Cinta Pertama dan Kebiasaan Pagi
Cinta Pertama dan Kebiasaan Pagi
”
“Papa.”
Pertemuan Pertama
Aku tau beberapa minggu lalu aku baru saja resmi menjadi
siswa kelas 10 di Nagara Satu international school. Dan ini
adalah pengalaman pertamaku terlambat masuk sekolah. Aku
bukan tipikal manusia yang kebo, bangun siang benar-benar
bukan diriku karena Papa selalu mengajarkan aku untuk terjaga
saat matahari belum terbit. Tapi ku rasa hari ini adalah sial yang
paling sial dari seluruh kesialan yang pernah aku rasakan.
Sebab pagi dimana gerbang sekolahku sudah tertutup rapat, aku
baru saja turun dari mobil Papa yang pak Tano kendarakan,
orang kepercayaan Papa yang selalu mengantar-jemputku ke
sekolah.
Aku berdiri di depan gerbang. Pak Mujid, satpam yang
biasa berjaga sudah kurayu sedari tadi namun beliau masih
diam, enggan memberikan pintu masuk untukku. Ayolah, aku
tidak pernah terlambat sebelumnya.
“Gerbangnya nggak akan terbuka meskipun lo mohon-
mohong sama Pak Mujid bahkan Sir Edy.”
Aku menoleh ke samping tepat pada sosok yang baru
saja berdiri di sisi kiriku. Seorang anak laki-laki yang tingginya
15 centi di atasku, dengan rambut hitam pekat dan sedikit
berantakan. Tubuh tinggi anak itu terbalut seragam sekolah
yang sama denganku, bedanya dia melapisi tubuhnya dengan
jaket hitam yang menguarkan aroma segar, lembut seperti
pewangi di Laundry mahal.
“Gue tau jalan pintas buat masuk, mau ikut nggak?”
katanya santai, di mulutnya terdapat permen karet yang terus
dia kunyah. “Kalau lo masuk nih ya, lo bakalan dihukum nyapu
halaman belakang.”
Aku tau hukuman itu, aku berkali-kali melihat siswa
yang terlambat sibuk menyapu halaman belakang dan berakhir
diceramahi oleh Sir Edy hingga jam pelajaran ke-empat. Tapi
ikut dengan dia menggunakan jalan pintas, apakah aman? Aku
berpikir cukup lama, mungkin karena terlalu lama sosok di
sampingku ini lelah menunggu, sebab itu dia kembali berkata,
“Ya udah kalau lo nggak mau ikut, gue duluan ya!”
Dia berbalik dan berjalan menjauh, aku mendengkus.
Baiklah-baiklah, hari ini saja aku akan menjadi anak nakal
dengan menyusup masuk saat terlambat. Toh besok-besok aku
tidak akan melakukannya lagi, kan? Serius, aku berjanji tidak
akan terlambat lagi.
“Eh permen karet tungguin! Gue mau ikut!” teriakku
padanya, membuat langkah dia terhenti dan jempolnya
mengudara padaku
Okey Sherina Hujan, kali ini saja. Karena aku masih
kelas 10, baru selesai MPLS dan bersekolah di sini belum ada
1 bulan, jadi tidak lucu kan jika kena hukuman karena
terlambat.
***
Aku membuntuti orang asing ini. Dia membawaku memutar
hingga kami berada di belakang sekolah. Pikiranku melalang
buana kemana-mana, ini aku nggak lagi diculik kan? Kenapa
dia membawaku ke area gang sempit di belakang sekolah?
“Lo harus tau kalau di sini ada pintu ajaib.” ucap dia
setelah kami lama terdiam. Aku semakin ragu, pintu ajaib apa
sih?
Di sisi kanan gang sempit ini adalah tembok tinggi
yang menjulang, itu adalah tembok sekolahku. Apa kita akan
memajat dari sana? Jika iya, maka gila saja aku! Tembok ini
setinggi lima meter dan aku menggunakan rok selutut, jika kita
benar akan melakukan itu, ku rasa lebih baik aku kembali ke
gerbang dan menyerahkan diri untuk menyapu halaman
sekolah. setidaknya itu jauh lebih baik dari pada memanjat
tembok.
Tok tok tok!
“Mba Ewiiiil!”
Ku rasa aku terlalu lama melamun hingga tak sadar
sekarang kami sudah berhenti berjalan. Aku menganga ketika
mendapati sebuah pintu tersembunyi di tembok sekolahku yang
kokoh ini. Tunggu, sejak kapan pintu ini ada di sini?
“Mba Ewil buka dooooong.” Dia kembali mengetuk
pintu sembari merengek-rengek.
Kriet …
Aku takjub saat pintu hijau di depan kami tiba-tiba
terbuka. Astaga, ini adalah bagian kantin sekolahku. Sejak
kapan ada pintu seperti ini? Mengapa bisa?
“Oi bengong aja, mau masuk nggak lo?”
“Eh iya, mau!”
Aku dan dia masuk ke dalam, lalu pintu kembali di
tutup. Aku terkesima saat sadar jika aku berada di salah satu
bilik kantin sekolahku, ternyata begini cara kerjanya huh?
“Telat terus, Den? Besok-besok mah Mba nggak mau
bukain ah kalo Aden telat lagi.” Ucap sosok yang dipanggil
Mba Ewil, aku baru tau nama ibu kantin ini adalah Mba Ewil.
“Eiyyy jangan begitu dong Mba Ewilku sayang, nanti
yang jajan di kantin Mba Ewil berkurang kalo nggak ada saya.”
Kata dia sembari tetawa.
Aku hanya diam dan sesekali tersenyum tidak enak
kepada Mba Ewil Mba Ewil itu, sedangkan dia dengan
santainya duduk di kursi yang ada di samping kompor setelah
meraih sebuah pisang goreng yang masih hangat,
mengunyahnya dengan santai.
“Nama lo siapa?” tanya dia padaku.
Tanpa sadar aku menjawab, “Hujan.”
Alis tebalnya menukik. “Hujan? Hujan yang tik tik tik
di atas genting?”
Aku mendecak, sudah biasa. Semua orang pasti heran
dengan nama itu. “Iya, Hujan yang turun dari langit.” Jawabku
asal.
“Oooooh … Jadi lo yang bikin Jakarta banjir bulan
lalu?”
“Jokes lo basi,”
“Yeee kaku amat si aer langit,”
Tadi banjir, sekarang air langit. Manusia ini
menyebalkan juga ya.
“Nama lo siapa sih?” balasku bertanya.
“Cacak.”
Cacak? “Cacak siapa?”
“Cacak cacak di dinding diam-diam
meraHAHAHAHAYAP!” Dia menjawab dengan nyanyian,
lalu tertawa keras tanpa sebab hingga Mba Ewil memukul
punggungnya.
Sinting, rupanya.
“Terserah, gue mau ke kelas,” ucapku.
“Yaudah gih masuk ke kelas lo, gue mah mau di sini
sampe siang, bolos.” Lanjut dia dengan tak acuh. Pisang
gorengnya tandas dan dia meraih gorengan yang lain.
Aku menggeleng heran lalu memilih berjalan menjauhi
area kantin. Kuingat-ingat lagi siswa tadi, dari postur tubuh
hingga suara beratnya.
Cacak, Mba Ewil memanggilnya Cacak.
Kita masih satu sekolah, tapi ku harap kita tidak perlu
bertemu lagi.
Dua Rumah Berbeda
Aku dan Papa punya kebiasaan yang sudah kita lakukan sejak
aku kecil. Hm entahlah, mungkin sejak usiaku lima tahun?
Sebuah kebiasaan baik yang Papa ajarkan kepadaku, yaitu
berbagi subuh. Berbagi subuh adalah kegiatanku bersama Papa
untuk berbagi makanan kepada orang-orang kurang mampu
yang ada di jalanan. Biasanya aku bangun jam 3 pagi, lalu naik
motor bersama Papa mengelilingi kota.
Hal yang kami lakukan pertama kali adalah mencari
penjual makanan yang jam setengah 4 pagi sudah buka, lalu
memborong dagangannya untuk kami bagikan. Papa bilang,
“Berbagi subuh ini bukan hanya rejeki orang-orang yang
kurang mampu, Kak. Tapi rejeki para penjual yang kita borong
makanannya juga.” Papa selalu berkata jika kita mau kaya,
maka kita harus bangun pagi buta, saat seluruh dunia masih
terlelap, biar rejekinya nggak rebutan. Oke itu hanya kiasan,
karena rejeki sudah diatur Tuhan, kan.
Contohnya seperti pagi ini, saat ruko-ruko di sepanjang
jalan masih tertutup rapat. Ada satu lampu kecil yang menyala,
berasal dari sebuah gerobak nasi uduk di pinggir jalan.
“Oke pagi ini rejekinya bapak nasi uduk.” ucap Papa
sembari memelankan motornya, berhenti di samping gerobak.
Aku dan Papa turun untuk menghampiri si penjual nasi
uduk itu. Ku lihat Papa berbincang dengan bapak penjual, lalu
tak lama wajah bapak tersebut berubah ceria. Dengan semangat
beliau mulai membungkus nasi demi nasi yang Papa beli.
Papa mendekatiku dan berbisik, “Papa beli 50
bungkus, si bapaknya kesenengan.” Aku bisa melihat Papa
tersenyum lebar. Papa selalu seperti itu, bahagianya ketika
melihat orang lain berbahagia. Aku jadi ikut tersenyum dan
menanti si bapak membungkus hingga selesai. Sesekali Papa
merangkul bahuku dan mengajak penjual nasi uduk berbincang
ringan.
Nyaris 10 menit kemudian seluruh nasi itu sudah
selesai dibungkus. Sekarang tugasku untuk membawa satu
kantung besar berisi nasi uduk. Selepas dari tempat nasi uduk,
Papa kembali menjalankan motornya menyusuri jalanan yang
masih sepi. Rambu-rambu lalu lintas masih mati, kendaraan
yang melintaspun masih begitu sedikit. Motor Papa akan
berhenti saat kami melihat siapapun yang ada di pinggir jalan
atau di pelataran ruko. Satu persatu bungkus nasi itu diserahkan
kepada orang-orang yang kami temui, perlahan habis
bersamaan dengan matahari yang mulai terbit di langit pagi.
Setelah ini, barulah giliran kami mengisi perut. Biasanya kami
akan menikmati seporsi bubur sop ayam di depan perumahan,
atau jika tidak maka penjual soto betawi menjadi sasaran kami.
Langit sudah cerah, secerah senyum Papa pagi ini. Dan
sama seperti hari kemarin, kami akan menepi di sisi jalan untuk
menikmati matahari yang terbit, Papa akan menatap kejadian
alam itu dengan tatapan sendu dan penuh rindu. Seolah
matahari terbit adalah sesuatu yang bisa Papa puja dengan
cinta. Aku akan diam di sisi Papa, memeluk lengannya dan ikut
menatap mentari yang perlahan naik ke atas langit.
Papa selalu mencintai pagi hari, karena Papa mencintai
matahari terbit. Sebab bagi Papa, dengan melihat terbitnya sang
ratu langit itu bisa membuat rindunya akan seseorang
menghilang.
Papa mengajarkanku banyak hal tentang hidup. Papa
yang membesarkanku seorang diri dan rela melepaskan
dunianya demi menyelamatkan duniaku. Aku tidak tau harus
membalas seluruh pengorbanan Papa dengan apa. Aku seorang
anak tidak berguna ini, selalu merasa tidak pantas saat dicintai
sebegini hebatnya oleh Papa.
Aku sangat menyayangi Papa. Laki-laki bernama Dago
Kalingga yang kini memeluk tubuhku dan mencium puncak
kepalaku. Laki-laki hebat yang memeberikan banyak cinta
untuk aku, pahlawan di hidupku.
Papa segalanya bagiku, dan kasih sayangnya itu cukup
bagiku.
***
“Hari ini mau ikut Papa ke rumah Matcha?”
Papa bertanya padaku saat kami sampai di rumah. Aku
baru ingat jika ini adalah hari sabtu, hari dimana Papa akan
mengunjungi Matcha, adikku.
“Boleh?” Aku selalu bertanya saat Papa mengajakku
pergi ke sana.
“Boleh dong, lagian kita cuma jemput aja kok. Matcha
mau bobo di sini, katanya kangen sama Kakak Ann.”
Aku tersenyum tipis, aku juga sangat merindukan
adikku. “Ikut deh, Pa.”
Papa mengacungkan jempolnya padaku sembari
masuk ke dalam rumah. “Okey, mandi dulu sana. Papa juga
mau mandi.”
“Iyaaaa.”
Punggung Papa perlahan hilang saat Papa naik ke
lantai dua. Sedangkan aku masih diam di ruang tamu. Mataku
berpendar ke seluruh rumah besar ini. Aku dan Papa memang
tidak tinggal berdua, ada Mba Kina, Mbok Iyun dan juga Pak
Tano yang tinggal bersama kami di sini. Namun aku selalu
merasa sepi, aku kesepian. Mungkin karena tidak ada sosok ibu
yang ku butuhkan di sini.
Aku mengenyahkan pikiranku dan naik ke lantai dua.
Kamarku ada di lantai tiga, tepat di samping ruang baca,
sedangkan kamar Papa ada di lantai dua, bersebrangan dengan
kamar utama rumah ini. Aku terdiam ketika melihat sebuah
pintu bercat putih yang selalu tertutup rapat. Itu adalah kamar
utama rumah ini, tapi Papa tidak menempatinya, kamar itu
dibiarkan kosong begitu saja dengan keadaan barang yang tidak
pernah dipindahkan. Masih sama seperti bertahun-tahun lalu.
Aku pernah masuk ke dalam sana saat aku kelas 6 SD untuk
melihat isi ruangan penuh memori itu. Masih ku ingat jika di
dalam sana terdapat sebuah kasur utama dengan sprai putih,
lemari-lemari baju yang besar dan dilapisi kaca, tirai berwarna
cokelat keabuan, juga sebuah tempat tidur bayi di sudut
ruangan. Semuanya masih sama, tidak pernah diubah dan
dipindahkan, hanya dilapisi kain putih agar benda di dalam
sana terlindungi dari debu.
Papa tidak pernah tidur di sana, Papa lebih memilih
menjadikan ruangan lain di rumah ini sebagai kamar tidurnya.
Mungkin bagi Papa akan terlalu menyakitkan untuk berada di
sana. Meskipun aku selalu berharap, agar kelak pemilik kamar
itu akan kembali.
***
Mobil Papa berhenti di depan sebuah rumah berlantai dua yang
cukup besar. Rumah itu didominasi warna putih dan cokelat
dengan pekarangan luas yang ditumbuhi banyak tanaman dan
pot bunga. Aku dan Papa masuk ke dalam, disambut jeritan
ceria dari adik perempuanku.
“Papaaaaaaaa!”
Aku tersenyum ketika melihat Papa mendekap gadis
yang lebih muda dibandingkan aku. Tubuhnya yang lebih kecil
digendong dan diputar-putar oleh Papa. Aku ikut tertawa
melihat mereka.
“Kakak! Kakak! Matcha beli sepatu roda baru, yang
lama rodanya lepas.”
Namanya Shenina Pelangi Putri Kalingga, mirip
dengan namaku, Sherina Hujan Putri Pelangi. Kami semua
memanggilnya dengan Matcha, nama itu jauh terasa lebh akrab
di lidahku dibandingkan Pelangi. Aku hanya akan
memanggilnya Pelangi sewaktu-waktu saja, salah satunya jika
aku sedang kesal dengan dia. Anak itu duduk di bangku SMP
kelas 2, dua tahun lebih muda dariku. Tapu tubuhnya cukup
tinggi, nyaris menyamai tinggiku. Rambutnya lurus
bergelombang sampai punggung dan berwarna hitam. Pelangi
begitu cantik, kulitnya putih dan matanya besar, ditambah
hidungnya yang bangir dan bibir tipis, juga ada cacat yang
begitu indah di pipinya, sebuah lesung pipi yang membuat
Pelangi begitu menawan saat tersenyum. Dia gadis yang ceria,
semangatnya selalu membuatku kewalahan saat bermain
dengannya.
“Tadi juga bikin kue sama Mama.” Matcha kembali
bersuara, kali ini dia melepaskan diri dari dekapan Papa dan
menarikku menuju dapur utama rumah ini.
Aku bisa melihat seorang wanita paruh baya yang
berkutat di dapur. Dia begitu cantik dan anggun, usianya sudah
tidak lagi muda namun tubuhnya masih begitu ramping dan
elegan. Wanita itu berbalik dan tersenyum menyambut
kedatangan kami yang memasuki area dapur.
“Halo, apa kabar?” sapaaan itu mengalun lembut.
Aku mendekat dan meraih tangannya, ku cium
punggung tangan wanita itu. “Halo, Tante. Ann sehat, Papa
juga sehat.” Kataku dan memeluknya sekilas.
Tante. Perempuan yang ku panggil Tante ini adalah ibu
kandung dari adikku. Shireena Mentari, seorang penulis buku
yang terkenal dengan karya-karya yang menakjubkan. Kini dia
mengusap rambutku ringan, lalu membawa sebuah tas kanvas
dan menyerahkannya kepadaku. “Buat camilan, ada cookies
sama susu almond, tadi bikinnya sama Matcha.” Ujarnya
lembut.
Aku tersenyum dan segera meraihnya, “Makasih
Tante, pasti rasanya enak.”
“Ah bisa aja.” Ucapnya jenaka, lalu berlalu
melewatiku dan melangkah menuju Papa yang diam di ambang
sekat penghubung dapur dan ruang televisi.
“Sehat, Papa? Punggungnya masih suka sakit?” tanya
Tante Tari sembari menepuk bahu Papa ringan. Aku diam-diam
memperhatikan, sedangkan Matcha hilang entah kemana,
mungkin sedang mengambil kopernya di dalam kamar.
“Kemarin aku ke tempat pijat, better lah, nggak jompo
banget.”
Aku melihat mereka tertawa bersama, namun tawa
mereka justru membuat hatiku tersayat.
Papa dan Tante Tari melangkah ke ruang televisi
dengan bibir yang saling melontarkan obrolan, kali ini tentang
Matcha, ku dengar Tante Tari bercerita jika sejak kemarin
Matcha ingin menginap di rumah Papa. Mereka memang
terlihat biasa saja, mengobrol dengan damai seolah semuanya
baik-baik saja. Tapi jauh dari ini, aku tau jika Papa sangat
merindukan Tante Tari, aku tau betapa besarnya keinginan
Papa untuk bisa memeluk wanita yang sangat dicintainya itu.
Tapi Papa tidak bisa, mereka tidak akan pernah bisa.
“Mamaaaaa, aku nginep di rumah Papa dulu yaaaaa.
Mama jangan kangeeeen akuuuuuuu!”
Matcha turun dari lantai dua membawa koper kecilnya,
dia peluk Tante Tari erat-erat sembari saling bertukar kecupan
di pipi. Jujur, aku selalu iri saat melihat Matcha bisa memeluk
atau mencium pipi Tante Tari, karena aku juga ingin. Pelukan
wanita itu selalu aku dambakan, dan menyebut Tante Tari
dengan sebutan Mama adalah angan yang ku tahu tak akan
pernah bisa aku lakukan.
Aku hanya bisa melihat mereka bertiga dari sini,
berdiri di dapur dan merasa begitu bersalah. Aku selalu berpikir
seandainya saja aku tidak terlahir mereka pasti tidak akan
berpisah. Matcha tidak harus memiliki dua rumah dan Papa
tidak harus merasakan rindu kepada belahan jiwanya.
Tuhan, mengapa aku harus hadir menjadi penghancur
bagi keluarga bahagia ini.
Bahagia dan Bersama
“Matcha mau bobo sama Kakak ya, Pa? Boleh kan?” Matcha
bersuara meskipun mulutnya sedang mengunyah, membuatku
menggeleng-geleng karena tingkahnya.
“Tanya ke Kakak dong jangan tanya ke Papa,” Papa
menjawab santai sehingga Matcha kini merengek padaku.
“Kakakkkk kita bobo bareng yaaaa? Please please
pleaseeeeee!”
Aku tidak tahan dengan rengekannya, maka itu ku
anggukan kepalaku dengan cepat. “Iya iya boleh, awas jangan
nyender-nyender gini, Kakak mau makan.” Kataku dan
menarik tangan dari rangkulannya.
“Yipiiiiii thank you tik tik tik bunyi hujan di atas
genting."
Papa hanya bisa tertawa dan mencubit pipi Matcha
dengan gemas. Omong-omong sekarang kami sudah sampai di
rumah. Makan malam terasa jauh lebih ramai karena ada
Matcha di sini, wajah Papa juga jadi lebih bahagia karena
kehadiran putrinya.
Aku selalu berandai-andai, bagaimana hangatnya jika
Tante Tari duduk di sini bersama kita, menikmati makan
malam yang beliau buatkan alih-alih masakan Mbok Iyun. Aku
selalu penasaran seramai apa suasana makan malam dengan
keluarga yang lengkap. Dan ku yakin jika Matcha pun
menginginkan hal itu.
“Kok ngelamun, Kak?” suara Papa membuatku
kembali tersadar. Aku menggeleng pelan, “Nggak, Pa. I’m
fineeee.” Aku tersenyum lebar hingga menampilkan gigiku.
Tidak, Pa. Hujan tidak baik-baik saja. Hujan
merindukan Mama berada di sini bersama kita.
***
Matcha benar-bernar tidur bersamaku malam ini, anak itu
berguling-guling di sisi kasur sembari bermain game puzzle
dengan iPad miliknya. Sesekali dia berceloteh, membahas club
sepak bola kesukaannya yang sama sekali tidak aku pahami
namun tetap aku ladeni segala ocehannya. Posisiku duduk di
atas kursi belajar, ku peluk boneka beruang besar
kesayanganku dan menimpali obrolannya.
Topik obrolan kami berubah, Matcha duduk dan
menatapku. “Kakak tau nggak sih kalo Mama kemarin beliin
aku benih bunga, tuh aku bawa di koper. Kakak bisa tanam
bunganya di sini, kata Mama rumah Papa halamannya luas tapi
kosong, nggak ada tanamannya,”
“Mama yang suruh kamu bawa benihnya?”
“Huum, nanti Kakak tanemin bunga-bunganya sama
Papa ya.’
Aku tersenyum dan mengangguk. “Oke.”
Mereka memang seperti itu. Sudah tidak bersama tapi
masih memperhatikan satu sama lain. Tapi aku selalu merasa
kesakitan saat mereka melakukan hal itu, mereka masih saling
mencintai tapi aku membuat mereka berpisah seperti ini.
“Aku ngantuk, Kakak bobo duluan ya dek.”
“Ih kok bobo sihhhhh, ayo ngobrol lagi.”
Aku naik ke atas kasur dan menepuk kepalanya
berberapa kali, “Udah ngobrolnya, besok bangun pagi dan
jalan-jalan sama Papa.” Ku abaikan wajah masam Matcha yang
terlihat kesal, jika ku biarkan dia tidur larut maka besok pagi
Matcha tidak bisa bangun pagi, jadi lebih baik kami tidur
sekarang.
Aku mulai memejamkan mataku setelah memastikan
Matcha meletakan iPadnya di nakas dan dia mulai menarik
selimut untuk menutupi tubuhnya agar tidak menggigil karena
pendingin ruangan.
“Good night Kakak.” Ucap Matcha pelan.
Aku tersenyum dalam hatiku, good night adik.
***
Aku tidak tahu sudah pukul berapa ketika aku terbangun dari
tidurku. Lampu di meja belajar menyala meskipun seingatku
setelah asyik mengobrol dengan Matcha aku sudah mematikan
lampu itu. Celah pintu yang terbuka juga membuat sorot lampu
dari luar masuk ke dalam kamar, sehingga suasana kamar
menjadi remang. Aku hendak menoleh ke belakang untuk
melihat apa yang terjadi, pikirku mungkin Matcha terbangun di
tengah malam. Tapi suara Papa membuatku memilih untuk
kembali diam dan berpura-pura tertidur.
Papa ada di sini.
“Tidur lagi, itu kan cuma mimpi buruk,”
“Nanti lampunya dinyalain aja,”
“Oke sayang, sekarang Matcha pejamkan matanya,
Papa temani sampai kamu terlelap.”
Matcha pasti terbangun karena mimpi buruk dan
karena itulah Papa ada di sini. Ku rasakan kasur sedikit
bergoyang, Papa mungkin sedang memeluk Matcha sekarang.
“Pa,”
“Hm?”
“Kenapa kita nggak tinggal satu rumah? Kenapa aku
nggak tinggal sama Papa dan Mama aja?”
“Shh besok lagi ngobrolnya ya nak? Ayo tidur lagi,
sini kepalanya Matcha diusap-usap sama Papa.”
Aku meremat selimutku. Matcha bertanya kenapa,
padahal akulah sebabnya. Maafkan aku, adik. Itu semua
salahku.
***
Pagi ini aku membiarkan Papa dan Matcha pergi berdua karena
aku tidak ingin mengganggu waktu berharga mereka. Jadi tadi
aku beralasan jika aku sakit perut dan enggan ikut pergi. Aku
tidak tahu Papa dan Matcha akan menghabiskan waktu dimana,
tapi ku harap tanpa kehadiranku, Matcha menjadi lebih senang
saat menghabiskan waktu berdua dengan Papa.
Sekarang aku ada di halaman rumah dengan tangan
yang kotor penuh tanah. Bercocok tanam. Benih yang Matcha
berikan padaku mulai aku tabur di pot-pot bunga yang Mbak
Iyun beli bulan lalu. Tante Tari benar tentang halaman rumah
Papa yang luas, namun begitu kosong tanpa bunga-bunga.
Di tengah kegiatanku dengan tanah-tanah ini, aku
melihat Pak Tano membuka pintu gerbang dan masuklah
sebuah mobil Tesla berwarna putih. Jantungku berdetak dan
tanpa sadar aku tersenyum sumringah. Aku tau mobil siapa itu,
itu mobil Tante Mentari.
Aku berdiri dan melangkah mendekati mobil yang
telah terparkir di carpot rumah. Tante Tari keluar dengan
anggun, lalu melambai ke arahku. “Hai Hujan, beberapa
barangnya Matcha ketinggalan, jadi aku bawain ke sini.” Tante
Tari terlihat sibuk, meraih beberapa tas kecil dan sebuah
boneka kesayangan Matcha dari dalam mobil. Pak Tano segera
mengambil alih dan membawanya ke dalam, lalu Tante Tari
mendekatiku.
“Wow lagi gardening ya?”
“Iya hehe, pake benih yang Matcha kasih ke aku,”
“Nah iya ditanam, lagian si Papa halamannya gede tapi
kosong banget.”
Tante Tari berjongkok dan melihat-lihat hasil karyaku,
beberapa pot bunga disentuh dan sesekali Tante Tari berpindah
ke tumbuhan yang lain. Kakiku melangkah mendekati, ikut
berjongkok di sampingnya.
“Ini bunga matahari, Kak. Yang ini tomat. Yang bunga
matahari jangan dikasih sinar matahari secara langsung, taro di
deket teras aja,”
“Uhm oke,”
“Kalau bunga matahari itu tumbuh mengikuti arah
matahari, makanya disebut bunga matahari.”
Aku menatap wajah Tante Tari dari samping dan tak
henti-hentinya mengagumi kecantikan wanita ini. “Mama
cantik banget. Aku paham kenapa Papa bisa secinta itu sama
Mama.” Kalimat itu hanya berani aku suarakan di dalam hati
karena aku masih tau diri untuk tidak menyebutnya dengan
sebutan Mama.
Aku bukan anaknya.
Aku tidak terlahir dari rahimnya.
Dan aku tidak pantas memanggil Tante Mentari
dengan panggilan suci itu.
“Papa sama Matcha kemana? Kok nggak ada suaranya
si Matcha?” Tante Tari bertanya padaku.
“Tadi pagi pergi, katanya sih mau jalan-jalan,”
“Kok Kak Ann nggak ikut?”
“Nggak apa-apa hehe, mau leha-leha aja di rumah.”
Tante Tari tertawa lalu berdiri, membuatku ikut berdiri
dan membuntutinya yang kini duduk di teras depan. “Tadi udah
sarapan belum, Kak?” dia bertanya lagi.
“Udah, Mbok Iyun masak bakso malang,”
“Wah enak tuh,” celetuknya
“Lebih enak masakan Tante,” kataku pelan.
Tante Tari menoleh padaku, dia tersenyum kecil.
“Kakak mau dimasakin apa sama aku?” dibandingkan
menyebut dirinya sendiri dengan sebutan Tante, Tante Tari
memang selalu menggunkan aku-kamu jika padakku. Katanya
agar tidak canggung dan terasa lebih akrab.
Padahal mau seakrab apapun kami, tetap ada tembok
tak kasat mata diantara kita.
“Tante mau masakin?”
“Mau, makanya nawarin.”
Aku senang bukan main hingga tak sadar senyumku
terukir sangat lebar. “Apa aja, tetep aku makan.”
“Oke, nanti aku masakin sesuatu yang spesial buat
kamu.”
“Makasih Tante!’ ucapku senang.
Tante Tari menatapku dengan teduh, tangannya
terusap di pipiku dan senyumnya menghangatkan jiwaku.
Bagaimana caraku memberi tahu pada wanita ini jika aku
sangat menyayanginya? Aku selalu berharap bisa menjadi
putrinya dan membuat Tante Tari bahagia. Tapi ku rasa itu
adalah hal yang mustahil, karena kehadiranku justru menjadi
luka terbesar baginya.
“Tante ….” Panggilku pelan.
“Mm?”
Aku berpikir sejenak untuk meyakinkan diriku, ada
sebuah kalimat yang sudah ku pikirkan matang-matang sejak
kemarin dan aku ingin Tante Tari mendengarnya. Ku hirup
udara untuk mengisi rongga dadaku yang terasa sesak, lalu
berkata.
“Tante ayo pulang ke rumah, pulang ke Papa. Hujan
nggak apa-apa kalo harus tinggal di panti asuhan dan sekolah
di tempat yang jauh dari sini.”
“Ann-“
“Papa kesakitan, Matcha juga kesakitan, dan aku tau
Tante sama sakitnya. Semua ini salah aku yang hadir di hidup
kalian. Aku nggak apa-apa, Tante, aku nggak apa kalo harus
tinggal di panti asalkan kalian bisa sama-sama lagi.”
Aku tidak bisa menahannya, air mata itu leleh di pipiku
dengan begitu saja. Tante Tari menatapku dengan sedih, dia
menggeleng dan menyeka tiap tangisanku dengan tangan
lembutnya.
“Aku yang salah, aku minta maaf. Tapi Hujan mohon
sama Tante, ayo pulang ke Papa dan Hujan janji Hujan akan
pergi.”
Tante Tari berdiri lalu memelukku. Kala itu tangisanku
pecah di dekapannya. Aku selalu menginginkan ini, tapi kenapa
saat Tante Tari memelukku rasanya begitu sakit. Ini terasa
seperti ribuan tombak menghunusku hingga membuat aku
berpikir, jika aku saja merasa sesakit ini lantas bagaimana
dengan perasaan Tante Tari. Bukankah mendekapku sama saja
menusukkan pisau ke dadanya sendiri
“Hujan harus tau, kalau aku sama Papa kamu berpisah
bukan karena kamu. Hujan nggak pernah jadi perusak bagi
keluarga ini, kamu harus tau kalau kamu adalah hadiah dari
Tuhan yang dititipkan pada Papa,”
“N-nggak hiks karena aku kalian pisah, aku mohon
Tante, kasian Papa … Papa selalu rindu sama Tante.”
Aku bisa merasakan usapan penuh kasih sayang di atas
kepalaku. Nggak, jangan berikan aku cinta. Kamu akan terluka
semakin jauh.
“Kamu bukan alasan kami berpisah, Ann. Kami rusak
karena ego kami masing-masing. Bertahan hanya membuat
kami semakin menyakiti satu sama lain dan berpisah adalah
piihan paling bijak. Kamu benar, kita mungkin sakit karena
udah nggak bersama lagi, tapi sakit itu nggak seberapa
dibandingkan saat kita bersama tapi terus saling menyakit,”
“Papamu dan aku punya bahagia masing-masing.
Tidak selamanya bahagia adalah bersama, Ann.”
Wajahku ditangkup ke atas hingga membuat mata
kami bertemu. Dia tersenyum teduh padaku, “Kamu nggak
pernah jadi perusak hubungan aku sama Papamu. Tumbuh
dengan baik ya, sayang. Hidup dengan bahagia dan buat Papa
bangga. Nanti saat Hujan udah jauh lebih dewasa dan bisa
memahami semuanya, Hujan akan tau kalau semua yang terjadi
di masa lalu adalah takdir terbaik yang Tuhan beri untuk kita.”
Dan sejak itu aku paham, jika Papa dan Tante Tari
memang tidak akan bisa bersama lagi. Mereka tidak akan
pernah kembali, mereka hanya akan hidup berdampingan untuk
memberikan seluruh cinta mereka untuk Pelangi. Tidak peduli
dengan luka dan perih yang mereka rasa, mengabaikan segala
tangisa rindu di malam-malam yang dingin. Mereka memilih
untuk tidak pernah kembali bersama lagi.
Mungkin benar, jika bahagia tidak selalu bersama.
Tapi aku tetap akan selalu berharap, jika suatu hari kami akan
bahagia bersama.
2 tahun kemudian.
Garis Cakrawala
“Pagi, Pa.”
Aku rasa aku mengejutkan Papa yang sedang
menikmati kopinya di teras belakang siang ini. Ayahku itu
berjengit kecil saat aku memeluknya dari belakang. “Kak, Papa
kaget loh.” Katanya.
“Ya lagian Papa ngelamun aja sih.” Aku bergulir ke
samping agar bisa berdiri di sisi Papa. Di hadapan kami hujan
turun dengan deras membuatku teringat kenangan saat aku
kecil dulu. Aku dan Papa terbiasa bermain hujan sejak aku
masih balita, menari-nari di antara rintik air dari langit hingga
keesokan harinya aku pilek.
“Kenapa? Mau hujan-hujanan?” tanya Papa dengan
kekehan saat menyadari jika aku terlalu fokus menatap ke
depan.
“Nggak, besok aku sekolah nanti aku pilek.” Meskipun
hujan memang tidak selalu membuatku sakit.
Aku merasa Papa merangkul bahuku, tubuh mungilku
didekap oleh Papa hingga dinginnya cuaca pagi ini terganti
dengan rasa hangat. “Kamu kok udah besar aja ya, Kak?
Perasaan baru kemarin Papa beliin kamu sepeda roda tiga.”
Ucapan Papa membuat aku tertawa, iyakah? Waktu berlalu
secepat itu ya?
“Sebentar lagi Kakak kuliah, pasti nanti punya pacar.
Papa sendirian deh di rumah,”
“Nggak mau pacaran,”
“Ah belum saja kamu bertemu laki-laki yang bikin
kamu salah tingkah,”
“Ih beneran, Ann nggak mau kuliah di luar kota dan
nggak mau pacaran. Mau di Jakarta aja biar nggak usah ngekos
dan tetep sama Papa di sini,”
“Lho jangan dong, kamu harus terbang seperti burung
merpati, raih cita-citamu yang tinggi, Nak. Tapi jangan lupa
untuk pulang.”
Aku menggeleng, “Kakak mau kuliah di sini, nggak
mau jauh dari Papa.” Karena bagaimana bisa aku
meninggalkan Papa seorang diri di masa tuanya jika selama ini
Papa pun tak pernah meninggalkan aku.
“Kak, kelak kamu akan bertemu dengan laki-laki baik
yang mencintai kamu. Kamu akan menjadi milik laki-laki itu,
sudah sewajarnya seorang anak meninggalkan orang tuanya,
jadi jangan merasa bersalah atau takut. Papa akan tetap di sini
melihat kamu bahagia dengan-“
“Kenapa sih ngomongin ini? Nggak mau, pokoknya
Ann mau sama Papa. Nggak ada laki-laki selain Papa, nggak
mau.”
Aku menggeleng dan memeluk erat-erat tubuh Papa.
Ku dengar Papa tertawa kecil dan membalas dekapanku. Papa
rela meninggalkan seisi dunia demi aku, maka mana mungkin
aku tega meninggalkan Papa untuk orang lain. Aku ingin selalu
bersama Papa, ada atau tidak ada laki-laki selain Papa. Aku
akan tetap bersama Papa.
“Kalau nanti Kakak punya pacar, cari yang baik ya
Nak. Cari yang selalu menghormati perempuan dan bisa
menjaga kamu. Jangan mau sama laki-laki pemabuk dan suka
pergi ke kelab malam, jangan mau sama laki-laki yang kaya
Papa,”
Aku menggeleng kecil. “Maunya yang kaya Papa.”
Tapi Papa justru tertawa dan tak berkata apa-apa lagi
setelahnya.
Aku ingin dicintai oleh laki-laki seperti Papa
mencinttai Tante Tari. Tidak terlihat namun ada.
“Papa sayang sekali sama kamu, nak. Jangan pernah
sedih dan merasa bersalah dengan semua yang terjadi ya,
sayang. Kamu putri Papa yang berharga.”
***
Satu minggu sejak acara makan malam bersama Cakra dan
ayahnya yang membahas tentang perjodohan antara Matcha
dan Cakra tidak membuat aku dan laki-laki itu menjadi akrab.
Bahkan sekalipun kami satu kelas dan dia duduk di belakangku
tidak membuat aku menjadi dekat dengannya. Kami masih
orang asing.
Sejak satu minggu itu pula aku dan Matcha menjadi
sering makan siang bersama, entah mengapa tapi Matcha yang
selalu memaksaku agar menemaninya makan di kantin,
padahal aku lebih suka makan siang di halaman belakang
sekolah yang sepi. Sama seperti kemarin, siang ini aku
menikmati makan siang bersama Matcha. Jujur aku terheran-
heran saat melihat Matcha yang selalu disapa atau menyapa
duluan siapapun siswa-siswi yang lewat di depan meja kami.
Dia baru beberapa bulan menjadi siswa kelas 10 di sekolah ini
namun sudah memiliki banyak teman, sangat berbeda
denganku yang hanya memiliki segelintir kawan dan Matcha
duduk di sampingku terlihat seperti social butterfly, aku kagum
melihatnya.
“Jangan duduk di sini … Jangan duduk di sini … Jang-
ugh!”
Aku menoleh saat melihat gerutuan Matcha, ku ikuti
arah pandangnya yang lurus jauh ke depan hingga aku bisa
melihat Cakrawala sedang berjalan ke arah kami. Ah ini juga,
sejak hari pertemuan itu aku menjadi terbiasa melihat Matcha
dan Cakra berinteraksi. Sepertinya Tante Tari dan Om Daren
yang menyuruh mereka untuk mengakrabkan diri.
“Boleh ikut duduk di sini?” Cakra berhenti di depan
meja kami dan langsung duduk di hadapanku bahkan sebelum
kami menjawab. Aku diam dengan ekor mata yang melirik
pada Matcha, bukankah mereka dekat? Mengapa aura mereka
begitu dingin?
“Anyway gue beli ini buat lo, nyokap lo bilang lo suka
fresh milk kan?” Cakra menyodorkan satu kotak susu Ultramilk
berwana biru pada Matcha.
“Thank you, Kak.” Jawab Matcha singkat sembari
meraih susunya.
“Habisin aja dulu makannya, lo minum kapan-kapan
juga nggak masalah,”
“Siap.”
Aku memilih menunduk untuk menatap makananku
yang masih tersisa banyak. Aku tidak ingin ikut campur dalam
urusan mereka, jadi dengan segera aku habiskan makanan di
piringku agar aku bisa pergi dari sini.
“Pelangi, pulang sekolah gue ada latihan basket sampe
malam jadi kita nggak bisa pulang bareng, nanti gue pesenin lo
taxi aja gimana?”
“Eh nggak usah Kak, aku mau pulang sama Archer
kok,”
“Archer siapa?”
“Sahabat aku, jadi kak Cakra nggak perlu repot-repot
anterin aku pulang,”
“Oke good kalo gitu, nanti kabarin gue kalo lo udah di
rumah,”
“Mm iya.”
Makananku habis, cepat-cepat ku tenggak segelas air
dan mengusap bibirku dengan tissue. Ku pikir sekarang sudah
saatnya aku pergi karena aku tidak mau mengganggu mereka
berdua semakin lama.
“Matcha, Kakak ke kelas duluan ya,” aku berdiri
dengan tergesa membuat Matcha menarik tanganku. “Ih Kak
aku belum selesai makan.” Dia menahanku untuk tidak pergi.
Aku menggeleng dan menatap Cakra dengan cepat, “Kan ada
dia, udah ya Kakak duluan, dadah!” buru-buru ku lepas tangan
Matcha dari lenganku hingga aku bisa berlari meninggalkan
kantin. Aku benar-benar tidak mau mengganggu mereka
berdua. Dan aku tidak mau terus merasa cemburu melihat
kedekatan mereka. Cakra selalu seperti itu, menganggapku
seolah tidak ada dan hanya berbicara pada Matcha, tapi
bukankah memang sudah seharusnya seperti itu? Salahku jika
aku merasa cemburu.
Ku langkahkan kakiku ke dalam kelas yang cukup
lenggang. Saat jam istirahat kondisi kelas memang akan sepi
karena murid-murid lebih memilih menghabiskan waktu di
kantin,.
Aku melangkah menuju mejaku, kerutan alisku terukir
saat aku melihat sesuatu di atas meja. Jantungku tanpa sadar
berdebar.
Ada sebuah susu kotak rasa strawberry di sana, dengan
sticky note kuning yang tertempel di atasnya.
“Promo susu beli 1 dapet 2, gue nggak suka susu jadi
buat lo aja. – C”
Perasaanku campur aduk saat menatap sekotak susu
itu. Jadi Cakra memberi susu kepada Matcha dan juga
kepadaku?
Buru-buru ku tepis rasa geer di dalam diriku. “Sadar,
Ann. Dia ngasih kamu karena susunya kebetulan lagi promo
dan dia nggak suka susu..”
Nggak boleh, Ann. Jangan berharap pada sosok yang
tidak pernah bermaksud memberi harap.
***
Bel pulang berbunyi satu jam yang lalu namun aku masih
berada di sekolah, aku belum ingin pulang ke rumah sekalipun
langit sudah begitu kelabu dan desau angin semakin kencang
pertanda hujan akan turun. Aku tak bergeming dari tempatku,
di halaman belakang sekolah sembari menatap langit menanti
awan menumpahkan tangisannya. Aku ingin bermain hujan,
aku ingin menari di bawah rintik dingin yang membahagiakan.
Tes … Tes … Tes …
Aku tersenyum ketika langit mulai menyiram bumi
dengan rintiknya. Dalam waktu singkat rinai itu berubah
menjadi begitu deras hingga membuat tubuhku basah kuyup.
Siapa peduli, sekolah sudah sepi dan aku begitu bahagia dengan
hujan sore ini.
Ku tadahkan kepalaku ke atas membiarkan wajahku
diterpa tetesan hujan yang lebat. Kedua tanganku membuka
dan tanpa sadar aku berputar-putar menikmati gemuruh ini.
Hujan membuatku tenang, hujan membuat seluruh dunia yang
begitu berisik menjadi sunyi. Kini hanya ada aku dan gemuruh
langit beserta sahutan air yang menghantam tanah. Suara-suara
di sekitarku menghilang, hanya ada aku dan hujan.
Aku selalu menyukai hujan, bukan hanya karena
namaku Hujan jadi aku menyukai derainya. Bagiku hujan
bukan hanya tetesan air langit yang jatuh ke bumi, melainkan
lebih indah dari itu. Sebab hujan tidak hanya meninggalkan
genangan, tetapi juga kenangan. Akan selalu ada kenangan
baru yang hadir saat hujan turun. Aku punya banyak memori
indah yang aku miliki tentang hujan, seperti aku dan tarian
konyol bersama Papa, lalu hujan yang bisa menyamarkan
tangisanku, juga hujan yang bisa meredam berisiknya suara isi
kepalaku dan menggantinya dengan gelegar petir yang
menakutkan.
Tanpa sadar sudah cukup lama aku menari-nari di
bawah hujan. Tubuhku yang mengigil tidak membuatku gentar,
aku masih ingin di sini. Aku masih memejamkan mataku dan
menikmati rintiknya. Tapi tiba-tiba aku merasa tidak ada lagi
tetesan yang jatuh ke atas kepalaku. Huh? Apa hujannya sudah
berhenti? Tapi mengapa suara derasnya masih ada?
Aku membuka mata, lalu terkejut saat melihat
seseorang berdiri di depanku dengan payung yang menaungi
kami berdua. Napasku tercekat hingga tubuhku yang menggigil
semakin gemetar. Jarguan Cakrawala, yang sedang menatapku
dengan begitu dalam.
“Lo ngapain hujan-hujanan di sini?” suaranya
bersahutan dengan petir di atas langit. “Nanti lo sakit, Hujan.”
Terselip rasa cemas dari nada suaranya.
Aku menggeleng pelan. “Hujan nggak akan bikin gue
sakit, Cakra.” Ku tepis payung yang ada di atas kepalaku. Aku
ingin diguyur hujan hingga rintiknya mereda dengan
sendirinya, aku tak ingin siapapun menghalangi kesenanganku
dengan hujan.
Ku lihat Cakra masih terus menatapku, hingga pada
akhirnya dia membuang payungnya ke samping dengan begitu
yakin. Aku terkesiap karena tubuhnya yang terbalut jersey
berwarna merah langsung basah dalam hitungan detik. “Lo
ngapain sih?” teriakku padanya.
“Gue mau ikut main hujan sama lo.”
Aku tak bisa menahan gemuruh di dalam relung hatiku
ketika Cakra mengadahkan wajahnya sembari merentangkan
kedua tangannya. Laki-laki dengan wajah serius itu kini
tersenyum teduh. “Ternyata hujan-hujanan enak juga ya, lo
curang karena nikmatin hal seindah ini sendirian.”
Kali ini aku sadar, seratus persen sadar saat
senyumanku mengembang begitu lebar. Ini adalah kali pertama
aku berada di bawah hujan bersama laki-laki selain Papa.
Get Closer
Cakra
Iya, nanti gue cuci dulu
Sip sip
By the way ada PR Fisika
Udah belom?
Udah
Gue belom
Cakra
Kenapa belum?
Nggak ngerti
Lo mau nyontek punya gue?
Ajarin aja, nggak mau nyontek
Nanti gue goblok kalo nyontek terus
Nomor berapa yang nggak ngerti?
Semua
Hhh … Yaudah sini gue ajarin
Gue vidcall ya
Gak paham kalo lewat chat
Cakra is calling …
Pagi ketika aku turun dari mobil yang Pak Tono kendarai, aku
melihat Pelangi yang juga baru turun dari sebuah mobil Range
Rover berwarna putih. Tanpa melihat plat nomornya pun aku
tahu itu mobil siapa. Mobil Cakrawala. Dari tempatku berdiri
aku bisa melihat Cakra yang ikut keluar dari mobilnya dan
berujung melangkah bersama dengan Matcha ke dalam
sekolah. Sepertinya mereka tidak sadar dengan kehadiranku
hingga terlihat begitu asyik berbincang tanpa kecanggungan.
Pemandangan pagi ini membuatku tersadar jika tak seharusnya
malam itu aku terjaga karena memikirkan Cakra, sudah berkali-
kali aku memperingati diriku sendiri untuk menghentikan rasa
yang mulai tumbuh untuk pemilik nama Jarguan Cakrawala itu.
“Lo harus sadar, Ann. Jangan rebut apa yang udah jadi
milik Matcha.”
Dan jangan sampai Tante Tari semakin membenciku
karena ini. Aku tidak mau hal itu terjadi, aku tidak ingin orang
yang selalu aku harap bisa menyayangiku justru menatapku
penuh dendam. Maka itu berhentilah Sherina Hujan.
***
“Ikat pinggang Kakak buat aku pleaseeee! Kalo aku kena point
nanti Mama harus ke sekolah lagi.”
10 menit sebelum upacara bendera Matcha mendatangi
kelasku, adikku ini merengek karena dia lupa membawa ikat
pinggang dan berharap aku bisa menyerahkan milikku
padanya. Sembari menggerutu aku mulai melepaskan ikat
pinggangku, “Kenapa lupa sih? Kebiasaan banget.” Meskipun
dengan dengkusan kesal aku memilih untuk tetap
menyerahkannya pada Matcha.
“Soalnya tadi malam Mama nggak pulang, jadi tadi
pagi aku kesiangan dan lupa nyari ikat pinggang,”
“Mama kemana? Kenapa nggak pulang?”
“Pergi sama Om Asa. Dah selesai,” Matcha terenyum
lebar setelah memakai ikat pinggang milikku. “Makasih ya
Kak! I love yoouuuuu.” Anak itu berlari menuju lapangan,
membuatku masih berdiri di depan pintu kelas. Pikiranku kini
melayang pada Tante Tari yang katanya tadi malam tidak
pulang ke rumah. Aku tau siapa Om Asa itu, kekasih Tante Tari
sejak satu tahun terakhir. Rasa sedih itu menusuk diriku lagi,
aku takut … Aku takut Papa dan Tante Tari sudah benar-benar
tidak memiliki kesempatan.
“Upacara akan segera dimulai.”
Suara mic dari lapangan membuat lamunanku buyar.
Bahuku turun ke bawah dengan lesu, lagi-lagi aku harus
mengalah pada Matcha dengan membiarkannya memakai ikat
pinggangku, membuatnya terbebas dari hukuman, namun
berakhir dengan aku yang dihukum untuk berbaris di depan
lapangan. Ku serahkan diriku dengan suka rela pada anggota
OSIS, mereka membawaku ke depan hingga aku menjadi satu-
satunya yang berdiri di sana sendirian.
Malu, semua mata menatapku. Bahuku terasa berat
hingga aku memilih untuk menundukan wajahku. Aku selalu
terbiasa seperti ini, mengalah pada Matcha sebab rasa
bersalahku yang tumbuh seiring hari-hariku. Di dadaku selalu
tertanam penyesalan itu hingga membuatku selalu takut untuk
menolak. Aku merebut ayahnya, aku menghancurkan
rumahnya. Setidaknya dengan selalu mengalah pada Matcha
bisa membuatku hidup sebagai sosok yang tahu diri.
Bermenit-menit berlalu dan upacara mulai dimulai.
Suasana lapangan pagi ini begitu khusyuk dan tenang, semua
siswa fokus pada pengibaran sang saka merah putih. Aku masih
berdiri seorang diri di hadapan semua siswa, kenapa semua
murid menjadi begitu taat hari ini? Tidak ada siswa yang
melanggar lagi kah? Aku semakin menunduk dan tidak berani
menatap ke depan.
“Eh liat itu liat.”
“Hah Kak Cakra?”
“Aaaa tau gitu tadi gue nggak pake sabuk aja.”
“Anjir apa rasanya berdiri di samping Cakra?”
Aku merasakan suasana yang tadinya khidmat berubah
menjadi ramai, hingar bingar terdengar dari bisikan-bisikan
siswa di lapangan. Ku angkat wajahku untuk menatap ke
depan, penasaran apa yang membuat mereka menjadi begitu
berisik.
“Mau permen karet nggak? Gue ada nih di
kantung.”
Leherku nyaris patah rasanya, bisikan tiba-tiba dari
samping membuat aku menoleh begitu cepat dan menahan
pekikan terkejut dari bibirku. Astaga, sejak kapan laki-laki ini
ada di sini? “Lo ngapain di sini?” Aku tak bisa menahan rasa
penasaranku, lagi pula tadi aku sendiri. Kenapa jadi ada dia.
“Gue nggak pake kaus kaki.” Jawab dia sembari
menunjuk kakinya dengan dagu.
Aku menatapnya sekilas, kemudian membawa
pandanganku kembali ke depan. Ish, kenapa aku hanya berdua
dengan Cakra sih? Berdiri di depan ratusan siswa bersamanya
benar-benar membuat aku salah tingkah juga sedikit khawatir,
bagaimana jika Matcha melihat kami?
“Nanti kita dihukum bareng, gue males. Kabur aja
yuk?” Cakra berbisik sembari mencondongkan tubuhnya
padaku. “PR fisika yang kemarin jadinya gimana? Gue nyontek
dong.” Aku tak menghiraukannya, memilih ikut bernanyi saat
mengheningkan cipta dimulai.
“Ann, mau-“
“Diam Cakrawala, lo nggak liat seluruh orang natap
kita?” Aku menghentikan nyanyianku dan menoleh padanya,
ku tatap mata elang millik sosok tinggi di hadapanku ini dengan
tajam. Cakrawala membalas tatapanku, sudut bibirnya
terangkat ketika dia menyeringai. Laki-laki itu menggeleng
kecil, lalu berbisik. “Nggak liat, you’re my only focus.
Sherina.”
Kakiku seolah berubah menjadi jeli dan sialnya Cakra
tertawa karena pipiku yang kini berubah menjadi merah seperti
tomat busuk.
“You’re pretty, Ann. Wajar kalo semua orang natap lo.
They envy on you.”
Nggak boleh. Jangan termakan ucapan manisnya, Ann.
Cakra mungkin berkata seperti itu juga pada Matcha.
***
“Kakak tadi dihukum bareng sama Kak Cakra ya?” Pertanyaan
Matcha aku jawab dengan gelengan. Alis adikku berkerut.
“Kan tadi kalian di barisan depan pas upacara?” dia bertanya
lagi dengan begitu penasaran.
Suasana kantin siang ini tidak terlalu ramai. Aku
kembali makan siang bersama Matcha, “Nggak, tadi kelas aku
ada ujian dan wakasek izinkan aku sama Cakra untuk lepas dari
hukumannya,”
“Loh curang!” sungut Matcha.
“Nggak curang, emang kalo anak kelas awal
privilegenya gitu. Makanya pintar!”
Aku tertawa karena ucapan Archer, kali ini aku tidak
hanya berdua dengan Matcha namun juga bersama seorang
anak laki-laki, dia adalah anak kedua dari Om Renzi, adiknya
Aluna. Archerion Arthama. Archer bersahabat baik dengan
Matcha karena sejak SD mereka selalu bersekolah di tempat
yang sama. Ku pikir awalnya Tante Tari akan menjodohkan
Matcha dengan Archer, namun ternyata Matcha justru
bersama Cakra.
“Nggak gitu, tapi anak-anak di kelas awal emang
jarang melanggar aturan makanya kalo sekali melanggar masih
diberi keringanan,” kataku menjelaskan.
“Tau wooo! Makanya lo jangan bolot, segala lupa
bawa ikat pinggang dan bikin Kak Ann dihukum,”
“Ya maaf! Aku udah 2 kali kena sama OSIS, kalo
sekali lagi ketauan pasti Mama dipanggil ke sekolah. Bisa
diomelin lagi deh,”
“Lain kali kalo lo nggak bawa ikat pinggang, dasi atau
topi, pinjem ke gue aja. Jangan nyusahin kakak lo lagi.”
Aku tersenyum kecil melihat interaksi Archer dan
Matcha, mereka begitu dekat dan Archer sangat peduli pada
Matcha.
“Omong-omong ya Kak, pulang sekolah aku mau main
sama Archer, Kak Ann gantiin aku pergi sama Kak Cakra ya?”
Matcha tiba-tiba berkata.
“Hah? Nggak mau,”
“Ih ayolah Kak! Kasian nih Arch dari kemarin mau
main sama aku tapi akunya sibuk terus. Ya ya ya ya Kakkk?
Please?”
Aku menatap Archer yang juga menatapku, anak itu
merengek tanpa suara padaku. “Please?”
Aku menghela napas berat. Bagaimana caranya aku
menjauhi Cakra jika Matcha justru membuatku dekat padanya.
***
Aku benar-benar ingin pulang. Tidak, ini bukan karena aku
bosan dan ingin cepat-cepat merebahkan diri di kasurku, tapi
ini semua karena aku tidak sanggup saat harus berdekatan
seperti ini dengan Cakra.
“Kenapa sih diem aja? Capek nemenin gue nyari
sepatu?” Cakra bersuara setelah cukup lama kami berada di
toko sepatu ini. Posisiku yang duduk di kursi tunggu membuat
laki-laki itu harus menunduk ketika berbicara denganku.
“Nggak, bukan gitu. Tapi dari tadi lo nggak nyari
sepatu, lo cuma bengong sambil liatin … gue.” Suaraku
mengecil di akhir, malu saat aku menyadari baru saja
keceplosan berkata seperti itu. Apa sih, Ann? Kenapa percaya
diri sekali mengira Cakra menatap ke arahku? Bisa saja dia
menatap ke arah lain, atau jejeran septu di belakangku, kan?
Ku lihat laki-laki itu tertawa kecil. “Iya bener, gue
nggak nyari sepatu tapi liatin lo. Suruh siapa cantik.”
Aku benar-benar mau pulang, semua gombalan murah
dari seorang Jarguan Cakrawala benar-benar tidak cocok
untukku. Cringe. Uhm, dan sedikit membuatku tersipu. Sst
diam! Jangan katakan padanya!
“Ukuran sepatu lo berapa?”
Aku menyugar rambutku ke belakang, kenapa justru
bertanya ukuranku?
“Gue nggak mau beli sepatu, jadi mending lo pilih
sepatu mana yang lo mau dan bayar, gue mau pulang,”
“Lo sama Pelangi beda banget deh. Eh sorry, nggak
maksud membandingkan, stupid me! Maksud gue, adek lo
meskipun sebel sama gue tapi dia tetep he’eh pas di depan gue,
nggak kaya lo bawaannya komplain mulu.”
Aku membalas ocehan Cakra dengan, “Maksudnya?
Adek gue sebel sama lo?” Bagaimana bisa? Mereka kan akan
bertunangan setelah lulus nanti.
“Iya, adek lo tuh sebeeeel banget sama gue, tapi
anaknya masih asik dan jawab tiap gue ajak ngobrol, nggak
kaya lo yang dari mukanya aja udah keliatan sensi,”
“Kenapa adek gue sebel sama lo?” ku abaikan
ucapannya dan justru bertanya.
“Karena dia nggak suka sama perjodohan ini.”
Aku terdiam, benarkah? Bukankah Matcha menyukai
Cakra?
“Adik lo nggak suka sama gue dan nggak suka
perjodohan ini,”
“Lo tau dari mana kalo Matcha kaya gitu?”
“Dari dia sendiri, dia yang bilang ke gue.” Cakra
meraih sebuah sepatu berwana pink, lalu berjongkok di
depanku, “Lo mau ngapain?” kataku panik saat Cakra menarik
kakiku dan melepas sepatu yang ku gunakan.
“Mau beli sepatu couple, oh ini pas buat lo, oke gue
ambil yang ini.”
Aku tidak mengerti jalan pikirnya. Cakra berdiri dan
mengacak-acak rambutku hingga berantakan. “Besok olahraga,
dipake ya sepatunya, biar anak kelas sadar sepatu kita couple
terus kita dicie-cie-in.” setelah itu dia berlalu, membayar dua
buah sepatu Adidas couple berwarna pink dan abu-abu.
Aku benar-benar menggila di tempatku. Cakrawala,
mungkinkan kamu bisa menjadi milikku?
Hujan Dan Badainya
“Kalo gitu aku nggak bisa cemburu. Cinta pertama kamu bukan
saingan aku.”
Aku tertawa kecil karena ucapan Cakra, ku genggam
tangannya erat. “Papa cinta pertama aku, Cak. Karena Papa
yang pertama kali memberikan aku cinta, Papa yang
mengajarkan aku cinta dan Papa yang bikin aku ….” Ucapanku
terhenti sebab dadaku berdenyut sakit. Air mata kembali turun
di pipiku. Tanganku meremat gundukan tanah di depan kami.
Makam Papa yang masih basah.
Dago Kalingga meninggal dua bulan yang lalu.
Saat aku baru saja menyelesaikan kuliahku. Papa
terkena serangan jantung dalam tidurnya, pagi itu aku
membuka kamar Papa karena Papa yang tak kunjung keluar
untuk sarapan, namun aku justru mendapati Papa terlelap
begitu damai dengan wajah bekunya. Papa pergi pagi itu,
sembari mendekap sebuah buku usang berisikan kerinduannya
untuk Tante Tari.
Aku ingin menua dan mati di dekapmu, Mentari.
Halaman terahir buku itu tertulis seperti itu, namun
Papa justru pulang seorang diri, kesepian dan mati terbunuh
rindu. Aku yang selama ini tidak bisa membayangkan jika
hidupku tanpa Papa kini benar-benar dihadapkan oleh
kenyataan. Dua bulan terasa seperti neraka bagiku, setiap
malam aku hanya bisa menangis di atas kasur tempat Papa
menghembuskan napasnya.
Ingatanku tentang Papa masih begitu jelas. Senyum
hangatnya, tatapan teduhnya, lembutnya usapan tangan Papa di
wajahku. Semua tentang Papa masih begitu indah bagiku.
“Biarkan Papa beristirahat dengan tenang, Ann.