggulan-keunggulan
yang tak dimiliki oleh sistem pendidikan lain (Ahmad,
1434;25). Namun demikian, tetap saja pergeseran orientasi
pondok pesantren salafiyah (tradisional) ke khalafiyah
(modern) berdampak pada karakter yang dibangun dari
kepatuhan kepada Kiai (ta’dhim wal ikhtiroom), keseder-
hanaan yang mencontoh figur Kiai, akhlak terhadap teman
sesama santri, serta berpegang atau merujuk pada ulama
salafussholih ikut tereduksi, sehingga harapan orang tua
untuk menjadikan anaknya tafaqquh fi ad-din sulit terpenuhi.
Terjadinya pergeseran dalam dunia pendidikan di
pondok pesantren salafiyah merupakan keniscayaan,
meskipun beberapa pondok pesantren tetap memper-
tahankan ke-salafiyah-annya, seperti pada pondok salafiyah
yang didalamnya juga mengkhususkan pada tahfidzul qur’an.
Bagi pondok pesantren salafiyah yang adaptif dengan

Pendidikan Diniyah Formal | 17


lembaga pendidikan yang sedang berkembang akan
mengalami inovasi-inovasi dalam berbagai aspek secara
kelembagaan. Inovasi ini tidak selalu menggerus atau
menghilangkan pondok pesantren salafiyah karena bisa saja
tetap pada garis ideologinya yaitu mempertahankan kajian
kitab kuning karya ulama salaf sebagai inti pembelajaran.
Diversifikasi yang terjadi pada pondok pesantren
salafiyah pada tataran kelembagaan bukan pada pengkajian
sehingga ketika pondok pesantren dikenal dengan salah satu
keilmuan maupun tradisi tertentu akan tetap dipertahankan
meskipun telah menyelenggarakan lembaga pendidikan
formal. Sebagai contoh pondok pesantren yang mengkaji
kitab-kitab khusus seperti fikih, hadits, tasauf, tafsir akan
tetap dikenal sebagai pondok dengan spesialisasi kitab fikih,
hadits, tasauf, tafsir. Begitu juga tradisi yang dikembangkan
pondok pesantren seperti thariqah sehingga dikenal terdapat
pondok pesantren toriqoh.
Berbagai bentuk perubahan yang terjadi di pondok
pesantren salafiyah dan tetap mempertahankan watak
keasliannya menurut Nurcholis madjid bahwa pondok
pesantren secara historis tidak hanya identik dengan makna
keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian
Indonesia (indigenous) sehingga tidak bisa dipungkiri bahwa
pesantren adalah sebuah lembaga sistem pendidikan-
pengajaran asli Indonesia yang paling besar dan mengakar
kuat (Madjid,1997: 3). Namun demikian, watak keaslian ini

18 | Pendidikan Diniyah Formal


tetap membuka atau menerima sistem pendidikan modern
yang diusung oleh Belanda sebagai negara penjajah.
Dalam sejarah, keterbukaan pondok pesantren me-
nerima sistem pendidikan modern diawali oleh pondok
pesantren Mambaul Ulum di Surakarta yang berdiri tahun
1906. Menurut Nurcholis Madjid Pesantren Mambaul Ulum
mengambil tempat paling depan dalam merambah bentuk
respon pesantren terhadap eskpansi pendidikan Belanda
dan pendidikan Islam modern. Rintisan ini diikuti oleh
pesantren Tebuireng pada tahun 1916 mendirikan Madrasah
Salafiyah yang tidak hanya mengadopsi sistem pendidikan
modern, tetapi juga memasukkan beberapa pelajaran umum
seperti berhitung, bahasa Melayu, ilmu bumi, dan menulis
dengan huruf latin ke dalam kurikulumnya (Madjid, 1997:
xvii).

 INDIGENOUS PONDOK PESANTREN SALAFIYAH


Watak keaslian pondok pesantren salafiyah sejak berdiri
sampai sekarang tidak bergeser yaitu sebagai lembaga
pendidikan yang mencetak kader ulama, fokus pada kajian-
kajian kitab salafiyah karya ulama salaf, dan tetap men-
junjung tinggi khazanah keilmuan agama yang terper-
sonifikasi pada sosok Kiai sebagai pimpinan pondok
pesantren. Menurut Chirzin setiap pesantren salafiyah
memiliki ciri khas dalam penekanan yang menunjukan
ketidak seragaman merupakan ciri pesantren salaf sekaligus
tanda atas kebebasan dari tujuan pendidikan (Wahjoetomo;
1997: 84).

Pendidikan Diniyah Formal | 19


Ketidak seragaman pondok pesantren salafiyah menurut
hemat penulis terjadi pada beberapa hal, yaitu 1) Orientasi
pesantren cukup beragam seperti ada pesantren yang
menguatkan pada thariqah, akhlak-tasawuf, fiqh, dan tahfidz,
2) Konsekuensi dari perbedaan orientasi menjadikan kitab
yang dipelajari tidak sama antar satu pesantren dengan
pesantren lainya, 3) Perbedaan kitab akan berpengaruh pada
sikap dan perilaku santri sehingga terdapat santri dengan
tingkat keta’dhiman berbeda antara satu santri ponpes
dengan santri ponpes lainnya, seperti terdapat santri sufi,
santri thariqat, santri ahli fiqh, dan santri yang kuat
mengedepankan rasionalitas, 4) Perbedaan perilaku santri
juga berefek pada adanya santri yang berani mengadakan
demonstrasi (paling tidak keluar dari Pesantren) dan
kebanyakan santri menerapkan pola sam’an, wa tho’atan,
tashdiq, wal ikhtiroom.
Pergeseran dalam membuka sistem pendidikan di
pondok pesantren salafiyah juga ada yang diawali dengan
membuka madrasah salafiyah. Pondok pesantren ini
menerapkan sistem klasikal dan membuka mata pelajaran
umum. Sistem ini meningkat menjadi sistem madrasi ketika
terdapat kenaikan kelas bukan sekedar pada kenaikan kitab
dan meningkat pada bentuk-bentuk sekolah. Dalam
beberapa kebijakan mengikuti kebijakan Pemerintah, seperti
mengikuti sistem mu’addalah, Paket B atau C, dan yang
terahir adalah dengan mengikuti sistem PDF (Pendidikan
Diniyah Formal).

20 | Pendidikan Diniyah Formal


Terjadinya pergeseran pondok pesantren yang
melibatkan dalam dunia pendidikan formal tidak menggeser
tujuan pondok pesantren (salafiyah) sebagai pusat kajian
kitab kuning. Di sinilah salah satu watak indegenous pondok
pesantren salafiyah yang tetap bertahan sekalipun per-
kembangan lembaga pendidikan mengalami lompatan
paradigma mengikuti perkembangan global. Pondok
pesantren seolah tidak pernah mengalami keresahan untuk
mengembangkan kreatifitas pendidikan agar tetap mem-
peroleh tempat yang diminati oleh masyarakat. Bahkan
sebaliknya, model pendidikan ala pondok pesantren menjadi
rujukan bagi pengembangan lembaga pendidikan baru
dengan sistem boarding school.
Era modernitas bukan saja menuntut pondok pesantren
salafiyah beradapatasi dan bersaing dengan lembaga pen-
didikan keagamaan modern, akan tetapi membuka cakra-
wala baru terutama dalam bidang teknologi informatika.
Pembelajaran kitab kuning dapat dilakukan dengan
menggunakan sarana dan prasarana digital dan berlangsung
kapan saja dan dimana saja yang penting masih terjangkau
oleh jaringan internet. Geliat pondok pesantren salafiyah
memanfaatkan teknologi digital menjadi hal yang biasa,
apalagi beberapa kitab kuning sudah tercetak dalam bentuk
digital.
Akibat dari teknologi digital yang merambah pada
tercetaknya kitab kuning dalam bentuk digital akan terus

Pendidikan Diniyah Formal | 21


dikembangkan. Kalau sudah demikian, apakah watak
indigenous pondok pesantren salafiyah akan hilang atau
minimal semakin berkurang dan mungkinkan tidak ada lagi
istilah kitab kuning karena sudah tergantikan dengan media
digital? Berbagai spekulasi dan konsekuensi akan terus
menjadi bahan pemikiran bagi pondok pesantren salafiyah.
Spekulasi yang mungkin muncul adalah tercerabutnya kitab
kuning dalam bentuk lembaran yang ditenteng ketika akan
mengaji dan hilangnya model pemaknaan menggantung
pada kitab dalam bahasa khas Pesantren salafiyah yaitu
bahasa Jawa.
Konsekuensi berada dalam peradaban yang serba
digital, pondok pesantren mau tidak mau harus mampu
menghadapi dan menggunakan teknologi tersebut.
Konsekuensi ini sebenarnya telah dipredeksi sejak awal yaitu
dengan adanya motto yang hampir selalu ditampilkan di
ruang-ruang publik pondok pesantren salafiyah yaitu
memelihara dan melestarikan nilai lama yang baik dan
mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik. Era digital adalah
era baru yang memiliki nilai kebaikan untuk diterapkan
dalam pembelajaran saat ini.

 PESANTREN; SEJARAH DAN ORIENTASI PEN-


DIDIKAN
Pondok pesantren pada awal berdirinya merupakan
lembaga yang mencetak kader ulama sehingga dikenal
dengan pencetak majikan. Hal ini dikarenakan lulusan
pondok pesantren dalam sejarahnya selalu mengarahkan

22 | Pendidikan Diniyah Formal


para santrinya memiliki kemampuan agama yang bersumber
dari kitab-kitab karya ulama salaf bukan menjadi pegawai
pemerintah. Bahkan dalam beberapa pesantren sebagai
pusat perlawanan terhadap penjajah dan beberapa ajaran
“berseberangan” dengan pemerintah.
Sejarah mencatat bahwa Pesantren sebagai pusat
perlawanan terhadap penjajah karena awal berdirinya
pondok pesantren pada saat bangsa ini mengalami
penjajahan. Pesantren sebagai perlawanan terhadap
penjajah tidak hanya dalam bentuk perlawan fisik, melainkan
semangat yang kuat untuk mempertahankan negara sebagai
negara yang merdeka dan bebas dari penjajah. Perlawanan
pondok pesantren merata di berbagai daerah terutama di
Jawa Timur dengan basis pesantren yang kuat. Bahkan untuk
memotivasi dan membangkitkan semangat perjuangan
diciptakan syair lagu, yaitu Yaa ahlal wathon karya Kiai
Wahab. Syair yang sangat fenomenal tersebut adalah sebagai
berikut.
Yaa ahlal wathon yaa ahlal wathon Yaa ahlal wathon
Hubbul wathon minal iman
Walaa takun minal hirmaan
Inhadluu Ahlal Wathon (dua kali)

Induunisiyyaa Biilaadii
Anta „Unwaanul Fakhomaa
Kullu Man Ya‟tiika Yaumaa
Toomihan Yalqi Himaamaa

Pendidikan Diniyah Formal | 23


Pusaka hati wahai Tanah Airku
Cintamu dalam imanku
Jangan halangkan nasibmu
Bangkitlah, hai, Bangsaku

Indonesia negeriku
Engkau panji martabatku
Siapa datang mengancammu
„Kan binasa di bawah dulimu
Kelahiran pondok pesantren sebagai benteng dari
kekuatan moral dan bersumber dari ajaran agama tetap saja
tidak mengalami pergeseran orientasi yaitu sebagai lembaga
pendidikan tradisional dengan kajian kitab kuning. Karakter
ini (terutama pondok pesantren salafiyah) sampai sekarang
tetap dipertahankan seperti pondok pesantren sehingga
kemandirian setelah santri lulus dari pondok pesantren
dapat dijadikan model bagi lembaga pendidikan. Pondok
pesantren menciptakan suasana kelembagaan yang serba
mandiri seperti memasak dan mencuci serta membentuk
pola kehidupan yang sederhana. Model kehidupan seperti ini
denga sendirinya akan membentuk karakter santri yang
mandiri dan biasa bekerja sendiri dan tetap pada tujuan
utamanya, yaitu memperdalam ilmu-ilmu agama. Lulusan
pesantren sebagian besar bekerja di sektor swasta daripada
menjadi pegawai negeri. Menurut A. Mukti Ali (1987: 20),
Pondok pesantren bukanlah suatu lembaga pendidikan
untuk mencetak “pegawai” yang mau diperintah oleh orang

24 | Pendidikan Diniyah Formal


lain akan tetapi lembaga pendidikan yang mencetak
“majikan” untuk dirinya sendiri. Pesantren mencetak
generasi yang tetap istiqomah dalam pengembangan
intelektual yang didasarkan pada kitab kuning.
Pondok pesantren memiliki kekuatan tetap mem-
pertahankan tradisi kepesantrenan termasuk tradisi
pengelolaan dengan kurikulum khusus yaitu kitab kuning.
Sejarah mempertahankan kitab kuning sebagai satu-satunya
sumber rujukan pembelajaran sekaligus sebagai kurikulum
inti adalah satu sisi “genre” pesantren. Akan tetapi menerima
model lembaga pendidikan kekinian yang berkembang
seirama dengan perkembangan zaman dan tuntutan
modernitas merupakan bentuk “kelenturan” dalam meng-
akomodasi tuntutan tersebut. Jargon Almukhaafdlotul –‘alal
qaadiimisshalih Walakhdzu biljadidiil ashlakh menjadi jargon
yang sangat populer. Jargon yang diambil dari kaidah ushul
Fiqih ini tidak mengurangi substansi pembelajaran kitab
kuning.
Secara substansi pengembangan pondok pesantren
dengan mengadopsi model pendidikan formal lebih
terstruktur, akan tetapi nilai-nilai tradisi yang berlaku akan
mengalami pergerseran, seperti dari model sorogan yang
mengedepankan pembelajaran face to face antara santri
dengan Kyai bergeser menjadi kalsikal yang diatur dalam
pola kelas dan tingkatan kelas. Padahal dalam pembelajaran
sorogan terdapat nilai tidak sekedar pada substansi kitab
yang dibaca akan tetapi pada ikatan antara santri dengan

Pendidikan Diniyah Formal | 25


Kyai yang lebih dekat karena terjadi dialog individual.
Sementara pembelajaran di kelas tidak akan sedekat secara
pribadi antara santri dengan ustad karena pembelajaran
dilakukan dengan kelompok.
Tuntutan pesantren untuk mengadopsi model
pembelajaran klasikal secara otomatis tidak dapat dinafikan
terjadinya pergeseran orientasi Pendidikan. Dalam
pengamatan penulis bahwa pergeseran orientasi terjadi
minimal seperti 1), pembelajaran ditentukan dengan waktu
yang rigit, 2) adanya standar lulusan yang harus dicapai
sesuai dengan regulasi pemerintah (Kementerian Agama), 3)
adanya struktur kurikulum yang baku baik kurikulum
pesantren maupun kurikulum pemerintah, 4) pembatasan
waktu belajar karena tingkatan kelas dan kelulusan santri, 5)
adanya nilai kuantitatif sebagai hasil belajar, 6) melakukan
evaluasi semesteran, mid semester, dan ulangan harian, dan
7) diperolehnya ijazah formal untuk melanjutkan studi.
Adanya pergeseran orientasi pendidikan dengan
mengikuti pola atau regulasi yang ditetapkan oleh
Kementerian Agama tidak serta menggeser kualitas santri
dalam penguasaan kitab kuning maupun pembentukan
karakter santri. Menurut dr Sutomo yang dikutip oleh
Dawam Rahardjo (1985: ix-x) ada beberapa hal yang sudah
menjadi bagian dari kehidupan santri di pondok pesantren
salafiyah yaitu; Pertama, sistem pondoknya di mana
pendidik bisa melakukan tuntutan dan pengawasan
langsung, kedua, keakraban hubungan antara santri dan kiai

26 | Pendidikan Diniyah Formal


sehingga bisa memberikan pengetahuan yang hidup, ketiga,
pesantren mampu mencetak orang-orang yang bisa
memasuki semua lapangan pekerjaan yang bersifat merdeka,
keempat, cara hidup para kiai yang sederhana tetapi penuh
kesenangan dan kegembiraan, dan kelima, pesantren
merupakan sistem pendidikan yang murah biaya penyeleng-
garaannya untuk menyebarkan kecerdasan bangsa.
Kelima karakter yang dibangun pondok dalam
kehidupan santri adalah keunggulan yang sulit mengalami
pergeseran. Apalagi pondok pesantren yang memiliki santri
cukup banyak dan memiliki figur Kyai sebagai pendiri
sekaligus pimpinan pondok pesantren dan menjadi panutan
ummat Islam secara umum. Bahkan pergeseran juga tidak
terjadi pada sifat santri dengan Panca Jiwa kepesantrenan,
yaitu keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah
Islamiyah, dan kemerdekaan (Hajar, 2009: 41),

 KITAB KUNING DI TENGAH TARIK MENARIK


KURIKULUM PEMERINTAH
Kitab kuning bagi pondok pesantren salafiyah adalah
“ruh”nya sehingga apabila pondok pesantren tidak
mengajarkan kitab-kitab karya ulama salaf tersebut bukan
pondok pesantren salafiyah. Penguasaan kitab kuning adalah
identitas pengembangan intelektual kaum sarungan yang
dijadikan barometer keberhasilan pondok pesantren.
Identitas lainya seperti 1) hubungan kekerabatan antara
santri dengan kiai, 2) sikap ta’dzimnya santri terhadap kiai

Pendidikan Diniyah Formal | 27


dengan istilah sam’an wa tho’atan, tashdiq wal ikhtirom
(selalu mendengarkan apa yang dikatakan kiai, selalu
menaati apa yang diperintah kiai, selalu membenarkan
perkataan dan perilaku kiai, dan selalu memuliakan kiai dan
keluarganya), 3) kegiatan pembelajaran yang cenderung apa
adanya, 4) selalu memakai sarung dan pecis dalam setiap
aktivitas apapun, dan 5) pola hidup yang sederhana baik
dalam berpakaian maupun memenuhi aktifitas kebutuhan
hidup sehari-hari.
Perjalanan kitab kuning sebagai “kurikulum” pokok
pondok pesantren salafiyah mendapat “ancaman” apabila
menyelenggarakan lembaga pendidikan formal dengan
regulasi Pemerintah. Akomodasi kurikulum menjadi
keniscayaan meskipun dengan komposisi 70% kurikulum
keagamaan Islam dan 30% kurikulum umum, padahal
apabila santri harus mempelajari mata pelajaran umum
maka tuntutan penguasaan kedua kurikulum (Agama dan
Umum) harus seimbang. Asumsi ini berlaku bagi pondok
pesantren yang menerapkan regulasi dan secara ketat
melaksanakan sesuai dengan jadwal pembelajaran. Akan
tetapi pondok pesantren salafiyah sebenarnya dapat
mensikapi dengan menjadikan 30% mata pelajaran umum
sebagai komplemen karena jurusan yang diterapkan juga
bukan jurunsa IPA, IPS dan Bahasa, melainkan jurusan
keagamaan Islam.
Beberapa pondok pesantren salafiyah mampu
melakukan proses penyelenggaraan lembaga pendidikan
formal akan tetapi tidak kehilangan jati dirinya sebagai

28 | Pendidikan Diniyah Formal


lembaga pendidikan kitab kuning. Menurut Muh. Tolkhah
Hasan (1989: 75) Penguasaan santri terhadap kitab kuning
pada pondok pesantren salaf selain kemampuan berbahasa
Arab secara lisan dan tulisan adalah penguasaan isi kitab
kuning. Untuk menguasai kitab kuning tersebut dilakukan
secara periodik, yaitu santri diminta untuk membahas kitab
kuning dan menjelaskan kedudukan kalimat dan pengertian
isinya. Selain itu juga diadakan ujian lisan dan tulisan
(Tolkhah, 1989: 75). Artinya bahwa penguasaan kitab kuning
tetap dapat dilakukan meskipun santri dibebani 30% mata
pelajaran umum pada sekolah formal yang diselenggarakan.
Hal ini dikarenakan pesantren dapat mengatur waktu dan
mekanisme ujian apalagi evaluasi atau penilaian seperti ini
biasanya dilakukan dengan cukup sederhana, yaitu apabila
para santri telah selesai mempelajari kitab kuning sebagai
kurikulum yang dipelajari selama belajar dengan kiai dan
kiai memperbolehkan untuk mengkaji kitab lain yang lebih
tinggi, maka dengan sendirinya tujuan pembelajaran
dianggap sudah selesai sesuai dengan tujuannya. Paling tidak
santri telah mampu memahami teks kitab kuning yang
dibaca (Fahmul Maqru’) dan santri mampu menyampaikan
isi pikiran dalam bahasa arab secara lisan, dimana orang lain
mampu memahami apa yang diucapkan (Ta’bir Syafahi).

 PDF ULYA PUSAT KADERISASI ULAMA TOLERAN;


SEBUAH KERANGKA BERFIKIR
Kajian Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ulya di Pondok
pesantren Assalafi Al Fithrah ini berkaitan dengan
implementasi Pendidikan Formal dalam bentuk PDF dengan

Pendidikan Diniyah Formal | 29


basis pesantren salafiyah dan bentuk kaderisasi ulama
toleran yang dibagun melalui PDF Ulya Al Fithrah di Pondok
pesantren Assalafi Al Fithrah Kota Surabaya. Secara
sederhana, kerangka pikir yang dijadikan alur dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut.
Intrumental-Input
1.Regulasi (PMA) Nomor 13 tahun 2014
2. Pengelola PDF Ulya
3. Kitab kuning/Bahan ajar
4. Mata pelajaran Umum / Bahan Ajar
5. Tenaga Pendidik dan Kependidikan
6. Sarana dan Prasarana
7. Pembiayaan

Process
Semua input diproses dan terproses melalui
pengelolaan dan pelayanan pembelajaran kitab
kuning dan mapel umum yang dikembangkan Output
Raw-Input
dan dilaksanakan oleh Pengelola Pendidikan Kader Ulama
Santri PDF Ulya
Diniyah Formal Ulya Al Fithrah. Keterlayanan Toleran
tersebut dalam rangka transformasi isi dan nilai
yang diemban oleh kurikulum/kitab kuning dan
mata pelajaran umum. Proses ini dalam
kerangka kaderisasi ulama toleran

Instrumental input dalam penyelenggaraan PDF Ulya ini


merupakan masukan (Input) yang keberadaannya dan
pemanfaatannya diatur untuk mencapai hasil pembelajaran
yang diharapkan. Regulasi PMA No. 13 tahun 2014 menjadi
sangat penting sebagai dasar dalam penyelenggaraan PDF.
Begitu juga Pengelola, kitab kuning dan mata pelajaran
umum sebagai bahan ajar, tenaga pendidik dan kepen-
didikan, sarana dan prasarana dan pembiayaan. Keseluruhan
instrumen tersbut menjadi sangat urgen mencapai hasil yang
diharapkan. Raw input merupakan kualitas santri yang akan
mengikuti proses pendidikan di PDF Ulya Al Fithrah. Kualitas

30 | Pendidikan Diniyah Formal


input ini didasarkan pada pola Isti’dadiyah sebelum
mengikuti proses pembelajaran di kelas PDF Ulya bagi santri
alumni MTs atau SMP, sedangkan alumni dari PDF Wustho
bisa langsung mendaftar ke PDF Ulya. Out Put
Proses pembelajaran PDF Ulya Al Fithrah merupakan
kegiatan yang melibatkan seluruh komponen pembelajar
sehingga bagi peserta didik memperoleh keterlayanan
pendidikan yang optimal. Diantara yang memiliki peran
terhadap keterlayanan peserta didik adalah kepemimpinan
kepala PDF Ulya, Manajemen pengelolaan, membangun
budaya yang sesuai dengan karakter pondok pesantren
salafiyah, adanya team work yang solid untuk mendukung
jalanya pembelajaran, adanya kemandiri pengelola, dan
adanya evaluasi pembelajaran. Output merupakan keluaran
yang dihasilkan dari proses pembelajaran selama di PDF
Ulya Al Fithrah. Output ini memiliki dua dimensi, yaitu yang
diharapkan dan tidak diharapkan. Output yang diharapkan
adalah menjadi kader ulama penerus ulama salafussholih
dan yang tidak diharapkan adalah keluar dari jalur tersebut.

 METODOLOGI DAN TEKNIK ANALISIS DATA


Buku ini merupakan hasil penelitian dan yang menjadi
lokus penelitian adalah PDF Ulya Al Fithrah. Penetapan ini
didasarkan pada PDF Ulya Al Fithrah telah meluluskan santri
pada tahun ajaran 1438 H. / 1439 H. sebagai lulusan pertama
dan alumni telah melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi
Negeri maupun swasta. Disamping itu, pelaksanaan

Pendidikan Diniyah Formal | 31


pembelajaran model PDF Ulya Al Fithrah telah didasarkan
pada Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 13 tahun 2014
tentang Pendidikan Keagamaan Islam, baik dari aspek
kurikulum maupun manajemen PDF.
Alasan Pemilihan PDF Ulya Al Fithrah juga didasarkan
pada beberapa hal, yaitu 1) PDF Ulya Al Fithrah merupakan
satu-satunya PDF yang berada di Kota Surabaya meskipun
terdapat banyak Pondok Pesantren salafiyah yang memiliki
santri lebih dari 300 santri dalam kurun waktu 10 tahun, 2)
PDF Ulya Al Fithrah telah berhasil meluluskan santri dan
berhasil mendaftar ke Perguruan Tinggi terutama di UIN, 3).
PDF Ulya Al Fithrah memiliki legitimasi yang kuat dari
Pemerintah dan telah memiliki Nomor Pokok Sekolah
Nasional (NPSN) 69937227 dan NSPDF 231235780008, 4)
PDF Al Fithrah merupakan PDF yang berada di bawah
pondok pesantren salafiyah murni yang kental sekali dengan
tariqat Nasyabandiyah Qadiriyah Ustsmaniyah, dan 5)
Ponpes Al Fithrah terkenal dengan adaptifitas terhadap
perkembangan lembaga pendidikan dan selalu mengikuti
regulasi dari Pemerintah.
Desain penelitian dirumuskan dengan desain penelitian
kualitatif. Oleh karena itu, pengumpulan data dilakukan
dengan teknik wawancara, pengamatan, telaah dokumen dan
Focus Group Discussion (FGD). Wawancara dilakukan dengan
Kepala PDF Ulya Al Fithrah sebagai informan utama, Waka.
Kurikulum santri PDF Ulya Al Fithrah, Ka. TU PDF Ulya, orang
tua santri, dan santri PDF Ulya. Pengamatan dilakukan pada

32 | Pendidikan Diniyah Formal


saat pembelajaran di kelas dan di masjid, pada saat santri
istirahat, dan pada saat santri mengikuti kegiatan pondok
seperti tawajuhan, istighotsah, dan manaqiban baik di siang
hari maupun di malam hari. Telaah dokumen dilakukan
untuk memperoleh data-data yang bersifat dokumenter,
seperti kitab/buku sebagai bahan ajar, profil pondok
pesantren, dan berbagai dokumen yang bersifat foto kegiatan
PDF Ulya. Focus Group Discussion (FGD) dilakukan sebagai
langkah triangulasi data terhadap hasil temuan sementara
yang masih memerlukan penjelasan lebih komprehensif.
Dalam FGD ini dilibatkan peserta dari Pondok pesantren
salafiyah lain yang memiliki potensi untuk menyeleng-
garakan PDF.
Di samping data primer seperti yang dijelaskan di atas
juga dilakukan pengumpulan data yang bersifat data
sekunder. Data sekunder ini dihasilkan dari hasil pengamat-
an interaksi antara santri dengan santri, santri dengan
pengasuh, pengamatan di kelas pada saat pembelajaran
berlangsung baik pembelajaran kitab kuning maupun mata
pelajaran umum, pengamatan pada saat kegiatan ekstra-
kurikuler santri, dan sumber data yang dihasilkan dari telaah
jargon-jargon yang tertera di dinding Ppondok pesantren.
Analisis dalam penelitian ini menekankan pada analisis
konteks terkait dengan penyelenggaraan PDF Ulya Al Fithrah
dan proses pembelajaran yang meliputi kurikulum atau
bahan ajar yang terkait dengan pembentukan kader ulama.
Adapun konteks dilihat dari seluruh rangkaian proses dari

Pendidikan Diniyah Formal | 33


input, raw input, process, dan out put. Dari proses analisis
inilah, penelitian ini menekankan pada analisis secara siklik,
yaitu sejak mulai dilakukan proses pengumpulan data,
penyajian data, reduksi data, dan penarikan kesimpulan.
Secara skematis analisis tersebut sebagaimana yang di-
kembangkan oleh Mills & Hubbermen (1984), yaitu

Data
Collection

Data
Data Display
Reduction

Conclusion
Drawing/Verifying

Alur analisis model siklik dari Mills & Hubbermen di atas


bahwa penelitian ini dilakukan dengan pengumpulan data
sebagai langkah awal kemudian dilakukan reduksi data
untuk pemilahan data, dan penyederhanaan data dari
catatan lapangan. Semua data yang dikumpulan dan
dianalisis adalah data yang sesuai dengan pokok masalah
yang telah ditetapkan sebagai tujuan penelitian. Dalam
analisis ini diperkuat dengan hasil triangulasi data melalui
FGD Metode ini digunakan untuk cross check data sekaligus
untuk memperoleh kebenaran informasi yang diperoleh
sebelumnya berdasarkan hasil wawancara Menurut Moleong
(2008), bahwa dengan triangulasi data tersebut peneliti
dapat me-recheck temuanya dengan jalan membanding-
kannya dengan berbagai sumber, metode, atau teori.

34 | Pendidikan Diniyah Formal


Bab III
PENDIDIKAN DINIYAH FORMAL (PDF)
ULYA AL FIHTRAH; PENCETAK KADER
ULAMA TOLERAN

Pondok Pesantren Al Fithrah berada di jalan Kedinding


Lor nomor 99 Kedinding Kenjeran Surabaya. Pondok
Pesantren Assalafi Al Fithrah didirikan tahun 1985 oleh
Hadhratusy Syaikh KH. Achmad Asrori Al Ishaqy RA (Kyai
Asrori) putera dari Kyai Utsman Al-Ishaqi1 (meninggal tahun

1Kyai Utsman Al-Ishaqi adalah mursyid Tarekat Qadiriyah wa


Naqsyabandiyah. dan sepeninggal Kiai Utsman tahun 1984 diteruskan
oleh putranya Kiai Ahmad Asrori sebagai mursyid. Dari sinilah ketokohan
Kiai Asrori mulai nampak meskipun masih dalam usia yang masih muda.
Langkah menjadi mursid di usia muda ini ternyata ada sebagaimana
diceritakan pada tanggal 16 Maret 1988 beberapa pengikut berangkat
meninggalkan Surabaya menuju Kebumen untuk melakukan baiat kepada
Kiai Sonhaji. Langkah tersebut tidak menyurutkan langkah Kiai Asrori
menjadi mursid sekaligus memimpin pesantren Al-Fithrah di Kedinding
Lor dengan sistem klasikal dan kurikulum yang diterapkan meng-
gabungkan pengetahuan umum dan pengajian kitab kuning. Langkah lain

Pendidikan Diniyah Formal | 35


1984). Proses pendirian tidak berbeda dengan pondok
pesantren besar lainnya seperti Ponpes Tebuireng, yaitu
bermula dari kediaman Kyai Asrori dan mushola. Adapun
santri tidak hanya yang mondok di Ponpes tersebut
melainkan terdapat santri yang berasal dari Pondok
Pesantren Darul ‘Ubudiyah Jatipurwo Surabaya yang
didirikan dan diasuh oleh Hadhrotusy Syaikh Al Arif Billah
KH. Muhammad Utsman Al Ishaqy ra.

dari Kyai Ahmad Asrori adalah menggagas jamaah Al-Khidmah yang


sebagian anggotanya adalah pengamal tarekat Tarekat Qadiriyah wa
Naqsyabandiyah. Jamaah ini menarik karena sifatnya yang inklusif tidak
memihak salah satu organisasi sosial manapun dan murni keagamaan
tanpa muatan-muatan politis, terbuka bagi siapa saja yang ingin
menempuh perjalanan mendekat kepada Tuhan tanpa membedakan baju
dan kulit luarnya. Riawayat belajar Kiai Asrori tidak teratur, yaitu belajar
di Rejoso satu tahun, di Pare satu tahun, dan di Bendo satu tahun. Di
Rejoso ia malah tidak aktif mengikuti kegiatan ngaji. Ketika hal itu
dilaporkan kepada pimpinan pondok, Kiai Mustain Romli, ia seperti
memaklumi, “biarkan saja, anak macan akhirnya jadi macan juga.”
Meskipun belajarnya tidak tertib, yang sangat mengherankan, Kiai Asrori
mampu membaca dan mengajarkan kitab Ihya’ Ulum al-Din karya Al-
Ghazali dengan baik. Silsilah Kyai Asrori adalah Kyai Ahmad Asrori Al
Ishaqi – Muhammad Utsman – Surati – Abdullah – Mbah Deso – Mbah
Jarangan – Ki Ageng Mas – Ki Panembahan Bagus – Ki Ageng Pangeran
Sedeng Rana – Panembahan Agung Sido Mergi – Pangeran Kawis Guo –
Fadlullah Sido Sunan Prapen – Ali Sumodiro – Muhammad Ainul Yaqin
Sunan Giri – Maulana Ishaq – Ibrahim Al Akbar – Ali Nurul Alam – Barokat
Zainul Alam – Jamaluddin Al Akbar Al Husain – Ahmad Syah Jalalul Amri –
Abdullah Khan – Abdul Malik – Alawi – Muhammad Shohib Mirbath –
Ali Kholi’ Qasam – Alawi – Muhammad – Alawi – Ubaidillah – Ahmad Al
Muhajir – Isa An Naqib Ar Rumi – Muhammad An Naqib – Ali Al Uraidli –
Ja’far As Shodiq – Muhammad Al Baqir – Ali Zainal Abidin – Hussain Bin Ali
– Ali Bin Abi Thalib / Fathimah Binti Rasulullah SAW. (disarikan dari
laman Website pribadi Muhammad Ismi Musyafani https://www.
alfithrah99sby.org. 15 Februari 2010.).

36 | Pendidikan Diniyah Formal


Perkembangan pondok pesantren mulai nampak ketika
pada tahun 1990 kedatangan beberapa santri dengan
kegiatan ‘ubudiyah dan mengaji secara sorogan dan
bandongan di mushola. Jumlah santri pada saat itu masih
sedikit sehingga belum secara formal dijadikan sebagai
pondok pesantren. Setelah terjadi penambahan santri yang
cukup banyak (25 santri) maka pada tahun 1994 Kyai
Achmad Asrori Al Ishaqy memutuskan untuk mendirikan
Pondok Pesantren dan mengatur pendidikan secara klasikal.
Konsekuensi dari sistem klasikal inilah menambah keter-
tarikan masyarakat dan meminta untuk menerima santri
putri. Pada tahun 2003 Pondok pesantren Al Fithrah
membuka pendaftaran santri putri dan pada awal
pembukaan diterima 77 santri putri. (https://www.
alfithrah99sby. org dan wawancara dengan pengurus PDF
Ulya Al Fithrah dalam FGD).
Sistem klasikal yang diselenggarakan Ponpes Al Fithrah
lambat laun menginspirasi para santri untuk mengikuti
model pendidikan formal lanjutan. Para santri yang
berjumlah lebih dari 3000 santri (98 % mukim) lebih banyak
menginginkan studi lanjutan ke jenjang yang lebih tinggi
setelah keluar dari pondok pesantren. Keinginan tersebut
diakomodasi dengan menyelenggarakan program Paket C
setingkat sekolah lanjutan menengah (SMA). Program ini
berjalan tidak lama karena Kementerian Agama menge-
luarkan SK Dirjen Pendidikan Islam No. : DJ I/457/2008
tanggal 23 Desember 2008. Dalam SK Dirjen tersebut

Pendidikan Diniyah Formal | 37


pendidikan setingkat Madrasah Aliyah dapat dilakukan
dengan sistem Mu’addalah. Program ini mendapat respons
dari Ponpes Al Fithrah dan mendapat sambutan dari para
santri. Respons pengelola Ponpes Al Fithrah merupakan
respons positif yang selalu mengikuti perkembangan dan
regulasi Pemerintah dalam regulasi penyelenggaraan
pendidikan. Di samping itu, kebutuhan santri untuk
melanjutkan ke Perguruan Tinggi Islam seperti IAIN/UIN
maupun perguruan tinggi Islam Swasta dan Ma’had ‘Aly
cukup tinggi.
Inklusivitas Ponpes Al Fithrah dalam mengikuti per-
kembangan pendidikan nasional sangat terbuka dan adapatif
dengan regulasi yang dikeluarkan oleh Pemerintah.
Kemudahan menerima hal yang baru dalam dunia pondok
pesantren salafiyah biasanya cukup alot, akan tetapi yang
dilakukan oleh Kyai Ahmad Asrori menjadikan ponpes ini
mengalami dinamika yang signifikan dan mendapat respon
positif dari masyarakat2. Bahkan anak-anak di wilayah
Kenjeran cukup banyak yang menjadi santri kalong atau
santri yang dilaju dari rumah untuk mengikuti pembelajaran
di pondok pesantren.
Jargon Al Mukhaafadlotu ‘alalqadiimisshalih wal akhdzu
bil jadidiil ashlakh bagi Ponpes Assalafi Al Fithrah menjadi

2Ketenaran Ponpes Al Fithrah sama dengan ketenaran nama Kyai


Ahmad Asrori dengan sebutan Pondok Pesantren “Abah Asrori, Yai Asror,
Kyai Asrori” sebagai sebutan yang familiar dan terkesan sudah menjadi
bagian dari masyarakat.

38 | Pendidikan Diniyah Formal


jargon yang benar-benar untuk diaplikasikan dalam model
penyelenggaraan pendidikan. Hanya saja ada program yang
tidak dapat ditawar-tawar. Menurut Hermansyah (Waka
Kurikulum PDF ‘Ulya) terdapat program yang “mabni” yang
tidak boleh ada perubahan maupun pergeseran. Program
tersebut merupakan program yang di desain oleh pendiri
Kyai Ahmad Asrori sampai kapanpun. Program selain Syi’ar
yang biasa dilakukan pada minggu awal dengan manaqib,
pengajian ahad pagi pada ahad kedua, haul, majlis dzikir, dan
maulidur Rasul adalah program yang dikenal dengan istilah
Wadlifah.
Program Wadlifah adalah kegiatan yang berkaitan
langsung dengan Allah Swt., Rasulullah Muhammad SAW,
Syaikh Abdul Qadir Al Jailani, dan Syaikh KH. Achmad Asrori
Al Ishaqy. Kegiatan ini berguna untuk menanamkan dan
melatih tanggungjawab dan kejujuran hati kepada Allah Swt.
Adapun jenis kegiatan yang yang tidak boleh diubah oleh
siapapun dan kapanpun meliputi:
1. Jama’ah Maktubah, shalat sunnah (Qabliyah dan
ba’diyah, Isyraq, Dhuha, Isti’adah, Tsubutil Iman,
Hajat, dan Tasbih)
2. Aurod-aurod yang telah dituntunkan dan di-
bimbingkan
3. Qiro’atul Qur’an al Kariim setelah tahlil shubuh
diawali dengan membaca al Faatihah 3 kali. Dalam
membaca Al Qur’an ini dilakukan dengan sendiri-
sendiri satu juz dan ditutup dengan kalamun dan do’a
Al Qur’an

Pendidikan Diniyah Formal | 39


4. Maulid setiap malam jum’at diawali dengan membaca
Al Fatihah 3 kali kemudian membaca Ya Robbi Inna
Fatahna Yaa Rasulullah. Dalam membaca ini
dipandung oleh pembaca. Setelah bacaan selesai
dilanjutkan dengan membaca Rowi mulai dari
Alhamdulillah Al Qowiyyu Al Gholib secara sendiri-
sendiri sampai Fahtazzal ‘Arsyu dilanjutkan dengan
Mahallul Qiyaam yang dikomandoni oleh pembaca.
Setelah bacaan ini selesai dilanjutkan dengan
Wawulida dan Rowi-rowi secara mandiri sampai
selesai dengan do’a. Setelah acara ini selesai
dilanjutkan dengan membaca Nasyid yang diiringi
dengan nasyid.
Berbagai program dan kegiatan yang diselenggarakan
Ponpes Assalafi Al Fithrah di atas merupakan perwujudan
dari visi ponpes yaitu mensuritauladani akhlaqul karimah
baginda habibillah Rasulillah Muhammad saw., meneruskan
perjuangan salafush sholih, terdepan dalam berilmu dan
beragama serta mampu menghadapi tantangan zaman.
Program dan kegatan juga merupakan penerapan dari misi
ponpes yaitu;
1. Membentuk jiwa santri yang mampu Mensuri-
tauladani Akhlaqul Karimah Baginda Habibillah
Rasulillah Muhammad SAW.
2. Membentuk santri yang mampu melanjutkan per-
juangan Salafusholih sebagai mana dicontohkan
baginda Habibillah Rosululloh SAW.

40 | Pendidikan Diniyah Formal


3. Membentuk santri yang Terdepan dalam berilmu dan
beragama
4. Membentuk santri yang Mampu menghadapi tan-
tangan zaman.
Dalam obrolan dengan pengelola PDF ‘Ulya bahwa
penyelenggaraan ponpes Al Fithrah dengan berbagai
kegiatan menjadi sebuah jaminan para santri apabila keluar
atau selesai belajar di Ponpes Assalafi ini diperoleh jaminan
kelulusan. Adapun jaminan kelulusan tersebut adalah 1)
memiliki kesadaran beribadah, 2) mampu membaca Al
Qur’an dengan tartil, 3) hafal Aurad yang telah dituntunkan,
4) memiliki sikap jujur, disiplin, santun serta berbudaya
bersih dan sehat, 4) mampu membaca dan memahami kutub
at turrats, 5) terbiasa melaksanakan kegiatan sosial
keagamaan, 6) lulus ujian Madrasah dan UAN, dan 7)
memiliki keterampilan hidup.
Perkembangan ponpes Assalafi Al Fithrah semakin
berkembang terutama dalam mengembangkan lembaga
pendidikan formal, non formal dan lembaga pendidikan
khusus. Menurut Achmad Kunawi ada 5 hal yang menjadikan
Ponpes Al Fithrah semakin berkembang pesat meskipun
pendirinya KH. Achmad Asrory Al Ishaqy telah meninggal
dunia dan pengelolaan pondok maupun lembaga diserahkan
bukan pada anak dan keluarganya melainkan pada jamaah.
Kelima hal tersebut menjadi kekuatan yang fundamental dan
telah tersistem yang dibangun oleh Kiai Achmad Asrory Al

Pendidikan Diniyah Formal | 41


Ishaqy itu sendiri. Bahkan dalam tataran “elit” pengelola
kelima hal tersebut dikenal dengan 5 pilar, yaitu
1. Thariqat Naqsyandiyah Qadiriyah Utsmaniyah.
Thariqat ini merupakan thariqat peninggalan KH.
Achmad Asrory Al Ishaqy sebagai pewaris dari
ayahnya atau Bertalqin dan berbai'at dari ayahnya Al
Arif Billaah Hadrotusy-syaikh Muhammad 'Utsman
bin Nadiy Al Ishaqi. Ayah KH. Achmad Asrory Al
Sihaqy bertalqin dan berbai'at dari Al Arif Billaah
Hadrotusy-syaikh Abi Ishamuddiyn Muhammad
Romliy At Tamimimiy . Sejarah thariqat ini cukup
panjang sampai ayah KH. Meninggal dunia
mengangkat mursid KH. Achmad Asrory Al Ishaqy
yang pada saat itu masih terlalu muda (usia 30
tahun). Akibat dari pengangkatan ini beberapa
muridnya sempat keluar untuk berpindah ke thariat
yang lain. Pada saat KH. Achmad Asrory meninggal
dunia tidak mengangkat mursid sehingga ketokohan
thariqat bersifat kolektif kolegial.3

3
Menurut Achmad Kunawi (Kepala PDF Ulya Al Fithrah), sebelum
KH. Achmad Asrori Al Ishaqy meninggal dunia telah memberikan sinyal,
yaitu ketika memimpin jamiahan di masjid selalu ijin karena kondisi fisik
yang lagi sakit dan menunjuk diantara jamaah thariqat untuk memimpin
menggantikan dirinya. Pada setiap permintaan penggantian imam selalu
berganti-ganti yang diminta sehingga para tokoh thariqat merasa diangkat
derajatnya. Kegiatan seperti ini terus terjadi sampai pada akhirnya KH.
Ahmad Asrory Al Ishaqy meninggal dunia tidak menunjuk satu muridpun
yang menjadi mursid. Disinilah Thariqat Naqsyabandiyah Qadiriyah
Usmaniyah menjadi sangat populer dan semakin bertambah jamaahnya
karena dipimpin berdasarkan koletif kolegial.

42 | Pendidikan Diniyah Formal


2. Perkumpulan Jamaah Al Hikmah. Perkumpulan
jamaah ini aktif mengadakan kegiatan istghotsah
maupun kegiatan lain setiap hari minggu dan diikuti
dari berbagai daerah sekitar. Bahkan pada saat
penelitian ini dilakukan terdapat rombongan jamaah
dari Pedurungan Semarang. Dalam perkumpulan
jamaah AL Hikmah ini juga dipimpin oleh jamaah
yang berasal bukan dari keluarga “Ndalem” Kiai,
sehingga aktifitasnya tidak tergantung pada satu
figur melainkan pada banyak figur yang terus menrus
akan tumbuh figur baru.
3. Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Pondok ini
merupakan cikal bakal dari semua penyelenggaraan
kegiatan yang ada di ponpes. Pengelola ponpes Al
Fithrah juga bukan dari keluarga pendiri sehingga
proses pergantian dilakukan dengan musyawarah
secara profesional dan kompeten. Model penggantian
kepemimpinan ketua ponpes ini dilakukan dengan
melibatkan seluruh komponen pengelola ponpes dan
hanya memimipin maksimal 2 periode. Hasil dari
musyawarah disampaikan pada keluarga “Ndalem”
baik Bu Nyai maupun keluarga dari putra dan
putrinya untuk mendapatkan persetujuan lisan.
Selama ini apabila pergantian kepemimpinan hasil
musyawarah tidak pernah mendapat penolakan dari
keluarga “Ndalem” sehingga tingkat kepercayaan diri
ketua ponpes sangat tinggi. Begitu juga dari program
yang dikembangkan oleh pengelola pondok selalu
mendapat “restu” dari keluarga “Ndalem” sehingga
tidak ada hambatan.

Pendidikan Diniyah Formal | 43


4. Yayasan Al Hikmah Indonesia. Yayasan ini memiliki
cabang di beberapa daerah di Jawa Timur dan di Jawa
Tengah. Yayasan AL Hikmah yang menanugi semua
kegiatan pondok pesantren dan lembaga pendidikan
yang dikembangkan berfungsi hanya sebagai
penyedia sarana dan prasarana. Oleh karena itu itu
semua lembaga pendidikan yang ada apabila
membutuhkan sarana prasarana melaporkan pada
Yayasan, hal ini dikarenakan semua sistem keuangan
berada di bendahara Yayasan yang tidak diintervensi
oleh siapapun sekalipun keluarga “Ndalem”. Status
Yayasan berbadan hukum adalah independen dimana
dalam pengelolaan dilakukan oleh ketua yang dipilih
secara musyawarah mufakat. Kedudukan keluarga
“Ndalem” hanya sebagai penasehat dan tidak
melakukan intervensi ke dalam. Pengurus Yayasan
memiliki kekuasan “penuh” untuk memberikan
advice kepada stake holder yang ada dibawahnya.
5. Keluarga Ndalem, yaitu keluarga KH. Achmad Asrori
Al Ishaqy sebagai pendiri menjadi sangat penting
kedudukannya. Meskipun keluarga Ndalem ini tidak
terlibat langsung dalam pengelolaan berbagai
kegiatan ponpes Al Fithrah, akan tetapi kedudukan-
nya di atas semua lembaga yang ada. Secara
struktural keluarga Ndalem tidak termasuk dalam
seluruh organisasi yang ada di pondok pesantren,
akan tetapi secara kultural memiliki pengaruh yang
sangat besar. Hal ini sangat disadari oleh seluruh
komponen dari Yayasan sampai pada organisasi
terkecil di lingkungan Pondok pesantren. Hal ini

44 | Pendidikan Diniyah Formal


sangat wajar karena pondok pesantren merupakan
pondok yang didirikan oleh keluarga Ndalem
(keluarga Syaikh KH Achmad Asrory Al Sihaqy)
sehingga sampai kapanpun akan menjadi bagian
utama dari seluruh komponen proses penyeleng-
garaan pondok pesantren Al Fithrah.
Tidak terlibatnya keluarga Ndalem KH. Achmad Asrory
Al Ishaqy dalam struktur kepengurusan semua organisasi
menurut Achmad Kunawi benar-benar menunjukan bahwa
Ponpes ini dikelola secara profesional. Kompetensi dan
soliditas pengurus pada semua lini organisasi menjadi sangat
diperhatikan. Sebagai salah satu contoh, ketika Achmad
Kunawi menjadi Kepala MI Al fithrah dengan santri yang
sangat sedikit mengadakan terobosan, yaitu diformalkan
(dijadikan lembaga pendidikan formal) maka pada awalnya
mendapat respon kurang setuju dari keluarga Ndalem
karena khawatir pendidikan agamanya menjadi hilang atau
berkurang. Akan tetapi melihat kondisi MI yang tidak
diminati oleh masyarakat dan pengelola/pengurus
organisasi intra ponpes, Achmad Kunawi meyakinkan
dengan menyampaikan berbagai rpogram yang strategis
sehingga pendidikan keagamaan tetap berjalan sesuai
dengan karakter pondok pesantren.
Perjuangan Achmad Kunawi ternyata membuahkan
hasil yaitu pada tahun 2012 menjadi lembaga pendidikan
formal. Keberhasilan MI menjadi lembaga pendidikan formal
ini langsung disosialisakan oleh seluruh komponen pondok

Pendidikan Diniyah Formal | 45


pesantren pada masyarakat sekitar yang memiliki tingkat
relegiusitas tinggi. Hasil sosialisasi ternyata tidak terduga,
pada tahun berikutnya yang mendaftar menjadi santri di MI
sangat banyak, yaitu mencapai puluhan santri dan sekarang
setiap tahun menerima lebih dari 100 santri. Gambaran
seperti inilah menunjukan bahwa kompetensi, profesionali-
tas, dan kepercayaan tidak harus dari keluarga pendiri
ponpes, melainkan dari berbagai komponen yang memiliki
integritas tinggi dalam membangun pondok pesantren. Dari
keberhasilan inilah, Achmad Kunawi diberi tugas untuk
menyelenggarakan Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ulya Al
Fithrah untuk periode awal. Ada hal yang selalu diingat dari
almarhum KH Achmad Asrory Al Ishaqy sebelum meninggal,
yaitu “Jangan menggantungkan saya, akan tetapi bertindak-
lah profesional meskipun keputusan penting yang harus
dikonsultasikan”.

 TANTANGAN PONDOK PESANTREN ASSALAFI AL


FITHRAH MENGHADAPI ERA LEMBAGA PEN-
DIDIKAN FORMAL4
Perjalanan Ponpes Assalafi Al Fithrah dalam mengikuti
model penyelenggaraan lembaga pendidikan formal tidak
mengalami kesulitan. Hal ini dikarenakan ponpes sejak awal

4 Data yang dideskripsikan dalam kaporan dibawah ini didasarkan


pada hasil wawancara dengan pengelola PDF Al Fithrah dan dokumen
yang berjudul “Buku Profil Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ulya Al
Fithrah Surabaya” Pondok Pesantren Assalafi AL Fithrah Surabaya
Kedinding Lor 99, Surabaya.

46 | Pendidikan Diniyah Formal


memiliki kepedulian terhadap santri yang menginginkan
pendidikan yang bisa untuk studi lanjut dan para santri juga
mlenginginkan adanya lembaga pendidikan formal yang
mampu menghantarkan studi lanjut. Ponpes Assalafi Al
Fithrah selalu merespon keinginan santri dan mengikuti
regulasi yang ditetapkan oleh Pemerintah (Kementerian
Agama). Menurut Hermansyah bahwa Ponpes ini selalu
mengikuti regulasi Pemerintah dalam penyelenggaraan
pendidikan formal akan tetapi tetap mempertahankan tradisi
kitab kuning sebagai kurikulum pokok. Bahkan menurut
Achmad Kunawi, M.Pd (Kepala PDF ‘Ulya) kurikulum yang
diterapkan 70% sampai 75 % Pendidikan Agama
(bersumber pada kitab-kitab kuning) dan 30 % atau 25 %
kurikulum yang bersifat umum.
Diantara regulasi Pemerintah yang diterapkan oleh
Ponpes Assalafi Al Fithrah adalah model Paket C.
Penyelenggaraan Paket C ini setingkat dengan SMA sehingga
para santri setelah mengikuti ujian Paket C dapat
melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Program Paket C ini
menjadi tambah menarik setelah Menteri Kelautan (Susi
Pujiastuti) mengikuti ujian Paket C melalui Ujian Nasional
Berbasis Komputer (UNBK) di SMA Negeri 1 Pangandaran
selama tiga hari pada 11 Mei hingga 13 Mei 2018 dan lulus
terbaik dari 550 peserta.
Pada tahun 2008 dengan keluarnya SK Dirjen
Pendidikan Islam No. DJ I / 457 / 2008 tanggal 23 Desember
2008, Ponpes menyelenggarakan program Mu’addalah

Pendidikan Diniyah Formal | 47


sebagai pendidikan setingkat dengan Madrasah Aliyah/SMA.
Program ini diselenggarakan dan berjalan dengan baik.
Namun demikian seiring dengan munculnya regulasi baru
yaitu diterbitkanya PMA (Peraturan Menteri Agama) No. 13
tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam membuka
layanan Pendidikan Diniyah Formal (PDF). Ketertarikan
untuk menyelenggarakan PDF ini adalah karena PDF
merupakan salah satu dari entitas pendidikan keagamaan
Islam yang bersifat formal untuk menghasilkan lulusan
mutafaqqih fiddin (ahli ilmu agama Islam) guna menjawab
atas langkanya kader mutafaqqih fiddin dan berbasis pada
kitab kuning (kutub al-turats), sedangkan mata pelajaran
umum hanya terdiri atas Pendidikan Kewarganegaraan,
Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam
(buku Profil, 1438: 1).
Ada dua alasan Ponpes Assalafi Al Fithrah
menyelenggarakan PDF ‘Ulya dan pada tanggal 20 Mei 2015
menjadi salah satu dari 14 Ponpes pertama yang mendapat
pengakuan dari Kemenag RI sebagai penyelenggara PDF
dengan piagam nomor 2915 tahun 2015 dengan nomor
statistik 231235780008. Kedua alasan tersebut adalah
berangkat dari dawuh KH. Achmad Asrori Al Ishaqy dan PMA
Nomor 13 tahun 2014 sejalan dengan pemikiran Syaikh KH.
Achmad Asrori Al Ishaqy (buku profil, 1438: 2).
Visi PDF ‘Ulya Al Fithrah adalah Membentuk santri
berakhlakul karimah, berilmu, dan berprestasi tingkat

48 | Pendidikan Diniyah Formal


nasional 2021. Indikator pencapaian visi tersebut dilakukan
langkah-langkah sebagai berikut,
1. Berakhlakul Karimah
a. Memiliki sikap sopan santun, jujur, disiplin, serta
berbudaya hidup bersih dan sehat
b. Memiliki sikap toleransi dan solidaritas
c. Mengamalkan tuntunan Hadratusy Syaikh K.H.
Achmad Asrory Al Ishaqy
2. Berilmu
a. Mampu membaca al Qur’an dengan baik dan
benar
b. Mampu menghafal juz 1 dan 30 serta surat al
ma’tsurat
c. Memahami makna al Qur’an
d. Hafal aurad yang telah dituntunkan Hadratusy
Syaikh K.H. Achmad Asrory Al Ishaqy
e. Mampu membaca dan memahami kutub al turats
(Fiqhul manhaji / Kifayatul akhyar, dan Fathul
Muin)
f. Lulus ujian ahir berstandar nasional PDF ‘Ulya
rata-rata nilai 75
g. Memiliki keterampilan hidup (Berbahasa Inggris,
Arab, dan Komputer)
3. Berprestasi
a. Berprestasi dalam lomba baca kitab kuning
tingkat nasional
b. Berprestasi dalam lomba pidato, story teling, dan
olimpiade nahwu shorof tingkat provinsi
c. Masuk Ma’had ‘Aly dan Perguruan Tinggi Islam
Negeri

Pendidikan Diniyah Formal | 49


Dari visi dan capaian visi PDF Al Fithrah tersebut
merupakan konsep ideal untuk mencapai tujuan penye-
lenggaraan PDF dan santri keluar dari ponpes memiliki
karakter sesuai dengan visi tersebut. Di antara karakter yang
dibangun melalui visi tersebut adalah berakhlak mulia.
Karakter ini seperti memiliki sikap sopan santun, jujur,
disiplin, serta berbudaya hidup bersih dan sehat, dan
memiliki sikap toleransi dan solidaritas. Visi ini ditegaskan
dalam misi yang dilakukan yaitu menyelenggarakan pen-
didikan diniyah menengah yang bermutu untuk membentuk
jiwa santri yang mensuritauladani Akhlak Rasulullah SAW.,
melanjutkan perjuangan ulama salafushsholih yang berilmu
dan beramaliah serta mampu menghadapi tantangan zaman.
Visi tersebut juga termotivasi dengan motto yang dipasang di
bagian terdepan madrasah seperti dibawah ini;

TERDEPAN DALAM IPTEK & AGAMA


Motto:
‫املحافظة ىلع القديم الصالح واألخذ باجلديد األصلح‬
“Memelihara dan melestarikan nilai-nilai lama yang baik dan
mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik.”
Jaminan mutu yang menjadi misi dan kualitas santri
setelah mengalami proses pembelajaran di PDF ‘Ulya Al
Fithrah adalah sebagai berikut; 1) Hafidz juz 1 dan 30 serta
beberapa surat al ma’tsurat, 2) hafal aurad yang telah
dituntunkan oleh Hadratusy Syaikh K.H. Achmad Asrory Al

50 | Pendidikan Diniyah Formal


Ishaqy, 3) mampu membaca dan memahami kitab at turats
(kifayatul akhyar atau manhaji), dan 4) lulusan diterima di
Perguruan Tinggi, baik swasta maupun negeri.
Dari visi dan misi di atas, PDF Al Fithrah telah menyusun
Road Map arah dan target pengembangan. Road Map
tersebut berdasarkan analisis lingkungan PDF dan
memungkinkan PDF PDF melakukan pengembangan dan
pembenahan secara bertahap. Secara umum pembenahan
dan pengembangan dilakukan melalui tahapan berikut.

ROAD MAP PENGEMBANGAN PDF


TAHAP 1 TAHAP 2 TAHAP 3 TAHAP 4
Pendidikan Pendidikan Diniyah Pendidikan Pendidikan
Diniyah yang yang unggul 2018- Diniyah yang Model 2020 -
standar 2017 2019 berprestasi 2021
-2018 2019-2020
TARGET TARGET TARGET TARGET
 Pembiasaan  Pembiasaan karakter  Karakter Menjadi model
karakter telah berjalan sudah bagi PDF yang
berjalan  Kurikulum tersusun menjadi lain dalam
 Kurikulum secara ideal budaya bagi pembiasaan
tersusun  Pembelajaran santri PDF maupun dalam
 Pembelajara berjalan secara baik ‘Ulya kurikulum dan
n berjalan dan kontekstual  Unggul pembelajaran
secara baik dalam
akademik
dan non
akademik

Dengan adanya road map yang telah disusun, maka


jaminan mutu PDF ‘Ulya merupakan tantangan tersendiri
untuk dapat dicapai setelah santri menyelesaikan studi
selama 3 tahun. Jaminan mutu ini bukan sekedar menjadi
tantangan pondok pesantren dalam mencetak santri yang

Pendidikan Diniyah Formal | 51


memiliki penguasaan kitab kuning karya ulama salaf
melainkan juga menjadi tantangan tersendiri dalam
penyelenggaraan PDF sebagai lembaga pendidikan formal.
Kualitas PDF ‘Ulya Fithrah menjadi barometer dalam
menghadapi persaingan di era kuatnya penyelenggaraan
lembaga pendidikan formal. Paling tidak ada 3 hal yang
menjadi tantangan tersendiri secara umum Ponpes Al
Fithrah menyelenggarakan PDF ‘Ulya di era gencarnya
penyelenggaraan lembaga pendidikan formal. Tantangan
tersebut adalah;
1. Ponpes Assalafi Al Fithrah merupakan Ponpes
pertama yang menyelenggarakan Pendidikan Diniyah
Formal (PDF) di wilayah Kota Surabaya dan salah
satu dari 14 PDF yang ada di Indonesia sehingga
memiliki tanggungjawab harus memiliki kualitas
yang baik dan lulusanya dapat melanjutkan ke
Perguruan Tinggi Negeri minimal Swasta.
2. Sebagai Ponpes pertama yang menyelenggarakan
PDF, maka akan menjadi pilot projek atau per-
contohan bagi ponpes lainnya yang akan menye-
lenggarakan PDF. Dengan demikian PDF Al Fithrah
harus siap menjadi pusat konsultasi bagi ponpes lain
yang akan mendirikan PDF
3. Mengingat orientasi PDF ‘Ulya Al Fithrah adalah
menyiapkan santri untuk melanjutkan ke Perguruan
Tinggi, maka harus menyiapkan lulusan mampu
bersaing dengan lulusan Madrasah Aliyah bahkan
dengan sekolah menengah umum yang sudah lebih
lengkap dari SDM dan fasilitas pembelajaran.

52 | Pendidikan Diniyah Formal


Selain tantangan secara umum, terdapat tantangan
internal dalam proses pembelajaran di kelas. Tantangan
pembelajaran PDF Al Fithrah sebagai lembaga pendidikan
formal dapat dilihat dalam beberapa aspek, yaitu
1. Input santri yang mendaftar menjadi santri PDF
berasal bukan saja dari Ponpes Al Fithrah, melainkan
dari berbagai ponpes lain di sekitar Surabaya
maupun di luar Surabaya. Kondisi ini mengharuskan
piha penyelenggara mengadakan kegiatan isti’dadi-
yah selama 1 tahun sebagai program persiapan agar
santri memiliki kemampuan yang standar untuk
mengikuti pemelajaran di kelas.
2. SDM tenaga pendidik perlu dipersiapkan untuk
menjaga kompetensi dan profesionalitas. Sementara
ini masih terdapat guru yang missmatch dimana guru
lulusan S.1 dengan jurusan Tafsir/Hadits akan tetapi
mengajar matematika5.

5
Secara akademis, tenaga pendidik memiliki latarbelakang
pendidikan S.1 dan S.2. Namun demikian, pada tataran praktis tidak
semua guru mengajar atau memegang mata pelajaran sesuai dengan
ijazah atau kompetensi yang dimiliki. Sebagai salah satu contoh adalah
lulusan S.1 dari jurusan Tafsir/Hadis mengajar mata pelajaran
matematika. Meskipun secara keilmuan mumpuni, hal ini dapat
dibuktikan dengan lulusan PDF Al Fithrah angkatan 1 tahun 2018 yang
diterima di Perguruan Tinggi Negeri dengan jurusan Matematika. Sekedar
informasi bahwa pada tahun pelajaran 2017/2018 PDF Al Fithrah telah
meluluskan santri angkatan 1 dengan jumlah 225 santri. Dari jumlah
tersebut diterima di berbagai Perguruan Tinggi, seperti di UIN Malang,
Universitas Negeri Malang, Universitas Trunojoyo, dan mayoritas diterima
di Ma’had ‘Aly. Khusus yang diterima di Ma’had ‘Aly di lingkungan Ponpes
Assalafi Al Fithrah dengan konsentrasi tasawuf dan thariqah yaitu Ma’had
‘Aly Alfithrah bekerjasama dengan STAI Al Fithrah prodi Akhlak dan

Pendidikan Diniyah Formal | 53


3. Fasilitas pembelajaran terutama untuk mata
pelaharan umum yang belum terpenuhi sehingga
oembelajaran mengandalkan buku paket tanpa
diiringi dengan buku maupun media lain yang
mendukung.

 IMPLEMENTASI PDF ULYA DI PONDOK PESANTREN


AL FITHRAH; STRUKTUR PENGELOLAAN PDF AL
FITHRAH

PDF Al Fithrah merupakan bagian dari kelembagaan


yang berada dibawah naungan Ponpes Assalafi Al Fithrah
dan dibawah pembinaan Kementerian Agama Kota
Surabaya. Meskipun berada di lingkungan Ponpes Assalafi Al
Afithrah, akan tetapi dalam pengelolaan atau secara
manajemen telah memiliki struktur tersendiri. Struktur
pengelolaan bersifat garis komando dengan Kepala Pondok
dan kepala bidang Pendidikan Pondok pesantren. Dalam
bagan dapat dilihat struktur PDF ‘Ulya Al Fithrah sebagai
berikut.

Tasawuf. Menurut Achmad Kunawi bahwa santri yang diterima di Ma’had


‘Aly ini merupakan kader ulama yang dipersiapkan untuk menjadi Kyai di
berbagai cabang Ponpes Al Fithrah. Oleh karena itu, lulusanya tidak
diperbolehkan kembali ke rumah atau kampungnya sebelum
melaksanakan pengbdian di Ponpes terlebih dahulu.

54 | Pendidikan Diniyah Formal


Struktur PDF ‘Ulya Al Fithrah

Kepala Pondok
Musyaffa’ M.Th.I

Kabag.Pendidikan
Nasiruddin, M.M.

Kepala PDF ‘Ulya


Achmad Kunawi,
M.Pd

Waka. Kurikulum Wk.Kesiswaan Pa Wk.Kesiswaan Pi BK Pa BK Pi SARPRAS


Hermansyah, M.Ag Jamian, S.Ud Lilik Maftuhah, S.Si Nuril Mubin, S.Ud Aniswatus S. S.Sos.I Khoirul Anam,S.Pd.I

OSIS PDF ‘ULYA AL ASTAF TU Pi Perpustakaan


FITHRAH Chasan Bahri, S.Ag

Selain pengelola yang terdapat pada struktur di atas,


juga terdapat tenaga pendidik dan kependidikan yang
mengelola dalam pembelajaran PDF. Secara keseluruh
jumlah tenaga pendidik dan kependidikan adalah 59 orang.
Dari jumlah tersebut terdiri atas 4 orang tenaga
kependidikan dengan tingkat pendidikan 1 orang dari MA
dan 3 orang Sarjana S.1. Adapun untuk tenaga pendidik
berjumlah 55 orang dengan tingkat pendidikan MA
berjumlah 1 orang sebagai Walikelas, 34 orang S.1, dan 20
orang Sarjana S.2. Dari jumlah tersebut mengelola santri
(peserta didik) berjumlah 906 santri putra dan putri dan 129
santri Isti’dad sebagai santri persiapan 1 tahun sebelum
memasuki PDF Ulya.

Pendidikan Diniyah Formal | 55


 JUMLAH SANTRI PDF AL FITHRAH

Secara keseluruhan jumlah santri adalah 906 santri


(belum termasuk santri Isti’dad yang jumlah dan keberadaan
santri dinamis). Dari jumlah tersebut terbagi dalam 2
kategori, yaitu santri laki-laki dan santri perempuan dengan
gedung yang terpisah. Secara garis besar jumlah santri
tersebut dapat dilihat pada diagram berikut.

DATA SANTRI PDF 'ULYA AL FITHRAH PA


DATA SANTRI PDF 'ULYA AL FITHRAH PI

179
164 161
153
139

110

X XI XII

Dari jumlah tersebut terbagi dalam 13 kelas santri putra


dan 12 kelas santri putri. Jumlah tersebut secara rinci dapat
dilihat pada tabel berikut.

56 | Pendidikan Diniyah Formal


Tabel jumlah Santri dalam setiap kelas

Jumlah Keterangan
No Kelas
PA Pi - Dalam setiap kelas jumlah santri antara
34 sampai 41 santri, meskipun secara
1 XA 41
ideal dalam 1 kelas hanya bisa diisi
2 XB 41 4 kelas maksimal 30 santri, akan tetapi karena
3 XC 41 164 santri kondisi kelas dan guru yang cukup
4 XD 41 terbatas, maka masih terdapat kelas
jumbo.
5 XE 26 - Apabila menerapkan kelas ideal
6 XF 4 kelas 28 membutuhkan 17 kelas untuk Putra dan
7 XG 110 santri 28 15 kelas untuk putri
- Pada kelas jumbo (38 – 41 santri), PBM
8 XH 28
nampak berdesakan.
9 XI A 35 - Meskipun berdesakan dengan meja
10 XI B 36 belajar yang terbatas maka dalam setiap
5 kelas kelas terdapat santri yang belajar tanpa
11 XI C 36 179 santri meja
12 XI D 36 - Untuk kelas Isti’dad tidak menggunakan
13 XI E 36 kelas akan tetapi masih menggunakan
14 XI F 34 gedung pertemuan bagi santri putra,
sedangkan untuk santri putri masih
15 XI G 4 kelas 139 35
menggunakan kamar putri.
16 XI H santri 35
17 XI I 35
18 XII A 41
19 XII B 40 4 kelas 161
20 XII C 40 santri
21 XII D 40
22 XII E 39
23 XII F 4 kelas 153 38
santri - Untuk mengejar target kurikulum, PBM
24 XII G 38 berjalan sejak pagi sampai malam
25 XII H 38
Isti’dad
24
26 Pa
Isti’dad 3 kelas
18
27 Pa 61 santri
Isti’dad
19
28 Pa
Isti’dad
29 Pi 2 kelas 34
30 Isti’dad 68 santri 34
Pi

Pendidikan Diniyah Formal | 57


 KURIKULUM PDF AL FITHRAH
Kurikulum pembelajaran di PDF Al Fithrah secara umum
terbagi atas kurikulum pendidikan agama yang bersumber
dari kutubut at thurats dan dari mata pelajaran umum sesuai
dengan regulasi yang ada. Disamping itu terdapat berbagai
kegiatan yang harus diikuti oleh santri diluar kurikulum yang
ditetapkan oleh pemerintah, yaitu kegiatan pondok pesan-
tren. Kegiatan ponpes ini dapat dikatakan merupakan
kurikulum yang tersembunyi (hidden curriculum) karena
terprogram, tersusun, dan terjadwal sebagaimana dalam
pembelajaran di kelas.
Dalam kerangka dasar kurikulum yang disusun
ditegaskan bahwa landasan filosofis yang dijadikan pijakan
dalam pengembangan kurikulum satuan PDF adalah sebagai
berikut
1. Pendidikan keagamaan Islam pada satuan PDF
didasarkan pada tradisi kultural yang ada di
pesantren. Pengembangan kurikulum pada satuan
jenis ini berbasis pada penguasaan kitab kuning yang
merupakan salah satu karakteristik pesantren di
tanah air dalam upaya mencetak kader ulama yang
mutafaqqih fid din yang bertumpu pada nilai-nilai
kultural yang moderat (tasamu).
2. Kurikulum PDF dikembangkan dalam kerangka dasar
yang menempatkan peserta didik sebagai subjek
pengetahuan. Kurikulum diarahkan untuk dapat
mengembangkan kapasitas peserta didik sebagai
pribadi yang bukan hanya sekedar mendapatkan

58 | Pendidikan Diniyah Formal


pengetahuan keagamaan dari Kyai atau ustadz, tetapi
juga dapat memperoleh dan mengembangkan penge-
tahuan melalui interaksi dengan sesama santri,
masyarakat, atau sumber belajar lainnya (Profil: 40).
Dengan kerangka dasar dan landasan filosofis diatas,
PDF Ulya Al Fithrah menyusun struktur kurikulum dengan
memperhatikan kompetensi inti (KI), Mata pelajaran, beban
belajar, kalender pendidikan, dan kompetensi dasar (KD).
Deskripsi kurikulum yang telah disusun oleh PDF ‘Ulya Al
Fitrah adalah sebagai berikut.

1. KOMPETENSI INTI (KI)


Kompetensi Inti (KI) PDF tingkat ‘Ulya merupakan
tingkat kemampuan untuk mencapai Standar Kompetensi
Lulusan (SKL). Menurut Hermansyah (Waka Kurikulum)
bahwa Kompetensi untuk PDF ‘Ulya terlalu tinggi sehingga
SKL yang harus dicapai sukup berat. Oleh karena itu
kemungkinan ketercapaian secara ideal agak sulit meskipun
para santri sudah terbiasa dengan kondisi belajar yang tidak
mengenal waktu dan terbiasa dengan tradisi kultural dan
struktural dalam berbagai kondisi. Santri terbiasa dengan
kegiatan kepesantrenan dan selalu menaati aturan tertulis
maupun tidak tertulis dari pesantren. Tradisi sam’an
(mendengarkan), tho’atan (menaati), tashdiq (mem-
benarkan), wal ihktiroom (dan memuliakan) seluruh
perintah dan perilaku Kyai telah membentuk karakter santri.
Dengan demikian, kompetensi inti yang harus dicapai santri
kemungkinan besar akan tercapai. Rumusan kompetensi inti
(KI) yang ditetapkan adalah;

Pendidikan Diniyah Formal | 59


a. Kompetensi Inti – 1 (KI-1) untuk kompetensi inti
sikap spiritual
b. Kompetensi Inti – 2 (KI-2) untuk kompetensi inti
sikap sosial
c. Kompetensi Inti – 3 (KI-3) untuk kompetensi inti
pengetahuan, dan
d. Kompetensi Inti – 4 (KI-4) untuk kompetensi inti
keterampilan
Uraian tentang kompetensi inti (KI) pada jenjang PDF
‘Ulya adalah sebagai berikut.

Kompetensi Inti Kelas 1, 2, dan kelas 3 PDF Ulya


a. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama
Islam
b. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur,
disiplin, tanggunjawab, peduli (gotong royong,
kerjasama, toleran, damai), santun, responsif
dan pro aktif menunjukan sikap sebagai bagian
dari solusi atas berbagai permasalahan
c. Memahami, menerapkan, menganalisis penge-
tahuan faktual, konseptual, prosedural berdasar-
kan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan,
tekonologi, seni, budaya, dan humaniora dengan
wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan,
dan peradaban terkait penyebab fenomena dan
kejadian, serta menerapkan pengetahuan prose-
dural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya untuk memcahkan
masalah.

60 | Pendidikan Diniyah Formal


d. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah
konkret dan ranah abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajari di pesantren
secara mandiri dan mampu menggunakan
metode sesuai kaidah keilmuan

2. MATA PELAJARAN
Mata pelajaran yang masuk dalam struktur kurikulum
PDF ‘Ulya terdiri atas kelompk mata pelajaran keagamaan
Islam, pendidikan umum, dan muatan lokal. Struktur
kurikulum tersebut adalah sebagai berikut.
KOMPONEN MATA PELAJARAN Kelas dan Alokasi Waktu per
Minggu
1 2 3
A. Keagamaan Islam
1 Al Qur’an 2 2 2
2 Tafsir – Ilmu Tafsir 4 4 4
3 Hadits – Ilmu Hadits 4 4 4
4 Tauhid 2 2 2
5 Fiqh – Ushul Fiqh 4 4 4
6 Akhlak – Tasawuf 2 2 2
7 Tarikh 2 2 2
8 Bahasa Arab 3 3 3
9 Nahwu Sharf 4 4 4
10 Balaghah 2 2 2
11 Ilmu Kalam 2 2 2
12 Ilmu Arudh 2 2
13 Ilmu Mantiq 2 2 2
14 Ilmu Falak 2 2
B. Pendidikan Umum
15 Pendidikan Kewarganegaraan 2 2 2
16 Bahasa Indonesia 2 2 2
17 Matematika 2 2 2
18 Ilmu Pengetahuan Alam 2 2 2
19 Seni Budaya 2 2 2
C. Muatan Lokal 10 6 6
Jumlah 53 53 53

Pendidikan Diniyah Formal | 61


Keterangan:
1. Struktur kurikulum PDF ‘Ulya terdiri atas 19 mata
pelajaran dan muatan lokal
2. Mata pelajaran kelompok keagamaan Islam (A) dan
kelompok pendidikan umum (B) merupakan
kelompok mata pelajaran yang muatan dan acuanya
dikembangkan oleh pusat berdasarkan informasi
yang diperoleh dari penyelenggara pendidikan
diniyah yang sudah ada
3. Komponen muatan lokal (C) merupakan kegiatan
kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang
disesuaikan dengan ciri khas, potensi dan keunggulan
yang dimiliki oleh suatu pesantren yang materinya
menuntut untuk dijadikan sebagai mata pelajaran
tersendiri. Substansi muatan lokal ditentukan oleh
satuan pendidikan diniyah. Muatan lokal merupakan
mata pelajaran sehingga satuan pendidikan diniyah
harus mengembangkan Kompetensi Dasar untuk
setiap jenis muatan lokal yang diselenggarakan.
Satuan PDF Ulya dapat menyelenggarakan satu atau
beberapa mata pelajaran muatan lokal setiap tahun
pelajaran.
4. Jam pembelajaran per minggu untuk setiap pelajaran
dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur
kurikulum. Satun pendidikan dapat menambah
jumlah jam pembelajaran sesuai dengan kebutuhan
belajar peserta didik dan/atau kebutuhan akademik,
sosial, budaya, atau faktor lain yang dianggap pentin.
5. Satu jam pelajaran beban belajar tatap muka adalah
45 menit.

62 | Pendidikan Diniyah Formal


3. BEBAN BELAJAR
Beban belajar yang harus diikuti oleh peserta didik
dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan
peserta didik untuk mengikuti program pembelajaran
melalui tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan
mandiri tidak terstruktur. 1) Kegiatan tatap muka me-
rupakan kegiatan pembelajaran yang berupa interaksi antara
peserta didik dengan pendidik. Beban belajar kegiatan tatap
muka per minggu dilakukan 53 jam pelajaran. 2) Penugasan
terstruktur merupakan kegiatan pembelajaran yang berupa
pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang
dirancang oleh pendidik untuk mencapai kompetensi yang
telah ditetapkan, 3) kegiatan mandiri tidak terstruktur
kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi
pembelajaran oleh peserta didik yang waktu penyelesaianya
diatur sendiri oleh peserta didik. Beban belajar penugasan
terstruktur dan kegiatan mandiri pada PDF Ulya maksimal
60% dari kegiatan tatap muka mata pelajaran yang
bersangkutan.
Secara terstruktur beban belajar yang harus dicapai oleh
peserta didik PDF ‘Ulya adalah sebagai berikut.
a. Beban belajar satu minggu untuk kelas 1, 2, dan 3
adalah 53 jam pelajaran
b. Durasi setiap jam pelajaran memiliki beban
belajar tatap muka 45 menit
c. Beban belajar kelas 1 dan 2 dalam 1 semester
minimal 18 minggu

Pendidikan Diniyah Formal | 63


d. Beban belajar di kelas 3 semester ganjil 18
minggu dan semester genap minimal 14 minggu
e. Pelaksanaan program pendidikan menggunakan
sistem paket dengan penyelesaian selama 3
tahun. Program percepatan (akselerasi) dapat
diselenggarakan untuk mengakomodasi peserta
didik yang memiliki potensi kecerdasan dan
bakat istimewa.
f. Satuan PDF Ulya dimungkinkan dapat meng-
gunakan SKS dengan panduan diuraikan secara
khusus dalam dokumen tersendiri.

4. KALENDER PENDIDIKAN
Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk
kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun
pelajaran. Cakupan kalender pendidikan adalah permulaan
tahun pelajaran, waktu pembelajaran efektif, dan hari libur.
Kalender pendidikan yang diselenggarakan PDF ‘Ulya adalah
a. Satuan PDF ‘Ulya meyusun kalender pendidikan
sesuai dengan kebutuhan setempat, karak-
teristik pesantren, kebutuhan peserta didik dan
masyarakat dengan memperhatikan kalender
pendidikan sebagaimana yang dimuat di dalam
dokumen.
b. Permulaan tahun pelajaran adalah waktu di-
mulainya kegiatan pembelajaran pada awal
tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.
Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Syawal
setiap tahun berahir pada bulan Sya’ban tahun
berikutnya.

64 | Pendidikan Diniyah Formal


c. Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk
tidak diadakan kegiatan pembelajaran terjadwal
pada satuan pendidikan. Waktu libur dapat
berbentuk jeda tengah semester, jeda antar
semester, libur ahir tahun pelajaran, hari libur
keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari
libur besar nasional dan hari libur khusus.

5. KOMPETENSI DASAR (KD)


Kompetensi Dasar dirumuskan untuk mencapai
kompetensi inti (KI). Kompetensi Dasar juga mencerminkan
kedalaman muatan kurikulum pada stuan PDF ‘Ulya.
Rumusan Kompetensi Dasar dikembangkan dengan
memperhatikan karakteristik dan kemampuan peserta didik
dan kekhasan masing-masing mata pelajaran.

 TUJUAN DAN RUANG LINGKUP MATA PELAJARAN


Tujuan dan ruang lingkup mata pelajaran yang
diselenggarakan di PDF ‘Ulya Al Fithrah disesuaikan dengan
regulasi yang ada sehingga tidak berbeda dengan PDF yang
ada di seluruh Indonesia. Apalagi PDF Ulya adalah lembaga
pendidikan formal baru yang berada di pondok pesantren
salafiyah6 dengan program langsung dari Kementerian

6
Pendidikan Diniyah Formal diselenggarakan berdasar pada SK
Dirjen Pendidikan Islam No. 5839 Tahun 2014 Tentang Pedoman
Pendirian Pendidikan Diniyah Formal. Dalam SK tersebut dipersaratkan
antara lain bahwa Ponpes boleh menyelenggarakan PDF dengan sarat
memiliki ijin operasional Pesantren dari Kementerian Agama
Kabupaten/Kota, memiliki AD/ART, memiliki santri mukim dan belajar

Pendidikan Diniyah Formal | 65


Agama RI (Top Down). Tujuan dan ruang lingkup mata
pelajaran terbagi atas kelompok mata pelajaran keagamaan
Islam dan kelompok mata pelajaran pendidikan umum.

1. KELOMPOK MATA PELAJARAN KEAGAMAAN ISLAM

Model Pembelajaran mata pelajaran keagamaan Islam


(kutub at-turats) di PDF Ulya Al Fithrah

pada pesantren yang bersangkutan minimal 300 orang pada setiap tahun
selama 10 tahun, mendapat rekomendasi dari Kanwil Kementerian
Agama, memiliki jumlah dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan
yang memadai, memiliki calon peserta didik minimal 30 orang, memiliki
kurikulum pendidikan diniyah formal, memiliki sistem evaluasi, memiliki
sumber pembiayaan untuk kelangsungan pendidikan paling sedikit untuk
1 pelajaran berikutnya, memiliki sarana dan prasarana pembelajaran yang
berada di lingkungah pesantren, dan melampirkan rencana induk
pengembangan. Adapun diantara persaratan teknis antara lain kualifikasi
pendidikan bagi Pendidik dan Kepala PDF minimal S.1. Dari hasil FGD
yang melibatkan Ponpes salafiyah di Kota Surabaya bahwa persaratan
terutama harus memiliki santri mukim minimal 300 orang pada setiap
tahun selama 10 tahun terlalu berat karena banyak santri yang berasal
dari wilayah sekitar (tidak mukim).

66 | Pendidikan Diniyah Formal


Kelompok mata pelajaran Keagamaan Islam memiliki
tujuan, ruang lingkup, dan kitab rujukan. Yang termasuk
dalam kelompok mata pelajaran ini adalah sebagai berikut.

a. Al-Qur’an
Tujuan dari mata pelajaran al Qur’an agar peserta didik
memiliki kemampuan antara lain;
1) Memperoleh keyakinan terhadap Allah SWT
2) Mengembangkan kemampuan dalam menghafal
juz ‘Amma dan surah-surah pilihan al Qur’an
3) Meningkatkan kemampuan membaca dengan
standar teori tahsin tartil
4) Meningkatkan kemampuan menulis ayat-ayat al
Qur’an dengan Rasm Imla’i maupun Rasm
Utsmani
5) Meningkatkan kesadaran untuk memahami arti
dan kandungan ayat-ayat al Qur’an untuk di-
terapkan dalam kehisupan sehari-hari
6) Memperoleh bekal pengetahuan dan keteram-
pilan membaca, menulis, menghafal dan meng-
artikan juz Amma dan surah-surah pilihan
sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara
7) Sebagai bekal untuk menjadi imam shalat agar
diperkaya dengan ayat-ayat pilihan
Adapun ruang lingkup mata pelajaran al Qur’an adalah
1) Tahsinut Tilawah berupa praktek membaca al
Qur’an bin Nazhar 30 juz dengan menjelaskan
dan mengaplikasikan ilmu-ilmu tajwid

Pendidikan Diniyah Formal | 67


2) Tahfidzul Qur’an berupa hafalan al Qur’an juz 30
serta beberapa surah pilihan yang meliputi surah
as Sajadah, Yasin, ad-Dukhan, al-Mulk, al-
Waqi’ah, dan al-Kahfi.
Kitab yang dijadikan sumber rujukan dalam mata
pelajaran al Qur’an dan bidang Tahfidzul Qur’an (6 dan 7)
adalah sebagai berikut.
1) Al Jazariyah karya Syams al-Din Muhammad al-
Jazari
2) Hidayah al Mustafid fi Ahkam al-Tajwid karya
Muhammad Abi Rimah
3) Nihayah al-Qaul al-Mufid karya Muhammad
Makki Nashir
4) Manar al-Huda fi Bayan al-Qaaf wa al-ibtida’
karya Ahmad al-Asymuni
5) Al-Tamhid fi Ilm al-Tajwid karya Syams al-Din
Muhammad al-Jazari
6) Tahfidz al Qur’an Metode Lauhun karya Dr.KH. A.
Muhaimin Zen, MA
7) Metode Pengajaran Tahfidzul Qur’an di Pondok
Pesantren karya Dr.KH. A. Muhaimin Zen, MA

b. Tafsir-Ilmu Tafsir
Dalam Permenag No. 1 pasal 27 ayat 3 tahun 2014
tentang Pendidikan keagamaan Islam bahwa mata pelajaran
tafsir-ilmu tafsir menjadi dasar bagi peserta didik untuk
dapat memahami kandungan makna kitab suci al Qur’an
yang merupakan dasar pada setiap ilmu dalam ajaran agama

68 | Pendidikan Diniyah Formal


Islam. Tujuan mata pelajaran ini adalah agar peserta didik
memiliki kemampuan sebagai berikut.
1) Membaca dan memahami tafsir al Alqur’an
dengan baik dan benar mulai dari surat al
Fatihah sampai surat An-Nas berbasis kitab tafsir
yang otoritatif di kalangan pesantren
2) Memahami teori dan kaidah ilmu tafsir (‘ulumul
Qur’an) secara mendalam berdasarkan kitab
yang mu’tamad
3) Mengamalkan isi kandungan al Qur’an dalam
kehidupan sehari-hari
Ruang lingkup mata pelajaran tafsir-ilmu tafsir adalah
sebagai berikut
1) Tafsir al Qur’an dari surat al Fatihah sampai
surah an-Nas berdasarkan kitab-kitab tafsir yang
mu’tamad di kalangan pesantren terutama kitab
tafsiral-Jalalayn karya Jalaluddin al Mahalli dan
Jalaluddin As-Suyuthi, Marah labid karya imam
Nawawi al-Bantani dan shafwatut Tafaasiir karya
Muhammad Ali ash-Shabuni.
2) Teori dan kaidah-kaidah ilmu tafsir al Qur’an
yang otoritatif terutama kitab al-Itqan fi ‘Ulum al-
Qur’an dan Itmam ad-Dirayah karya Jalaluddin
as-Suyuthi dan kitab Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an
karya Subhi Shalih.
Kitab rujukan sebagai bahan pengayaan dalam mata
pelajaran tafsir-ilmu tafsir adalah

Pendidikan Diniyah Formal | 69


1) Tafsir : 1). tafsiral-Jalalayn karya Jalaluddin al
Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuthi, 2) Marah labid
karya imam Nawawi al-Bantani, 3) shafwatut
Tafaasiir karya Muhammad Ali ash-Shabuni.
2) Ilmu tafsir (ilmu al-Qur’an) : 1) al-Itqan fi ‘Ulum
al-Qur’an karya Jalaluddin as-Suyuthi, 2) Itmam
ad-Dirayah karya Jalaluddin as-Suyuthi, dan 3)
Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an karya Subhi Shalih

c. Hadits-Ilmu Hadits
Penyampaian mata pelajaran hadits-ilmu hadits pada
peserta didik PDF Ulya bertujuan untuk ; meningkatkan
kecintaan peserta didik terhadap hadits, membekali peserta
didik dengan dalil-dalil yang terdapat dalam hadits sebagai
pedoman dalam menyikapi dan menghadapi kehidupan,
mengingatkan pemahaman dan pengamalan hadits baik dari
segi isi kandungan maupu keilmuan, dan membekali ke-
terampilan menelusuri hadits dari sumber aslinya dan
menilai secara kuantitas dan kualitas.
Ruang lingkup hadits-ilmu hadits meliputi;
1) Tema-tema yang ditinjau dari perspektif hadits
dalam kitab Riyadh al-Shalihin tentang berakhlak
dengan sifat terpuji dan menjauhi sifat tercela
seperti ikhlas, tawbah, shabar, muraqabah,
taqwa, yaqin, tawakkal, istiqamah, al-mubaa-
darah ila al-khayr, al-mujaahadah, al-hats ‘ala al-
izdiyaat min al-khayraat, katsrat thuruq al-khayr,
iqtishad, muhaafazah ‘ala al-a’mal, al-amru bi al-

70 | Pendidikan Diniyah Formal


muhaafzhah ‘ala al-sunnah, wujub al-inqiyad, al-
nahyu ‘an a-bida’, fiiman sanna sunnatan, al-
dilalah ‘ala khayrin, ta’awun ‘ala al-birri wa al-
taqwa, al-nashihah, al amru bi al-ma’ruf, ada’ al-
amanah, dll.
2) Masalah dasar-dasar ilmu hadits meliputi;
Sejarah ilmu hadits dan macamnya, Pengertian
hadits, sunnah, khabar, atsar, dan hadits qudsi,
Macam-macam hadits dilihat sampainya pada
kita; mutawatir, shahih, hasan, dan dha’if, Khabar
mardud dan macam-macamnya, Hadits-hadits
yang berserikat antara shahih dan makbul,
Persaratan periwayat dan al-jarh wa al-ta’dil,
Periwayat dan adabnya tahammul wa ada’ al-
hadits, Isnad dan yang berkaitan dengan isnad,
Biografi para perawi hadits, dan Takhrijul hadits
Kitab rujukan yang menjadi dasar dari penyampaian
materi dalam hadits-ilmu hadits adalah kitab Riyadh al-
Shalihin karya al-Imam Muhyi al-Din al-Nawawi. Untuk kelas
1 sebagai alternatif dapat menggunakan Mukhtar al-haadits
al-Nabawiyah wa al-Hikam al-Muhammadiyah karya al-
Syaikh Ahmad al-Hasymi dan kitab al-Jami’ al-Saghir karya
Jalaluddinash-Shuyuthi. Namun demikian kitab sebagai
rujukan utama adalah Syarh al-Manshuumah al-Baiquniyyah
fi musthalah al-Hadits karya Athiyah al-Ajhuri. Sedangkan
untuk kelas 2 dan 3 adalah kitab Manhaj Dzawi al-Nazhar fi
Syarh Manzhumah al-Atsar karya Muhammad Mahfuzh al-
Termasi dan kitab al-Manhal al-Lathief fi Ushul al-Hadits al-
Syarif karya Muhammad al-Maliki.

Pendidikan Diniyah Formal | 71


d. Tauhid
Tujuan pembelajaran pada mata pelajaran Tauhid
adalah 1) memantapkan akidah melalui pemberian,
pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan,
pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik
tentang alkidah Islam sehingga menjadi manusia muslim
yang terus berkembang keimanan dan ketaqwaanya kepada
Allah Swt., 2) memotivasi peserta didik untuk mempelajari
dan mempraktekan ajaran akidah Islam yang inklusif dalam
bentuk pembiasaan perilaku kehidupan sehari-hari, dan 3)
mempersiapkan peserta didik mampu membaca naskah
tentang materi tauhid berbahasa Arab (kitab kuning) tingkat
menengah atas sehingga siap melanjutkan ke pendidikan
yang lebih tinggi.
Ruang lingkup mata pelajaran Tauhid adalah sebagai
berikut;
1) Pengertian, objek kajian, dan kegunaan ilmu
tauhid
2) Hubungan antara iman dan islam serta hal-hal
yang merusak iman
3) Hukum akal; wujub, mustahil, dan jawaz
4) Bertauhid dalam sifat dan asma’ al-husna
menurut ahlus sunnah
5) Iman kepada Allah, Malaikat, Rasul Allah, Kitab,
Hari ahir, dan Qada’ dan Qadar menurut ahlus
sunnah

72 | Pendidikan Diniyah Formal


6) Penolakan penyamaan (Syabh) nash-nash agama
atau setuju penyelarasan antara nash agama
dengan dalil-dalil akil kuat.
7) Sifat wajib, mustahil, dan jaiz badi Allah dan sifat
wajib, mustahil, dan jaiz bagi Rasulullah dalam
bingkai keimanan ahlus sunnah wal jamaah.
Rujukan kitab untuk kelas 1 adalah al-Hushun al-
Hamidiyah karya Husain Afandi atau kitab Tuhfah al-Murid
‘ala Jauharah al Taukhidiyah karya al-Bajuri. Sedangkan
untuk kelas 2 dan 3 menggunakan kitab al-Dasuqi ‘alaa Umm
al-Barahin

e. Fiqh-Ushul Fiqh
Prinsip dari mata pelajaran ini adalah menekankan pada
kemampuan cara melaksanakan ibadah dan muamalah yang
benar dan baik disertai dengan kemampuan memahami
cara-cara menetapkan hukum dari sumber hukum agama.
Tujuan dari pembelajaran ini adalah sebagai berikut;
1) Mengetahui dan memahami prinsip-prinsip,
kaidah-kaidah, dan tatacara pelaksanaan hukum
Islam baik yang menyangkut aspek ibadah
maupun muamalah untuk dijadikan pedoman
hidup dalam kehidupan pribadi dan sosial.
2) Mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan
benar dan baik sebagai perwujudan dari ketaatan
dalam menjalankan ajaran agama Islam baik
dalam hubungan manusia dengan Allah Swt.,
dengan diri manusia itu sendiri, sesama manusia,
dan makhluk lainnya maupun dengan ling-
kungannya.

Pendidikan Diniyah Formal | 73


3) Mengenal, memahami, dan menghayati terhadap
sumber hukum Islam dengan memanfaatkan
suhul fiqh dan kaidah fiqh sebagai metode
penetapan dan pengembangan hukun Islam dari
sumbernya.
4) Menerapkan kaidah-kaidah pembahasan dalil-
dalil syara’ dalam rangka melahirkan hukum
Islam yang diambil dari dalil-dalilnya untuk
diamalkan dalam kehidupan sehari hari.
Ruang lingkup mata pelajaran Fiqh-Ushul Fiqh dibagi
menjadi 2, yaitu ruang lingkup bidang Fiqh dan ruang
lingkup Ushul fiqh. Secara lebih jelas adalah sebagai berikut;
1) Bidang Fiqh meliputi
- Istinja’, wudlu, tayamum, mandi wajib, masalah
haid, dan nifas
- Pembahasan tentang shalat, ancaman bagi yang
meninggalkan, dna syarat rukun shalat
- Sunat ab’ad dan bay’at dalam shalat, sujud sahwi
dan sujud tilawah
- Azan dan iqamah, shalat-shalat sunnah, shalat
jamaah dan shalat jumat
- Jama’ qashar dan qadha shalat serta tata cara
shalat janazah
- Zakat perniagaan, fitrah, pengelolaan zakat, dan
sedekah sunnat
- Puasa wajib dan sunnah serta pembahasan
tentang i’tikaf
- Haji dan umrah, qurban dan aqiqah dalam
hukum Islam

74 | Pendidikan Diniyah Formal


- Ekonomi Islam, riba, bungan bank, qiradh, pasar
modal syariah, pegadaian syariah, dan asuransi
- Sewa menyewa, pinjam meminjam, wakalah dan
masalah hak syuf’ah
- Wakaf, hibah, wasiat dan wasiat wajibah dan tata
cara pembagian waris
- Pernikahan, perceraian dan masalah ruju’
hadhanah dan harta bersama suami istri
- Masalah pemeliharaan nashab dan problem
hamil diluar nikah
- Hukum pidana Islam tentang qishas, hudud, dan
takzir
- Penganiayaan, pembunuhan dan masalah diat
berat dan diat ringanserta komersialisasi diat
kasus TKW di Saudi Arabia
- Memahami mazab dan aliran hukum dalam fiqh
Islam, dan
- Memahami persoalan pengembangan hukum
Islam
2) Bidang Ushul Fiqh
- Pengertian syari’ah, fiqh dan ushul fiqh
- Penalaran dan pembahasan tentang dalil hukum
- Perbandingan antara fiqh dan ushul fiqh, kaedah
fiqh dan kaedah ushul fiqh
- Konsep hukum, hakim, mahkum fih, dan maqasid
al-Syari’ah
- Kategori hukum taklifi, wajib, mandhub, mubah,
mahdzur, makruh, sah, dan batal

Pendidikan Diniyah Formal | 75


- Hukum wadh’i, syarat, sebab, mani’, sah, batal,
dan fasid
- Macam-macam hukum, wajib, mandhub, mubah,
mahdzur, makruh, sah, dan batal
- Kategori hukum taklifi dan hukum wadh’i, syarat,
sebab, mani’, sah, batal, dan fasid
- Masadir al-ahkam: al-Qur’an. Hadits, Ijma’, dan
Qiyas
- Istihsan, istishab, dan syar’u man qoblana dalam
hukum Islam
- Istidlal dna Ijtihad, mujtahid, dan madzab fiqh
serta ittiba’ dan taqlid
- Syar’u manqoblana dan statusnya dalam hukum
Islam
Kitab rujukan yang menjadi landasan pembelajaran
mata pelajaran fiqh-ushul fiqh adalah Fathul Mu’in karya Zain
al-Din al-Malibari, al-Iqna’ fi Hall al-Fazh abi Syuja’ karya
Muhammada Al Syarbini, dan Syarh al-Mahalli ‘alaa Minhaj
al-Thalibin karya al-Mahalli. Sedangkan ushul fiqh
menggunakan kitab Tashil al-Thuruqat fi Nazhm al-Waraqat
karya Yahya al-Imriyhii untuk kelas 1, al-Luma’ fi ushul al-
Fiqh karya al-Syairazi dan Lubb al-Ushul karya al-Syaikh
Zakariya al Anshari untuk kelas 2 dan kelas 3.

f. Akhlak Tasawuf
Mata pelajara akhlak tasawuf pada peserta didik PDF
‘Ulya diberikan dengan tujuan mewujudkan manusia
Indonesia yang berakhlak mulia dan menghindari akhlak

76 | Pendidikan Diniyah Formal


tercela dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan
individu maupun sosial, sebagai manifestasi dari ajaran dan
nilai-nilai akidah dalam Islam. Tujuan kedua adalah
mewujudkan manusia Indonesia yang memiliki hati yang
bersih dan mampu mendekatkan diri kepada Allah Yang
Maha Mulia dalam maqaamat ahwal, sebagai implementasi
ajaran dan nilai-nilai tasauf akhlaqi dalam kehidupan sehari-
hari.
Ruang lingkup mata pelajaran akhlak tasawuf meliputi;
1) Akhlak terpuji terdiri atas adab keseharian
(tidur, qiyaamullail, makan dan minum), adab
dalam pernikahan, adab bekerja, tata pergaulan,
al-Amr bil ma’ruuf wa al-Nahy ‘an al-munkar,
adab nabawiyah, akhlak muhammadiyah, dan
jihad al-nafs
2) Aspek tercela meliputi ghdhab, haqd, hasad, jaah,
riya’, kibr, dan ‘ujub
3) Tasawuf meliputi rahasia basmalah, hamdalah,
shalawat, dzikir dan doa, wirid, shalat berjamaah,
keutamaan ilmu, tilawatil qur’an, qiyamullail,
rahasia thaharah, salat, zakat, puasa, haji, rahasia
tilawah al-Qur’an, rahasia makanan halal, haram,
dan syubhat, uzlah, bergaul, mujahadah dan
riyadhah, hakikat dunia dan kehidupan, al-
ghurur, maqamat ahwal, (al-taubat, qana’ah, al-
Shabr wa al-Syukr, musyahadah), konsep uzlah
shuhbah, kedudukan syariat dan hakikat, definisi
tasawuf, mursyd, niat, ikhlas, shidq, muhasabah,
muraqabah dan tafakkur, serta dzikr al-maut.

Pendidikan Diniyah Formal | 77


Kitab rujukan untuk kelas 1 adalah kitab kifayat al-
Atqiya wa Minhaj al-Ashfiya’ karya Muhammad Syatha al-
Dimyati atau Minhaj al-Abidinilla Jannati Rabb al-Alamin
karya Imam al-Ghazali. Sedangkan untuk kelas 2 dan 3 kitab
Mau’idhah al-Mu’minin min Ihya’ ‘Ulum al-Din karya Imam
Ghazali.

g. Tarikh
Materi tarikh secara substansial terkait dengan asal usul
perkembangan dan peranan kebudayaan dan peradaban
Islam di masa lampau mulai dari dakwah rasulullah SAW
sampai periodesasi perkembangan Islam, baik di Indonesia
maupun dunia. Tujuan dari mata pelajaran tarikh adalah
sebagai berikut
1) Membangun kesadaran peserta didik tentang
pentingnya mempelajari landasan ajaran, nilai-
nilai dan norma-norma Islam yang telah di-
bangun Rasulullah SAW dalam rangka mengem-
bangkan kebudayaan dan perdaban Islam
2) Membangun kesadaran peserta didik tentang
pentingnya waktu dan tempat yang merupakan
sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan
masa depan
3) Melatih dengan kritis peserta didik untuk
memahami fakta sejarah secara benar dengan
didasarkan pada pendekatan ilmiah.

78 | Pendidikan Diniyah Formal


4) Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan
peserta didik terhadap peninggalan sejarah Islam
sebagai bukti peradaban ummat Islam di masa
lampau, dan
5) Mengembangkan kemampuan peserta didik
dalam mengambil ibrah dari peristiwa-peristiwa
bersejarah pada masa Rasulullah SAW, tokoh-
tokoh berprestasi dan mengaitkan fenomena
sosial, budaya, politik, ekonomi, IPTEK dan seni
untuk mengembangkan kebudayaan dan per-
adaban Islam.
Adapun ruang lingkup mata pelajaran tarikh adalah
sebagai berikut
1) Kondisi sosial bangsa Arab, kehidupan
Muhammad SAW sampai diangkat menjadi rasul
2) Dakwah Rasulullah SAW sejak awal kerasulannya
(secara sembunyi-sembunyi, terang-terangan,
dan keluar Makkah) sampai menjelang hijra ke
Madinah
3) Pembentukan masyarakat Islam sejak kehadiran
Rasulullah SAW di Madinah sampai usai perang
Badr
4) Pembinaan masyarakat Islamsejak berahirnya
perang Badr sampai berkumpulnya seluruh
musuh Islam (dalam kelompok al-ahzab) dalam
perang Khandak
5) Perjuangan Rasulullah SAW dalam menyelamat-
kan Islam dari kepungan al-ahzab dan upaya
mengembangkan dakwah Islam sesudah itu
sampai terjadinya perjanjian hudaibiyah

Pendidikan Diniyah Formal | 79


6) Perjuangan dakwah dan mliter Rasulullah SAW
setelah perjanjian hudaibiyah sampai terjadinya
Fath Makkah
7) Perjuangan akhir Rasulullah SAW dalam rangka
menyempurnakan misi kerasulanya
8) Hari-hari terahir kehidupan Rasulullah SAW
sampai ke Rafiq al-A’la.
Kitab rujukan mata pelajaran tarikh adalah al-Rakhiq al-
Maktuum karya Shafi al-rahman al-Mubarokfurri. Adapun
kitab al-Sirah al Nabawiyah karya Ibn Hisyam menjadi kitab
yang dianjurkan.

h. Bahasa Arab
Bahasa Arab di madrasa merupakan mata pelajaran
yang masuk rumpun bahasa. Meskipun demikian secara
substansi tidak terdapat perbedaan yang signifikan dilihat
dari aspek tujuan pembelajaran bahasa Arab itu sendiri. Pada
PDF Ulya, tujuan pembelajaran bahasa Arab agar peserta
didik memiliki kompetensi linguistik, komunikasi, budaya
yang dibutuhkan untuk mampu berkomunikasi aktif dalam
bahasa Arab lisan maupun tulis, baik interpretif, presentasio-
nal maupun interpersonal. Adapun tujuan khusus dari mata
pelajaran bahasa Arab adalah;
1) Membekali peserta didik dengan kemampuan
menguasai kompoenen bahasa yang berkaitan
dengan bunyi, kosa kata (mufrodat kontekstual
dan ibarat ishtilahiyah) dan tarkib praktis dan
fungsional.

80 | Pendidikan Diniyah Formal


2) Membekali peserta didik dengan 4 keterampilan
berbahasa Arabterutama keterampilan berbicara
dan menulis yang dapat diterapkan secara aktif
dalam berkomunikasi dengan bahasa Arab di
pesantren
3) Mengembangkan kemampuan berkomunikasi
lisan dan tulisan dengan penutur asli bahasa
Arab dalam konteks kehidupan sehari-hari yang
berterima
4) Menumbuhkan kesadaran peserta didik tentang
pentingnya penguasaan bahasa Arabdalam me-
laksanakan tugasnya sebagai calon ulama
mutafaqqihun fi al-din serta mengembangkan
pemahaman tentang budaya Arab Islam dan
melibatkan diri dalam keragaman budaya.
Ruang lingkup mata pelajaran bahasa Arab meliputi
unsur bahasa yang menekankan pada kosa kata dan
ungkapan praktis (mufrodat dan ibarat) serta struktur
bahasa (Nahwu-sharf) fungsional, keterampilan berbahasa,
dan budaya dalam kegiatan berbahasa. Struktur bahasa yang
diajarkan berhubungan dengan fadhlal al-jumlah, nawasikh,
dan bentuk-bentuk sharf pokok. Sumber utama bahan
pelajaran bahasa Arab adalah kitab al-Arobiyah bayna yadayk
juz III karya Abd al-Rahman al-Fauzan, dkk. dan didukung
dengan materi dari kitab al-Araobiyah li al-Nasyi’in karya
Mahmud Ismail al-Shini dkk. serta kitab-kitab Nahwu dan
Sharf yang digunakan pada tingkatan yang sama.

Pendidikan Diniyah Formal | 81


i. Nahwu Sharf
Mata pelajaran Nahwu-Sharf pada PDF ‘Ulya diharapkan
peserta didik mampu memahami, menyelami, dan menerap-
kan pengetahuan nahwu dan sharf untuk dapat dimanfaat-
kan untuk mengakses berbagai buku keIslaman berbahasa
Arab yang menjadi rujukan studinya. Pada tingkat ini peserta
didik diharapkan mampu mendemonstrasikan hafalan
nadhom Alfiyah Ibnu Malik dengan lancar, mampu me-
mahami dan menjelaskan struktur kata dan kalimat yang
terdapat dalam teks berbahasa Arab.

Ruang lingkup pelajaran Nahwu-sharf merupakan


pendalaman dan perluasan atas materi di tingkat wustha.
Adapun kitab yang menjadi rujukan utama adalah Syarh Ibnu
Aqil alaa Alfiyah Ibn Malik karya Baha’ al-Din Abd al-Lah ibn
Aqil. Kitab lain yang memungkinkan menjadi pengayaan
adalah kitab mughni al-Labib ‘an kutub al-A’arib karya Ibn
Hisyam al-Anshari.

j. Balaghah
Mata pelajaran balaghah menekankan pada pemahaman
dan penggunaan bahasa sastrawi termasuk yang digunakan
dalam al-Aqur’an al-Karim. Tujuan secara spesifik dalam
mata pelajaran balaghah ini adalah
1) Membaca dan memahami teks-teks kalam Arab
baik puisi (syi’ir) maupun prosa (natsar) khusus-
nya ayat-ayat al_Qur’an dengan baik dan benar

82 | Pendidikan Diniyah Formal


2) Menyebutkan dan menjelaskan makna kata-kata
atau ungkapan yang mengandung aspek-aspek
balaghah dalam suatu teks
3) Mengembangkan pemahaman tentang saling
keterkaitan antara bahasa dan budaya serta
memperluas cakrawala budaya, termasuk
budaya Arab Islami.
4) Menumbuhsuburkan potensi balaghah dalam diri
peserta didik dalam berkomunikasi khususnya
dalam kegiatan dakwah Islam.
Ruang lingkup mata pelajaran balaghah meliputi
pembahasan fashahah, muqtadlal wal maqam, dan macam-
macam gaya bahasa (uslub) struktur ilmu ma’ani, gaya
bahasa kiasan ilmu bayan, serta gaya bahasa pertautan dan
pertentangan muhassinat ilmu ilmu badi’. Kitab rujukan yang
digunakan adalah al-Jauhar al-Maknun karya Jalaluddin al-
Suyuthi di kelas 2 dan kelas 3.

k. Ilmu Kalam
Tujuan pemeberian mata pelajaran Ilmu kalam pada
santri adalah agar memiliki kemampuan memahami dan
membedakan secara faktual dan konseptual pemikiran
kalam yang benar dan yang salah (sesat), memiliki sikap
keberagamaan atau keberimanan yang berakidah kalam
ahlussunnah waljamaah yang moderat dan penuh kasih
sayang (rahmah), tetapi tetap memiliki sikap yang tegas
terhadap penganut akidah dan kalam yang sesat, dan agar
juga memiliki pola pikir dan pola tindak dalam mem-

Pendidikan Diniyah Formal | 83


praktikan aqidah yang benar dan menjauhi aqidah yang
sesat. Tujuan umum ini dijabarkan ke dalam rumusan tujuan
yang diharapkan pada PDF Ulya Al Fithrah yaitu
1) Menumbuhkembangkan akidah ahlussunnah wal
jamaah sebagai aqidah yang moderat dan rahma
(penuh kasih sayang) sehingga tumbuh menjadi
muslim Indonesia yang terus meningkatkan
keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT
dan menjadi cendekiawan atau ulama yang
penuh tanggungjawab dan bijaksana dalam
kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara.
2) Memupuk diri sebagai muslim Indonesia yang
beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT dengan
sikap penuh dengan rendah hati, sehingga tidak
memiliki sikap klaim diri sebagai muslim yang
benar dan muslim yang lain salah (bathil) serta
memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan
pada jenjang yang lebih tinggi.
3) Mewujudkan diri sebagai muslim Indonesia yang
berakidah ahlisunnah waljamaah dan berakhlak
mulia dengan penuh kecintaan terhadap tanah
air dan NKRI.
Ruang lingkup ilmu kalam adalah makna penting ilmu
kalam, kelompok yang benar dan yang sesat dalam
beraqidah, kewajiban mendalami ilmu kalam, memikirkan
Dzat Allah SWT., sifat Allah SWT., perbuatan Allah SWT.,
melihat Allah SWT. dengan mata kepala di akherat, al-Qur’an

84 | Pendidikan Diniyah Formal


merupakan kalam Allah bukan makhluk, Qadar, Syafaat,
kebangkitan, azab kubur, al-shirath dan al-mizan, ke-
pemimpinan Abu Bakar al-Shidiq RA. Adapun kitab rujukan
adalah al-Iqtishaad fi al-I’tiqad karya Imam Ghazali untuk
kelas 1, dan al-Ibanah ‘an ushul al-diyaanah karya Imam Abu
al-hasan al-Asyari untuk kelas 2 dan 3.

l. Ilmu ‘Arud
Ilmu arudh adalah ilmu bantu (alat) terutama terkait
dengan syair Arab. Tujuan pemberian materi melalui mata
pelajaran ilmu arudh adalah
1) Mamahami mabadi’/dasar dasar ilmu arudh dan
kaidahnya
2) Memahami macam-macam wazan/bahar syair
dan laqab bait
3) Memahami perubahan wazan/zihaf dan illat
4) Memahami dasar-dasar ilmu Qafiyah
5) Memahami aib qafiyah
Ruang lingkup mata pelajaran ilmu arudh adalah sebagai
berikut
1) Aspek wazan dilihat dari wazan tertentu terkait
dengan kebenaran, kerusakan, dan zihaf dan illat
(perubahan)nya
2) Aspek Qafiyat yakni bagian ahir dari bait syair
yang meliputi huruf qafiyah, haraqat qafiyah,
macam-macam qafiyah, laqab qafiyah, dan aib
qafiyah.

Pendidikan Diniyah Formal | 85


Kitab yang menjadi rujukan adalah al-mukhtashar al-
syafi ‘alaa matn al-kafi karya muhammad Damanhur. Kitab
ini untuk kelas 2 dan 3, sedangkan kitab lain sebagai
pengayaan adalah al-mayassar fi ilm al-arudh karya KH.
Khatibul Umam.

m. Ilmu Mantiq
Ilmu mantiq merupakan kaidah-kaidah yang dijadikan
pedoman untuk berfikir agar tidak keliru dan informasi yang
diterima tidak salah. Tujuan materi ini adalah agar santri
mampu menunjukan kemampuan berfikir logis, kritis, dan
kreatif serta kemampuan analisis yang produktif sesuai
dengan kaidah-kaidah penalaran yang logis. Ruang lingkup
ilmu mantiq adalah konsep al-ilmu dan al-adalah, lafadz,
qadhiyah, istidlal, dan lawahiq qiyas (qiyas tambahan). Kitab
rujukanya adalah kitab karya Muhammad Nur Ibrahimi
untuk kelas 1, dan untuk kelas 2 dan 3 al-sulam al-munawraq
fi ilm al-manthiq karya Abd Rahman al-Akhdari.

n. Ilmu Falak
Ilmu falaq diberikan agar santri memiliki wawasan
terhadap fenomena benda-benda langit yang senantiasa
bergerak. Dengan demikian santri mampu memahami seluk
beluk tata surya khususnya yang berkaitan dengan gerak
edar bumi, bulan dan matahari. Tujuan secara khusus adalah:
1) memahami ketentuan nash tentang waktu-waktu
ibadah

86 | Pendidikan Diniyah Formal


2) meluruskan arah kiblat dan menerapkannya me-
lalui pendekatan rumus falakiyah
3) meningkatkan kesadaran dan pemahaman yang
benar serta dapat menjelaskan secara logis
terhadap sebagian perubahan fenomena alam
yang oleh syariat Islam dianjurkan untuk
bertaqarrub kepada Allah SWt, seperti fenomena
terjadinya peristiwa gerhana matahari dan bulan.
Ruang lingkup ilmu falak meliputi tata koordinat bola
bumi, tata koordinat bola langit, mengenal posisi matahari
pada bola langit, dan perhitungan dan pengukuran arah
kiblat, penentuan waktu shalat, dan awal bulan qomariyah
syari’iyah. Kitab yang menjadi rujukan adalah al-Khulashah
al-Wafiyah fi al_afalak bi Jadawil al-Lughaaritmiyah karya
Zubair Umar al-Jailani.

2. KELOMPOK MATA PELAJARAN UMUM

Pembelajaran Matematika di PDF Ulya Al Fithrah

Pendidikan Diniyah Formal | 87


Kelompok mata pelajaran Umum yang diajarkan pada
PDF Ulya adalah Pendidikan Kewarganegaraan, bahasa
Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Seni
budaya. Dari kelima mata pelajaran terdapat mata pelajaran
yang merepresentasikan dunia pondok pesantren salafiyah,
yaitu pada mata pelajaran seni budaya dengan mengkaji
syair-syair dan ratib. Untuk melihat secara lebih kompre-
hensif tujuan, ruang lingkup dan rujukan materi pada mata
pelajaran umum adalah sebagai berikut.

a. Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan kewarganegaraa yang diajarkan di PDF Ulya
memiliki karakteristik tersendiri karena diajarkan dalam
kerangka nasional yang berbasis pada nilai, budaya, dan
karakter pesantren. Dengan demikian, peserta didik
diharapkan akan memiliki semangat kebangsaan dan cinta
tanah air, mendukung demokrasi yang berkeadaban dan
mendukung kesadaran hukum dan menghormati ke-
ragaman. Secara operasional tujan pembelajaran mata
pelajaran pendidikan kewarganegaraan adalah
1) Mengembangkan sikap positif dan menampilkan
perilaku yang mendukung semangat kebangsaan
dan cinta tanah air
2) Mengembangkan sikap positif dan menampilkan
perilaku yang mendukung demokrasi ber-
keadaban
3) Mengembangkan sikap positif dan menampilkan
perilaku yang mendukung kesadaran hukum dan
keragaman.

88 | Pendidikan Diniyah Formal


Ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Kewarga-
negaraan pada PDF Ulya AL Fithrah adalah sebagai berikut
1) Nilai ideal, instrumental, dan praksis silai-sila
Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia
tahun 1945
2) Integrasi Nasional dalam bingkai Bhineka
Tunggal Ika
3) Nilai-nilai kultural dalam kehidupan ber-
masyarakat
4) Pengelolaan kekuasaan negara
5) Implementasi hukum yang berkeadilan
6) Nilai-nila HAM dan penanganan kasus-kasus pe-
langgaran HAM

b. bahasa Indonesia,
Bahasa Indonesia diajarkan agar peserta didik memiliki
penguasaan keterampilan berbahasa yang memadai. Oleh
karena itu kompetensi yang diharapkan adalah sebagai
berikut.
1) Keterampilan bahasa yang ingin dicapai yaitu
keterampilan menyimak/mendengarkan dengan
berbagai ragam bahasa lisan dan fungsinya,
keterampilan berbicara dengan menggunakan
wacana lisan yang tepat, keterampilan membaca
untuk memahami wacana tulis, dan keterampilan
menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasa-
an, dan informasi dalam bentuk teks naratif-
artistik, teks informatif-ekspositoris, dan teks
argumentatif-persuasif.

Pendidikan Diniyah Formal | 89


2) Kebahasaan dengan indkator memahami satuan
bentuk dalam bahasa, memahami tata kalimat,
dan memahami tata makna
3) Kesastraan dengan indikator memahami apa itu
puisi, prosa, dan drama.
Secara spesifik tujuan pembelajaran bahasa Indoensia
pada peserta didik PDF Ulya adalah sebagai berikut.
1) Menghargai dan bangga menggunakan bahasa
Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa
negara
2) Memahami karakteristik bahasa Indonesia secara
baik dan mampu menggunakannya untuk ber-
bagai tujuan
3) Menggunakan bahasa Indonesai untuk me-
ningkatkan kemampuan intelektual, serta ke-
matangan emosional dan sosial
4) Menggunakan bahasa Indonesia secara efektif
dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku
yaitu memenuhi kaidah interpretatif dan kaidah
interaktif, baik dalam ragam lisan maupun
tulisan
5) Mengapresiasi karya sastra sebagai medium
untuk memperluas wawasan, memperhalus budi
pekerti serta meningkatkan pengetahuan dan
kemampuan berbahasa
6) Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia
sebagai khazanah budaya dan intelektual
manusia Indonesia

90 | Pendidikan Diniyah Formal


Ruang lingkup bahasa Indonesia mencakup komponen
kemampuan berbahasa dan bersastra dalam aspek
keterampilan berbahasa, kebahasaan, dan kesanstran.
Rujukan dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah bahan
ajar yang berasal dari dunia Islam-pesantren, seperti karya
KH.A.Mustofa Bisri, Ahmad Thohari, Emha Ainun Nadjib,
Mahbub Junaidi, D. Zawawi Imron, Jamal D Rahman, dan
Acep Zamzam. Pada aspek lain dapat memanfaatkan biografi
lokal kiai-kiai pesantren dan atau menggunakan tradisi
sastra-seni-budaya yang berkembang secara lokal.

c. Matematika,
Cabang matematika dalam dunia pesantren dengan
istilah ilmu hisab. Kompetensi yang diharapkan melalu mata
pelajaran matematik di PDF Ulya adalah sebagai berikut.
1) Menunjukan kemampuan berfikir logis, kritis,
analitis, sistematis, kreatif, dan inovatif dalam
pengambilan keputusan
2) Mengusai konsep-konsep matematika terutama
konsep aritmatika dan aljabar dalam memecah-
kan masalah kehidupan sehari-hari dan masalah-
masalah perhitungan dalam masalah fiqh zakat
dan fiqh mawaris
3) Mengusai konsep dan aturan dalam logika
matematika yang berguna bagi masalah peng-
ambilan keputusan dan argumentasi serta lebih
mampu menerapkannya pada disiplin ilmu
mantiq

Pendidikan Diniyah Formal | 91


4) Menguasai konsep-konsep statistika deskriptif
sehingga mampu mengolah dan menafsirkan
data-data tentang berbagai masalah menyangkut
umat Islam dan dunia Islam
5) Mengusai konsep-konsep matematika terutama
konsep perbandingan trigonometri dan bola
bumi (salah satu bidang stereometri) untuk
memperlancar pemahaman dalam ilmu falaq
6) Mengusai pengetahuan yang diperlukan untuk
mengkuti pendidikan tinggi.
Adapun tujuan dari pembelajaran matematika ini adalah
peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut
1) Memahami konsep matematika dan menjelaskan
antar konsep serta mengaplikasi konsep atau
algoritma secara luwes, akurat, efesien, dan tepat
dalam pemecahan masalah
2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat,
melakukan teknik matematika dalam membuat
generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan
gagasan dan pernyataan matematika
3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan
memahami masalah, merancang model mate-
matika, menyelesaikan model dan menafsirkan
solusi yang diperoleh
4) Mengomunikasikan gagasan dengan simbol,
tabel, diagra atau media lain untuk memperjelas
keadaan atau masalah

92 | Pendidikan Diniyah Formal


5) Memahami sikap menghargai kegunaan mate-
matika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa
ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mem-
pelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya
diri dalam pemecahan masalah
Ruang lingkup matematika yang diajarkan pada PDF
Ulya adalah bidang aritmatika, aljabar, logika, statistika,
trigonometri, dan stereometri.

d. Ilmu Pengetahuan Alam


Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di PDF Ulya
diharapkan dapat membekali peserta didik terhadap dasar
pengetahuan dan perkembangan IPA dan teknologi sehingga
peserta didik dapat melakukan ikhsasul waqii’7 lebih dalam
dan luas sebelum memutuskan hyukum tertentu bagi
produk-produk hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi terutama beberapa produk yang menimbulkan
kontroversi di masyarakat. Kompetensi yang diharapkan
melalui mata pelajaran IPA adalah
1) Menjelaskan ruang lingkup biologi berdasarkan
objek dan permasalahannya pada berbagai
tingkat organisasi kehidupan

7Sebuah realistas dimana Islam diturunkan untuk berinteraksi


dengan realitas-realitas obyektif yang nyata-nyata ada sebagaimana ia
adanya. Selain itu ajaran-ajarannya didesign sedemikian rupa yang
memungkinkannya diterapkan secara nyata dalam kehidupan manusia.

Pendidikan Diniyah Formal | 93


2) Mendeskripsikan keaneka ragaman hayati
Indonesia dan usaha pelestarian serta pe-
manfaatan sumber daya alam
3) Menjelaskan hubungan antara komponen eko-
sistem, aliran energi, dan mengkaitkan dengan
keseimbangan lingkungan dan pelestariannya.
4) Mengidentifikasi jenis-jenis limbah dan daur
ulang limbah serta membuat produk daur ulang
limbah
5) Menjelaskan berbagai gangguan kesehatan tubuh
dan lingkungan yang disebabkan oleh makhluk
hidup dan berbagai polusi serta upaya penang-
gulangannya
6) Memahami kegunaan dan efek samping bahan
kimia dalam kehidupan sehari-hari
7) Menjelaskan berbagai konsep dasar fisika, pe-
nerapan serta pemanfaatannya dalam kehidupan
sehari-hari
8) Menjelaskan arti, prinsip dasar, jenis-jenis, peran
dan implikasi teknlogi tepat guna dan bio-
teknologi pada sains, lingkungan, teknologi, dan
masyarakat
Melalui kompetensi di atas, pembelajaran IPA bertujuan
untuk
1) Meningkatkan keyakinan terhadap kebesaranb
Tuhan Yang Maha Esa berdassarkan keberadaan,
keindahan, dan keteraturan alam ciptaan-Nya

94 | Pendidikan Diniyah Formal


2) Mengembangkan pemahaman tentang berbagai
macam gejala alam, konsep dan prinsip IPA yang
bermanfaat dan dapat diterapkan dalam ke-
hidupan sehari-hari
3) Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta
dalam memelihara, menjaga, dan melestarikan
lingkungan serta sumber daya alam
4) Mengembangkan pemahaman dan kemampuan
IPA untuk menunjang kompetensi untuk me-
nentukan hukum-hukum tertentu terhadap
produk perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi
Ruang lingkup mata pelajaran IPA meliputi aspek-aspek
1) Makhluk hidup dan proses kehidupan, 2) Polusi dan
limbah lingkungan, 3) Ekosistem, komponen ekosistem dan
keseimbangan lingkungan, 4) Bahan kimia di sekitar, 5)
Konsep dasar fisika dan pemanfaatannya, dan 6) Teknologi
tepat guna dan bioteknologi. Adapun buku rujukan terdiri
atas buku pegangan peserta didik untuk mata pelajaran IPA
karangan Tim PD Pontren.Jakarta.Kemenag RI, dan buku
pegangan siswa dan guru mata pelajaran Fisika, Kimia, dan
Biologi untuk SMA/MA, Kemendikbud RI

e. Seni budaya
Pembelajaran Seni Budaya di PDF Ulya diupayakan
untuk meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap
seni budaya relegi dengan segenap nilai, ajaran dan

Pendidikan Diniyah Formal | 95


fungsinya dalam konteks keIslaman, sehingga peserta didik
tidak saja melakukan apresiasi terhadap seni budaya, tetapi
berkreasi menciptakan berbagai bentuk dan format seni
budaya Islami yang relevan dengan zamanya. Dalam konteks
ini pondok pesantren mengaplikasikan jargon yang menjadi
sikap yaitu al-mukhaafadlatu ‘ala qadiimis shalih dan juga
sekaligus terjadi proses kreatif terhadap sikap al-akhdzu bi
jadiidil ashlah. Adapun kompetensi yang diharapkan dari
pembelajaran ini adalah peserta didik memahami berbagai
ragam bentuk seni budaya yang ada dan menjadi tradisi di
kalangan masyarakat muslim, khususnya kalangan
madrasah dan pesantren yang menjadi sumber inspirasi dan
sarana mensosialisasikan ajaran Islam. Kompetensi lain
adalah peserta didik memahami kandungan makna, nilai,
hikmah dan fungsi yang ada dibalik ragam bentuk kesenian
yang ada dan diajarkan di kalangan masyarakat muslim.
Adapun tujuan pembelajaran ini adalah agar peserta
didik
1) mengenali berbagai ragam khazanah seni budaya
Islami yang ada dan berlaku di pesantren/
madrasah yang menjadi sumber kreatifitas dan
akar tradisi Islamdi kalangan masyarakat.
2) memahami berbagai kandungan makna, hikmah
dan bentuk seni budaya Islami serta berbagai
kayfiyah dan tata aturan permainan dalam
penampilan seni budaya, dan

96 | Pendidikan Diniyah Formal


3) memiliki kesadaran untuk berperan serta dalam
memelihara, menjaga, dan mengembangkan seni
budaya relegius, mampu mengembangkan krea-
tifitas dan meningkatkan apresiasi terhadap seni
budaya untuk menunjang kompetensi dalam
menjaga dan mengembnagkan seni budaya.
Ruang lingkup pembelajaran seni budaya di PDF Ulya
meliputi
1) aspek estetik yang meliputi berbagai nilai ke-
indahan baik dalam lagu, sastra maupun format
penampilan yang ada dalam seni budaya seperti
tercermin dalam syair-syair shalawat dan ratib
yang biasa dibaca dan disenandungkandi
madrasah/pesantren dan masyarakat dalam
acara dan waktu-waktu tertentu, seperti
shalawat nariyah, badr, syair burdah, ratibul
haddad dan symtuth dhurar, dziba’ dan barzanji.
2) Aspek etikmeliputi berbagai kandungan makna,
ajaran dan hikmah yang dibalik syair, syimbol
dan berbagai format seni budaya seperti
tercermin dalam shalawat nariyah, badr, syair
burdah, ratibul haddad dan symtuth dhurar,
dziba’ dan barzanji,
3) Aspek historis dan kreatif terdiri atas
pengamatan dan keterlibatan terhadap berbagai
ragam bentuk penampilan dan format tradisi dan
seni budaya lokal yang bernuansa relegi seperti
hadrah, tabot, maulid, sekaten, dan beberapa
jenis seni budaya lainnya yang terjadi di
masyarakat yang ada di sekitar lembaga PDF, dan

Pendidikan Diniyah Formal | 97


4) Aspek spiritual dan ritual meliputi berbagai
kandungan hikmah dari khizb dan aurad yang
merupakan bagian dari khazanah seni budaya.
Rujukan buku mata pelajaran yang disusun adalah dari
kitab-kitab, yaitu Simth al_durar karya al-Habib Ali bin
Muhammad Al-Habsy, Ratib al-Haddad karya al-Habib
Abdullah bin Alwi al-Hadaad, Syair al-Burdah karya al-Imam
Muhammad bin Zaid Al-Bushiri, Al Barzanji karya Ja’far bin
Husain al-Barzanji, Al-Diba’i karya al-Imam Abd al-
RahmanAl-Diba’i, Syams Al-Ma’arif karya al-Imam Ahmad bin
Ali al-Buni, dan Syawariq al-Anwar Min Ad’iyah al-Saadah al-
Akhyar karya Muhammad bin Alwi al-Maliki.

98 | Pendidikan Diniyah Formal


Bab IV
PENDIDIKAN DINIYAH FORMAL;
MENERUSKAN PERJUANGAN ULAMA
SALAFUSSHOLIH

Secara umum pondok pesantren salafiyah merupakan


lembaga pendidikan non formal yang sarat dengan kajian
kitab kuning. Kitab ini karya ulama salaf yang terus dikaji dan
ditransformasikan pada santri agar memiliki penguasaan
sekaligus meneruskan cita-cita ulama salafush al-shalihin.
Begitu juga yang dilakukan oleh Ponpes Assalafi Al Fithrah
dengan visinya disamping mensuritauladani akhlaqul
karimah baginda habibillah rasulillah muhammad saw. juga
meneruskan perjuangan salafush sholih, terdepan dalam
berilmu dan beragama serta mampu menghadapi tantangan
zaman.
Melihat visi meneruskan perjuangan salafush sholih
secara implisit dan eksplisit ponpes Al Fithrah merupakan

Pendidikan Diniyah Formal | 99


ponpes yang akan mencetak kader ulama untuk meneruskan
perjuangan ulama sebelumnya (salafush sholih). Ponpes
dibawah Yayasan Al-Khidmah Indonesia (YAKIN) dan Nomor
Statistik Pondok Pesantren Salafiyah pada Kandepag:
042.3578.14.003 diharapkan menjadi salah satu pusat
kaderisasi ualam yang ada di Indonesia. Hal ini dikarenakan
Ponpes Al Fithrah telah tersebar di berbagai daerah seperti
Ponpes Al Fithrah Gresik, Al Fithrah Semarang, Al Fithrah
Lamongan, Al FIthrah Indaramayu, Al Fithrah Batang, Al
Fithrah Yogyakarta, Al Fithrah Balongpanggang Gresik, Al
Fithrah Tuban, Al Fithrah Pakal Surabaya, PP. Bustanul Arifin
Menganti dan PP. Miftahul Huda Ngroto.
Langkah Ponpes Al Fithrah dalam mencetak kader
ulama dengan menyelenggarakan pendidikan formal, non
formal maupun pendidikan khusus. Lembaga pendidikan
formal yang diselenggarakan disesuaikan dengan pesantren
sebagai lembaga kader ulama, yaitu
1. Isti’dad Ula diperuntukan khusus santri lulusan
SD/MI yang belum mampu membaca al-Qur’an
dengan baik dan belum mampu menulis serta
membaca tulisan pegon dengan baik. Standar
pendidikan ini 1 tahun.
2. Isti’dad Wustha diperuntukan khusus santri lulusan
SMP/MTs yang belum mampu membaca al_qur’an
dengan baik, belum mampu menulsi dan membaca
tulisan pegon dengan baik, serta belum mampu
memahami dan mengaplikasikan gramatika Arab.
Standar pembelajaran ini 1 s/d 2 tahun.

100 | Pendidikan Diniyah Formal


3. Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Wustha al fithrah
4. Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ulya al-Fithrah,
dan
5. Ma’had Aly al fithrah.
Untuk pendidikan diniyah non formal diselenggarakan
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar, seperti
Taman Pendidikan al-Qur’an (TPQ) al fithrah, Madrasah
Diniyah (Madin) MI Takmiliyah al fithrah, MTs Takmiliyah,
dan Aliyah Takmiliyah al-Fithrah, serta Ma’had Jami’ah al
Fithrah. Adapun pendidikan khusus adalah program khusus
Ramadhan, Astracil dan Astricil sebagai pesantren khusus
anak-anak usia dini dengan program hafalan aurad (wiridan
setelah salat), hafalan juz ‘Amma, ekstra banjari, berlatih
berbicara bahasa Arab dan bahasa Inggris.
Kekuatan Pondok pesantren untuk mencetak kader
ulama secara terstruktur telah dilakukan dengan
menyelenggarakan lembaga pendidikan formal dari
Madrasah Ibtidaiyah Takmiliyah, PDF Wustha, PDF ‘Ulya, dan
Ma’had ‘Aly. Oleh karena itu apabila santri mengikuti
langkah-langkah pendidikan dari tingkat Takmiliyah sampai
ke tingkat Ma’had Aly maka diharapkan menjadi kader ulama
untuk meneruskan perjuangan ulama salaf. Apalagi santri
Ma’had Aly adalah santri pilihan yang memang secara khusus
diproyeksikan untuk menjadi ulama. Proyeksi ini secara
terstruktur telah diprogram yaitu santri setelah selesai studi
Ma’had ‘Aly harus mengabdi terlebih dahulu minimal selama

Pendidikan Diniyah Formal | 101


1 tahun untuk mengajar di Ponpes al Fithrah di berbagai
cabang yang dimiliki.

Meskipun Ponpes Al Fithrah memiliki langkah-langkah


terstruktur untuk mencetak kader ulama yaitu sampai ke
tingkat Ma’had Aly, akan tetapi proses kaderisasi yang
dilakukan melalui penyelenggaraan PDF Ulya dapat
dijadikan bahan untuk melanjutkan perjuangan ulama salaf.
Hal ini dikarenakan bahan atau materi yang disampaikan
melalui mata pelajaran yang dimuat dalam kurikulum
pendidikan keagamaan Islam PDF cukup tinggi. Menurut
Santri Ma’had Aly, bahwa kitab-kitab yang harus diselesaikan
oleh santri PDF Ulya sangat tinggi bahkan sejajar dengan
Ma’had Aly, hal ini dikarenakan santri dituntut harus
menyelesaikan kitab-kitab yang dirujuk sebagai kitab utama.

Para santri belajar tidak hanya sesuai jadwal


pembelajaran di kelas pada umumnya, akan tetapi melebihi
jam belajar yang ditetapkan yaitu 18 jam dalam 1 minggu.
Menurut Hermansyah, bahwa secara rasional cukup berat
bagi santri menyelesaikan materi melalui kitab-kitab utama,
akan tetapi karena kebiasaan atau kultur santri yang terbiasa
belajar sampai malam, maka santri dapat menyelesaikan
sesuai dengan target. Bagi santri mukim Ponpes Al Fithrah
yang dijadikan sarat penyelenggaraan PDF setiap hari
memiliki aktifitas sebagai berikut;

102 | Pendidikan Diniyah Formal


JADWAL KEGIATAN SANTRI MENETAP / MUKIM
No Waktu kegiatan Jenis kegiatan
1 04.15 – 05.40 Tarhim dan Salat Subuh
2 05.40 – 06.25 Membaca al-Qur’an, ngaji kitab, senam
3 06.25 – 06.35 Salat Isyraq, Dhuha, dan Isti’adzah
4 06.35 – 07.15 Sarapan pagi
5 07.15 – 07.30 Persiapan sekolah
6 07.30 – 11.50 Masuk sekolah jam 1 s/d 6
7 11.50 – 12.40 Salat Dhuhur dan makan siang
8 12.00 – 15.00 Istirahat
9 15.00 – 15.20 Persiapan salat Ashar
10 15.20 – 17.00 Ngaji sorogan, membaca al-Qur’an, kursus
bahasa Arab dan bahasa Inggris
11 17.00 – 17.30 Persiapan salat Maghrib
12 17.30 – 19.20 Salat Maghrib dan membaca Burdah
13 19.20 – 20.20 Salat Isya
14 20.20 – 20.50 Makan malam
15 20.50 – 21.00 Persiapan Majlis Kebersamaan dalam
pembahasan Kajian Ilmiah (MKPI)
16 21.00 – 00.00 MKPI
17 00.00 – 01.00 Salat malam (Tasbih, Tahajjud dan witir)
18 01.00 – 03.30 Istirahat

Jadwal di atas belum termasuk kegiatan wajib yang


harus diikuti santri mukim yaitu Salat berjamaah dan diikuti
salat sunnah qabliyah/ba’diyah, mengikuti salat sunnah yang
telah ditetapkan, mengikuti manakib ahad pertama dan
acara ahad kedua dari jam 07.00 sampai menjelang dhuhur,
mengikuti pengajian al-Qur’an atau kitab sesuai dengan
tingkatan kitab dan kemampuan, mengikuti sekolah dan
dirosah idlofi.
Beban belajar santri PDF diakui oleh beberapa santri
PDF maupun santri Ma’had Aly memang nampak berat.
Beban ini masih harus ditambah dengan beban-beban lain
yang mengikat dan harus diikuti oleh santri PDF Ulya. Santri
masih dibebani harus mengikuti kegiatan pembelajaran yang

Pendidikan Diniyah Formal | 103


bersifat ekstra kurikuler maupun yang bersifat Jami’ah.
Beban santri untuk kegiatan ekstra kurikuler antara lain;
bahasa Inggris, bahasa Arab, kajian kitab, kaligrafi, seni
banjari, tata busana, public speaking, dan manaqib.
Pendidikan Diniyah Fromal (PDF) Ulya Al Fithrah bagi
Pondok pesantren salafiyah di lingkungan Kota Surabaya dan
sekitarnya cukup dikenal, sehingga menjadi rujukan bagi
pondok pesantren salafiyah yang akan menyelenggarakan
PDF. Bahkan menurut Achmad Kunawi (Kepala PDF) sering
dari pondok pesantren konsultasi tentang pendirian PDF
daripada ke Kementerian Agama. Hal ini dimaklumi karena
program PDF adalah program Pusat sehingga layanan dan
informasi bahkan saat ujian nasional (Imtihan Wathani) yang
berlangsung tanggal 10 – 12 Maret 2018 dan diikuti oleh 836
santri se Indonesia, terdiri dari 431 santri putra dan 405
santri putri soalnya didatangkan langsung dari pusat tanpa
melalui Kanwil Kemenag.
Menurut Istono dari Kementerian Agama Kota Surabaya,
bahwa penyelenggaraan PDF di ponpes salafiyah sudah lebih
mulai jelas, yaitu dalam sistem keuangan Kemenag Kab/Kota
sudah ada akun yang khusus untuk PDF. Oleh karena itu,
apabila pondok pesantren salafiyah akan menyelenggarakan
PDF tidak sulit apabila memenuhi persaratan. Hanya saja
karena ini program baru dan yang pertama menyeleng-
garakan di kota Surabaya adalah PDF Ulya Al Afithrah, maka
apabila akan menyelenggarakan PDF untuk berkonsultasi
dengan pengelola PDF Al Fithrah Ponpes Assalafi Al Fithrah.

104 | Pendidikan Diniyah Formal


Dalam FGD (Focus Group Discussion) di Ponpes Sunan
Giri, bahwa penyelenggaraan PDF sebenarnya tidak terlalu
sulit bagi pondok pesantren salafiyah. Apalagi PDF ini
mememiliki orientasi membentuk kader ulama yang sudah
menjadi bagian dari tugas pondok pesantren salafiyah
mencetak ulama. Menurut Ismail (Pengasuh Ponpes Sunan
Giri) bahwa secara teoritis penyelenggaraan PDF tidak
terlalu sulit, hanya saja keterbatasan jumlah santri mukim
dan model penyelenggaraan pendidikan yang sedang
berjalan sudah cukup mapan, maka untuk mendirikan PDF
sebag ai lembaga pendidikan diniyah formal untuk mencetak
kader ulama membutuhkan pemikiran tersendiri.

 PDF ULYA AL FITHRAH; LANGKAH STRATEGIS


MENYELENGGARAKAN PENDIDIKAN DINIYAH
FORMAL
Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ulya didirikan untuk
memberikan pilihan kepada masyarakat untuk mendidik
para santri menjadi kader ulama sesuai dengan PMA Nomor
13 tahun 2014. PDF Ulya juga dihadirkan menjadi salah satu
entitas kelembagaan pendidikan keagamaan Islam untuk
menghasilkan lulusan mutafaqqih fiddin (ahli ilmu agama)
guna menjawab atas langkanya kader mutafaqqih fiddin. Oleh
karena itu basis kitab yang dijadikan mata pelajaran adalah
kitab kuning (kutub al-turats) karya ulama salaf.

Pendidikan Diniyah Formal | 105


Pembelajaran kutub at-turats calon ulama tafaqquh fi
addin PDF Ulya Al Fithrah
PDF Ulya Fithrah adalah jawaban dari kelangkaan
mutafaqqih fiddin atau paling tidak merupakan upaya yang
terstruktur dan terprogram secara formal serta mengikuti
regulasi dari Pemerintah (Kementerian Agama). Upaya ini
bagi pondok pesantren al Fithrah adalah langkah strategis
untuk mengikuti perkembangan zaman dan tuntutan
masyarakat dan bangsa. Apalagi PDF ini bagi Kementerian
Agama merupakan bagian implementasi dari skenario besar
untuk menjadikan pendidikan di Indonesia khususnya
pesantren sebagai destinasi pendidikan (Profil, 2018: 1).
Ada beberapa hal PDF Al Fithrah menyelenggarakan
model pendidikan diniyah formal. Apabila dilihat dari akar
sejarahnya, pondok pesantren Assalafi Al Fithrah merupakan
pesnatren yang sangat adaptif dengan perkembangan

106 | Pendidikan Diniyah Formal


lembaga pendidikan di Indonesia. Pada sisi yang lain, ponpes
Assalafi Al Fithrah harus tetap konsisten untuk melestarikan
kitab kuning sebagai sumber pembelajaran utama sekaligus
cikal bakal berdirinya ponpes. Persolan inilah, Syaikh KH.
Achmad Asrory Al Ishaqy selalu mensiasati agar kedua
model pendidikan (pendidikan al pesantren salafiyah dan
pendidikan formal) dapat terakomodasi. Apalagi tidak sedikit
para santri yang menginginkan studi lanjutan ke Perguruan
Tinggi.
Langkah awal yang dilakukan dalam penyelenggaraan
pendidikan formal adalah penyelenggaraan program ujian
paket C yang setara dengan SMA. Pada tahun 2008 keluar
peraturan Dirjen Pendidikan Islam Nomor DJ I / 457 / 2008
sehingga Ponpes Assalafi Al Fithrah menyelenggarakan
model Mu’addalah yang dapat menyelenggarakan ujian akhir
secara mandiri. Penyelenggaraan Mu,addalah yang setara
dengan MA/SMA ini berjalan dengan baik dan berhasil
meluluskan santri untuk bisa melanjutkan ke Perguruan
Tinggi terutama Ma’had ‘Aly dan Perguruan Tinggi Islam
Swasta.
Ponpes Assalafi Al Fithrah dalam menyelenggarakan
pendidikan formal terus mengikuti regulasi Pemerintah. Dari
beberapa perubahan peraturan selalu diikuti dengan
konsisten tanpa mengurangi dan menggeser substansi
pesantren sebagai lembaga pengkaji kitab kuning. Begitu
juga ketika Kementerian Agama meregulasikan pendidikan
diniyah formal dengan PMA Nomor 13 tahun 2014, Ponpes

Pendidikan Diniyah Formal | 107


Assalafi Al Fithrah mengikuti dengan mendirikan Pendidikan
Diniyah Formal (PDF) Al Fithrah. Adapun langkah awal
adalah dengan menyelenggarakan PDF tingkat atas (Ulya)
pada tahun 2014 meskipunpada saat itu PMA baru disahkan.
Pada awal penyelenggaraan PDF Ulya dan sampai
meluluskan tahun pertama berjalan masih mengadakan
pembenahan agar sesuai dengan standar nasional
pendidikan. Menurut Achmad Kunawi bahwa petunjuk
teknis (juknis) yang bersifat operasional dari Kementerian
Agama masih sangat dibutuhkan agar penyelenggaraan
sesuai dengan standar pendidkan nasional. Standar Nasional
Pendidikan terdiri dari :

1. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN


Standar Kompetensi Lulusan (SKL) pendidikan
keagamaan Islam PDF Ulya Al Fithrah merupakan jaminan
mutu atau kualitas lulusan dengan kondisi ideal. SKL pada
PDF Ulya terbagi dalam mata pelajaran lokal dan mata
pelajaran yang masuk dalam struktur kurikulum (kurikulum
Inti). SKL tersebut dan tantangannya adalah sebagai berikut.
a. Hafalan Juz 1 dan juz 30 serta surat al ma’tsurat
(Yasin, Waqiah, Al Mulk, dan As Sajadah) belum
menetapkan SKL, sehingga tantangan ke depan
Hafalan Juz 1 dan juz 30 serta surat al ma’tsurat
(Yasin, Waqiah, Al Mulk, dan As Sajadah) menjadi
SKL setelah santri menyelesaikan studi di PDF.

108 | Pendidikan Diniyah Formal


b. Hafalan Aurad yang dituntunkan Hadrotusy
Syaikh KH. Achmad Asrory Al Ishaqy belum
memiliki SKL yang ditetapkan secara ideal
sehingga ke depan hafalan Aurad menjadi SKL
dalam kurikulum
c. Mampu membaca dan memahami kitab at turats
(kifayatul akhyar) belum semua santri alumni
PDF mampu membaca dan memahami kitab
kuning (kitab at turats) tersebut, sehingga
tantang kedepan adalah menetapkan SKL untuk
membaca dan memahami kitab at turats
(kifayatul akhya atau minhaji).
d. Untuk mata pelajaran umum SKL mengikuti
ketetapan yang sudah ada

2. STANDAR ISI
Standar isi kurikulum PDF Ulya Al Fithrah secara ideal
harus dimiliki pada setiap mata pelajaran yang menjadi
beban belajar santri. Namun demikian masih terdapat
beberapa mata pelajaran atau yang menjadi beban belajar
santri. Hal ini dapat dilihat pada standar isi kurikulum di
bawah ini
a. Hafalan Juz 1 dan juz 30 serta surat al ma’tsurat
(Yasin, Waqiah, Al Mulk, dan As Sajadah) belum
memiliki kurikulum hafalan yang khusus
sebagaimana buku paket. Tantangan ke depan
PDF Ulya Al Fithrah harus membuat Standar Isi
untuk mempermudah santri untuk menghafal.

Pendidikan Diniyah Formal | 109


b. Hafalan Aurad yang dituntunkan Hadrotusy
Syaikh KH. Achmad Asrory Al Ishaqy belum
memiliki Standar Isi kurikulum yang lengkap.
Tantangan ke depan harus disusun standar isi
menjadi kurikulum hafalan khusus Aurad
c. Mampu membaca dan memahami kitab at turats
(kifayatul akhyar) belum secara tegas dan
terstruktur sebagai standar Isi kurikulum. Hal ini
dikarenakan standar yang dilakukan adalah
santri menyelesaikan seluruh kitab yang menjadi
beban belajar tanpa dipilah-pilah untuk ke-
pentingan ujian nasional. Tantangan ke depan
PDF Ulya Al Fithrah harus menyusun standar isi
sesuai dengan standar isi yang disepakati secara
nasional. Persoalannya adalah secara nasional
belum ada Juknis dan juklak terkait dengan
beban belajar kitab at turats agar santri mem-
baca dan memahami kitab at turats (kifayatul
akhya atau minhaji).
d. Standar isi untuk mata pelajaran umum meng-
ikuti ketetapan yang sudah ada

3. STANDAR PROSES
Standar proses dalam pembelajaran PDF Ulya Al Fithrah
memiliki keunikan tersendiri dibandingkan sekolah formal
pada umumnya. Standar proses terbagi menjadi dua
meskipun tetap sama dalam kelas (klasikal). Strategi
pembelajaran di pesantren dikenal dengan adanya model

110 | Pendidikan Diniyah Formal


halaqah8 sedangkan di sekolah tidak dilakukan. Standar
proses dalam pembelajaran yang dilakukan di PDF Ulya Al
Fithrah adalah sebagai berikut.
a. Pada mata pelajaran Hafalan Juz 1 dan juz 30
serta surat al ma’tsurat (Yasin, Waqiah, Al Mulk,
dan As Sajadah) proses pembelajaran masih
individual dan sistim setor meskipun berada
dalam satu ruangan atau satu halaqah. Tantangan
ke depan adalah membentuk halaqah membaca
dan hafalan al-Qur’an teman sebaya atau sekelas.
b. Pada Hafalan Aurad yang dituntunkan Hadrotusy
Syaikh KH. Achmad Asrory Al Ishaqy dilakukan
secara bersama-sama dan tidak semua santri
membawa buku Aurad. Tantangan ke depan
adalah 100% santri harsu membawa buku Aurad
c. Proses pembelajaran berkaitan dengan membaca
dan memahami kitab at turats (kifayatul akhyar)
dilakukan dengan metode pengajar memaknai
kitab dan menjelaskannya dan pengajar membagi
santri untuk praktek membaca kitab. Proses
pembelajaran ini sudah berjalan sesuai dengan
kebiasaan pondok pesantren Assalafi sebelum
menyelenggarakan PDF.

8
Proses pembelajaran sistim halaqah adalah model pembelajaran
dalam satu kelas (biasanya di masjid) dengan posisi para santri duduk
membuat setengah lingkaran menghadap ustadz (guru). Proses
pembelajaran ini biasanya digunakan untuk pembelajaran model
bandongan (bersama-sama dalam satu materi/kitab. Lawanya bandongan
adalah sorogan dimana pembelajaran santri maju satu persatu
menghadap Kyai)

Pendidikan Diniyah Formal | 111


d. Strategi untuk mata pelajaran umum mengikuti
ketetapan yang sudah ada

4. STANDAR PENDIDIKAN DAN TENAGA


KEPENDIDIKAN
Standar pendidikan dan tenaga kependidikan pada PDF
Ulya Al Fithrah tidak secera keseluruhan dalam kondisi ideal
terutama untuk mata pelajaran pendidikan umum. Untuk
mata pelajaran yang bersumber pada kitab at turats (kitab
kuning) secara kompetensi dan profesionalitas sudah sesuai
karena semua pengajar memiliki kemampuan dan sudah
profesional dalam penguasaan kitab yang diajarkan. Akan
tetapi untuk meta pelajaran umum dan tenaga kependidikan
masih terdapat kondisi kurang ideal.
Dilihat dari tingkat pendidikan masih terdapat tenaga
pendidik dan wali kelas yang belum selesai menyelesaikan
pendidikan Sarjana S.1.. Begitu juga kompetensi pemangku
mata pelajaran umum masih terjadi missmacth dimana
Sarjana S.1. jurusan Tafsir/Hadits mengajar Matematika.

5. STANDAR SARANA DAN PRASARANA


Standar sarana dan prasarana PDF Ulya Al Fithrah
belum secara keseluruahn dapat terpenuhi. Sarana yang
bersifat substantif mata pelajaran secara umum telah
terpenuhi karena seluruh santri memiliki kitab-kitab at
turats dan buku-buku mata pelajaran umum. Namun
demikian standar sarana dan prasarana pembelajaran yang
ideal dalam beberapa hal belum terpenuhi, seperti

112 | Pendidikan Diniyah Formal


a. sarana pembelajaran kelas masih sangat terbatas
seperti meja belajar tidak sesuai dengan
kebutuhan santri, jumlah santri dalam satu kelas
lebih dari 32 santri sebagai kondisi ideal, tidak
terdapat alat audio visual (multi media) untuk
pembelajaran yang membutuhkan penjelasan
secara audio visual, dan tidak terdapat almari
kelas.
b. Perpustakaan dengan ruangan yang kurang
memadai dibanding dengan rasio santri yang
cukup banyak.
c. Belum ada ruang khusus komputer yang
memadai. Menurut Hermansyah dalam waktu
dekat ini santri dapat menggunakan komputer
karena sudah terdapat penambahan komputer.
d. Ruang pimpinan (Kepala PDF), tenaga pendidik
guru BK, dan staf tata usaha berada dalam satu
ruangan dan hanya dibatasi papan, sehingga
masih sempit.
e. Belum terdapat ruang rapat khusus, sehingga
ketika rapat menggunakan ruang “bersama”
tersebut dengan posisi seadanya tempat duduk.
f. Tempat ibadah tersedia dan mampu untuk
praktek atau salat berjamaah santri.
g. Terdapat UKS yang tergabung dalam UKS
Pesantren.
h. Terdapat tempat bermain dan olahrag yang
cukup luas sehingga santri dapat memilih tempat
untuk belajar di luar kelas.

Pendidikan Diniyah Formal | 113


6. STANDAR PENGELOLAAN
Standar pengelolaan PDF Ulya Al Fithrah dapat dilihat
dalam berbagai aspek, yaitu
a. Perencanaan program dari penyusunan visi, misi,
tujuan, rencana kerja, pelaksanaan rencana kerja
(pedoman PDF, Struktur organisasi PDF, pe-
laksanaan skegiatan sekolah), penciptaan suasa-
na/kultur sekolah, melibatkan peran serta
masyarakat telah disusun secara lengkap sesuai
dengan standar yang ditetapkan oleh BSNP.
b. Pengawasan dilakukan oleh sekolah dengan
selalu mengadakan pengawasan, supervisi, eva-
luasi, dan pelaporan dilakukan secara rutin dan
dilaporkan ke Kementerian Agama sebagai
Pembinan PDF.
c. Kepemimpinan PDF telah berjalan sesuai dengan
aturan. Bahkan karena PDF berada dibawah
Ponpes, maka kepemimpinan lebih lengkap, yaitu
Kepala ponodk, Kabag. Pendidikan, Kepala
sekolah, wakil Kepala bidang kurikulum, wakil
kepala bidang kesiswaan Pa/Pi, Wakil kepala
bidang kesiswaan Pa/Pi, BK Pa/Pi, Bidang
Sarpras, Staf TU, dan Staf Perpustakaan. Diantara
kepemimpinan sekolah juga terdapat kepe-
mimpian siswa yaitu OSIS PDF Ulya Al Fithrah.

114 | Pendidikan Diniyah Formal


7. STANDAR PEMBIAYAAN PENDIDIKAN
Standar pembiayaan pendidikan di PDF Ulya AL Fithrah
tidak lepas dari standar pembiayaan pondok pesantren.
Standar pembiyaan ini merupakan biaya investasi, biaya
operasi dan biaya personal. Biaya khusus sebagai santri
mukim untuk penerimaan santri baru tahun 2018 adalah
biaya pendaftaran (100.000), mengganti biaya tempat
pakaian (400.000), mengganti biaya alas tidur (150.000), dan
amal jariyah pembangunan sebagai investasi (1.750.000).
Biaya operasional bulanan terbagi menjadi syahriyah
pondok yang berupa syhariyah SPP (190.000), air bersih
(16.000), listrik (24.000), perawatan sarana (24.000),
kesehatan (21.000), kesejretarian (12.000), kewadhifahan
(30.000). Biaya syahriyah makan berupa makan (306.000),
air minum sehat (35.000), buah-buahan (35.000), dan susu
sapi murni (18.000), donatur (4.000), Haul akbar (10.000),
dan khidmah manaqib (3.000). Disamping biaya investasi
dan biaya operasional personal pendidikan yang berasal dari
santri, pembiayaan juga diperoleh dari dana BOS Madrasah/
BOPDA.
Untuk gaji guru, yayasan telah menetapkan dengan
menggunakan sistem jam mengajar, yaitu dalam 1 jam
pembelajaran menerima gaji Rp. 11.000,-. Dari rata-rata guru
mengajar paling sedikit 12 jam sampai dengan 40 jam
mengajar. Menurut Kepala PDF Ulya bahwa guru yang
mengajar 12 jam atau lebih sedikit adalah guru mata

Pendidikan Diniyah Formal | 115


pelajaran umum karena guru tersebut juga mengajar di
sekolah lain, sedangkan guru yang mengajar pendidikan
keagamaan Islam mengajar maksimal 40 jam dan apabila
guru yang mengajar melebih dari 40 jam maka kelebihannya
adalah shodaqah mengajar.

8. STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN


Standar penilaian pendidikan PDF Ulya Al Fithrah
dirumuskan mengacu pada standar penilaian pada
pendidikan sekolah formal lainya, yaitu penilaian sikap,
pengetahuan, dan keterampilan. Adapun standar penilaian
pada mata pelajaran yang menjadi beban belajar santri
adalah sebagai berikut
a. Standar penilaian pada mata pelajaran Hafalan
Juz 1 dan juz 30 serta surat al ma’tsurat (Yasin,
Waqiah, Al Mulk, dan As Sajadah) mencakup
makhoorijul huruf, tajwid, dan kelancaran.
Namun demikian secara teknis belum ada juknis
sehingga masih perlu dirumuskan junknis
standar penilaian baik sikap, pengetahuan,
maupun keterampilan.
b. Standar penilaian pada Hafalan Aurad yang
dituntunkan Hadrotusy Syaikh KH. Achmad
Asrory Al Ishaqy mencakup makhoorijul huruf,
tajwid, dan kelancaran. Namun demikian secara
teknis belum ada juknis sehingga masih perlu
dirumuskan junknis standar penilaian baik sikap,
pengetahuan, maupun keterampilan

116 | Pendidikan Diniyah Formal


c. Standar penilaian pada kitab at turats (kifayatul
akhyar) dan kitab lainnya adalah pemahaman
makna, kelancaran baca, murod, dan penguasaan
nahwu/sharf. Standar ini belum lengkap dan
masih dalam proses penyusunan. Namun demi-
kian secara kualitas dapat dilihat dari teknik
penilaian menggunakan teknik praktek membaca
dan menjelaskan. Selain ujian model lisan diatas
juga dilakukan ujian atau tes ulangan sebagai-
mana sekolah umum, yaitu ulangan harian, mid
semester, dan semester, serta penugasan. Dalam
ulangan ini semua soal ujian menggunakan
bahasa Arab tanpa haraqat/sakl.
d. Standar penilaian mata pelajaran umum meng-
ikuti ketetapan yang sudah ada, yaitu meng-
gunakan sistem ulangan harian, mid semester,
penugasan, dan/atau bentuk lain yang diperlu-
kan, dan semesteran.
e. Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan
dilakukan dalam bentuk ujian Madrasah Aliyah
pada mata pelajaran umum, sedangkan untuk
mata pelajaran keagamaan Islam ujian nasional
menggunakan kalender Hijriyah. Istilah ujian
nasional pada PDF adalah Imtihan Wathoniyah.
Selain ujian nasional untuk tingkat kelulusan PDF
Ulya adalah ujian akhir penguasaan kitab Fathul
Muin9.

9Ada 2 jenis ujian akhir di PDF Ulya Al Fithrah untuk mata pelajaran
kutub at-turats (kitab kuning) yang kemungkinan tidak dilakukan oleh

Pendidikan Diniyah Formal | 117


 PDF ULYA AL FITHRAH; MEMBENTUK KADERISASI
ULAMA TOLERAN
Sebagaimana penjelasan di atas bahwa PDF Ulya Al
Fithrah merupakan bagian dari pendidikan yang dikembang-
kan oleh Ponpes Assalafi Al Fithrah. Oleh karena itu, goal
oriented yang akan dicapai adalah terbentuknya kader ulama
sesuai dengan ulama salafushsholih. Pembentukan kader
ulama ini dapat terlihat dari kurikulum pendidikan ke-
agamaan Islam yang bersumber dari kitab kuning (kutub at-
turats) dan model pembelajaran yang menggunakan sistem
kajian kitab secara bandongan (klasikal sebagaimana
pendidikan formal) dan secara sorogan untuk mengetahui
penguasaan kitab secara individual.

PDF Ulya yang lain. Kedua jenis ujian tersebut adalah 1) ujian kenaikan
kelas dimana santri maju satu persatu dan diuji oleh 2 orang ustadz.untuk
membacakan kitab, menerjamahkan, menyampaikan isi, dan pertanyaan
lain dari penguji. 2) Ujian akhir setelah Imtihan Wathaniyah (ujian
nasional). Ujian kelulusan ini bisa ditunda selama santri siap akan tetapi
belum bisa mengambil ijazah selama belum mengikuti ujian akhir. Dalam
ujian ini kitab yang harus dikuasai adalah kitab Fathul Mu’in dan ketika
ujian santri didampingi kedua orang tua berhadapan dengan 3 orang
penguji. Bahkan dalam perencanaan berikutnya adalah ujian publik di
Masjid dengan model yang sama akan tetapi dihadapan jamaah.

118 | Pendidikan Diniyah Formal


Upacara bendera setiap hari senin PDF Ulya Al Fithrah
(Salah satu pembentuk ulama toleran dan nasionalis)

PDF Ulya Al Fithrah dalam mengkader peserta didik


sebagai kader ulama memiliki dua kekhasan, yaitu kekhasan
ponpes Assalafi sebagai pondok salafiyah dan kekhasan
pondok pesantren sebagai pondok yang sarat dengan
thariqah. Dari kedua kekhasan tersebut dibingkai dalam
frame nasionalisme yaitu dengan model pendidikan formal
yang tidak dapat dilepaskan dari pendidikan umum.
Ddisinilah PDF Ulya Al Fithrah diharapkan dapat membentuk
kader ulama yang memiliki tingkat toleransi dalam berbagai
aspek.
Pembentukan kader ulama yang memiliki sikap toleran
melalui proses pendidikan di PDF Ulya Al Fithrah telah
digariskan dalam misi PDF Ulya Al Fithrah yaitu memiliki
sikap toleransi dan solidaritas. Hal ini ditunjukan dengan
adanya hari libur mingguan pada hari ahad, libur mengikuti

Pendidikan Diniyah Formal | 119


hari libur dalam kalender nasional meskipun hari natal dan
hari-hari besar agama lainnya, Adanya upacara bendera
setiap hari senin dengan kelompok paduan suara meng-
gunakan seragam putih-putih berdasi (Hassduk) merah
putih, upacara wajib setiap tanggal 17 Agustus, dan upacara
hari santri nasional setiap tanggal 22 oktober.
Pembentukan sikap toleran juga dapat dilihat dari
kurikulum kitab kuning yang diajarkan. Dalam pengajaran
kitab kuning sebagai mata pelajaran didalamnya terdapat
muatan-muatan yang mengarahkan pada pembentukan
sikap toleransi, seperti pada :
1. Kompetensi Inti – 1 (KI-1) untuk kompetensi inti
sikap spiritual memuat materi tentang menghayati
dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggun-
jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran,
damai), santun, responsif dan pro aktif menunjukan
sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai
permasalahan
2. Pada mata pelajaran Al-Qur’an terdapat tujuan yang
ingin dicapai yaitu memperoleh bekal pengetahuan
dan keterampilan membaca, menulis, menghafal dan
mengartikan juz Amma dan surah-surah pilihan
sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat, ber-
bangsa dan bernegara
3. Pada mata pelajaran Tauhid terdapat tujuan pem-
belajaran yaitu memotivasi peserta didik untuk
mempelajari dan mempraktekan ajaran akidah Islam
yang inklusif dalam bentuk pembiasaan perilaku
kehidupan sehari-hari.

120 | Pendidikan Diniyah Formal


4. Pada mata pelajaran Ilmu Kalam terdapat tujuan
pembelajaran yaitu santri memiliki sikap ke-
beragamaan atau keberimanan yang berakidah kalam
ahlussunnah waljamaah yang moderat dan penuh
kasih sayang (rahmah), menjadi cendekiawan atau
ulama yang penuh tanggungjawab dan bijaksana
dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara, memupuk diri sebagai muslim
Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah
SWT dengan sikap penuh dengan rendah hati, tidak
memiliki sikap klaim diri sebagai muslim yang benar,
dan Mewujudkan diri sebagai muslim Indonesia yang
berakidah ahlisunnah waljamaah dan berakhlak
mulia dengan penuh kecintaan terhadap tanah air
dan NKRI.

 PENDIDIKAN DINIYAH FORMAL MENYONGSONG


MASA DEPAN BANGSA
Penyelenggaraan Pendidikan Diniyah Formal (PDF)
telah berjalan selama 4 tahun dan telah berhasil meluluskan
santri PDF angkatan pertama tahun 2018. Menurut Achmad
Kunawi (Kepala PDF Ulya Al Fithrah), bahwa lulusan
pertama ini masih prematur sehingga masih banyak yang
harus dibenahi terutama untuk ijazah yang belum keluar. Hal
ini bukan merupakan aspek penghambat karena ujian dapat
berjalan dengan lancar karena soal langsung dikirim dari
Jakarta sehingga tidak akan pernah mengalami kebocoran
soal.

Pendidikan Diniyah Formal | 121


Perjalanan PDF yang masih baru sudah nampak
responsibility dari pondok pesantren salafiyah dan
masyarakat luas. Respons tersebut nampak dari beberapa
ponpes salafiyah yang melakukan studi banding ke PDF Ulya
Al Fithrah dan setiap tahun selalu terjadi penambahan santri
PDF terutama pada level isti’dad. Respons tersebut didorong
karena kebutuhan santri untuk melanjutkan studi lanjut ke
jenjang yang lebih tinggi dan kemampuan pondok pesantren
untuk menyelenggarakan pendidikan formal akan tetapi
tetap mempertahankan tradisi penguasaan kitab kuning agar
menjadi generasi tafaqquh fi addin.
Jalan keluar Kementerian Agama RI dengan menyusun
regulasi melalui PMA Nomor 13 tahun 2014 menjadi
barometer sekaligus harapan bangsa Indonesia ke depan.
Dari aspek implementasi Pendidikan Diniyah Formal di
pondok pesantren salafiyah dapat dilakukan sesuai dengan
standar nasional sekolah. Dengan demikian, harapan bangsa
Indonesia memiliki SDM yang berkualitas dan berkarakter
Keislaman dan ke Indonesiaan dapat terpenuhi. Sementari
itu, dari aspek pondok pesantren salafiyah sebagai pusat
perkaderan ulama penerus ulama salafussholih juga dapat
dilakukan. Hal ini dikarenakan kurikulum pendidikan
keagamaan Islam yang diberikan kepada santri sebagai
peserta didik bersumber dari kitab kuning (kutub at-turats)
karya ulama salaf. Bahkan harapan terbentuknya kader
ulama yang memiliki toleransi dapat terwujud karena kitab-
kitab yang dijadikan rujukan juga mengedepankan

122 | Pendidikan Diniyah Formal


demokrasi dan diperkuat dengan pemberian mata pelajaran
umum.
Respons pondok pesantren terhadap pendirian
Pendidikan Diniyah Formal (PDF) pada akhirnya terjadi
keterbukaan bagi pondok pesantren salafiyah yang
cenderung eksklusive. Adaptifitas pondok pesantren
salafiyah dalam dunia pendidikan dan akomodirnya
Kementerian Agama dalam menjawab keinginan Pondok
pesantren menjadi sangat sinkron. Ada beberapa hal yang
menjadi ketertarikan terhadap munculnya PDF di pondok
pesantren salafiyah, yaitu;
1. Kemudahan penyelenggaraan PDF secara umum
karena program baru dan Ponpes Assalafi Al Fithrah
sudah siap dalam berbagai aspek seperti kesiapan
SDM, santri, dan fasilitas pembelajaran meskipun
kesiapan tersebut belum maksimal akan tetapi secara
operasional dan persaratan pendirian sudah me-
menuhi sarat
2. Kementerian Agama baik Pusat maupun Kanwil dan
Kabupaten/Kota Surabaya sangat mendukung dan
selalu mengadakah koordinasi sehingga beberapa
konsekuensi penyelenggaraan segera dipenuhi untuk
mencapai target
3. Mengingat program PDF masih baru dan masih
sedikit (Kota Surabaya baru ada 1 PDF) maka
koordinasi antar PDF se Indonesia tidak kesulitan.
Bahkan menurut Achmad Kunawi, selama ini ada
kemudahan untuk mendiskusikan dengan Kemenag

Pendidikan Diniyah Formal | 123


RI untuk menguatkan PDF, baik dari aspek SDM,
penguatan kurikulum, maupun sosialisasi. Dalam
koordinasi ini selalu difasilitas oleh Kementerian
Agama RI.
4. Adanya optimisme dari santri PDF dan alumni PDF
‘Ulya, karena lebih prospektif untuk memadukan
antara Ilmu (Agama dan Umum), Iman, dan Amal
serta memiliki karakter berakhlakul karimah yang
siap memimpin bangsa ini. Optimisme ini didorong
oleh keberhasilan alumni diterima di berbagai
Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta meskipun
melalui “negosiasi” karena beberapa Perguruan
Tinggi dan instansi Pemerintah lain yang belum
mengerti dan memahami PDF adalah sekolah formal.
5. Optimisme PDF juga karena didorong oleh Kemenag
Kabupaten/Kota yang sudah memiliki Akun/Rumah
PDF sehingga kemungkinan penganggaran untuk
peningkatan kualitas fisik dan pembelajaran akan
segera terwujud.
6. Sudah teranggarkanya dana BOS untuk PDF Ulya AL
Fithrah dan setiap tahun ada kenaikan anggaran
Meskipun penyelenggaraan PDF Ulya Al Fithrah dapat
berjalan lancar yaitu dari proses awal berdiri, proses
penyelenggaraan sampai berhasil mengikuti ujian nasional,
akan tetapi ada beberapa hal yang menjadi penghambat
seperti :
1. Belum terumuskannya juknis dalam mata pelajaran
pendidikan keagamaan Islam sehingga terdapat

124 | Pendidikan Diniyah Formal


kemungkinan ada perbedaan masing-masing PDF di
pondok pesantren salafiyah, apalagi setiap pesantren
salafiyah memiliki kekhasan. Sementara itu, ujian
nasional PDF dibutuhkan standarisasi kurikulum
lengkap dengan juklak dan junis bukan sekedar kitab
yang harus diajarkan.
2. Dengan belum terumuskannya Juknis bahan ajar
Pendidikan keagamaan Islam, maka PDF Ulya Al
Fithrah masih belum menyusun RPP sebagaimana
dalam mata pelajaran umum
3. Fasilitas pembelajaran masih menggunakan fasilitas
pondok pesantren sehingga masih terbatas terutama
untuk pembelajaran mata pelajaran umum. Efek dari
kurangnya fasilitas ini pembelajaran mata pelajaran
umum kurang optimal terutama berkaitan dengan
pembelajaran yang membutuhkan audio visual.
4. Tenaga Pendidik dan Kependidikan yang kompeten
dan professional masih seadanya. Tenaga Pendidik
rata-rata sudah sarjana S.1. dan S.2, hanya saja masih
terdapat missmatch, seperti masih terdapatnya S.1
jurusan Ilmu tafsir akan tetapi mengajar matematika.
5. Meskipun Asosiasi PDF Se Indonesia sudah ada akan
tetapi belum berjalan optimal sebagai Persatuan
Guru Republik Indonesia (PGRI). Padahal Asosiasi ini
menjadi sangat penting sebagai jembatan pengelola
PDF melakukan sinkronisasi program
6. Dengan lambatnya ijazah PDF setelah ujian nasional,
maka santri masih kebingungan terutama yang
diterima di Perguruan Tinggi umum.

Pendidikan Diniyah Formal | 125


7. Belum semua Perguruan Tinggi mengetahui di
Pondok pesantren Salafiyah sudah memiliki PDF
sehingga terdapat santri yang ditolak mendaftar
karena syarat keterangan yang ada masih diper-
tanyakan.
8. Regulasi dari Kementerian Agama RI tidak teredukasi
dengan baik ke Kementerian Agama Wilayah maupun
Kabupaten/Kota, sehingga banyak pondok pesantren
salafiyah masih bingung cara menyelenggarakan Pen-
didikan Diniyah Formal (PDF). Apalagi di Kemenag
Kab/Kota tidak ada bagian khusus yang menangani
tentang PDF.

126 | Pendidikan Diniyah Formal


BAB V
PENUTUP

1. Penyelenggaraan Pendidikan Diniyah Formal (PDF)


merupakan prgram Kementerian Agama yang secara
substansi diapresiasi oleh pondok pesantren salafi-
yah. PDF dapat dikatakan menjadi jawaban yang
selama ini alumni pondok pesantren salafiyah me-
rasa dianak tirikan. Padahal dalam konteks kelem-
bagaan pendidikan, pondok pesantren lebih memiliki
pengalaman yang luas dibandingkan dengan sekolah
formal pada umumnya dalam mengelola peserta
didik (santri) dalam bingkai kelembagaan pendidik-
an. Dibukanya kran Pondok pesantren salafiyah
menyelenggarakan pendidikan formal ternyata
memiliki kemampuan yang dapat dipertanggung-
jawabkan dalam pengelolaan. Fakta bahwa PDF Ulya
Al Fihtrah yang berada dibawah naungan pondok
pesantren Assalafi Al Fithrah kedinding Kota
Surabaya mampu mengimplementasikan Pendidikan
Formal berbasis pondok pesantren salafiyah. Dari

Pendidikan Diniyah Formal | 127


aspek 8 standar Pendidikan Nasional semua dapat
terpenuhi, yaitu
a. Standar Kompetensi Lulusan pendidikan ke-
agamaan Islam PDF Ulya Al Fithrah merupakan
jaminan mutu atau kualitas lulusan dengan
kondisi ideal, seperti hafal Juz 1 dan juz 30 serta
surat al ma’tsurat (Yasin, Waqiah, Al Mulk, dan
As Sajadah), hafalan Aurad, mampu membaca
dan memahami kitab at turats (kifayatul akhyar),
dan untuk mata pelajaran umum berhasil SKL
yang sudah ada
b. Standar isi kurikulum PDF Ulya Al Fithrah ber-
sumber dari itab kuning (kutub at-turats), meski-
pun masih perlu pembenahan terutama dalam
menyusun struktur sebagai standar Isi kuri-
kulum. Adapun standar isi untuk mata pelajaran
umum mengikuti ketetapan yang sudah ada dan
dapat berjalan sesuai perencanaan
c. Standar proses dalam pembelajaran PDF Ulya Al
Fithrah memiliki keunikan tersendiri terutama
ketika pembelajaran dalam kelas, yaitu tidak
hanya model ceramah dengan guru berdiri di
depan, akan tetapi juga menggunakan model
halaqah.
d. Standar pendidikan dan tenaga kependidikan
pada PDF Ulya Al Fithrah telah melalui proses
rekrutmen agar profesional dan kompeten.
Paling tidak tenaga pendidik minimal S.1 dan
banyak yang sudah S.2.
e. Standar sarana dan prasarana PDF Ulya Al
Fithrah yang terus diadakan pembenahan agar

128 | Pendidikan Diniyah Formal


memenuhi standar untuk PBM. Misalkan dari
jumlah rata-rata siswa dalam satu kelas terlalu
banyak dan tidak ada sarana audio visual untuk
pembelajaran di kelas, serta perpustakaan
dengan ruangan yang kurang memadai dibanding
dengan rasio santri yang cukup banyak.
f. Standar pengelolaan PDF Ulya Al Fithrah sudah
dimulai dari Perencanaan program, Pengawasan,
supervisi, evaluasi, dan pelaporan yang dilaku-
kan secara rutin dan dilaporkan ke Kementerian
Agama sebagai Pembinan PDF. Disamping itu
adanya kepemimpinan PDF telah berjalan sesuai
dengan aturan dimana menjabat paling lama 2
kali jabatan secara berturut turut.
g. Standar pembiayaan pendidikan di PDF Ulya Al
Fithrah telah tersusun dari biaya investasi, biaya
operasional dan biaya personal. Sumber pem-
biayaan berasal dari BOS/BOPDA, dan santri
h. Standar penilaian pendidikan PDF Ulya Al
Fithrah telah mengacu pada standar penilaian
pada pendidikan sekolah formal lainya, yaitu
penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Bahkan standar penilaian pada kitab at turats
(kifayatul akhyar) dan kitab lainnya adalah
pemahaman makna, kelancaran baca, murod, dan
penguasaan nahwu/sharf. Adapun penilaian hasil
belajar akhir adalah ujian nasional atau Imtihan
Wathoniyah dan ujian akhir penguasaan kitab
Fathul Muin.
2. Penyelenggaraan PDF Ulya Al Fihtrah di Pondok
pesantren Assalafi tidak mengurangi orientasi
pondok pesantren salafiyah sebagai pusat kaderisasi
ulama tafaqquh fi addiin, Bahkan dalam konteks

Pendidikan Diniyah Formal | 129


kaderisasi ulama toleran dapat dijadikan barometer
lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh PDF
Ulya Al Fithrah, karena dilihat dari substansi, baik
yang bersumber pada kutb at-turats maupun dari
mata pelajaran umum didalamnya memuat tentang
demokrasi dan toleransi.
3. Meskipun penyelenggaran PDF Ulya Al Fithrah secara
khusus baik dan sesuai dengan standar nasional
pendidikan dan orientasi sebagai lembaga pen-
didikan pencetak kader ulama yang toleran dapat
tercapai, akan tetapi masih perlu diperhatikan dalam
beberapa faktor yang antara lain;
a. perlu sosialisasi dari Kementerian Agama RI
terhadap seluruh stakeholder agar semua
instansi yang terkait mengakui dan merespon
bahwa PDF sejajar dengan SMA/MA,
b. tenaga pendidik dan kependidikan PDF perlu
diberi hak yang sama untuk mengikuti Diklat
yang diselenggarakan oleh Diklat Balai Diklat
Kemenag RI,
c. perlu diadakan Kerjasama dengan Perguruan
Tinggi Negeri dibawah Kementerian Agama,
Kemendagri, dan Kemendiknas. Bahkan apabila
perlu ada SKB 3 Menteri yang mengatur penye-
lenggaraan PDF disejajarkan dengan sekolah
menengah, dan
d. Kemenag harus benar benar ready dalam
penyelenggaraan PDF sehingga perlu ada Devisi
khusus yang mengurusi PDF dengan per-
lakukan sama seperti PENMA, dan bidang/Kasi
yang lain di Kemenag, sehingga ada Kepala Seksi
PDF di seluruh Kemenag.

130 | Pendidikan Diniyah Formal


DAFTAR PUSTAKA

A. Malik Madany. 1989. Posisi Kitab Kuning dalam


Khazanah Keilmuan dalam Pesantren No.1/Vol. VI.
Jakarta: P3M.
A. Mukti Ali. 1987. Meninjau Kembali Pesantren sebagai
Lembaga Pendidikan Ulama dalam Pesantren No.2
Vol. IV. Jakarta: P3M.
Abdul Aziz. 1996. Tantangan Kependidikan Pesantren;
Studi Kasuspengembangan SDM di dua pesantren di
Demak dalam Jurnal Penelitian Agama dan
Masyarakat Penamas No.22 Th.VIII. Jakarta: Balai
Penelitian Agama dan Keasyarakatan.
Ahmad Syafi’i. 1996. Pesantren dan Pengembangan
Sumber Daya Manusia; Studi Kasus Dari Sembilan
Pesantren dalam Jurnal Penelitian Agama dan
Masyarakat Penamas No.22 Th.VIII. Jakarta: Balai
Penelitian Agama dan Keasyarakatan.
Ali Yafie. 1989. Kitab Kuning, Produk Peradaban Islam
dalam Pesantren No.1 Vol. VI. Jakarta: P3M.
Alwasilah, A. C. (2009, April 28-May 2). The Madrasah and
Chinese education in Indonesia: A comparative
study. Paper presented at the International
Seminar on Islamic Culture and Education in
China, Hongkong. Retrieved December 30, 2013,
from http://inggris.upi.edu/wp-content/uploads/2010/
10/The-Madrasah-and-Chinese-Education-in-
Indonesia.pdf

Pendidikan Diniyah Formal | 131


Azra, A., &Afrianty, D. (2005, May 6-7). Pesantren and
madrasa: Modernization of Indonesian Muslim
society. Paper presented at the Workshop on
Madrasa, Modernity and Islamic Education, Boston
University, Boston, MA.Steenbrink, K. A. (1974).
Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam
dalamKurun Modern. Jakarta, ID: LP3ES.
El-Saha, M. I. (2008). Dinamika Madrasah di Indonesia:
Menelusuri Akar Sejarah Pendidikan. Jakarta, ID:
Transwacana.
Ibnu Hajar. 2009. Kiai di Tengah Pusaran Politik antara
Petaka dan Kuasa. Jogyakarta: IRCiSoD.
Imam Tholkhah. 1989. Profil Lembaga Pendidikan
Penyiaoan Ulama dalam Pesantren No.1/Vol. VI.
Jakarta: P3M.
Karel A. Steenbrink. 1986. Pesantren Madrasah Sekolah;
Pendidikan Islam dalam Kurun Modern. Jakarta:
Dharma Aksara Pekasa.
Kelabora, L. (1976). Religious instruction policy in
Indonesia. Asian Survey, 16(3), 230-248.
M. Dawam Rahardjo. 1974. Dunia Pesantren dalam Peta
Pembaharuan dalam Pesantren dan Pembaharuan
(Ed. M. Dawam Rahardjo). Jakarta: LP3ES.
M. Dawam Rahardjo. 1985. Pergulatan Dunia Pesantren;
Membangun dari Bawah. Jakarta: P3M.
Martin Van Bruinessen. 1989. Kitab Fiqh di Pesantren
Indonesia dan Malaysia dalam Pesantren No.1 Vol.
VI. Jakarta: P3M.
Moeslim Abdurrahman. 1995. Islam Transformatif.
Jakarta: Pustaka Firdaus.

132 | Pendidikan Diniyah Formal


Mohammad Achyat Ahmad.1434H.,Liberalisasi Islam.
Sidogiri. Pustaka Sidogiri Pondok Pesantren
Sidogiri.
Muhammad Tholhah Hasan. 1989. Metode Pengkajian di
Pesantren: Tinjauan Ulang dalam Pesantren
No.1/Vol. VI. Jakarta: P3M.
Muhtada, D. (2014). The Mechanisms of Policy Diffusion: A
Comparative Study of Shari'a Regulations in
Indonesia. PhD Dissertation, Northern Illinois
University.
Nurcholis Madjid.1997.Bilik-bilik Pesantren;Sebuah Potret
Perjalanan. Dian Rakyat. Jakarta.
Ramayulis (2011). Sejarah Pendidikan Islam: Napaktilas
Perubahan Konsep, Filsafat, dan Metodologi
Pendidikan Islam dari Era Nabi SAW sampai Ulama
Nusantara. Jakarta, ID: KalamMulia.
Sambutan Drs. Abdul Wahid Thahir, M.Ag. (Ka. Kemenag
Kabupaten Luwu Timur) dalam acara pembukaan
MQK (Musabaqah Qiraatil Al-Kutub) ke IV tanggal
15 Maret 2011.
Sudjoko Prasodjo, dkk. 1982. Profil Pesantren; Laporan
Hasil Penelitian Pesantren Al Falak dan Delapan
Pesantren Lain di Bogor. Jakarta: LP3ES.
Sukamto. 199. Kepemimpinan Kiai dalam Pesantren.
Jakarta: Pustaka LP3ES.

Pendidikan Diniyah Formal | 133


Wahjoetomo. 1997. Perguruan Tinggi Pesantren;
Pendidikan Alternatif Masa Depan.Jakarta: Gema
Insani Press.
Yunanto, S., &Harun, B. (2005).Terminology, history and
categorization. In S. Yunanto (Ed.), Islamic
education in South and Southeast Asia: Diversity,
problems and strategy (pp. 19-36). Jakarta, ID: The
RIDEP Institute.
Zuhairini et al. (1992). SejarahPendidikan Islam. Jakarta,
ID: BumiAksara and Departemen Agama.

134 | Pendidikan Diniyah Formal


LAMPIRAN: PMA NOMOR 13 TAHUN 2014

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA


NO.822, 2014
KEMENAG. ISLAM. PENDIDIKAN. KEAGAMAAN.
PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK
INDONESIA
NOMOR 13 TAHUN 2014
TENTANG
PENDIDIKAN KEAGAMAAN ISLAM
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan ke-
tentuan Pasal 9 ayat (3), Pasal 13 ayat
(5), dan Pasal 19 ayat (2) Peraturan
Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007
tentang Pendidikan Agama dan Pen-
didikan Keagamaan, perlu menetapkan
Peraturan Menteri Agama tentang Pen-
didikan Keagamaan Islam;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan se-
bagaimana dimaksud pada huruf a, perlu
menetapkan Peraturan Menteri Agama
tentang Pendidikan Keagamaan Islam;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional
(Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4301);

Pendidikan Diniyah Formal | 135


2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005
tentang Guru dan Dosen (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2005
Nomor 157, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 456);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidik-
an (Lembaran Negara Republik Indo-
nesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan
Lembaran www.peraturan.go.id 2014,
No.822 2 Negara Republik Indonesia
Nomor 4496) sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32
tahun 2013 tentang Perubahan Peratur-
an Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005
(Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 71, Tambahan lembaran negara
nomor 5410);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun
2008 tentang Wajib Belajar Pendidikan
Dasar (Lembaran Negara Republik Indo-
nesia 2008 Nomor 90, Tambahan Lem-
baran Negara Republik Indonesia Nomor
4863);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun
2007 tentang Pendidikan Agama dan
Pendidikan Keagamaan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 124, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor
4769);

136 | Pendidikan Diniyah Formal


6. Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun
2008 tentang Pendanaan Pendidikan
(Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2008 Nomor 91, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4864);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun
2008 tentang Guru (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor
194, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4941);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun
2010 tentang Pengelolaan dan Penye-
lenggaraan Pendidikan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2010
Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5150) se-
bagaimana telah diubah dengan Per-
aturan Pemerintah Nomor 66 Tahun
2010 tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010
tentang Pengelolaan dan Penyeleng-
garaan Pendidikan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor
112, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5157);

Pendidikan Diniyah Formal | 137


9. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun
2009 tentang Pembentukan dan Organi-
sasi Kementerian Negara sebagaimana
telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Peraturan Presiden Nomor 55
Tahun 2013 tentang Perubahan Keempat
Atas Peraturan Presiden Nomor 47
Tahun 2009 tentang Pembentukan dan
Organisasi Kementerian Negara; www.
peraturan.go.id 2014, No.822 3
10. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun
2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan
Fungsi Kementerian Negara serta Susun-
an Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I
Kementerian Negara sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan
Peraturan Presiden Nomor 56 Tahun
2013 tentang Perubahan Keempat Atas
Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun
2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan
Fungsi Kementerian Negara serta Susun-
an Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon
1 Kementerian Negara;
11. Peraturan Menteri Agama Nomor 10
Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Kementerian Agama (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2010
Nomor 592) sebagaimana telah dua kali
diubah terakhir dengan Peraturan

138 | Pendidikan Diniyah Formal


Menteri Agama Nomor 80 Tahun 2013
tentang Perubahan Kedua Atas Peratur-
an Menteri Agama Nomor 10 Tahun
2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Agama (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor
1202);
12. Peraturan Menteri Agama Nomor 13
Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Instansi Vertikal Kementerian
Agama (Berita Negara Republik Indo-
nesia Tahun 2012 Nomor 851);

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI AGAMA
TENTANG PENDIDIKAN KEAGAMAAN
ISLAM.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Pendidikan keagamaan Islam adalah pendidikan yang
mempersiapkan peserta didik untuk dapat men-
jalankan peranan yang menuntut penguasaan penge-
tahuan tentang ajaran agama Islam dan/atau menjadi
ahli ilmu agama Islam dan mengamalkan ajaran
agama Islam.

Pendidikan Diniyah Formal | 139


2. Pondok pesantren yang selanjutnya disebut pesan-
tren adalah lembaga pendidikan keagamaan Islam
yang diselenggarakan oleh masyarakat yang menye-
lenggarakan satuan pendidikan pesantren dan/atau
secara terpadu menyelenggarakan jenis pendidikan
lainnya.
3. Kitab kuning adalah kitab keislaman berbahasa Arab
yang menjadi rujukan tradisi keilmuan Islam di
pesantren.
4. Dirasah islamiyah adalah kajian tentang ilmu agama
Islam yang tersusun secara sistematik, terstruktur,
dan terorganisasi (madrasy).
5. Pola pendidikan mu’allimin adalah sistem pendidikan
pesantren yang bersifat integratif dengan me-
madukan ilmu agama Islam dan ilmu umum dan
bersifat komprehensif dengan memadukan intra,
ekstra, dan kokurikuler.
6. Pendidikan diniyah adalah pendidikan keagamaan
Islam yang diselenggarakan pada semua jalur dan
jenjang pendidikan.
7. Pendidikan diniyah formal adalah lembaga pen-
didikan keagamaan Islam yang diselenggarakan oleh
dan berada di dalam pesantren secara terstruktur
dan berjenjang pada jalur pendidikan formal.
8. Pendidikan diniyah nonformal adalah pendidikan
keagamaan Islam yang diselenggarakan dalam ben-
tuk Madrasah Diniyah Takmiliyah, Pendidikan Al-
Qur’an, Majelis Taklim, atau bentuk lain yang sejenis
baik di dalam maupun di luar pesantren pada jalur
pendidikan nonformal.

140 | Pendidikan Diniyah Formal


9. Pendidikan diniyah informal adalah pendidikan ke-
agamaan Islam dalam bentuk program yang diseleng-
garakan di lingkungan keluarga pada jalur pen-
didikan informal.
10. Diniyah takmiliyah yang selanjutnya disebut Madra-
sah Diniyah Takmiliyah adalah lembaga pendidikan
keagamaan Islam pada jalur pendidikan nonformal
yang diselenggarakan secara terstruktur dan ber-
jenjang sebagai pelengkap pelaksanaan pendidikan
agama Islam pada jenjang pendidikan dasar, me-
nengah, dan tinggi.
11. Pendidikan Al-Qur’an adalah lembaga pendidikan
keagamaan Islam yang bertujuan untuk memberikan
pengajaran bacaan, tulisan, hafalan, dan pemahaman
Al-Qur’an.
12. Majelis Taklim adalah lembaga atau kelompok
masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan ke-
agamaan Islam yang bertujuan untuk meningkatkan
pemahaman dan pengamalan ajaran agama Islam di
kalangan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
13. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan peng-
aturan mengenai tujuan, isi, bahan pelajaran, dan
cara yang digunakan sebagai pedoman penyeleng-
garaan kegiatan pembelajaran untuk mencapai
tujuan pendidikan tertentu.
14. Evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian,
penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan ter-
hadap berbagai komponen pendidikan pada
pendidikan diniyah dan pesantren sebagai bentuk
pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan.

Pendidikan Diniyah Formal | 141


15. Akreditasi adalah kegiatan penilaian kelayakan
program dan/atau satuan pendidikan berdasarkan
kriteria yang telah ditetapkan.
16. Badan Standar Nasional Pendidikan yang selanjutnya
disebut BSNP adalah badan mandiri dan independen
yang bertugas mengembangkan, memantau, dan
mengendalikan standar nasional pendidikan.
17. Menteri adalah Menteri Agama.
18. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Pen-
didikan Islam.
Pasal 2
Penyelenggaraan pendidikan keagamaan Islam bertujuan
untuk:
a. menanamkan kepada peserta didik untuk memiliki
keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu
Wa Ta’ala;
b. mengembangkan kemampuan, pengetahuan, sikap
dan keterampilan peserta didik untuk menjadi ahli
ilmu agama Islam (mutafaqqih fiddin) dan/atau men-
jadi muslim yang dapat mengamalkan ajaran agama
Islam dalam kehidupannya sehari-hari; dan
c. mengembangkan pribadi akhlakul karimah bagi
peserta didik yang memiliki kesalehan individual dan
sosial dengan menjunjung tinggi jiwa keikhlasan,
kesederhanaan, kemandirian, persaudaran sesama
umat Islam (ukhuwah Islamiyah), rendah hati
(tawadhu), toleran (tasamuh), keseimbangan
(tawazun), moderat (tawasuth), keteladanan
(uswah), pola hidup sehat, dan cinta tanah air.

142 | Pendidikan Diniyah Formal


Pasal 3
Pendidikan keagamaan Islam terdiri atas:
a. Pesantren; dan
b. Pendidikan diniyah.

BAB II
PESANTREN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 4
Pesantren wajib menjunjung tinggi dan mengembangkan
nilai-nilai Islam rahmatan lil’alamin dengan menjunjung
tinggi nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945,
Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhineka Tunggal
Ika, keadilan, toleransi, kemanusiaan, keikhlasan, keber-
samaan, dan nilai-nilai luhur lainnya.
Pasal 5
Pesantren wajib memiliki unsur-unsur pesantren yang
terdiri atas:
a. kyai atau sebutan lain yang sejenis;
b. santri;
c. pondok atau asrama pesantren;
d. masjid atau musholla, dan
e. pengajian dan kajian kitab kuning atau dirasah
islamiyah dengan pola pendidikan mu’allimin.
Pasal 6
(1) Kyai atau sebutan lain yang sejenis sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 huruf a wajib berpendidikan
pesantren dan memiliki kompetensi ilmu agama

Pendidikan Diniyah Formal | 143


Islam yang bertugas membimbing, mengasuh, dan
mengajar santri.
(2) Selain kyai sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
pesantren dapat memiliki pendidik lain yang
diperlukan sesuai dengan keahlian yang dibutuhkan.
(3) Dalam rangka penyelenggaraan pendidikan, pesan-
tren dapat memiliki tenaga kependidikan yang me-
liputi kepala satuan pendidikan, tenaga administrasi,
pengelola perpustakaan, dan tenaga lain yang
diperlukan.
Pasal 7
(1) Santri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf b
adalah peserta didik dan wajib bermukim di pondok
atau asrama pesantren.
(2) Kewajiban bermukim di pondok atau asrama pesan-
tren sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimaksud-
kan untuk lebih mengintesifkan proses pendidikan
baik yang menyangkut pengamalan ibadah, pe-
mahaman keagamaan, penguasaan bahasa asing,
internalisasi nilai-nilai keagamaan dan akhlak
karimah, serta peningkatan keterampilan.
Pasal 8
(1) Pondok atau asrama pesantren sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 huruf c merupakan tempat
tinggal santri selama masa proses pendidikan.
(2) Pondok atau asrama pesantren sebagaimana di-
maksud pada ayat (1) wajib memenuhi persyaratan
kenyamanan, keamanan, dan kesehatan.

144 | Pendidikan Diniyah Formal


Pasal 9
(1) Masjid atau mushala sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 huruf d 7 berfungsi sebagai tempat ibadah
dan/atau pembelajaran santri.
(2) Masjid atau mushala sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) bersifat terbuka bagi masyarakat di sekitar
pesantren untuk melakukan ibadah dan/atau
aktivitas keagamaan lainnya.
Pasal 10
(1) Pengajian dan kajian kitab kuning sebagaimana di-
maksud dalam Pasal 5 huruf e dilakukan dengan
menggunakan kitab kuning sebagai sumber belajar
sesuai tingkatan peserta didik.
(2) Dirasah islamiyah dengan pola pendidikan mu’alli-
min sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf e
dilakukan dengan pendekatan tematik sesuai dengan
kekhasan masing-masing pesantren.
Pasal 11
(1) Pesantren yang memiliki paling sedikit 15 (lima
belas) santri wajib mendaftarkan ke Kantor Ke-
menterian Agama Kabupaten/Kota.
(2) Pesantren yang telah terdaftar sebagaimana di-
maksud pada ayat (1) diberikan tanda daftar pesan-
tren oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten/
Kota.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendaftaran pesan-
tren sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
(2) ditetapkan oleh Direktur Jenderal.

Pendidikan Diniyah Formal | 145


Bagian Kedua
Penyelenggaraan Pendidikan di Pesantren
Pasal 12
Dalam penyelenggaraan pendidikan, pesantren dapat
berbentuk sebagai satuan pendidikan dan/atau sebagai
penyelenggara pendidikan.
Paragraf 1
Pesantren sebagai Satuan Pendidikan
Pasal 13
(1) Pesantren sebagai satuan pendidikan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 12 huruf a merupakan pesan-
tren yang menyelenggarakan pengajian kitab kuning
atau dirasah islamiyah dengan pola pendidikan
mu’allimin.
(2) Penyelenggaraan pengajian kitab kuning sebagai-
mana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan dalam
bentuk pengajian kitab kuning pada umumnya
dan/atau program takhasus pada bidang ilmu
keislaman tertentu sesuai dengan ciri khas dan
keunggulan masing-masing pesantren.
(3) Penyelenggaraan dirasah islamiyah dengan pola
pendidikan mu’allimin sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan secara integratif dengan memadu-
kan ilmu agama Islam dan ilmu umum dan bersifat
komprehensif dengan memadukan intra, ekstra, dan
kokurikuler.

146 | Pendidikan Diniyah Formal


Pasal 14
(1) Muatan kurikulum pesantren sebagai satuan
pendidikan meliputi AlQuran, Tafsir, Ilmu Tafsir,
Hadits, Ulum Al-Hadits, Tauhid, Fiqh, Ushul Fiqh,
Akhlak, Tasawuf, Tarikh, Bahasa Arab, Nahwu-Sharf,
Balaghah, Ilmu Kalam, Ilmu ‘Arudl, Ilmu Manthiq,
Ilmu Falaq, dan disiplin ilmu lainnya.
(2) Selain muatan kurikulum sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), pesantren dapat menyelenggarakan
program takhasus sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 13 ayat (2) yang meliputi tahfizh al-Qur’an,
ilmu falaq, faraid, dan cabang dari ilmu keislaman
lainnya.
Pasal 15
(1) Pembelajaran kitab kuning dapat dilakukan dengan
menggunakan metode sorogan (individual), metode
bandongan (massal), metode bahtsul masail, dan
metode lainnya.
(2) Pembelajaran dirasah islamiyah dengan pola
pendidikan mu’allimin dilakukan dengan metode
kelasikal, terstruktur, dan berjenjang sesuai dengan
struktur kurikulum yang ditetapkan oleh pesantren.
Pasal 16
Penjenjangan santri didasarkan atas penguasaan yang
bersangkutan terhadap tingkatan kitab kuning atau
dirasah islamiyah dengan pola pendidikan mu’allimin
yang diajarkan.
Pasal 17
Kyai atau pendidik pada pesantren melakukan penilaian
atas perkembangan, kemajuan dan hasil belajar santri.

Pendidikan Diniyah Formal | 147


Pasal 18
(1) Hasil pendidikan pesantren sebagai satuan pen-
didikan dapat dihargai sederajat dengan pendidikan
formal setelah lulus ujian yang diselenggarakan oleh
satuan pendidikan yang terakreditasi dan ditunjuk
oleh Direktur Jenderal.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai hasil pendidikan
pesantren sebagai satuan pendidikan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Direktur
Jenderal.
Paragraf 2
Pesantren sebagai Penyelenggara Pendidikan
Pasal 19
(1) Di samping sebagai satuan pendidikan, pesantren
dapat menyelenggarakan satuan dan/atau program
pendidikan lainnya.
(2) Satuan dan/atau program pendidikan lainnya
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. pendidikan diniyah formal;
b. pendidikan diniyah nonformal;
c. pendidikan umum;
d. pendidikan umum berciri khas Islam;
e. pendidikan kejuruan;
f. pendidikan kesetaraan;
g. pendidikan mu’adalah;
h. pendidikan tinggi; dan/atau
i. program pendidikan lainnya.
(3) Penyelenggaraan pendidikan mu’adalah sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf g diatur dalam
peraturan tersendiri.

148 | Pendidikan Diniyah Formal


(4) Penyelenggaraan satuan dan/atau program
pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.

BAB III
PENDIDIKAN DINIYAH
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 20
Pendidikan diniyah terdiri atas:
a. Pendidikan diniyah formal;
b. Pendidikan diniyah nonformal; dan
c. Pendidikan diniyah informal.
Bagian Kedua
Pendidikan Diniyah Formal
Paragraf 1
Pendirian dan Penamaan
Pasal 21
(1) Pendirian satuan pendidikan diniyah formal wajib
memperoleh izin dari Menteri.
(2) Satuan pendidikan diniyah formal didirikan dan
dimiliki oleh pesantren.
(3) Peserta didik pendidikan diniyah formal wajib
bermukim dalam lingkungan pesantren.
(4) Pendirian satuan pendidikan diniyah formal sebagai-
mana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi
persyaratan sebagai berikut:

Pendidikan Diniyah Formal | 149


a. memenuhi persyaratan pesantren sebagai penye-
lenggara pendidikan;
b. memiliki kurikulum pendidikan diniyah formal;
c. memiliki jumlah dan kualifikasi pendidik dan
tenaga kependidikan yang memadai;
d. memiliki sarana dan prasarana kegiatan pem-
belajaran yang berada di lingkungan pesantren;
e. memiliki sumber pembiayaan untuk kelangsung-
an pendidikan paling sedikit untuk 1 (satu) tahun
pelajaran berikutnya;
f. memiliki sistem evaluasi pendidikan;
g. memiliki manajemen dan proses pendidikan
yang akan diselenggarakan;
h. melampirkan pernyataan kesanggupan melak-
sanakan kurikulum yang ditetapkan pemerintah;
i. memiliki calon peserta didik paling sedikit 30
(tiga puluh) orang; dan
j. mendapatkan rekomendasi dari Kantor Wilayah
Kementerian Agama provinsi setempat.
(5) Persyaratan pesantren sebagai penyelenggara pen-
didikan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a
meliputi:
a. memiliki tanda daftar pesantren dari Kantor
Kementerian Agama kabupaten/kota;
b. organisasi nirlaba yang berbadan hukum;
c. memiliki struktur organisasi pengelola pesan-
tren; dan
d. memiliki santri yang mukim dan belajar pada
pesantren yang bersangkutan paling sedikit 300
(tiga ratus) orang pada setiap tahun selama 10
(sepuluh) tahun pelajaran terakhir.

150 | Pendidikan Diniyah Formal


(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai izin dan persyaratan
pendirian pendidikan diniyah formal sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (4), dan ayat
(5) ditetapkan oleh Direktur Jenderal.
Pasal 22
(1) Penamaan satuan pendidikan diniyah formal ditetap-
kan oleh penyelenggara satuan pendidikan yang
bersangkutan.
(2) Penamaan satuan pendidikan diniyah formal sebagai-
mana dimaksud pada ayat (1) wajib mendapat
persetujuan Kementerian Agama.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penamaan satuan
pendidikan diniyah formal sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Direktur
Jenderal.
Paragraf 2
Jenjang Pendidikan
Pasal 23
(1) Pendidikan diniyah formal sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 20 huruf a terdiri atas:
a. Pendidikan diniyah formal jenjang pendidikan
dasar;
b. Pendidikan diniyah formal jenjang pendidikan
menengah; dan
c. Pendidikan diniyah formal jenjang pendidikan
tinggi.
(2) Pendidikan diniyah formal jenjang pendidikan dasar
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri

Pendidikan Diniyah Formal | 151


atas pendidikan diniyah formal ula dan pendidikan
diniyah formal wustha.
(3) Pendidikan diniyah formal jenjang pendidikan
menengah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b berbentuk pendidikan diniyah formal ulya.
(4) Pendidikan diniyah formal jenjang pendidikan tinggi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c
berbentuk Ma’had Aly.
Pasal 24
(1) Pendidikan diniyah formal ula sebagaimana di-
maksud dalam Pasal 23 ayat (2) merupakan
pendidikan yang sederajat dan memiliki kewenangan
yang sama dengan madrasah ibtidaiyah/sekolah
dasar.
(2) Pendidikan diniyah formal wustha sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) merupakan pen-
didikan yang sederajat dan memiliki kewenangan
yang sama dengan madrasah tsanawiyah/sekolah
menengah pertama.
(3) Pendidikan diniyah formal ulya sebagaimana di-
maksud dalam Pasal 23 ayat (3) merupakan pen-
didikan yang sederajat dan memiliki kewenangan
yang sama dengan madrasah aliyah/sekolah me-
nengah atas/sekolah menengah kejuruan.
(4) Pendidikan diniyah formal tingkat tinggi sebagai-
mana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (4) diatur dalam
peraturan tersendiri.

152 | Pendidikan Diniyah Formal


Pasal 25
(1) Pendidikan diniyah formal ula sebagaimana di-
maksud dalam Pasal 23 ayat (2) terdiri atas 6 (enam)
tingkat.
(2) Pendidikan diniyah formal wustha sebagaimana di-
maksud dalam Pasal 23 ayat (2) terdiri atas 3 (tiga)
tingkat.
(3) Pendidikan diniyah formal ulya sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 23 ayat (3) terdiri atas 3 (tiga)
tingkat.
Paragraf 4
Kurikulum
Pasal 26
Kurikulum pendidikan diniyah formal terdiri atas kuri-
kulum pendidikan keagamaan Islam dan kurikulum pen-
didikan umum.
Pasal 27
(1) Kurikulum pendidikan keagamaan Islam
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 pada satuan
pendidikan diniyah formal ula paling sedikit memuat:
a. Al-Qur’an;
b. Hadits;
c. Tauhid;
d. Fiqh;
e. Akhlaq;
f. Tarikh; dan
g. Bahasa Arab.
(2) Kurikulum pendidikan keagamaan Islam sebagai-
mana dimaksud dalam Pasal 26 pada satuan
pendidikan diniyah formal wustha paling sedikit
memuat:

Pendidikan Diniyah Formal | 153


a. Al-Qur’an;
b. Tafsir-Ilmu Tafsir;
c. Hadist-Ilmu Hadits;
d. Tauhid;
e. Fiqh-Ushul Fiqh;
f. Akhlaq-Tasawuf;
g. Tarikh;
h. Bahasa Arab;
i. Nahwu-Sharf;
j. Balaghah; dan
k. Ilmu Kalam.
(3) Kurikulum pendidikan keagamaan Islam
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 pada satuan
pendidikan diniyah formal ulya paling sedikit
memuat:
a. Al-Qur’an;
b. Tafsir-Ilmu Tafsir;
c. Hadist-Ilmu Hadits;
d. Tauhid;
e. Fiqh-Ushul Fiqh;
f. Akhlaq-Tasawuf;
g. Tarikh;
h. Bahasa Arab;
i. Nahwu-Sharf;
k. Balaghah;
l. Ilmu Kalam;
m. Ilmu Arudh;
n. Ilmu Mantiq; dan
o. Ilmu Falak.

154 | Pendidikan Diniyah Formal


Pasal 28
(1) Kurikulum pendidikan umum sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 26 pada satuan pendidikan diniyah
formal ula dan pendidikan diniyah formal wustha
paling sedikit memuat:
a. pendidikan kewarganegaraan;
b. bahasa Indonesia;
c. matematika; dan
d. ilmu pengetahuan alam.
(2) Kurikulum pendidikan umum sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 26 pada satuan pendidikan diniyah
formal ulya paling sedikit memuat:
a. pendidikan kewarganegaraan;
c. bahasa Indonesia;
d. matematika;
e. ilmu pengetahuan alam; dan
f. seni dan budaya.
Pasal 29
Dalam rangka pelaksanaan kurikulum pendidikan ke-
agamaan Islam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27
dan kurikulum pendidikan umum sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 28, Direktur Jenderal menetapkan kerangka
dan struktur kurikulum.
Paragraf 5
Proses Pembelajaran
Pasal 30
(1) Proses pembelajaran pada pendidikan diniyah formal
dilaksanakan dengan memperhatikan aspek keter-
capaian kompetensi, sumber dan sarana belajar,
konteks/lingkungan, dan psikologi peserta didik.

Pendidikan Diniyah Formal | 155


(2) Proses pembelajaran sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dirumuskan dalam perencanaan pembelajar-
an dan penilaian.
Paragraf 6
Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Pasal 31
(1) Pendidik pada satuan pendidikan diniyah formal
harus memenuhi kualifikasi dan persyaratan sebagai
pendidik profesional sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(2) Pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mempunyai hak dan kewajiban sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 32
(1) Tenaga kependidikan pada satuan pendidikan
diniyah formal terdiri atas pengawas pendidikan
Islam, kepala satuan pendidikan, wakil kepala satuan
pendidikan, tenaga perpustakaan, tenaga adminis-
trasi, tenaga laboratorium, dan tenaga lain yang
diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran.
(2) Pengawas pendidikan Islam dan kepala satuan
pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus memenuhi kualifikasi dan persyaratan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tenaga kepen-
didikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2) ditetapkan oleh Direktur Jenderal.

156 | Pendidikan Diniyah Formal


Paragraf 7
Peserta Didik
Pasal 33
(1) Calon peserta didik satuan pendidikan diniyah formal
tingkat ula minimal telah berusia 6 (enam) tahun.
(2) Calon peserta didik satuan pendidikan diniyah formal
tingkat wustha harus memiliki ijazah pendidikan
satuan pendidikan diniyah formal tingkat ula, MI, SD,
SDLB, Paket A atau satuan pendidikan sederajat.
(3) Calon peserta didik satuan pendidikan diniyah formal
tingkat ulya harus memiliki ijazah pendidikan satuan
pendidikan diniyah formal tingkat wustha, MTs, SMP,
SMPLB, Paket B atau satuan pendidikan sederajat.
(4) Satuan pendidikan diniyah formal tingkat wushta dan
ulya dapat melakukan penetapan persyaratan
kompetensi minimal calon peserta didik.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan kompe-
tensi minimal calon peserta didik sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) ditetapkan oleh Direktur
Jenderal.
Pasal 34
Peserta didik yang dinyatakan lulus pada satuan pen-
didikan diniyah formal berhak melanjutkan ke jenjang
dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi baik yang sejenis
maupun tidak sejenis sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Pendidikan Diniyah Formal | 157


Paragraf 8
Sarana dan Prasarana
Pasal 35
(1) Satuan pendidikan diniyah formal harus memenuhi
persyaratan standar sarana pendidikan sesuai
ketentuan peraturan perundangundangan.
(2) Selain persyaratan standar sarana pendidikan se-
bagaimana dimaksud pada ayat (1), satuan pen-
didikan diniyah formal wajib memiliki masjid dan
kitab keislaman sebagai sumber belajar.
Pasal 36
Satuan pendidikan diniyah formal wajib memiliki
prasarana pendidikan paling sedikit meliputi lahan, ruang
kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pen-
didik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang
laboratorium, dan prasarana lainnya yang diperlukan
dalam rangka proses pembelajaran.
Paragraf 9
Pengelolaan Pendidikan
Pasal 37
(1) Pengelolaan satuan pendidikan diniyah formal
dilakukan dengan menerapkan manajemen dengan
prinsip keadilan, kemandirian, kemitraan dan partisi-
pasi, nirlaba, efisiensi, efektivitas, dan akuntabilitas.
(2) Pengelolaan secara umum satuan pendidikan diniyah
formal menjadi tanggung jawab pesantren.
(3) Pengelolaan secara teknis satuan pendidikan diniyah
formal menjadi tanggung jawab kepala satuan
pendidikan diniyah formal.

158 | Pendidikan Diniyah Formal


Pasal 38
Pembinaan pengelolaan satuan pendidikan diniyah
formal dilakukan oleh Menteri.
Pasal 39
(1) Setiap satuan pendidikan diniyah formal dikelola atas
dasar rencana kerja tahunan yang merupakan
penjabaran rinci dari rencana kerja jangka menengah
satuan pendidikan diniyah formal untuk masa 4
(empat) tahun.
(2) Rencana kerja tahunan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) meliputi:
a. kalender pendidikan yang meliputi jadual pem-
belajaran, ulangan, ujian, kegiatan ekstra kuri-
kuler, dan hari libur;
b. jadual pelajaran per semester;
c. penugasan pendidik pada mata pelajaran dan
kegiatan lainnya;
d. jadual penyusunan kurikulum tingkat satuan
pendidikan diniyah formal;
e. pemilihan dan penetapan kitab dan buku teks
pelajaran yang digunakan untuk setiap mata
pelajaran;
f. jadual penggunaan dan pemeliharaan sarana dan
prasarana pembelajaran;
g. pengadaan, penggunaan, dan persediaan minimal
barang habis pakai;
h. program peningkatan mutu pendidikan dan
tenaga kependidikan yang meliputi paling sedikit
jenis, durasi, peserta, dan penyelenggara
program;

Pendidikan Diniyah Formal | 159


i. jadual rapat dewan pendidik, rapat konsultasi
satuan pendidikan diniyah formal dengan orang
tua/wali peserta didik, dan rapat satuan
pendidikan diniyah formal dengan komite satuan
pendidikan diniyah formal;
j. rencana anggaran pendapatan dan belanja satu-
an pendidikan diniyah formal untuk masa kerja 1
(satu) tahun; dan
k. jadual penyusunan laporan keuangan dan lapor-
an kinerja satuan pendidikan diniyah formal
untuk 1 (satu) tahun terakhir.
(3) Rencana kerja satuan pendidikan diniyah formal
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
harus disetujui oleh rapat dewan pendidik.
(4) Komite satuan pendidikan diniyah formal dapat
memberikan masukan dan pertimbangan dalam pe-
nyusunan rencana kerja satuan pendidikan diniyah
formal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
(2).
Pasal 40
(1) Setiap satuan pendidikan diniyah formal wajib
memiliki pedoman yang mengatur tentang:
a. struktur organisasi;
b. pembagian tugas pendidik;
c. pembagian tugas tenaga kependidikan;
d. kurikulum tingkat satuan pendidikan dan
silabus;

160 | Pendidikan Diniyah Formal


e. kalender pendidikan yang berisi seluruh
program dan kegiatan satuan pendidikan diniyah
formal selama 1 (satu) tahun pelajaran yang
dirinci secara semesteran, bulanan, dan
mingguan;
f. peraturan akademik;
g. tata tertib pendidik, tenaga kependidikan, dan
peserta didik;
h. peraturan penggunaan dan pemeliharaan sarana
dan prasarana;
i. kode etik hubungan antara sesama warga satuan
pendidikan diniyah formal dan hubungan antara
warga satuan pendidikan diniyah formal dan
masyarakat; dan
j. biaya operasional.
(2) Ketentuan mengenai pedoman pengelolaan satuan
pendidikan diniyah formal sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) ditetapkan oleh Direktur Jenderal.
Paragraf 10
Penilaian dan Kelulusan
Pasal 41
(1) Penilaian pendidikan pada satuan pendidikan diniyah
formal dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan
diniyah formal, dan Pemerintah.
(2) Penilaian oleh pendidik sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan secara berkesinambungan yang
bertujuan untuk memantau proses dan kemajuan
belajar peserta didik.

Pendidikan Diniyah Formal | 161


(3) Penilaian oleh satuan pendidikan diniyah formal
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
untuk menilai pencapaian kompetensi peserta didik
pada semua mata pelajaran.
(4) Penilaian oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan dalam bentuk ujian akhir
pendidikan diniyah formal berstandar nasional.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai ujian akhir pen-
didikan diniyah formal berstandar nasional ditetap-
kan oleh Direktur Jenderal.
Pasal 42
Penilaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 di-
lakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Pasal 43
(1) Peserta didik yang telah menyelesaikan proses
pendidikan dan dinyatakan lulus ujian satuan pen-
didikan serta ujian akhir pendidikan diniyah formal
berstandar nasional diberikan ijazah sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai ijazah sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Direktur
Jenderal.
Paragraf 11
Akreditasi
Pasal 44
(1) Penyelenggaraan satuan pendidikan diniyah formal
wajib mengikuti proses akreditasi.

162 | Pendidikan Diniyah Formal


(2) Akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan oleh badan akreditasi sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian Ketiga
Pendidikan Diniyah Nonformal
Pasal 45
(1) Pendidikan diniyah nonformal diselenggarakan
dalam bentuk:
a. madrasah diniyah takmiliyah;
b. pendidikan Al-Qur’an;
c. majelis taklim; atau d. pendidikan keagamaan
Islam lainnya.
(2) Pendidikan diniyah nonformal sebagaimana di-
maksud pada ayat (1) dapat diselenggarakan dalam
bentuk satuan pendidikan atau program.
(3) Pendidikan diniyah nonformal yang diselenggarakan
dalam bentuk satuan pendidikan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) wajib mendapatkan izin dari
Kantor Kementerian Agama kabupaten/kota.
(4) Pendidikan diniyah nonformal yang diselenggarakan
dalam bentuk program sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dan memiliki peserta didik paling sedikit 15
(lima belas) orang harus mendaftarkan ke Kantor
Kementerian Agama kabupaten/kota.
(5) Pendidikan diniyah nonformal yang telah terdaftar
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4)
diberikan tanda daftar oleh Kementerian Agama.

Pendidikan Diniyah Formal | 163


(6) Pendidikan diniyah nonformal yang telah terdaftar
sebagaimana dimaksud pada ayat (5) berhak
mendapatkan pembinaan dari Kementerian Agama
dan pemerintah daerah.
(7) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendaftaran pen-
didikan diniyah nonformal sebagaimana dimaksud
pada ayat (5) ditetapkan oleh Direktur Jenderal.
Paragraf 1
Madrasah Diniyah Takmiliyah
Pasal 46
(1) Madrasah diniyah takmiliyah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 45 ayat (1) huruf a diselenggarakan
untuk melengkapi, memperkaya, dan memperdalam
pendidikan agama Islam pada MI/SD, MTs/SMP,
MA/SMA/MAK/SMK, dan pendidikan tinggi atau
yang sederajat dalam rangka peningkatan keimanan
dan ketakwaan peserta didik kepada Allah SWT.
(2) Madrasah diniyah takmiliyah sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilselenggarakan secara berjenjang.
(3) Jenjang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri
atas jenjang ula, wustha, ulya, dan al-jami’ah.
(4) Jenjang ula sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
diikuti oleh peserta didik pada MI/SD atau yang
sederajat.
(5) Jenjang wustha sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
diikuti oleh peserta didik pada MTs/SMP atau yang
sederajat.

164 | Pendidikan Diniyah Formal


(6) Jenjang ulya sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
diikuti oleh peserta didik pada MA/SMA/MAK/SMK
atau yang sederajat.
(7) Jenjang al-jami’ah sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) diikuti oleh peserta didik pada pendidikan tinggi.
Pasal 47
(1) Madrasah diniyah takmiliyah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 45 ayat (1) huruf a diselenggarakan oleh
masyarakat.
(2) Madrasah diniyah takmiliyah sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat diselenggarakan secara mandiri
atau terpadu dengan satuan pendidikan lainnya.
(3) Madrasah diniyah takmiliyah sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat diselenggarakan oleh pesantren,
pengurus masjid, pengelola pendidikan formal dan
nonformal, organisasi kemasyarakatan Islam, dan
lembaga sosial keagamaan Islam lainnya.
(4) Madrasah diniyah takmiliyah sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat diselenggarakan di masjid,
mushalla, ruang kelas, atau ruang belajar lain yang
memenuhi syarat.
(5) Pesantren yang menyelenggarakan madrasah diniyah
takmiliyah dapat mengembangkan kekhasan masing-
masing pesantren.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan
madrasah diniyah takmiliyah sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4)
ditetapkan oleh Direktur Jenderal.

Pendidikan Diniyah Formal | 165


Pasal 48
(1) Kurikulum madrasah diniyah takmiliyah terdiri atas
mata pelajaran pendidikan keagamaan Islam yang
paling sedikit meliputi:
a. Al-Qur’an; b. Al-Hadits;
b. Fiqih;
c. Akhlak;
d. Sejarah Kebudayaan Islam; dan
e. Bahasa Arab.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai kurikulum sebagai-
mana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh
Direktur Jenderal.
Pasal 49
(1) Lulusan madrasah diniyah takmiliyah dapat dihargai
sederajat dengan pendidikan formal setelah lulus
ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan
yang terakreditasi dan ditunjuk oleh Direktur
Jenderal.
(2) Lulusan madrasah diniyah takmiliyah yang mem-
peroleh ijazah sederajat pendidikan formal sebagai-
mana dimaksud pada ayat (1) dapat melanjutkan ke
jenjang berikutnya pada jenis pendidikan lainnya.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai lulusan madrasah
diniyah takmiliyah sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Direktur Jenderal.

166 | Pendidikan Diniyah Formal


Paragraf 2
Pendidikan Al-Qur’an
Pasal 50
(1) Pendidikan Al-Qur’an sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 45 ayat (1) huruf b diselenggarakan oleh
masyarakat.
(2) Pendidikan Al-Qur’an sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat diselenggarakan oleh pesantren,
pengurus masjid, organisasi kemasyarakatan Islam,
dan lembaga sosial keagamaan Islam lainnya.
(3) Pendidikan Al-Qur’an sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat diselenggarakan di masjid, mushalla,
ruang kelas, atau ruang belajar lain yang memenuhi
syarat.
(4) Kurikulum pendidikan Al-Qur’an adalah membaca,
menulis dan menghafal ayat-ayat Al-Qur’an, tajwid,
serta menghafal doa-doa utama.
(5) Pendidik pada pendidikan Al-Qur’an harus memiliki
kompetensi membaca Al-Qur’an dengan tartil dan
menguasai teknik pengajaran AlQur’an.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan
Pendidikan AlQur’an sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5)
ditetapkan oleh Direktur Jenderal.
Paragraf 3
Majelis Taklim
Pasal 51
(1) Majelis taklim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45
ayat (1) huruf c dapat diselenggarakan oleh masya-
rakat.

Pendidikan Diniyah Formal | 167


(2) Majelis taklim sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat diselenggarakan oleh pesantren, pengurus
masjid, organisasi kemasyarakatan Islam, dan
lembaga sosial keagamaan Islam lainnya.
(3) Majelis taklim sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat diselenggarakan di masjid, mushalla, ruang
kelas, atau ruang belajar lain yang memenuhi syarat.
(4) Majelis taklim dapat mengembangkan kajian ke-
islaman secara tematis dan terprogram dalam rangka
peningkatan pemahaman dan pengamalan ajaran
agama Islam.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan
majelis taklim sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) ditetapkan oleh
Direktur Jenderal. Bagian Keempat Pendidikan
Diniyah Informal
Pasal 52
(1) Pendidikan diniyah informal sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 20 huruf c diselenggrakan oleh
masyarakat dalam rangka meningkatkan pemahaman
dan pengamalan ajaran agama Islam.
(2) Pendidikan diniyah informal sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diselenggarakan dalam bentuk kegiatan
pendidikan keagamaan Islam di lingkungan keluarga.

168 | Pendidikan Diniyah Formal


BAB IV
PEMBIAYAAN
Pasal 53
(1) Pembiayaan pendidikan keagamaan Islam bersumber
dari:
a. penyelenggara;
b. pemerintah;
c. pemerintah daerah;
d. masyarakat; dan/atau
e. sumber lain yang sah.
(2) Pembiayaan pendidikan keagamaan Islam sebagai-
mana dimaksud pada ayat (1) dikelola secara efektif,
efisien, transparan, dan akuntabel.

BAB V
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 54
(1) Pembinaan dan pengawasan terhadap pendidikan
keagamaan Islam dilakukan untuk menjamin mutu
dan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan.
(2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan oleh pengawas pendidikan
Islam di lingkungan Kementerian Agama.
(3) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan sesuai ke-
tentuan peraturan perundang-undangan.

Pendidikan Diniyah Formal | 169


BAB VI
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 55
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku maka
semua peraturan perundang-undangan yang mengatur
mengenai pendidikan keagamaan Islam dinyatakan tetap
berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti
dengan yang baru berdasarkan Peraturan Menteri Agama
ini.
Pasal 56
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal di-
undangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerin-
tahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan
penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 18 Juni 2014
MENTERI AGAMA
REPUBLIK INDONESIA,

SURYADHARMA ALI

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 18 Juni 2014
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

AMIR SYAMSUDIN

170 | Pendidikan Diniyah Formal


TENTANG PENULIS

Mulyani Mudis Taruna,


lahir di Brebes tanggal 31
Januari 1967, meraih gelar
sarjana S.1 dari Fakultas
Tarbiyah IAIN Walisongo
Semarang lulus tahun 1992
dan S.2 dari Universitas Negeri
Yogyakarta Program Penelitian
dan Evaluasi Pendidikan (PEP) lulus tahun 2001. Pernah
mengikuti Program Peningkatan Kemampuan Peneliti
Agama (PKPA) di Jakarta dan Peningkatan dan Diklat
Fungsional Peneliti tingkat Lanjutan di Pusbindiklat LIPI
Cibinong tahun 2013. Sampai sekarang masih aktif
melakukan kegiatan penelitian bidang Pendidikan Agama
dan Keagamaan pada Balai Penelitian dan Pengembangan
Agama Semarang (BLAS). Diantara penelitian yang telah
diselesaikan tahun 2017/2018 antara lain Pendidikan
Agama dalam Konstelasi Globalpada Daerah Terpencil di
Jawa Tengah, Implementasi Full Day School (FDS) terhadap
Pondok Pesantren Al Akhlakul Karimah Budi Mulyo

Pendidikan Diniyah Formal | 171


Yogyakarta, Perspektif Siswa Dalam Bingkai Kebangsaan
(Studi Kasus Pada Organisasi Rohis Sman 1 Sleman
Yogyakarta), dan Pendidikan Kesehatan Reproduksi
RemajaKajian Kritis dalam Perspektif Kurikulum. Penulis
juga aktif menulis dalam bentuk Prosiding, Bungarampai,
dan beberapa jurnal terakreditas.

172 | Pendidikan Diniyah Formal

Anda mungkin juga menyukai