0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
222 tayangan66 halaman

Cinta Pertama dan Kebiasaan Pagi

au hujan

Diunggah oleh

zira irdiana
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
222 tayangan66 halaman

Cinta Pertama dan Kebiasaan Pagi

au hujan

Diunggah oleh

zira irdiana
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

“Cinta pertama kamu siapa, Ann?


“Papa.”
Pertemuan Pertama

NAGARA SATU INTERNATIONAL SCHOOL, kelas 10.

Aku tau beberapa minggu lalu aku baru saja resmi menjadi
siswa kelas 10 di Nagara Satu international school. Dan ini
adalah pengalaman pertamaku terlambat masuk sekolah. Aku
bukan tipikal manusia yang kebo, bangun siang benar-benar
bukan diriku karena Papa selalu mengajarkan aku untuk terjaga
saat matahari belum terbit. Tapi ku rasa hari ini adalah sial yang
paling sial dari seluruh kesialan yang pernah aku rasakan.
Sebab pagi dimana gerbang sekolahku sudah tertutup rapat, aku
baru saja turun dari mobil Papa yang pak Tano kendarakan,
orang kepercayaan Papa yang selalu mengantar-jemputku ke
sekolah.
Aku berdiri di depan gerbang. Pak Mujid, satpam yang
biasa berjaga sudah kurayu sedari tadi namun beliau masih
diam, enggan memberikan pintu masuk untukku. Ayolah, aku
tidak pernah terlambat sebelumnya.
“Gerbangnya nggak akan terbuka meskipun lo mohon-
mohong sama Pak Mujid bahkan Sir Edy.”
Aku menoleh ke samping tepat pada sosok yang baru
saja berdiri di sisi kiriku. Seorang anak laki-laki yang tingginya
15 centi di atasku, dengan rambut hitam pekat dan sedikit
berantakan. Tubuh tinggi anak itu terbalut seragam sekolah
yang sama denganku, bedanya dia melapisi tubuhnya dengan
jaket hitam yang menguarkan aroma segar, lembut seperti
pewangi di Laundry mahal.
“Gue tau jalan pintas buat masuk, mau ikut nggak?”
katanya santai, di mulutnya terdapat permen karet yang terus
dia kunyah. “Kalau lo masuk nih ya, lo bakalan dihukum nyapu
halaman belakang.”
Aku tau hukuman itu, aku berkali-kali melihat siswa
yang terlambat sibuk menyapu halaman belakang dan berakhir
diceramahi oleh Sir Edy hingga jam pelajaran ke-empat. Tapi
ikut dengan dia menggunakan jalan pintas, apakah aman? Aku
berpikir cukup lama, mungkin karena terlalu lama sosok di
sampingku ini lelah menunggu, sebab itu dia kembali berkata,
“Ya udah kalau lo nggak mau ikut, gue duluan ya!”
Dia berbalik dan berjalan menjauh, aku mendengkus.
Baiklah-baiklah, hari ini saja aku akan menjadi anak nakal
dengan menyusup masuk saat terlambat. Toh besok-besok aku
tidak akan melakukannya lagi, kan? Serius, aku berjanji tidak
akan terlambat lagi.
“Eh permen karet tungguin! Gue mau ikut!” teriakku
padanya, membuat langkah dia terhenti dan jempolnya
mengudara padaku
Okey Sherina Hujan, kali ini saja. Karena aku masih
kelas 10, baru selesai MPLS dan bersekolah di sini belum ada
1 bulan, jadi tidak lucu kan jika kena hukuman karena
terlambat.
***
Aku membuntuti orang asing ini. Dia membawaku memutar
hingga kami berada di belakang sekolah. Pikiranku melalang
buana kemana-mana, ini aku nggak lagi diculik kan? Kenapa
dia membawaku ke area gang sempit di belakang sekolah?
“Lo harus tau kalau di sini ada pintu ajaib.” ucap dia
setelah kami lama terdiam. Aku semakin ragu, pintu ajaib apa
sih?
Di sisi kanan gang sempit ini adalah tembok tinggi
yang menjulang, itu adalah tembok sekolahku. Apa kita akan
memajat dari sana? Jika iya, maka gila saja aku! Tembok ini
setinggi lima meter dan aku menggunakan rok selutut, jika kita
benar akan melakukan itu, ku rasa lebih baik aku kembali ke
gerbang dan menyerahkan diri untuk menyapu halaman
sekolah. setidaknya itu jauh lebih baik dari pada memanjat
tembok.
Tok tok tok!
“Mba Ewiiiil!”
Ku rasa aku terlalu lama melamun hingga tak sadar
sekarang kami sudah berhenti berjalan. Aku menganga ketika
mendapati sebuah pintu tersembunyi di tembok sekolahku yang
kokoh ini. Tunggu, sejak kapan pintu ini ada di sini?
“Mba Ewil buka dooooong.” Dia kembali mengetuk
pintu sembari merengek-rengek.
Kriet …
Aku takjub saat pintu hijau di depan kami tiba-tiba
terbuka. Astaga, ini adalah bagian kantin sekolahku. Sejak
kapan ada pintu seperti ini? Mengapa bisa?
“Oi bengong aja, mau masuk nggak lo?”
“Eh iya, mau!”
Aku dan dia masuk ke dalam, lalu pintu kembali di
tutup. Aku terkesima saat sadar jika aku berada di salah satu
bilik kantin sekolahku, ternyata begini cara kerjanya huh?
“Telat terus, Den? Besok-besok mah Mba nggak mau
bukain ah kalo Aden telat lagi.” Ucap sosok yang dipanggil
Mba Ewil, aku baru tau nama ibu kantin ini adalah Mba Ewil.
“Eiyyy jangan begitu dong Mba Ewilku sayang, nanti
yang jajan di kantin Mba Ewil berkurang kalo nggak ada saya.”
Kata dia sembari tetawa.
Aku hanya diam dan sesekali tersenyum tidak enak
kepada Mba Ewil Mba Ewil itu, sedangkan dia dengan
santainya duduk di kursi yang ada di samping kompor setelah
meraih sebuah pisang goreng yang masih hangat,
mengunyahnya dengan santai.
“Nama lo siapa?” tanya dia padaku.
Tanpa sadar aku menjawab, “Hujan.”
Alis tebalnya menukik. “Hujan? Hujan yang tik tik tik
di atas genting?”
Aku mendecak, sudah biasa. Semua orang pasti heran
dengan nama itu. “Iya, Hujan yang turun dari langit.” Jawabku
asal.
“Oooooh … Jadi lo yang bikin Jakarta banjir bulan
lalu?”
“Jokes lo basi,”
“Yeee kaku amat si aer langit,”
Tadi banjir, sekarang air langit. Manusia ini
menyebalkan juga ya.
“Nama lo siapa sih?” balasku bertanya.
“Cacak.”
Cacak? “Cacak siapa?”
“Cacak cacak di dinding diam-diam
meraHAHAHAHAYAP!” Dia menjawab dengan nyanyian,
lalu tertawa keras tanpa sebab hingga Mba Ewil memukul
punggungnya.
Sinting, rupanya.
“Terserah, gue mau ke kelas,” ucapku.
“Yaudah gih masuk ke kelas lo, gue mah mau di sini
sampe siang, bolos.” Lanjut dia dengan tak acuh. Pisang
gorengnya tandas dan dia meraih gorengan yang lain.
Aku menggeleng heran lalu memilih berjalan menjauhi
area kantin. Kuingat-ingat lagi siswa tadi, dari postur tubuh
hingga suara beratnya.
Cacak, Mba Ewil memanggilnya Cacak.
Kita masih satu sekolah, tapi ku harap kita tidak perlu
bertemu lagi.
Dua Rumah Berbeda

Aku dan Papa punya kebiasaan yang sudah kita lakukan sejak
aku kecil. Hm entahlah, mungkin sejak usiaku lima tahun?
Sebuah kebiasaan baik yang Papa ajarkan kepadaku, yaitu
berbagi subuh. Berbagi subuh adalah kegiatanku bersama Papa
untuk berbagi makanan kepada orang-orang kurang mampu
yang ada di jalanan. Biasanya aku bangun jam 3 pagi, lalu naik
motor bersama Papa mengelilingi kota.
Hal yang kami lakukan pertama kali adalah mencari
penjual makanan yang jam setengah 4 pagi sudah buka, lalu
memborong dagangannya untuk kami bagikan. Papa bilang,
“Berbagi subuh ini bukan hanya rejeki orang-orang yang
kurang mampu, Kak. Tapi rejeki para penjual yang kita borong
makanannya juga.” Papa selalu berkata jika kita mau kaya,
maka kita harus bangun pagi buta, saat seluruh dunia masih
terlelap, biar rejekinya nggak rebutan. Oke itu hanya kiasan,
karena rejeki sudah diatur Tuhan, kan.
Contohnya seperti pagi ini, saat ruko-ruko di sepanjang
jalan masih tertutup rapat. Ada satu lampu kecil yang menyala,
berasal dari sebuah gerobak nasi uduk di pinggir jalan.
“Oke pagi ini rejekinya bapak nasi uduk.” ucap Papa
sembari memelankan motornya, berhenti di samping gerobak.
Aku dan Papa turun untuk menghampiri si penjual nasi
uduk itu. Ku lihat Papa berbincang dengan bapak penjual, lalu
tak lama wajah bapak tersebut berubah ceria. Dengan semangat
beliau mulai membungkus nasi demi nasi yang Papa beli.
Papa mendekatiku dan berbisik, “Papa beli 50
bungkus, si bapaknya kesenengan.” Aku bisa melihat Papa
tersenyum lebar. Papa selalu seperti itu, bahagianya ketika
melihat orang lain berbahagia. Aku jadi ikut tersenyum dan
menanti si bapak membungkus hingga selesai. Sesekali Papa
merangkul bahuku dan mengajak penjual nasi uduk berbincang
ringan.
Nyaris 10 menit kemudian seluruh nasi itu sudah
selesai dibungkus. Sekarang tugasku untuk membawa satu
kantung besar berisi nasi uduk. Selepas dari tempat nasi uduk,
Papa kembali menjalankan motornya menyusuri jalanan yang
masih sepi. Rambu-rambu lalu lintas masih mati, kendaraan
yang melintaspun masih begitu sedikit. Motor Papa akan
berhenti saat kami melihat siapapun yang ada di pinggir jalan
atau di pelataran ruko. Satu persatu bungkus nasi itu diserahkan
kepada orang-orang yang kami temui, perlahan habis
bersamaan dengan matahari yang mulai terbit di langit pagi.
Setelah ini, barulah giliran kami mengisi perut. Biasanya kami
akan menikmati seporsi bubur sop ayam di depan perumahan,
atau jika tidak maka penjual soto betawi menjadi sasaran kami.
Langit sudah cerah, secerah senyum Papa pagi ini. Dan
sama seperti hari kemarin, kami akan menepi di sisi jalan untuk
menikmati matahari yang terbit, Papa akan menatap kejadian
alam itu dengan tatapan sendu dan penuh rindu. Seolah
matahari terbit adalah sesuatu yang bisa Papa puja dengan
cinta. Aku akan diam di sisi Papa, memeluk lengannya dan ikut
menatap mentari yang perlahan naik ke atas langit.
Papa selalu mencintai pagi hari, karena Papa mencintai
matahari terbit. Sebab bagi Papa, dengan melihat terbitnya sang
ratu langit itu bisa membuat rindunya akan seseorang
menghilang.
Papa mengajarkanku banyak hal tentang hidup. Papa
yang membesarkanku seorang diri dan rela melepaskan
dunianya demi menyelamatkan duniaku. Aku tidak tau harus
membalas seluruh pengorbanan Papa dengan apa. Aku seorang
anak tidak berguna ini, selalu merasa tidak pantas saat dicintai
sebegini hebatnya oleh Papa.
Aku sangat menyayangi Papa. Laki-laki bernama Dago
Kalingga yang kini memeluk tubuhku dan mencium puncak
kepalaku. Laki-laki hebat yang memeberikan banyak cinta
untuk aku, pahlawan di hidupku.
Papa segalanya bagiku, dan kasih sayangnya itu cukup
bagiku.
***
“Hari ini mau ikut Papa ke rumah Matcha?”
Papa bertanya padaku saat kami sampai di rumah. Aku
baru ingat jika ini adalah hari sabtu, hari dimana Papa akan
mengunjungi Matcha, adikku.
“Boleh?” Aku selalu bertanya saat Papa mengajakku
pergi ke sana.
“Boleh dong, lagian kita cuma jemput aja kok. Matcha
mau bobo di sini, katanya kangen sama Kakak Ann.”
Aku tersenyum tipis, aku juga sangat merindukan
adikku. “Ikut deh, Pa.”
Papa mengacungkan jempolnya padaku sembari
masuk ke dalam rumah. “Okey, mandi dulu sana. Papa juga
mau mandi.”
“Iyaaaa.”
Punggung Papa perlahan hilang saat Papa naik ke
lantai dua. Sedangkan aku masih diam di ruang tamu. Mataku
berpendar ke seluruh rumah besar ini. Aku dan Papa memang
tidak tinggal berdua, ada Mba Kina, Mbok Iyun dan juga Pak
Tano yang tinggal bersama kami di sini. Namun aku selalu
merasa sepi, aku kesepian. Mungkin karena tidak ada sosok ibu
yang ku butuhkan di sini.
Aku mengenyahkan pikiranku dan naik ke lantai dua.
Kamarku ada di lantai tiga, tepat di samping ruang baca,
sedangkan kamar Papa ada di lantai dua, bersebrangan dengan
kamar utama rumah ini. Aku terdiam ketika melihat sebuah
pintu bercat putih yang selalu tertutup rapat. Itu adalah kamar
utama rumah ini, tapi Papa tidak menempatinya, kamar itu
dibiarkan kosong begitu saja dengan keadaan barang yang tidak
pernah dipindahkan. Masih sama seperti bertahun-tahun lalu.
Aku pernah masuk ke dalam sana saat aku kelas 6 SD untuk
melihat isi ruangan penuh memori itu. Masih ku ingat jika di
dalam sana terdapat sebuah kasur utama dengan sprai putih,
lemari-lemari baju yang besar dan dilapisi kaca, tirai berwarna
cokelat keabuan, juga sebuah tempat tidur bayi di sudut
ruangan. Semuanya masih sama, tidak pernah diubah dan
dipindahkan, hanya dilapisi kain putih agar benda di dalam
sana terlindungi dari debu.
Papa tidak pernah tidur di sana, Papa lebih memilih
menjadikan ruangan lain di rumah ini sebagai kamar tidurnya.
Mungkin bagi Papa akan terlalu menyakitkan untuk berada di
sana. Meskipun aku selalu berharap, agar kelak pemilik kamar
itu akan kembali.
***
Mobil Papa berhenti di depan sebuah rumah berlantai dua yang
cukup besar. Rumah itu didominasi warna putih dan cokelat
dengan pekarangan luas yang ditumbuhi banyak tanaman dan
pot bunga. Aku dan Papa masuk ke dalam, disambut jeritan
ceria dari adik perempuanku.
“Papaaaaaaaa!”
Aku tersenyum ketika melihat Papa mendekap gadis
yang lebih muda dibandingkan aku. Tubuhnya yang lebih kecil
digendong dan diputar-putar oleh Papa. Aku ikut tertawa
melihat mereka.
“Kakak! Kakak! Matcha beli sepatu roda baru, yang
lama rodanya lepas.”
Namanya Shenina Pelangi Putri Kalingga, mirip
dengan namaku, Sherina Hujan Putri Pelangi. Kami semua
memanggilnya dengan Matcha, nama itu jauh terasa lebh akrab
di lidahku dibandingkan Pelangi. Aku hanya akan
memanggilnya Pelangi sewaktu-waktu saja, salah satunya jika
aku sedang kesal dengan dia. Anak itu duduk di bangku SMP
kelas 2, dua tahun lebih muda dariku. Tapu tubuhnya cukup
tinggi, nyaris menyamai tinggiku. Rambutnya lurus
bergelombang sampai punggung dan berwarna hitam. Pelangi
begitu cantik, kulitnya putih dan matanya besar, ditambah
hidungnya yang bangir dan bibir tipis, juga ada cacat yang
begitu indah di pipinya, sebuah lesung pipi yang membuat
Pelangi begitu menawan saat tersenyum. Dia gadis yang ceria,
semangatnya selalu membuatku kewalahan saat bermain
dengannya.
“Tadi juga bikin kue sama Mama.” Matcha kembali
bersuara, kali ini dia melepaskan diri dari dekapan Papa dan
menarikku menuju dapur utama rumah ini.
Aku bisa melihat seorang wanita paruh baya yang
berkutat di dapur. Dia begitu cantik dan anggun, usianya sudah
tidak lagi muda namun tubuhnya masih begitu ramping dan
elegan. Wanita itu berbalik dan tersenyum menyambut
kedatangan kami yang memasuki area dapur.
“Halo, apa kabar?” sapaaan itu mengalun lembut.
Aku mendekat dan meraih tangannya, ku cium
punggung tangan wanita itu. “Halo, Tante. Ann sehat, Papa
juga sehat.” Kataku dan memeluknya sekilas.
Tante. Perempuan yang ku panggil Tante ini adalah ibu
kandung dari adikku. Shireena Mentari, seorang penulis buku
yang terkenal dengan karya-karya yang menakjubkan. Kini dia
mengusap rambutku ringan, lalu membawa sebuah tas kanvas
dan menyerahkannya kepadaku. “Buat camilan, ada cookies
sama susu almond, tadi bikinnya sama Matcha.” Ujarnya
lembut.
Aku tersenyum dan segera meraihnya, “Makasih
Tante, pasti rasanya enak.”
“Ah bisa aja.” Ucapnya jenaka, lalu berlalu
melewatiku dan melangkah menuju Papa yang diam di ambang
sekat penghubung dapur dan ruang televisi.
“Sehat, Papa? Punggungnya masih suka sakit?” tanya
Tante Tari sembari menepuk bahu Papa ringan. Aku diam-diam
memperhatikan, sedangkan Matcha hilang entah kemana,
mungkin sedang mengambil kopernya di dalam kamar.
“Kemarin aku ke tempat pijat, better lah, nggak jompo
banget.”
Aku melihat mereka tertawa bersama, namun tawa
mereka justru membuat hatiku tersayat.
Papa dan Tante Tari melangkah ke ruang televisi
dengan bibir yang saling melontarkan obrolan, kali ini tentang
Matcha, ku dengar Tante Tari bercerita jika sejak kemarin
Matcha ingin menginap di rumah Papa. Mereka memang
terlihat biasa saja, mengobrol dengan damai seolah semuanya
baik-baik saja. Tapi jauh dari ini, aku tau jika Papa sangat
merindukan Tante Tari, aku tau betapa besarnya keinginan
Papa untuk bisa memeluk wanita yang sangat dicintainya itu.
Tapi Papa tidak bisa, mereka tidak akan pernah bisa.
“Mamaaaaa, aku nginep di rumah Papa dulu yaaaaa.
Mama jangan kangeeeen akuuuuuuu!”
Matcha turun dari lantai dua membawa koper kecilnya,
dia peluk Tante Tari erat-erat sembari saling bertukar kecupan
di pipi. Jujur, aku selalu iri saat melihat Matcha bisa memeluk
atau mencium pipi Tante Tari, karena aku juga ingin. Pelukan
wanita itu selalu aku dambakan, dan menyebut Tante Tari
dengan sebutan Mama adalah angan yang ku tahu tak akan
pernah bisa aku lakukan.
Aku hanya bisa melihat mereka bertiga dari sini,
berdiri di dapur dan merasa begitu bersalah. Aku selalu berpikir
seandainya saja aku tidak terlahir mereka pasti tidak akan
berpisah. Matcha tidak harus memiliki dua rumah dan Papa
tidak harus merasakan rindu kepada belahan jiwanya.
Tuhan, mengapa aku harus hadir menjadi penghancur
bagi keluarga bahagia ini.
Bahagia dan Bersama

“Matcha mau bobo sama Kakak ya, Pa? Boleh kan?” Matcha
bersuara meskipun mulutnya sedang mengunyah, membuatku
menggeleng-geleng karena tingkahnya.
“Tanya ke Kakak dong jangan tanya ke Papa,” Papa
menjawab santai sehingga Matcha kini merengek padaku.
“Kakakkkk kita bobo bareng yaaaa? Please please
pleaseeeeee!”
Aku tidak tahan dengan rengekannya, maka itu ku
anggukan kepalaku dengan cepat. “Iya iya boleh, awas jangan
nyender-nyender gini, Kakak mau makan.” Kataku dan
menarik tangan dari rangkulannya.
“Yipiiiiii thank you tik tik tik bunyi hujan di atas
genting."
Papa hanya bisa tertawa dan mencubit pipi Matcha
dengan gemas. Omong-omong sekarang kami sudah sampai di
rumah. Makan malam terasa jauh lebih ramai karena ada
Matcha di sini, wajah Papa juga jadi lebih bahagia karena
kehadiran putrinya.
Aku selalu berandai-andai, bagaimana hangatnya jika
Tante Tari duduk di sini bersama kita, menikmati makan
malam yang beliau buatkan alih-alih masakan Mbok Iyun. Aku
selalu penasaran seramai apa suasana makan malam dengan
keluarga yang lengkap. Dan ku yakin jika Matcha pun
menginginkan hal itu.
“Kok ngelamun, Kak?” suara Papa membuatku
kembali tersadar. Aku menggeleng pelan, “Nggak, Pa. I’m
fineeee.” Aku tersenyum lebar hingga menampilkan gigiku.
Tidak, Pa. Hujan tidak baik-baik saja. Hujan
merindukan Mama berada di sini bersama kita.

***
Matcha benar-bernar tidur bersamaku malam ini, anak itu
berguling-guling di sisi kasur sembari bermain game puzzle
dengan iPad miliknya. Sesekali dia berceloteh, membahas club
sepak bola kesukaannya yang sama sekali tidak aku pahami
namun tetap aku ladeni segala ocehannya. Posisiku duduk di
atas kursi belajar, ku peluk boneka beruang besar
kesayanganku dan menimpali obrolannya.
Topik obrolan kami berubah, Matcha duduk dan
menatapku. “Kakak tau nggak sih kalo Mama kemarin beliin
aku benih bunga, tuh aku bawa di koper. Kakak bisa tanam
bunganya di sini, kata Mama rumah Papa halamannya luas tapi
kosong, nggak ada tanamannya,”
“Mama yang suruh kamu bawa benihnya?”
“Huum, nanti Kakak tanemin bunga-bunganya sama
Papa ya.’
Aku tersenyum dan mengangguk. “Oke.”
Mereka memang seperti itu. Sudah tidak bersama tapi
masih memperhatikan satu sama lain. Tapi aku selalu merasa
kesakitan saat mereka melakukan hal itu, mereka masih saling
mencintai tapi aku membuat mereka berpisah seperti ini.
“Aku ngantuk, Kakak bobo duluan ya dek.”
“Ih kok bobo sihhhhh, ayo ngobrol lagi.”
Aku naik ke atas kasur dan menepuk kepalanya
berberapa kali, “Udah ngobrolnya, besok bangun pagi dan
jalan-jalan sama Papa.” Ku abaikan wajah masam Matcha yang
terlihat kesal, jika ku biarkan dia tidur larut maka besok pagi
Matcha tidak bisa bangun pagi, jadi lebih baik kami tidur
sekarang.
Aku mulai memejamkan mataku setelah memastikan
Matcha meletakan iPadnya di nakas dan dia mulai menarik
selimut untuk menutupi tubuhnya agar tidak menggigil karena
pendingin ruangan.
“Good night Kakak.” Ucap Matcha pelan.
Aku tersenyum dalam hatiku, good night adik.
***
Aku tidak tahu sudah pukul berapa ketika aku terbangun dari
tidurku. Lampu di meja belajar menyala meskipun seingatku
setelah asyik mengobrol dengan Matcha aku sudah mematikan
lampu itu. Celah pintu yang terbuka juga membuat sorot lampu
dari luar masuk ke dalam kamar, sehingga suasana kamar
menjadi remang. Aku hendak menoleh ke belakang untuk
melihat apa yang terjadi, pikirku mungkin Matcha terbangun di
tengah malam. Tapi suara Papa membuatku memilih untuk
kembali diam dan berpura-pura tertidur.
Papa ada di sini.
“Tidur lagi, itu kan cuma mimpi buruk,”
“Nanti lampunya dinyalain aja,”
“Oke sayang, sekarang Matcha pejamkan matanya,
Papa temani sampai kamu terlelap.”
Matcha pasti terbangun karena mimpi buruk dan
karena itulah Papa ada di sini. Ku rasakan kasur sedikit
bergoyang, Papa mungkin sedang memeluk Matcha sekarang.
“Pa,”
“Hm?”
“Kenapa kita nggak tinggal satu rumah? Kenapa aku
nggak tinggal sama Papa dan Mama aja?”
“Shh besok lagi ngobrolnya ya nak? Ayo tidur lagi,
sini kepalanya Matcha diusap-usap sama Papa.”
Aku meremat selimutku. Matcha bertanya kenapa,
padahal akulah sebabnya. Maafkan aku, adik. Itu semua
salahku.
***
Pagi ini aku membiarkan Papa dan Matcha pergi berdua karena
aku tidak ingin mengganggu waktu berharga mereka. Jadi tadi
aku beralasan jika aku sakit perut dan enggan ikut pergi. Aku
tidak tahu Papa dan Matcha akan menghabiskan waktu dimana,
tapi ku harap tanpa kehadiranku, Matcha menjadi lebih senang
saat menghabiskan waktu berdua dengan Papa.
Sekarang aku ada di halaman rumah dengan tangan
yang kotor penuh tanah. Bercocok tanam. Benih yang Matcha
berikan padaku mulai aku tabur di pot-pot bunga yang Mbak
Iyun beli bulan lalu. Tante Tari benar tentang halaman rumah
Papa yang luas, namun begitu kosong tanpa bunga-bunga.
Di tengah kegiatanku dengan tanah-tanah ini, aku
melihat Pak Tano membuka pintu gerbang dan masuklah
sebuah mobil Tesla berwarna putih. Jantungku berdetak dan
tanpa sadar aku tersenyum sumringah. Aku tau mobil siapa itu,
itu mobil Tante Mentari.
Aku berdiri dan melangkah mendekati mobil yang
telah terparkir di carpot rumah. Tante Tari keluar dengan
anggun, lalu melambai ke arahku. “Hai Hujan, beberapa
barangnya Matcha ketinggalan, jadi aku bawain ke sini.” Tante
Tari terlihat sibuk, meraih beberapa tas kecil dan sebuah
boneka kesayangan Matcha dari dalam mobil. Pak Tano segera
mengambil alih dan membawanya ke dalam, lalu Tante Tari
mendekatiku.
“Wow lagi gardening ya?”
“Iya hehe, pake benih yang Matcha kasih ke aku,”
“Nah iya ditanam, lagian si Papa halamannya gede tapi
kosong banget.”
Tante Tari berjongkok dan melihat-lihat hasil karyaku,
beberapa pot bunga disentuh dan sesekali Tante Tari berpindah
ke tumbuhan yang lain. Kakiku melangkah mendekati, ikut
berjongkok di sampingnya.
“Ini bunga matahari, Kak. Yang ini tomat. Yang bunga
matahari jangan dikasih sinar matahari secara langsung, taro di
deket teras aja,”
“Uhm oke,”
“Kalau bunga matahari itu tumbuh mengikuti arah
matahari, makanya disebut bunga matahari.”
Aku menatap wajah Tante Tari dari samping dan tak
henti-hentinya mengagumi kecantikan wanita ini. “Mama
cantik banget. Aku paham kenapa Papa bisa secinta itu sama
Mama.” Kalimat itu hanya berani aku suarakan di dalam hati
karena aku masih tau diri untuk tidak menyebutnya dengan
sebutan Mama.
Aku bukan anaknya.
Aku tidak terlahir dari rahimnya.
Dan aku tidak pantas memanggil Tante Mentari
dengan panggilan suci itu.
“Papa sama Matcha kemana? Kok nggak ada suaranya
si Matcha?” Tante Tari bertanya padaku.
“Tadi pagi pergi, katanya sih mau jalan-jalan,”
“Kok Kak Ann nggak ikut?”
“Nggak apa-apa hehe, mau leha-leha aja di rumah.”
Tante Tari tertawa lalu berdiri, membuatku ikut berdiri
dan membuntutinya yang kini duduk di teras depan. “Tadi udah
sarapan belum, Kak?” dia bertanya lagi.
“Udah, Mbok Iyun masak bakso malang,”
“Wah enak tuh,” celetuknya
“Lebih enak masakan Tante,” kataku pelan.
Tante Tari menoleh padaku, dia tersenyum kecil.
“Kakak mau dimasakin apa sama aku?” dibandingkan
menyebut dirinya sendiri dengan sebutan Tante, Tante Tari
memang selalu menggunkan aku-kamu jika padakku. Katanya
agar tidak canggung dan terasa lebih akrab.
Padahal mau seakrab apapun kami, tetap ada tembok
tak kasat mata diantara kita.
“Tante mau masakin?”
“Mau, makanya nawarin.”
Aku senang bukan main hingga tak sadar senyumku
terukir sangat lebar. “Apa aja, tetep aku makan.”
“Oke, nanti aku masakin sesuatu yang spesial buat
kamu.”
“Makasih Tante!’ ucapku senang.
Tante Tari menatapku dengan teduh, tangannya
terusap di pipiku dan senyumnya menghangatkan jiwaku.
Bagaimana caraku memberi tahu pada wanita ini jika aku
sangat menyayanginya? Aku selalu berharap bisa menjadi
putrinya dan membuat Tante Tari bahagia. Tapi ku rasa itu
adalah hal yang mustahil, karena kehadiranku justru menjadi
luka terbesar baginya.
“Tante ….” Panggilku pelan.
“Mm?”
Aku berpikir sejenak untuk meyakinkan diriku, ada
sebuah kalimat yang sudah ku pikirkan matang-matang sejak
kemarin dan aku ingin Tante Tari mendengarnya. Ku hirup
udara untuk mengisi rongga dadaku yang terasa sesak, lalu
berkata.
“Tante ayo pulang ke rumah, pulang ke Papa. Hujan
nggak apa-apa kalo harus tinggal di panti asuhan dan sekolah
di tempat yang jauh dari sini.”
“Ann-“
“Papa kesakitan, Matcha juga kesakitan, dan aku tau
Tante sama sakitnya. Semua ini salah aku yang hadir di hidup
kalian. Aku nggak apa-apa, Tante, aku nggak apa kalo harus
tinggal di panti asalkan kalian bisa sama-sama lagi.”
Aku tidak bisa menahannya, air mata itu leleh di pipiku
dengan begitu saja. Tante Tari menatapku dengan sedih, dia
menggeleng dan menyeka tiap tangisanku dengan tangan
lembutnya.
“Aku yang salah, aku minta maaf. Tapi Hujan mohon
sama Tante, ayo pulang ke Papa dan Hujan janji Hujan akan
pergi.”
Tante Tari berdiri lalu memelukku. Kala itu tangisanku
pecah di dekapannya. Aku selalu menginginkan ini, tapi kenapa
saat Tante Tari memelukku rasanya begitu sakit. Ini terasa
seperti ribuan tombak menghunusku hingga membuat aku
berpikir, jika aku saja merasa sesakit ini lantas bagaimana
dengan perasaan Tante Tari. Bukankah mendekapku sama saja
menusukkan pisau ke dadanya sendiri
“Hujan harus tau, kalau aku sama Papa kamu berpisah
bukan karena kamu. Hujan nggak pernah jadi perusak bagi
keluarga ini, kamu harus tau kalau kamu adalah hadiah dari
Tuhan yang dititipkan pada Papa,”
“N-nggak hiks karena aku kalian pisah, aku mohon
Tante, kasian Papa … Papa selalu rindu sama Tante.”
Aku bisa merasakan usapan penuh kasih sayang di atas
kepalaku. Nggak, jangan berikan aku cinta. Kamu akan terluka
semakin jauh.
“Kamu bukan alasan kami berpisah, Ann. Kami rusak
karena ego kami masing-masing. Bertahan hanya membuat
kami semakin menyakiti satu sama lain dan berpisah adalah
piihan paling bijak. Kamu benar, kita mungkin sakit karena
udah nggak bersama lagi, tapi sakit itu nggak seberapa
dibandingkan saat kita bersama tapi terus saling menyakit,”
“Papamu dan aku punya bahagia masing-masing.
Tidak selamanya bahagia adalah bersama, Ann.”
Wajahku ditangkup ke atas hingga membuat mata
kami bertemu. Dia tersenyum teduh padaku, “Kamu nggak
pernah jadi perusak hubungan aku sama Papamu. Tumbuh
dengan baik ya, sayang. Hidup dengan bahagia dan buat Papa
bangga. Nanti saat Hujan udah jauh lebih dewasa dan bisa
memahami semuanya, Hujan akan tau kalau semua yang terjadi
di masa lalu adalah takdir terbaik yang Tuhan beri untuk kita.”
Dan sejak itu aku paham, jika Papa dan Tante Tari
memang tidak akan bisa bersama lagi. Mereka tidak akan
pernah kembali, mereka hanya akan hidup berdampingan untuk
memberikan seluruh cinta mereka untuk Pelangi. Tidak peduli
dengan luka dan perih yang mereka rasa, mengabaikan segala
tangisa rindu di malam-malam yang dingin. Mereka memilih
untuk tidak pernah kembali bersama lagi.
Mungkin benar, jika bahagia tidak selalu bersama.
Tapi aku tetap akan selalu berharap, jika suatu hari kami akan
bahagia bersama.
2 tahun kemudian.
Garis Cakrawala

Kenaikan kelas membuat aku harus berpisah dengan kawan-


kawan yang selama 2 tahun terakhir selalu berada di kelas yang
sama denganku. Pak kepala sekolah memberi kebijakan untuk
siswa kelas 12 yaitu pembagian kelas berdasarkan prestasi para
siswa. Sekarang aku sedang sibuk mencari-cari namaku di
daftar siswa yang tertempel di depan pintu tiap ruang kelas.
“Ann! Ini nama lo ada di sini. Yaaah kita pisah deh.”
Aluna, sahabatku sejak kecil berseru sembari menunjuk ruang
kelas 12 IPA 1. Aku berteman dengannya sejak kami masih
balita, Aluna adalah anak dari Om Renzi dan Tante Bulan,
sahabat Papa yang selalu ada untuk Papa. Kami begitu akrab
karena Aluna adalah satu-satunya kawan yang bisa mengerti
segala lukaku. Aku mendekatinya dan mengecek namaku di
dinding, rupanya benar.
“Lo IPA 2 kan? Yaudah deh nggak apa, masih
sebelahan kelasnya,”
“Iya sih … Nanti kalo istirahat saling samper ya,”
“Okeee.”
Kami berpisah setelahnya, Aluna masuk ke ruang kelas
IPA 2 dan akupun masuk ke kelasku. Setauku, IPA 1 adalah
kelas khusus siswa berprestasi yang dicampur dengan
kumpulan para atlet yang selalu memenangkan medali untuk
sekolah sedangkan IPA 2 berisi siswa berprestasi akademik
saja. Pertama kali masuk aku menyadari jika tidak ada siswa
yang ku kenal, ini memang salahku yang tidak memiliki banyak
teman di kelas yang berbeda denganku saat aku kelas 10 dan
11.
Aku memilih duduk di bagian pinggir, meja ke 3 paling
pojok sebelah kiri. Kelas ini belum terisi penuh dan bisa ku
katakan masih sepi, mungkin siswa lainnya masih sibuk
mencari nama mereka masing-masing di setiap kelas.
“Kaga ege itu mah dianya aja yang bego,”
“Ih iya anjing lu mah nggak liat, kan gue ada di situ
kemarin.”
“Ya tapi kaga sampe jatuh anjir, orang anaknya aja
tadi bisa loncat-loncat,”
“Mending lo liat sono,”
“Bodo amat dah gua nggak peduli juga,”
“Dih anjir jahat, gitu-gitu dia tun-“
“Duduk situ aja dah yok!”
Bruk!
Aku terkejut saat mendengar suara tas yang dilempar
ke meja di belakangku, ku tatap sekilas dua siswa laki-laki
bertubuh tinggi melalui sudut mataku. Dari penampilan
mereka, aku bisa mengetahui jika mereka pasti atlet sekolah.
Satu laki-laki itu menggunakan hoodie hitam polos, rambutnya
sedikit gondrong dan mentupi keningnya, sedangkan yang
satunya jauh lebih rapi dengan rambut cepak seperti habis
dicukur. Si hoodie hitam melepas hoodienya, lalu duduk
bersandar di tembok dan meraih ponselnya. Kaki anak itu naik
satu ke atas kursi membuatku mendengkus dalam hati, nggak
sopan.
Si rambut cepak mengikuti kawannya, mulai
bergabung memainkan game di handphone mereka. Aku
menyesal karena memilih meja ini sebab mereka mulai bermain
dengan begitu berisik. Suara mereka terdengar heboh
bersahutan dengan suara peperangan dari game di ponselnya.
“Cak lo demo eskul mau pamer abs, Cak?”
“Pamer abs mata lo katarak! Sembarangan kalo
ngoceh,”
“Yeee maksud gue lo pake sleeveless apa daleman lagi
di jerseynya?”
“Pake daleman lah anjir, ngaco lu! Mau ditarik sama
wakasek?”
“Ya kali aja hahaha, soalnya gua mau caper pake
sleeveless,”
“Emang elo aja yang sok kecakepan banget.”
Aku tidak sadar jika sedari tadi aku menatap mereka
berdua dari ekor mataku, hingga akhirnya aku terkejut dan
salah tingkah saat laki-laki yang dipanggil Cak itu melirik ke
arahku membuat bola mata kami bertemu beberapa detik.
Buru-buru ku alihkan pandanganku ke arah lain. Astaga, malu
sekali kepergok memperhatikan dan menguping seperti itu, ku
rasa lebih baik aku pergi dari sini dan menghampiri Aluna saja.
Aku berdiri dan berlari kecil menuju pintu, tanpa sadar
pipiku bersemu merah hanya karena mata kami yang tidak
sengaja bertubrukan barusan.
Dan Cacak, ternyata butuh waktu selama ini untuk bisa
bertemu denganmu lagi.
Namanya Jarguan Cakrawala. Dia adalah orang yang
sama dengan siswa yang membawaku masuk lewat pintu
belakang sekolah beberapa tahun lalu. Jangan mengira setelah
pertemuan pertama kami itu aku tidak mencari tahu tentangnya.
Karena aku melakukannya. Beberapa informasi tentang dia
yang ku ketahui adalah dia yang merupakan kapten basket
kebanggaan sekolah dimana timnya selalu menyumbangkan
piala dan medali untuk sekolah kami. Aku sering melihat
fotonya terpampang di majalah dinding, entah karena
prestasinya di dalam olahraga atau prestasinya di bidang
akademik. Aku tak heran jika dia sekarang berada di kelas yang
sama denganku mengingat dia nyatanya jauh lebih pintar
dariku.
Cakrawala adalah most wanted di sekolahku dan ku
yakin seantero sekolah mengenal dia. Saat hari valentine tiba,
aku selalu mendapati lorong loker sekolah kami penuh dengan
para siswa yang menempelkan bunga atau menaruh cokelat di
loker milik Cakra. Semua orang menyukai dia karena dia
tampan, aku mengakui ketampanan laki-laki itu. Tubuhnya
tinggi dan tegap ditambah otot-otot ringan yang mulai terlihat
di lengan dan bahunya, apalagi rambutnya yang sedikit
gondrong dan selalu terlihat acak-acakan ketika dia selesai
berlatih basket di lapangan membuat aku memaklumi jika
banyak siswi menggandrungi seorang Jarguan Cakrawala.
Termasuk aku, yang sejak pertemuan pertama kami kala itu
tidak bisa mengenyahkan dia dari pikiranku.
***
Nagara Satu memiliki seluruh jenjang pendidikan dari TK-
SMA, jadi dipastikan jika Matcha juga mengenyam pendidikan
di tempat yang sama denganku. Matcha sekarang duduk di
bangku kelas 10 jurusan IPA dan dia menjadi siswa yang sangat
pintar. Tidak perlu heran karena Tante Tari benar-benar
memberikan pendidikan yang sempurna untuk putri
kandungnya. Berada di satu sekolah yang sama dengan Matcha
adalah hal menguntungkan bagiku sebab terkadang Tante Tari
menjemput Matcha menggunakan mobilnya dan disitulah
Tante Tari akan mengajakku pulang bersama, mengantarkan
aku ke rumah dan terkadang kami akan makan malam bersama.
Tapi sepertinya tidak untuk hari ini, sepulang sekolah
ketika aku berdiri di loby utama aku bisa meihat mobil SUV
milik Papa terparkir di area penjemputan. Aku tersenyum
senang, yes! Papa yang jemput. Dengan riang aku melangkah
ke arah mobil lalu cepat-cepat membuka pintu penumpang.
Tapi aku justru terkejut karena ketika aku membuka pintu
mobil, ada Tante Tari duduk di sana dan tersenyum.
“Hai, sayang, duduk di belakang sama Matcha ya,
Kak.”
Aku tersenyum kikuk, “Oh iya oke oke!” seruku dan
naik ke ke mobil dari pintu belakang.
“Hari ini kita makan siang bareng ya, nanti ada
temennya Mama juga.” Aku selalu senang ketika mendengar
Tante Tari menyebut dirinya sendiri dengan kata Mama, aku
bisa mendengar itu hanya sewaktu-waktu saja, misalnya saat
Tante Tari berbicara padaku dan Matcha sekaligus.
Sore itu mobil Papa mulai berjalan dengan suasana
yang hangat. Ku dengar Papa dan Tante Tari berbincang
dengan begitu santainya dan diam-diam aku menguping karena
aku selalu senang saat melihat interaksi mereka. Tatapan Papa
sesekali berpindah dari jalanan kepada Tante Tari. Aku bisa
merasakan betapa teduhnya saat kedua mata mereka bertemu.
Entah sampai kapan aku akan selalu merasa bersalah pada
mereka, entah sampai kapan aku akan menyalahkan diriku
sendiri karena membuat mereka berpisah. Aku selalu
merasakan sakit saat melihat Tante Tari dan Papa yang terlihat
begitu damai seperti ini. Dan sekalipun Papa atau Tante Tari
pernah berkata padaku jika aku bukanlah alasan mereka
berpisah, rasa penyesalan dalam diriku teus menghantui.
Entah sampai kapan. Perasaan ini perlahan
membunuhku.
***
Kami sampai di sebuah restoran keluarga yang tidak jauh dari
sekolahku. Aku dan Matcha melangkah bersisian di belakang
kedua orang tua kami. Sebuah privat room terbuka, sang
pelayan mengijinkan kami masuk ke dalam. Napasku tertahan
saat sadar jika ada sosok lain di dalam ruangan itu yang sudah
menunggu sejak tadi dan Tante Tari mulai menyapa mereka.
“Halo apa kabar?” pria yang ku tebak berusia seumur
Papa menyapa kedua orang tuaku, dia tersenyum hangat.
“Hai Kak Daren, kabarku baik. Ini anak-anakku, ini
Pelangi dan ini Hujan. Kalo sama Pelangi udah pernah ketemu
kan, Kak?”
“Sama Kak Ann juga dulu sering ketemu.” Balasnya
ramah.
Aku tidak fokus karena ucapan Tante Tari yang
mempernalkanku sebagai anaknya. Gemuruh di dadaku
bercampur dengan gemuruh salah tingkah karena mataku
menangkap sebuah dua mata tajam yang juga sedang menatap
diriku. Di belakang tubuh pria dewasa itu, ada Cakrawala.
“Salam dulu nak sama Om Daren.”
Perintah Papa aku iyakan, ku salami laki-laki itu dan
tersenyum malu-malu. Setelah Papa dan Tante Tari
berbincang-bincang sebentar, kami kini duduk di meja bundar
dalam private room itu.
“Pelangi udah kenal kan sama kak Cakra?” Tante Tari
membuka percakapan dan aku diam memperhatikan.
“Udah kenal, Ma. Waktu itu juga kak Cacak anterin
Matcha pulang.” Aku baru sadar jika Matcha sedari tadi hanya
diam, dia baru bersuara saat ditanya.
Dan apa tadi katanya, pulang bersama? Oh? Sedekat
itu kah?
“Untuk sekarang bisa berteman dulu ya, saling
mengenal dan menjadi akrab. Nanti kalau Pelangi udah lulus
dan Cakra juga udah lulus baru kita rundingkan lagi soal
perjodohan itu.”
Ucapan Tante Tari membuatku termenung.
Perjodohan? Jadi Cakra dan Pelangi dijodohkan? Haha, sudah
sejauh itu mengapa aku tidak tau apapun tentang ini? Bahkan
Papa pun terlihat setuju dan begitu santai.
“Jangan terlalu dipikirkan ya, belajar aja yang fokus.
Nanti kalau udah dewasa baru kalian paham harus apa.”
Aku menunduk dan memilih untuk tidak ikut campur.
Posisiku di sini yang bukan siapa-siapa membuatku tidak
berhak marah karena situasi ini. Aku sadar dan tak heran karena
mereka tidak memberitahukan hal ini padaku. Dan juga,
mungkin mulai sekarang aku harus menyingkirkan seluruh
perasaanku untuk Cakra, semakin awal akan semakin mudah,
kan? Aku tidak boleh terlarut dalam rasa semuku ini. Cakra
milik Pelangi dan aku harus sadar posisiku.
Laki-laki Selain Papa

“Pagi, Pa.”
Aku rasa aku mengejutkan Papa yang sedang
menikmati kopinya di teras belakang siang ini. Ayahku itu
berjengit kecil saat aku memeluknya dari belakang. “Kak, Papa
kaget loh.” Katanya.
“Ya lagian Papa ngelamun aja sih.” Aku bergulir ke
samping agar bisa berdiri di sisi Papa. Di hadapan kami hujan
turun dengan deras membuatku teringat kenangan saat aku
kecil dulu. Aku dan Papa terbiasa bermain hujan sejak aku
masih balita, menari-nari di antara rintik air dari langit hingga
keesokan harinya aku pilek.
“Kenapa? Mau hujan-hujanan?” tanya Papa dengan
kekehan saat menyadari jika aku terlalu fokus menatap ke
depan.
“Nggak, besok aku sekolah nanti aku pilek.” Meskipun
hujan memang tidak selalu membuatku sakit.
Aku merasa Papa merangkul bahuku, tubuh mungilku
didekap oleh Papa hingga dinginnya cuaca pagi ini terganti
dengan rasa hangat. “Kamu kok udah besar aja ya, Kak?
Perasaan baru kemarin Papa beliin kamu sepeda roda tiga.”
Ucapan Papa membuat aku tertawa, iyakah? Waktu berlalu
secepat itu ya?
“Sebentar lagi Kakak kuliah, pasti nanti punya pacar.
Papa sendirian deh di rumah,”
“Nggak mau pacaran,”
“Ah belum saja kamu bertemu laki-laki yang bikin
kamu salah tingkah,”
“Ih beneran, Ann nggak mau kuliah di luar kota dan
nggak mau pacaran. Mau di Jakarta aja biar nggak usah ngekos
dan tetep sama Papa di sini,”
“Lho jangan dong, kamu harus terbang seperti burung
merpati, raih cita-citamu yang tinggi, Nak. Tapi jangan lupa
untuk pulang.”
Aku menggeleng, “Kakak mau kuliah di sini, nggak
mau jauh dari Papa.” Karena bagaimana bisa aku
meninggalkan Papa seorang diri di masa tuanya jika selama ini
Papa pun tak pernah meninggalkan aku.
“Kak, kelak kamu akan bertemu dengan laki-laki baik
yang mencintai kamu. Kamu akan menjadi milik laki-laki itu,
sudah sewajarnya seorang anak meninggalkan orang tuanya,
jadi jangan merasa bersalah atau takut. Papa akan tetap di sini
melihat kamu bahagia dengan-“
“Kenapa sih ngomongin ini? Nggak mau, pokoknya
Ann mau sama Papa. Nggak ada laki-laki selain Papa, nggak
mau.”
Aku menggeleng dan memeluk erat-erat tubuh Papa.
Ku dengar Papa tertawa kecil dan membalas dekapanku. Papa
rela meninggalkan seisi dunia demi aku, maka mana mungkin
aku tega meninggalkan Papa untuk orang lain. Aku ingin selalu
bersama Papa, ada atau tidak ada laki-laki selain Papa. Aku
akan tetap bersama Papa.
“Kalau nanti Kakak punya pacar, cari yang baik ya
Nak. Cari yang selalu menghormati perempuan dan bisa
menjaga kamu. Jangan mau sama laki-laki pemabuk dan suka
pergi ke kelab malam, jangan mau sama laki-laki yang kaya
Papa,”
Aku menggeleng kecil. “Maunya yang kaya Papa.”
Tapi Papa justru tertawa dan tak berkata apa-apa lagi
setelahnya.
Aku ingin dicintai oleh laki-laki seperti Papa
mencinttai Tante Tari. Tidak terlihat namun ada.
“Papa sayang sekali sama kamu, nak. Jangan pernah
sedih dan merasa bersalah dengan semua yang terjadi ya,
sayang. Kamu putri Papa yang berharga.”
***
Satu minggu sejak acara makan malam bersama Cakra dan
ayahnya yang membahas tentang perjodohan antara Matcha
dan Cakra tidak membuat aku dan laki-laki itu menjadi akrab.
Bahkan sekalipun kami satu kelas dan dia duduk di belakangku
tidak membuat aku menjadi dekat dengannya. Kami masih
orang asing.
Sejak satu minggu itu pula aku dan Matcha menjadi
sering makan siang bersama, entah mengapa tapi Matcha yang
selalu memaksaku agar menemaninya makan di kantin,
padahal aku lebih suka makan siang di halaman belakang
sekolah yang sepi. Sama seperti kemarin, siang ini aku
menikmati makan siang bersama Matcha. Jujur aku terheran-
heran saat melihat Matcha yang selalu disapa atau menyapa
duluan siapapun siswa-siswi yang lewat di depan meja kami.
Dia baru beberapa bulan menjadi siswa kelas 10 di sekolah ini
namun sudah memiliki banyak teman, sangat berbeda
denganku yang hanya memiliki segelintir kawan dan Matcha
duduk di sampingku terlihat seperti social butterfly, aku kagum
melihatnya.
“Jangan duduk di sini … Jangan duduk di sini … Jang-
ugh!”
Aku menoleh saat melihat gerutuan Matcha, ku ikuti
arah pandangnya yang lurus jauh ke depan hingga aku bisa
melihat Cakrawala sedang berjalan ke arah kami. Ah ini juga,
sejak hari pertemuan itu aku menjadi terbiasa melihat Matcha
dan Cakra berinteraksi. Sepertinya Tante Tari dan Om Daren
yang menyuruh mereka untuk mengakrabkan diri.
“Boleh ikut duduk di sini?” Cakra berhenti di depan
meja kami dan langsung duduk di hadapanku bahkan sebelum
kami menjawab. Aku diam dengan ekor mata yang melirik
pada Matcha, bukankah mereka dekat? Mengapa aura mereka
begitu dingin?
“Anyway gue beli ini buat lo, nyokap lo bilang lo suka
fresh milk kan?” Cakra menyodorkan satu kotak susu Ultramilk
berwana biru pada Matcha.
“Thank you, Kak.” Jawab Matcha singkat sembari
meraih susunya.
“Habisin aja dulu makannya, lo minum kapan-kapan
juga nggak masalah,”
“Siap.”
Aku memilih menunduk untuk menatap makananku
yang masih tersisa banyak. Aku tidak ingin ikut campur dalam
urusan mereka, jadi dengan segera aku habiskan makanan di
piringku agar aku bisa pergi dari sini.
“Pelangi, pulang sekolah gue ada latihan basket sampe
malam jadi kita nggak bisa pulang bareng, nanti gue pesenin lo
taxi aja gimana?”
“Eh nggak usah Kak, aku mau pulang sama Archer
kok,”
“Archer siapa?”
“Sahabat aku, jadi kak Cakra nggak perlu repot-repot
anterin aku pulang,”
“Oke good kalo gitu, nanti kabarin gue kalo lo udah di
rumah,”
“Mm iya.”
Makananku habis, cepat-cepat ku tenggak segelas air
dan mengusap bibirku dengan tissue. Ku pikir sekarang sudah
saatnya aku pergi karena aku tidak mau mengganggu mereka
berdua semakin lama.
“Matcha, Kakak ke kelas duluan ya,” aku berdiri
dengan tergesa membuat Matcha menarik tanganku. “Ih Kak
aku belum selesai makan.” Dia menahanku untuk tidak pergi.
Aku menggeleng dan menatap Cakra dengan cepat, “Kan ada
dia, udah ya Kakak duluan, dadah!” buru-buru ku lepas tangan
Matcha dari lenganku hingga aku bisa berlari meninggalkan
kantin. Aku benar-benar tidak mau mengganggu mereka
berdua. Dan aku tidak mau terus merasa cemburu melihat
kedekatan mereka. Cakra selalu seperti itu, menganggapku
seolah tidak ada dan hanya berbicara pada Matcha, tapi
bukankah memang sudah seharusnya seperti itu? Salahku jika
aku merasa cemburu.
Ku langkahkan kakiku ke dalam kelas yang cukup
lenggang. Saat jam istirahat kondisi kelas memang akan sepi
karena murid-murid lebih memilih menghabiskan waktu di
kantin,.
Aku melangkah menuju mejaku, kerutan alisku terukir
saat aku melihat sesuatu di atas meja. Jantungku tanpa sadar
berdebar.
Ada sebuah susu kotak rasa strawberry di sana, dengan
sticky note kuning yang tertempel di atasnya.
“Promo susu beli 1 dapet 2, gue nggak suka susu jadi
buat lo aja. – C”
Perasaanku campur aduk saat menatap sekotak susu
itu. Jadi Cakra memberi susu kepada Matcha dan juga
kepadaku?
Buru-buru ku tepis rasa geer di dalam diriku. “Sadar,
Ann. Dia ngasih kamu karena susunya kebetulan lagi promo
dan dia nggak suka susu..”
Nggak boleh, Ann. Jangan berharap pada sosok yang
tidak pernah bermaksud memberi harap.
***
Bel pulang berbunyi satu jam yang lalu namun aku masih
berada di sekolah, aku belum ingin pulang ke rumah sekalipun
langit sudah begitu kelabu dan desau angin semakin kencang
pertanda hujan akan turun. Aku tak bergeming dari tempatku,
di halaman belakang sekolah sembari menatap langit menanti
awan menumpahkan tangisannya. Aku ingin bermain hujan,
aku ingin menari di bawah rintik dingin yang membahagiakan.
Tes … Tes … Tes …
Aku tersenyum ketika langit mulai menyiram bumi
dengan rintiknya. Dalam waktu singkat rinai itu berubah
menjadi begitu deras hingga membuat tubuhku basah kuyup.
Siapa peduli, sekolah sudah sepi dan aku begitu bahagia dengan
hujan sore ini.
Ku tadahkan kepalaku ke atas membiarkan wajahku
diterpa tetesan hujan yang lebat. Kedua tanganku membuka
dan tanpa sadar aku berputar-putar menikmati gemuruh ini.
Hujan membuatku tenang, hujan membuat seluruh dunia yang
begitu berisik menjadi sunyi. Kini hanya ada aku dan gemuruh
langit beserta sahutan air yang menghantam tanah. Suara-suara
di sekitarku menghilang, hanya ada aku dan hujan.
Aku selalu menyukai hujan, bukan hanya karena
namaku Hujan jadi aku menyukai derainya. Bagiku hujan
bukan hanya tetesan air langit yang jatuh ke bumi, melainkan
lebih indah dari itu. Sebab hujan tidak hanya meninggalkan
genangan, tetapi juga kenangan. Akan selalu ada kenangan
baru yang hadir saat hujan turun. Aku punya banyak memori
indah yang aku miliki tentang hujan, seperti aku dan tarian
konyol bersama Papa, lalu hujan yang bisa menyamarkan
tangisanku, juga hujan yang bisa meredam berisiknya suara isi
kepalaku dan menggantinya dengan gelegar petir yang
menakutkan.
Tanpa sadar sudah cukup lama aku menari-nari di
bawah hujan. Tubuhku yang mengigil tidak membuatku gentar,
aku masih ingin di sini. Aku masih memejamkan mataku dan
menikmati rintiknya. Tapi tiba-tiba aku merasa tidak ada lagi
tetesan yang jatuh ke atas kepalaku. Huh? Apa hujannya sudah
berhenti? Tapi mengapa suara derasnya masih ada?
Aku membuka mata, lalu terkejut saat melihat
seseorang berdiri di depanku dengan payung yang menaungi
kami berdua. Napasku tercekat hingga tubuhku yang menggigil
semakin gemetar. Jarguan Cakrawala, yang sedang menatapku
dengan begitu dalam.
“Lo ngapain hujan-hujanan di sini?” suaranya
bersahutan dengan petir di atas langit. “Nanti lo sakit, Hujan.”
Terselip rasa cemas dari nada suaranya.
Aku menggeleng pelan. “Hujan nggak akan bikin gue
sakit, Cakra.” Ku tepis payung yang ada di atas kepalaku. Aku
ingin diguyur hujan hingga rintiknya mereda dengan
sendirinya, aku tak ingin siapapun menghalangi kesenanganku
dengan hujan.
Ku lihat Cakra masih terus menatapku, hingga pada
akhirnya dia membuang payungnya ke samping dengan begitu
yakin. Aku terkesiap karena tubuhnya yang terbalut jersey
berwarna merah langsung basah dalam hitungan detik. “Lo
ngapain sih?” teriakku padanya.
“Gue mau ikut main hujan sama lo.”
Aku tak bisa menahan gemuruh di dalam relung hatiku
ketika Cakra mengadahkan wajahnya sembari merentangkan
kedua tangannya. Laki-laki dengan wajah serius itu kini
tersenyum teduh. “Ternyata hujan-hujanan enak juga ya, lo
curang karena nikmatin hal seindah ini sendirian.”
Kali ini aku sadar, seratus persen sadar saat
senyumanku mengembang begitu lebar. Ini adalah kali pertama
aku berada di bawah hujan bersama laki-laki selain Papa.
Get Closer

Aku tak pernah menyangka bisa duduk di dalam mobil milik


Cakra dengan jaket hitam miliknya yang tersampir di bahuku,
demi kaus kaki Papa yang sering hilang sebelah, hal ini bahkan
tidak pernah terbayangkan bagiku. Tadi, tepat setelah hujan
berhenti dan aku merasa puas bermain-main air langit bersama
Cakra, laki-laki itu menarik tanganku untuk berteduh. Aku
masi ingat hangatnya genggaman tangan Cakra yang tergesa
membawaku menuju kelas dan tanpa basa-basi dia
menyelimuti tubuh basahku dengan jaket basket miliknya,
membuat nomor punggung Cakra tertulis jelas di punggungku
ketika kami melewati lapangan sekolah, seluruh siswa menatap
ke arahku. “Jangan lo dengerin.” Kata Cakra tadi, dia sadar
banyak bisikan yang tertuju padaku.
Semua itu terasa begitu cepat hingga membuatku tak
sadar kalau aku sudah duduk manis di dalam mobilnya, di
sinilah kami sekarang. Di atas mobil Range Rover milik Cakra
yang melaju menuju rumahku. Sedari tadi kami hanya diam,
aku sibuk meremas tanganku yang dingin sembari sesekali
menatap Cakra dengan ekor mataku.
“Bukannya lo ada latihan basket sampe malam ya?”
Aku tau hal itu karena tadi saat di kantin Cakra berkata
demikian pada Matcha, ingat?
Ku lihat Cakra mengangguk sebelum menjawab. “Iya,
tapi bagi gue ada yang lebih penting dibandingkan latihan
basket, yaitu memastikan lo pulang dengan selamat.”
Act fool.
Aku benar-benar tidak ingin terlihat bodoh di
hadapannya maka ku alihkan wajahku ke arah jendela. Stop it
now Sherina Hujan, don’t fall in love with someone you can’t
have. Cakra benar-benar bukan milikku.
Jantungku terlalu berisik hingga aku memilih untuk bungkam,
takut jika aku membuka mulut akan ada ucapanku yang salah
hingga membuat semuanya kacau.
Sisa-sisa hujan sore itu masih terasa, dari genangan air
di tengah jalan hingga dinginnya udara yang menembus
kulitku. Aku terpengarah saat mobil Cakra tiba-tiba berhentu di
depan rumahku. Otakku berpikir keras “Sejak kapan dia tau
rumahku?”
“Okay, udah sampe,”
“Lo tau rumah gue?” Ku suarakan rasa ingin tahuku.
Ku lihat Cakra mengangguk. “Bokap gue pernah
nganterin nyokap lo ke sini, dan kebetulan waktu itu gue ikut,”
Jawaban yang cukup masuk akal.
“Makasih udah anterin gue balik,”
“Yup! Sama-sama,”
“Lo … Langsung balik? Atau ke sekolah lagi?”
“Badan gue udah sebasah ini, Ann. Nggak mungkin
gue latihan basket kaya gini,”
“Ah ya, bener juga.” Aku melepas seatbeltku, suasana
begitu canggung hingga aku ingin cepat-cepat turun.
“Ya udah kalo gitu, gue turun.” Ku buka pintu mobil
dengan pelan, kenapa sih aku segugup ini?
“Ann,” panggil Cakra.
“Apa?” Aku benar-benar sudah turun dari mobilnya,
berdiri di sisi pintu yang masih terbuka sembari menatapnya.
“Besok di kelas sering-sering ngobrol sama gue ya.”
Tangan Cakra melambai padaku dan dia tersenyum. Hari itu
aku sadar jika Cakra jauh lebih hangat dibandingkan rintik
hujan yang membasahiku.
Sore setelah mobil Cakra melaju meninggalkan rumah,
aku masuk ke dalam dengan senyum yang tak bisa lagi aku
tahan-tahan. Langkahku penuh bunga hingga tak sadar Papa
berdiri di hadapanku sembari menatap penuh curiga.
“Kenapa senyum-senyum gitu?”
Suara Papa menganggetkanku. “Ih Paaa! Kaget tau
nggak?”
“Kaget apanya sih? Kamunya aja yang nggak sadar
kalo Papa dari tadi di sini, tadi pulang sama siapa?”
“Em, itu sama teman aku,”
“Cowok?”
“Cewek kok!” Jawabku mengeles. Maaf aku
berbohong.
“Terus itu jaket siapa yang kamu pake? Kenapa pula
tubuh kamu basah kuyup, Kak? Habis main hujan ya?”
Ucapan Papa membuatku tersadar. Astaga, jaket Cakra
masih terlampir di bahuku. Mengapa aku bisa tidak menyadari
hal ini? Pun mengapa Cakra tidak meminta jaketnya
dikembalikan?
“Yah, anak gadis Papa lagi jatuh cinta, bahaya ini
bahaya.” Papa menggeleng-geleng dan berlalu dengan dramatis
ke arah dapur. Aku membuntuti Papa sembari mencebik malas,
“Ih enggak! Papa sok tau dehhhh!”
“Siapa yang berani-beraninya ngasih jaket ke anak
Papa hm? Mana suruh sini anaknya,”
“Stop Paaaa! Ini punya temen Kakak, bukan siapa-
siapa,”
“Papa pernah muda, Kak. Jadi Papa tau modus dia,”
Papa berbalik dan memicingkan matanya padaku. “Ayo ngaku,
siapa orangnya hm?”
Aku terdiam dan bergelut dengan pikiranku. Tak
mungkin aku katakan jika pemilik jaket ini adalah Cakra, kan?
Papa pasti tidak akan senang jika mengetahui hal itu, Papa
mungkin akan kecewa padaku.
“Bukan siapa-siapa, Pa! Ah udah deh Kakak mau
mandi, dingin banget! Bye Paaaa nanti kita makan malam
bareng ya.” Aku berlari ke kamarku agar bisa kabur dari
pertanyaan-pertanyaan Papa. Aku cukup tahu diri, aku pernah
merebut laki-laki yang Tante Tari cintai jadi kali ini aku tidak
akan melakukannya lagi. Merebut laki-laki yang sudah
ditakirkan untuk Pelangi, tak akan ku lakukan.
***
Cakra
Jaket gue masih di lo

Aku menahan napasku saat notifiksi di ponsel menampilkan


nama Cakra. Oke tenang, Ann. Dia hanya mengingatkanku
tentang jaketnya, tidak perlu seheboh ini. Aku mencoba
menetralkan detak jantungku sembari berjalan menuju jendela
kamar, ku buka kaca dengan maksud udara malam yang segar
bisa membuatku lebih tenang. Setelah meyakinkan diriku
untuk membalas pesannya, aku mulai mengetikkan jawabanku.

Cakra
Iya, nanti gue cuci dulu
Sip sip
By the way ada PR Fisika
Udah belom?
Udah
Gue belom

Aku nggak nanya? Pikirku. Ku sandarkan tubuhku


pada tembok dan kembali menjawab pesannya.

Cakra
Kenapa belum?
Nggak ngerti
Lo mau nyontek punya gue?
Ajarin aja, nggak mau nyontek
Nanti gue goblok kalo nyontek terus
Nomor berapa yang nggak ngerti?
Semua
Hhh … Yaudah sini gue ajarin
Gue vidcall ya
Gak paham kalo lewat chat

Cakra is calling …

Eh? Astaga astaga astaga! Aku panik bukan main


ketika Cakra tiba-tiba menelponku dengan mode video. Buru-
buru ku tutup jendela dan membenarkan rambutku sembari
berlari kecil ke arah meja belajarku. Hela napas terakhir ku
hembuskan sebelum aku menggeser layar ponselku.
“H-halo?” kataku memulai obrolan,
“Lama amat angkatnya, lagi bangun candi ya lo?”
“Ngarang, mana ada bangun candi,”
“Ya ada aja sih.”
Ku lihat wajah Cakra dari layar ponselku, dia terlihat
sedang ada di kamar, mungkin duduk di pinggir kasur atau
sofa? Entahlah, yang pasti aku bisa melihat tembok dan atap
kamarnya dari belakang tubuh tegap Cakra. Kamar Cakra
berbanding terbalik dengan kamarku yang serba warna putih,
aura gelap begitu terasa karena cat tembok dan tirai berwarna
abu-abu, ditambah lampu kamarnya yang remang dan
berwarna kuning hangat.
“Mana yang nggak ngerti? Nomor berapa?” Aku
membuka buku catatanku, mengamati soal-soal yang sudah ku
selesaikan sejak kemarin.
“Nomor satu, kayanya gue salah masukin rumus deh?
Masa jawabannya nggak ada di opsi,”
“Nomor satu ini lo cari dulu perpindahannya, rumus
perpindahan masa lo nggak tau? W dibagi F,”
“Lah emang gitu? Oooh pantesan aja gue salah,
soalnya tadi gue masukin rumusnya usaha + gaya + jarak.”
Aku menaikan alisku kebingungan. “Hah apa sih?
Mana ada rumus kaya gitu,”
“Ada, Ann. Coba lo tulis dulu.”
Aku menuliskan rumus yang dimaksud oleh Cakra.
W + F + S. “Apa sih Cak? Mana ada W+F+S, nggak usah ngaco
deh,”
“Coba lo urai satuannya,”
“Hah? Nggak nggak, lo makin ngaco. Udah buruan
kerjain pake rumus dari gue,”
“Lo liat dulu satuannya.”
Apa yang harus aku lihat sih? “Kilogram, newton,
sama meter? Gimana sih?”
“Kilogram, newton, kilometer,”
“Cak nggak usah ngarang sendiri, bukan itu
rumusnya,”
“Ah udahlah fail fail! Gagal asuuuu! Cecep goblok
nggak lagi-lagi gue dengerin saran dia. Malu banget anjir
udahlah gue matiin aja telponnya. Bye Ann, goodnight!”
Tut!
Aku menganga tak mengerti saat sambungan terputus.
Ku tatap lagi coretan rumus di atas buku, perasaan tidak ada
yang salah dari rumusku, ini adalah rumus yang benar dan aku
berhasil menemukan jawabannya. Yang ngaco adalah rumus
dari Cakra, mana ada rumus seperti itu.
“Dia belajar fisika dari mana sih? Sejak kapan ada
rumus ini? Terus, kenapa tiba-tiba jadi kilogram, newton dan
kilome-“ Aku terdiam beberapa saat ketika tersadar dengan apa
yang sedang aku katakan. Ku raih pulpenku dan menuliskan
apa yang Cakra bilang tadi.
Kilogram, Newton, Kilometer.
Kg, N, Km.
Pipiku memerah tanpa bisa ku cegah. Pulpen di
tanganku terlempar dengan gemas. Oh, jadi gombal ceritanya?
“Gombalan lo jelek, Cakrawala. Fisika lo juga harus
remedial dulu baru bisa gombalin gue pake rumus yang lebih
masuk akal.”
Malam itu aku tidak bisa tidur, pipiku tak berhenti
merona dan tiba-tiba aku merindukan sekolah, ah kenapa sih
besok harus hari minggu? Kenapa harus ada hari libur? Aku
ingin hari senin segera datang, agar aku bisa bertemu
dengannya.
Sadar Diri

Pagi ketika aku turun dari mobil yang Pak Tono kendarai, aku
melihat Pelangi yang juga baru turun dari sebuah mobil Range
Rover berwarna putih. Tanpa melihat plat nomornya pun aku
tahu itu mobil siapa. Mobil Cakrawala. Dari tempatku berdiri
aku bisa melihat Cakra yang ikut keluar dari mobilnya dan
berujung melangkah bersama dengan Matcha ke dalam
sekolah. Sepertinya mereka tidak sadar dengan kehadiranku
hingga terlihat begitu asyik berbincang tanpa kecanggungan.
Pemandangan pagi ini membuatku tersadar jika tak seharusnya
malam itu aku terjaga karena memikirkan Cakra, sudah berkali-
kali aku memperingati diriku sendiri untuk menghentikan rasa
yang mulai tumbuh untuk pemilik nama Jarguan Cakrawala itu.
“Lo harus sadar, Ann. Jangan rebut apa yang udah jadi
milik Matcha.”
Dan jangan sampai Tante Tari semakin membenciku
karena ini. Aku tidak mau hal itu terjadi, aku tidak ingin orang
yang selalu aku harap bisa menyayangiku justru menatapku
penuh dendam. Maka itu berhentilah Sherina Hujan.
***
“Ikat pinggang Kakak buat aku pleaseeee! Kalo aku kena point
nanti Mama harus ke sekolah lagi.”
10 menit sebelum upacara bendera Matcha mendatangi
kelasku, adikku ini merengek karena dia lupa membawa ikat
pinggang dan berharap aku bisa menyerahkan milikku
padanya. Sembari menggerutu aku mulai melepaskan ikat
pinggangku, “Kenapa lupa sih? Kebiasaan banget.” Meskipun
dengan dengkusan kesal aku memilih untuk tetap
menyerahkannya pada Matcha.
“Soalnya tadi malam Mama nggak pulang, jadi tadi
pagi aku kesiangan dan lupa nyari ikat pinggang,”
“Mama kemana? Kenapa nggak pulang?”
“Pergi sama Om Asa. Dah selesai,” Matcha terenyum
lebar setelah memakai ikat pinggang milikku. “Makasih ya
Kak! I love yoouuuuu.” Anak itu berlari menuju lapangan,
membuatku masih berdiri di depan pintu kelas. Pikiranku kini
melayang pada Tante Tari yang katanya tadi malam tidak
pulang ke rumah. Aku tau siapa Om Asa itu, kekasih Tante Tari
sejak satu tahun terakhir. Rasa sedih itu menusuk diriku lagi,
aku takut … Aku takut Papa dan Tante Tari sudah benar-benar
tidak memiliki kesempatan.
“Upacara akan segera dimulai.”
Suara mic dari lapangan membuat lamunanku buyar.
Bahuku turun ke bawah dengan lesu, lagi-lagi aku harus
mengalah pada Matcha dengan membiarkannya memakai ikat
pinggangku, membuatnya terbebas dari hukuman, namun
berakhir dengan aku yang dihukum untuk berbaris di depan
lapangan. Ku serahkan diriku dengan suka rela pada anggota
OSIS, mereka membawaku ke depan hingga aku menjadi satu-
satunya yang berdiri di sana sendirian.
Malu, semua mata menatapku. Bahuku terasa berat
hingga aku memilih untuk menundukan wajahku. Aku selalu
terbiasa seperti ini, mengalah pada Matcha sebab rasa
bersalahku yang tumbuh seiring hari-hariku. Di dadaku selalu
tertanam penyesalan itu hingga membuatku selalu takut untuk
menolak. Aku merebut ayahnya, aku menghancurkan
rumahnya. Setidaknya dengan selalu mengalah pada Matcha
bisa membuatku hidup sebagai sosok yang tahu diri.
Bermenit-menit berlalu dan upacara mulai dimulai.
Suasana lapangan pagi ini begitu khusyuk dan tenang, semua
siswa fokus pada pengibaran sang saka merah putih. Aku masih
berdiri seorang diri di hadapan semua siswa, kenapa semua
murid menjadi begitu taat hari ini? Tidak ada siswa yang
melanggar lagi kah? Aku semakin menunduk dan tidak berani
menatap ke depan.
“Eh liat itu liat.”
“Hah Kak Cakra?”
“Aaaa tau gitu tadi gue nggak pake sabuk aja.”
“Anjir apa rasanya berdiri di samping Cakra?”
Aku merasakan suasana yang tadinya khidmat berubah
menjadi ramai, hingar bingar terdengar dari bisikan-bisikan
siswa di lapangan. Ku angkat wajahku untuk menatap ke
depan, penasaran apa yang membuat mereka menjadi begitu
berisik.
“Mau permen karet nggak? Gue ada nih di
kantung.”
Leherku nyaris patah rasanya, bisikan tiba-tiba dari
samping membuat aku menoleh begitu cepat dan menahan
pekikan terkejut dari bibirku. Astaga, sejak kapan laki-laki ini
ada di sini? “Lo ngapain di sini?” Aku tak bisa menahan rasa
penasaranku, lagi pula tadi aku sendiri. Kenapa jadi ada dia.
“Gue nggak pake kaus kaki.” Jawab dia sembari
menunjuk kakinya dengan dagu.
Aku menatapnya sekilas, kemudian membawa
pandanganku kembali ke depan. Ish, kenapa aku hanya berdua
dengan Cakra sih? Berdiri di depan ratusan siswa bersamanya
benar-benar membuat aku salah tingkah juga sedikit khawatir,
bagaimana jika Matcha melihat kami?
“Nanti kita dihukum bareng, gue males. Kabur aja
yuk?” Cakra berbisik sembari mencondongkan tubuhnya
padaku. “PR fisika yang kemarin jadinya gimana? Gue nyontek
dong.” Aku tak menghiraukannya, memilih ikut bernanyi saat
mengheningkan cipta dimulai.
“Ann, mau-“
“Diam Cakrawala, lo nggak liat seluruh orang natap
kita?” Aku menghentikan nyanyianku dan menoleh padanya,
ku tatap mata elang millik sosok tinggi di hadapanku ini dengan
tajam. Cakrawala membalas tatapanku, sudut bibirnya
terangkat ketika dia menyeringai. Laki-laki itu menggeleng
kecil, lalu berbisik. “Nggak liat, you’re my only focus.
Sherina.”
Kakiku seolah berubah menjadi jeli dan sialnya Cakra
tertawa karena pipiku yang kini berubah menjadi merah seperti
tomat busuk.
“You’re pretty, Ann. Wajar kalo semua orang natap lo.
They envy on you.”
Nggak boleh. Jangan termakan ucapan manisnya, Ann.
Cakra mungkin berkata seperti itu juga pada Matcha.
***
“Kakak tadi dihukum bareng sama Kak Cakra ya?” Pertanyaan
Matcha aku jawab dengan gelengan. Alis adikku berkerut.
“Kan tadi kalian di barisan depan pas upacara?” dia bertanya
lagi dengan begitu penasaran.
Suasana kantin siang ini tidak terlalu ramai. Aku
kembali makan siang bersama Matcha, “Nggak, tadi kelas aku
ada ujian dan wakasek izinkan aku sama Cakra untuk lepas dari
hukumannya,”
“Loh curang!” sungut Matcha.
“Nggak curang, emang kalo anak kelas awal
privilegenya gitu. Makanya pintar!”
Aku tertawa karena ucapan Archer, kali ini aku tidak
hanya berdua dengan Matcha namun juga bersama seorang
anak laki-laki, dia adalah anak kedua dari Om Renzi, adiknya
Aluna. Archerion Arthama. Archer bersahabat baik dengan
Matcha karena sejak SD mereka selalu bersekolah di tempat
yang sama. Ku pikir awalnya Tante Tari akan menjodohkan
Matcha dengan Archer, namun ternyata Matcha justru
bersama Cakra.
“Nggak gitu, tapi anak-anak di kelas awal emang
jarang melanggar aturan makanya kalo sekali melanggar masih
diberi keringanan,” kataku menjelaskan.
“Tau wooo! Makanya lo jangan bolot, segala lupa
bawa ikat pinggang dan bikin Kak Ann dihukum,”
“Ya maaf! Aku udah 2 kali kena sama OSIS, kalo
sekali lagi ketauan pasti Mama dipanggil ke sekolah. Bisa
diomelin lagi deh,”
“Lain kali kalo lo nggak bawa ikat pinggang, dasi atau
topi, pinjem ke gue aja. Jangan nyusahin kakak lo lagi.”
Aku tersenyum kecil melihat interaksi Archer dan
Matcha, mereka begitu dekat dan Archer sangat peduli pada
Matcha.
“Omong-omong ya Kak, pulang sekolah aku mau main
sama Archer, Kak Ann gantiin aku pergi sama Kak Cakra ya?”
Matcha tiba-tiba berkata.
“Hah? Nggak mau,”
“Ih ayolah Kak! Kasian nih Arch dari kemarin mau
main sama aku tapi akunya sibuk terus. Ya ya ya ya Kakkk?
Please?”
Aku menatap Archer yang juga menatapku, anak itu
merengek tanpa suara padaku. “Please?”
Aku menghela napas berat. Bagaimana caranya aku
menjauhi Cakra jika Matcha justru membuatku dekat padanya.
***
Aku benar-benar ingin pulang. Tidak, ini bukan karena aku
bosan dan ingin cepat-cepat merebahkan diri di kasurku, tapi
ini semua karena aku tidak sanggup saat harus berdekatan
seperti ini dengan Cakra.
“Kenapa sih diem aja? Capek nemenin gue nyari
sepatu?” Cakra bersuara setelah cukup lama kami berada di
toko sepatu ini. Posisiku yang duduk di kursi tunggu membuat
laki-laki itu harus menunduk ketika berbicara denganku.
“Nggak, bukan gitu. Tapi dari tadi lo nggak nyari
sepatu, lo cuma bengong sambil liatin … gue.” Suaraku
mengecil di akhir, malu saat aku menyadari baru saja
keceplosan berkata seperti itu. Apa sih, Ann? Kenapa percaya
diri sekali mengira Cakra menatap ke arahku? Bisa saja dia
menatap ke arah lain, atau jejeran septu di belakangku, kan?
Ku lihat laki-laki itu tertawa kecil. “Iya bener, gue
nggak nyari sepatu tapi liatin lo. Suruh siapa cantik.”
Aku benar-benar mau pulang, semua gombalan murah
dari seorang Jarguan Cakrawala benar-benar tidak cocok
untukku. Cringe. Uhm, dan sedikit membuatku tersipu. Sst
diam! Jangan katakan padanya!
“Ukuran sepatu lo berapa?”
Aku menyugar rambutku ke belakang, kenapa justru
bertanya ukuranku?
“Gue nggak mau beli sepatu, jadi mending lo pilih
sepatu mana yang lo mau dan bayar, gue mau pulang,”
“Lo sama Pelangi beda banget deh. Eh sorry, nggak
maksud membandingkan, stupid me! Maksud gue, adek lo
meskipun sebel sama gue tapi dia tetep he’eh pas di depan gue,
nggak kaya lo bawaannya komplain mulu.”
Aku membalas ocehan Cakra dengan, “Maksudnya?
Adek gue sebel sama lo?” Bagaimana bisa? Mereka kan akan
bertunangan setelah lulus nanti.
“Iya, adek lo tuh sebeeeel banget sama gue, tapi
anaknya masih asik dan jawab tiap gue ajak ngobrol, nggak
kaya lo yang dari mukanya aja udah keliatan sensi,”
“Kenapa adek gue sebel sama lo?” ku abaikan
ucapannya dan justru bertanya.
“Karena dia nggak suka sama perjodohan ini.”
Aku terdiam, benarkah? Bukankah Matcha menyukai
Cakra?
“Adik lo nggak suka sama gue dan nggak suka
perjodohan ini,”
“Lo tau dari mana kalo Matcha kaya gitu?”
“Dari dia sendiri, dia yang bilang ke gue.” Cakra
meraih sebuah sepatu berwana pink, lalu berjongkok di
depanku, “Lo mau ngapain?” kataku panik saat Cakra menarik
kakiku dan melepas sepatu yang ku gunakan.
“Mau beli sepatu couple, oh ini pas buat lo, oke gue
ambil yang ini.”
Aku tidak mengerti jalan pikirnya. Cakra berdiri dan
mengacak-acak rambutku hingga berantakan. “Besok olahraga,
dipake ya sepatunya, biar anak kelas sadar sepatu kita couple
terus kita dicie-cie-in.” setelah itu dia berlalu, membayar dua
buah sepatu Adidas couple berwarna pink dan abu-abu.
Aku benar-benar menggila di tempatku. Cakrawala,
mungkinkan kamu bisa menjadi milikku?
Hujan Dan Badainya

“Dipake sekarang aja deh sepatunya.” Aku tidak paham


maksud Cakra, setelah dia membelikan sepatu untukku kini dia
membawaku pada sebuah stadion basket di dekat sekolah.
“Turun dong jangan diem aja.” Ucapannya membuat aku mau
tak mau membawa diriku keluar dari mobil Cakra.
“Lo suka olahraga nggak?” tanyanya saat kita berjalan
masuk ke aera stadion itu.
“Suka,” jawabku. Papa selalu mengajakku berolahraga
bersama setiap tiga hari sekali. Terkadang kita berenang,
bermain basket atau bersepeda bersama.
“Bisa main basket?”
Ck, itu adalah kelemahanku. Tubuhku yang pendek
mana pernah berhasil memasukan bola ke ring tinggi itu!
“Nggak bisa,”
“Good, gue ajarin.”
Kami masuk ke dalam stadion yang sepi, benar-benar
hanya ada kita berdua di sini. Aku bahkan bisa merasakan suara
langkah kaki Cakra bersahutan dengan suara langkahku.
“Nih, ganti sepatunya pake ini, terus main sama gue,”
“Lo kok seenaknya aja sih?” decihku ketika Cakra
menyerahkan box sepatu padaku. “Kata siapa gue mau main
basket sama lo di sini?”
Cakra hanya mengangkat bahunya tak acuh, lalu
mengganti sepatunya dengan sepatu abu. “Ayolah main, gue
pastiin lo bisa masukin bola ke dalam ring.”
Laki-laki itu sudah memakai sepatunya, Cakra meraih
bola basket dari pinggir lapangan dan mulai menghentak-
hentak bola itu ke lantai. Aku masih diam mengamati gerakan
lincahnya di depan sana, dia mulai berlari kesana kemari
sembari mendribble bola. Keren, Cakra nggak pernah nggak
keren di mataku.
Aku melirik sepatu di tanganku. Baiklah, kali ini saja aku mau
mengikuti permainannya. Ku lepas sepatu sekolahku dan
memakainya dengan cepat.
“Pink looks good on you.” Suara Cakra menggema di
dalam stadion basket ketika dia menatapku yang sudah berganti
sepatu. Nggak, diem jantung! Jangan terlalu mudah berdetak
hanya karena pujiannya.
“Siniin bolanya gue mau coba,”
“Tangkap dong.” Ledek Cakra lalu berlari dariku
membawa bola merah itu.
Kakiku melangkah ke depan, dari langkah kecil
hingga ku beranikan diri berlari mengejar Cakra. Laki-laki itu
meledekku dengan membawa bola semakin jauh dariku, tapi
aku tidak ingin kalah, ku kejar dan terus berusaha merebut bola
dari tangan Cakra.
“Whoop!”
“Yeay!”
Aku berseru dan memeluk erat-erat bola itu, senang
karena berhasil merebut bola dari Cakra.
“Yaelah jangan dipeluk dong bolanya, pantulin ke
bawah, terus lemparin ke ringnya,”
“Diem deh nggak usah berisik.”
Aku berbalik dan memantulkan bola ke lantai stadion,
ku bawa bola ini menuju ke depan ring. Tiang itu terasa begitu
tinggi bagiku, lemparanku biasanya bahkan tidak membuat
bola menyentuh ujung ring.
“Taro bolanya di depan dada lo, terus didorong ke
depan, nggak usah lo lempar sekuat tenaga.” Intruksi dari
Cakra aku ikuti, taro di depan dada dan lempar.
Bruk!
Bola itu mengudara, namun dengan cepat jatuh bahkan
sebelum mencapai ring. Tuh kan, nggak bisa.
“Tuh kan males, ah udahlah ayo pulang.”
Aku bisa mendengar tawa Cakra bersahutan dengan
dengkusanku. Bola yang menggelinding diraih oleh Cakra dan
dia berjalan kecil ke arahku.
“Hadap depan.” Tubuhku diputar olehnya, aku
kembali berhadapan dengan ring basket ini.
“Gue ajarin.” Dia menyerahkan bolanya padaku.
“Bolanya lo sejajarin sama dagu lo, yep gitu.”
Napasku mendadak hilang ketika Cakra melingkarkan
tangannya dari belakang ke depan tubuhku, kedua tanganku
yang memegang bola digenggam olehnya. Aku bisa merasakan
punggungku bersentuhan dengan dada tegapnya.
“Liat ke atas, nggak perlu susah-susah ngelempar, lo
cukup dorong tangan lo ini ke atas, tapi dorong yang kuat.”
Aku bak sebuah boneka tak bernyawa yang digerakan
oleh kedua tangan besar Cakra, dia membawa tanganku dan
mendorong bola ini ke atas. “Dorong yang kuat.” Dan aku
begitu kaku, mengangguk bodoh dan mulai mendorong seperti
yang Cakra perintahkan.
Bruk!
Tentu saja tidak berhasil. Ah sudahlah percuma.
“Kan, udahlah gue emang nggak bakat main basket,”
“Maka itu Tuhan ngirim kapten basket bernama
Jarguan Cakrawala ke hidup lo, Sherina.”
Tengil, aku memutar bola mataku saat Cakra
mengedipkan matanya padaku. Sekarang dia kembali
melempar bolanya padaku, “Coba lagi, pantang pulang
sebelum lo bisa.”
Ku pantul-pantulkan bola itu ke tanah, aku
mengangguk dan meyakinkan diriku sendiri agar bisa
memasukan bola ini ke sana.
“Kalo nggak masuk kita jadian,” celetuk Cakra dari
samping tubuhku.
“Dih? Mana ada aturan begitu,”
“Bodo. Pokoknya kalo nggak masuk kita jadian,”
Cakra senyum-senyum seperi orang gila, kedua tangannya
bersedekap di dada dan menatap ke arahku.
Pantulan terakhir yang aku lakukan, lalu aku melempar
bola itu ke atas, melakukannya dengan fokus seperti yang
sudah Cakra jelaskan kepadaku.
Bruk!
Bolanya masuk ke dalam ring.
“Ah anjir, apa-apaan? Kok masuk sih?” Cakra menjadi
orang pertama yang menggerutu saat bola itu masuk ke dalam
ring. Aku melongo, apa aku baru saja berhasil memasukan bola
pertamaku ke dalam ring? Wah, aku rasa Papa harus tau ini.
“Males ah, giliran gini masa lo berhasl.”
Cakra masih mengeluh, di mataku sekarang dia
menggemaskan, bukan Cakra keren yang wajahnya seperti
pangeran tapi Cakra laki-laki polos yang sedang mengomel
dengan wajah cemberutnya.
“Nggak suka, kenapa lo berhasil masukin bolanya?”
Aku mengigit bibirku. Aku juga sebal, Cakra. Ah,
kenapa bolanya harus masuk sih, hehe.
***
Hari sudah begitu jingga ketika aku turun dari mobil Cakra. Hal
yang membuatku tersenyum ketika memasuki rumah adalah
mobil Tante Tari yang terparkir di depan gerbang, aku
melihatnya. Dan itu berarti Tante Tari ada di sini sekarang.
Aku cepat-cepat masuk ke dalam rumah, sudah tidak
sabar ingin bertemu Tante Tari kesayanganku. Aku ingin
bercerita pada mereka jika hari ini aku berhasil memasukan
bola ke dalam ring basket sebanyak tiga kali. Ya meskipun
karena bantuan Cakra.
Aku tidak melihat Papa dan Tante Tari, dimana
mereka? Apa mereka berada di atas? Atau di halaman
belakang? Kakiku melangkah ke arah dapur, mungkin mereka
ada di sana.
Langkahku terhenti saat akan memasuki dapur, bisa ku
lihat Papa dan Tante Tari berdiri di depan pintu kaca yang
menghubungkan antara dapur dan beranda belakang rumah.
Mereka terlihat sedang berbicara serius, jadi aku urung untuk
mendekati, justru bersembunyi di balik tembok.
“Kamu bahagia sama dia, Tar?” suara Papa terdengar
serak.
“Aku bahagia … Kamu juga tau betapa baiknya Asa
sama aku dan anak kita.”
Aku tidak mengerti kemana arah obrolan mereka, tapi
tiba-tiba aku merasa cemas tanpa sebab.
“Nyaris satu tahun kita dekat dan banyak tentang dia
yang aku pahami, dia juga bisa memahami aku dan masa
laluku. Terpenting, Matcha nyaman sama Asa.”
Aku melihat Tante Tari menyentuh lengan Papa
dengan pelan. “Aku nggak bermaksud menggantikan posisi
kamu dengan orang lain, kamu akan tetap jadi Papanya
Matcha, kamu cinta pertamanya Matcha, kamu berhasil jadi
Papa yang sempurna untuk anak kita, Go.”
“Tapi aku butuh seseorang yang memahami aku,
menerima aku juga memberi nyaman untuk aku. Dan aku
menemukan semua itu di dalam pelukan Asa, dia laki-laki yang
baik, sama baiknya seperti kamu, Go,”
“Apa kita benar-benar udah nggak bisa kembali,
Tar?”
“Maaf, Go ….”
“Kamu akan bahagia kan, Tar?”
“Aku harap aku bisa kembali bahagia,”
“Kalau begitu silakan, kejar bahagia kamu, Tar. Cari
bahagia itu dan lanjutin hidup kamu. Kamu udah terlalu lama
menderita sendirian, sekarang udah saatnya kamu damai
dalam dekap seseorang yang bukan aku.”
“Maafin aku, Dago ….”
“Jangan minta maaf, kamu pantas untuk dicintai laki-
laki sesempurna Asa. Selamat ya, Mentari. Selamat karena
akhirnya kamu sembuh dari luka yang membelenggu kita,”
“Kamu … Suatu hari juga harus menikah lagi dengan
wa-“
“Kamu yang terakhir, Tar. Nggak ada siapapun yang
akan aku nikahi kecuali kamu.”
“Go ….”
“Terimakasih karena pernah mencintai aku dengan
begitu besar. Sunrise. Minggu depan aku dan Hujan pasti
datang ke pernikahan kamu.”
Aku berlari menaiki tangga, air mataku sore itu tumpah
dengan rasa sesak yang begitu menusuk. Tante Tari akan
menikah lagi, Om Angkasa benar-benar akan memiliki wanita
yang selama ini Papa tunggu untuk kembali.
Pintu kamar tertutup, lalu aku meredamkan wajahku di
bantal. Ini sakit, aku mengigil kesakitan dengan kenyataan ini.
Aku menerka-nerka, jika aku seremuk ini lantas bagaimana
dengan Papa?
Papa menghabiskan seluruh hidupnya untuk
menunggu Tante Tari agar bisa kembali, tapi kini Tante Tari
justru pergi begitu jauh meninggalkan kita bersama
pangerannya. Aku ingin beteriak, kenapa aku harus terlahir?
Kenapa aku harus hadir di hidup Papa dan merenggut
bahagianya? Kenapa Tuhan? Kenapa harus ada aku di dalam
hidup Papa dan Tante Tari. Aku ingin mereka kembali
bersama, akan ku lakukan apapun jika bisa melihat Papa bisa
memeluk Mentarinya lagi. Apa? Katakan padaku apa yang
harus aku lakukan agar mereka bisa bersama.
“Hiks ….”
Aku terisak-isak, kasian Papa … Kasian Papa ... Aku
menghancurkan hidup Papa, aku membuatnya menderita
seumur hidup. Aku jahat, di sinilah aku penjahatnya. Aku
adalah anak haram yang tak pantas untuk dicintai oleh siapapun
termasuk Papa. Seharusnya Papa meninggalkanku di panti
asuhan atau di bawah jembatan, seharusnya Papa tidak
menyayangiku. Bagaimana bisa aku hidup di atas penderitaan
ayahku sendiri?
Jika ada satu doa yang bisa aku panjatkan pada Tuhan,
aku hanya ingin Papa bisa kembali bersama Tante Tari. Tapi
itu tidak akan bisa terjadi, karena kesalahanku.
Ada hujan di matamu

Aku bisa merasakan perubahan Papa setelah hari itu. Kami


berhenti melakukan berbagi subuh, kami berhenti menatap
matahari terbit di sisi jalan yang sepi. Hari-hari berlanjut, tapi
hidup kami berhenti. Hidupku jauh terasa lebih abu dari
sebelumnya.
Papa lebih sering mengurung diri di kamar, sepulang
bekerja hanya akan mengusap kepalaku dan berlalu begitu saja.
Kami tidak lagi bermain hujan ketika air langit itu datang, kami
tidak pernah duduk di depan tv dan mengobrol ringan lagi.
Rumah ini terasa jauh lebih dingin dan kosong. Hatiku sakit
setiap aku meliat cekungan hitam di bawah mata Papa, sudah
berapa malam yang terlewati dengan tangis, Pa?
Matcha tidak lagi mengajakku makan siang bersama,
setiap kali kami bertemu dia hanya menyapaku sekilas dan
memilih pergi dengan Archer. Aku tau Matchapun sama, dia
ingin kedua orang tuanya bisa kembali bersama, tapi
kesempatan itu benar-benar sudah tidak ada. Sebentar lagi
Tante Mentari akan menikah. Duniaku benar-benar kelabu.
Aku semakin merasa sepi.
“Akhir-akhir ini kenapa lo murung?”
Cakrawala duduk di sampingku secara tiba-tiba. Aku
hanya diam.
“Mau susu stoberi nggak?”
Aku masih diam.
“Ann, kalo ada masalah lo boleh cerita sama gue,”
Tak ku jawab ucapannya.
“Lo sedih karena nyokap lo mau nikah lagi, ya?”
Dari mana dia tau?
“Bokap gue juga nerima undangan pernikahan Tante
Mentari.”
Ah, sedikit banyak dia pasti mengetahui tentang aku.
“Om Dago masih sayang banget ya sama Tante
Mentari? Hm, pasti iya.”
Dedaunan berguguran ketika angin berhembus lembut,
halaman sekolah sore ini tak terlalu ramai, mataku jatuh pada 2
siswa yang bermain bola di tengah lapangan.
“Seharusnya gue nggak hadir di hidup Papa, Cak.”
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku. “Kasian Matcha
karena kehadiran gue bikin keluarganya hancur.”
“Lo nggak boleh ngomong kaya gitu, Hujan.”
Aku menggeleng. “Rasa bersalah ini bakalan ada
sampai gue mati. Nggak seharusnya gue hadir di hidup mereka,
Cak.”
“Kalo gitu lo jahat sama bokap lo.”
Ucapan Cakra membuatku terdiam.
“Kalo lo bisa bilang gitu, berarti gue sama. Gue juga
penghancur kebahagian bokap gue.”
Aku mengernyit bingung. “Nyokap gue meninggal
waktu melahirkan gue, seharusnya gue nggak lahir, kan? Biar
bokap gue masih bisa sama istrinya.”
Mataku jatuh di mata kelam milik Cakrawala. Luka
apa yang dia punya? Apa sama sakitnya dengan rasa sakitku?
“Bokap gue nggak pernah bilang kalo kehadiran gue
merenggut kebahagiannya sekalipun nyatanya emang iya.
Begitu juga dengan Om Dago, Ann. Jangan bikin bokap lo
sedih dengan bilang kaya gitu, lo harus inget betapa besarnya
rasa sayang bokap lo untuk lo.”
“Lo atau gue, Tuhan nggak pernah memiliki maksud
jahat dalam rencananya. Lo dan gue, bukan penghancur
kebahagiaan ayah kita. Semua ini udah jadi takdir untuk kita,
untuk lo dan gue, bokap lo dan bokap gue, Tante Tari dan
nyokap gue, jadi berhenti menyalahkan diri lo sendiri.”
Mata Cakra berkaca-kaca, sama rapuhnya dengan dua
bola mataku. “Bokap lo pasti bersyukur atas kehadiran lo, Ann.
Jadi jangan bikin beliau sedih karena putrinya terus
menyalahkan dirinya sendiri. Takdir pahit yang Om Dago dan
Tante Tari terima bukan kesalahan lo.”
Aku tidak pernah menangis, bahkan di depan Papa
sekalipun. Tapi sore ini aku terisak di pelukan Cakrawala.
***
Hari pernikahan Tante Tari dan Om Angkasa tiba. Sebuah
gedung mewah di pusat kota dihias begitu cantik, konsepnya
putih dan banyak hiasan burung merpati juga bunga mawar
putih. Aku tidak pernah melepaskan genggaman tanganku dari
tangan Papa yang dingin.
Di balik senyum Papa hari ini, aku bisa melihat
kehancurannya. Ini hari yang membahagiakan untuk Tante
Tari, tapi begitu menyakitkan untuk Papa dan juga aku.
“Pa, are you okay?” aku berbisik pada Papa yang
menatap lurus ke arah pelaminan. Di sana Tante Tari tersenyum
bersama laki-laki tampan di sebelahnya.
“Papa baik-baik aja sayang.” Papa membalas
genggaman tanganku, lalu menatapku dengan senyum di
wajahnya. Aku menempelkan pipiku di lengannya, memeluk
Papa seerat yang ku bisa.
“You may kiss the bride.”
Sorak sorai begitu ramai ketika pasangan pengantin di
depan sana saling memberikan ciuman penuh kasih. Aku
menahan air mataku, sakit. Ini terlalu sakit bagiku. Tante
Mentari benar-benar sudah dimiliki orang lain. Kisah yang
Dago dan Mentari miliki mutlak berakhir hari ini.
“Apa ada yang ingin menyampaikan pesan untuk
pasangan bahagia ini?” MC berkata setelah ciuman mereka
selesai. Dan aku terkejut saat Papa mengangkat tangannya.
Mic diserahkan pada Papa, aku menangkap senyum
tulus yang terukir di wajah sendu Papa.
“Halo Mentari, halo Angkasa ….”
“Selamat atas pernikahan kamu, Sunrise.”
Mata Papa terkunci pada bola mata Tante Tari yang juga
menatap Papa. “Hari ini adalah hari yang sangat
membahagiakan untuk kalian berdua. Jadi Angkasa, izinkan
saya mengucapkan sedikit pesan untuk kamu.”
“Wanita yang kini menjadi istrimu itu adalah
perempuan paling hebat yang pernah saya temui, namun dia
begitu rapuh. Tolong selalu cintai dia, tolong selalu ada untuk
dia dan tolong bahagiakan dia. Jaga dia dengan baik, lindungi
dia dan berikan rumah ternyaman untuk dia. Saya gagal
melakukan itu semua, tapi saya tau kamu akan berhasil,”
“Saya akan mendoakan setiap langkah kalian, semoga
Tuhan mendengar doa-doa yang saya panjatkan dengan nama
kalian di dalamnya. Dan … Anak saya, Pelangi, yang kini
menjadi anak sambungmu,”
“Tolong sayangi dia sebagaimana kamu menyayangi
ibunya, putri kecil saya selalu mendambakan keluarga utuh
yang bisa membuat dia makan malam dengan Papa dan
Mamanya secara lengkap, saya harap kamu bisa melakukan itu
bersama mereka.”
“Saya titipkan dua jiwa yang masih begitu saya cintai
pada kamu, tolong cintai Mentari dan Pelangi sampai akhr
hayatmu.”
Wajah Papa basah oleh air matanya. Dan di atas sana
aku bisa melihat Tante Tari yang terisak pilu. “Sunrise,
terimakasih karena sudah hadir di hidup aku. Sekarang
berbahagialah, Mentariku.”
Papa berhenti menanti Mentarinya untuk kembali.
Dadanya terbuka lebar untuk menerima akhir cerita mereka
yang kini telah usai. Buku itu ditutup. Selesai dengan Papa
yang menyaksikan wanitanya berbahagia dengan orang lain.
***
Di langit sore ini terukir cantik warna ungu berbaur dengan
oranye, burung-burung gereja berterbangan di atas kepala
kami. Aku, Matcha dan Papa berdiri di rooftop gedung
pernikahan Tante Tari.
“Papa?” panggil Matcha lirih.
“Mm? Kenapa anak Papa yang cantik?”
“Papa bahagia?”
Papa mendekapku di lengan kirinya dan mendekap
Matcha di lengan kanannya.
“Belum, tapi nanti Papa pasti bahagia,”
“Papa sakit ya ngeliat Mama menikah?”
“Hm … Sakit, tapi nggak apa-apa, Mama bahagia
dengan pilihannya dan itu cukup buat Papa,”
“Papa tau kan Matcha sayang banget sama Papa,
Matcha nggak akan menggantikan Papa dengan Om Asa, Papa
yang pertama di hati Matcha.”
Papa tertawa kecil, lalu aku bisa merasakan kecupan
Papa di puncak kepalaku, lalu Papa mengecup Matcha. “Papa
juga sayang sama kalian berdua. Hujan dan Pelangi adalah
denyut nadi yang menghidupkan Papa,”
“Dago mungkin kehilangan Mentari di hidupnya, tapi
Tuhan memberikan Hujan dan Pelangi yang cantik untuk
menghiasi langit gelapnya.”
“Nanti kalo kalian sudah menikah dan memiliki
keluarga masing-masing, Papa akan tinggal di panti jompo,
hidup bersama teman-teman seusia Papa di masa senja Papa.
Kalian sering-sering jengukin Papa ya, nak?”
“Nggak, Papa tinggal sama Ann, Ann yang akan
ngurus Papa kalo Papa tua,” sahutku cepat.
“Nggak! Papa tinggal sama Matcha, Kak Ann udah
tinggal sama Papa dari kecil jadi giliran Matcha yang tinggal
sama Papa kalo Papa tua.”
Papa tertawa dan mengusap rambut kami. “Tuh kan,
Papa punya dua perempuan yang sangat sayang sama Papa, jadi
apa yang kalian khawatirkan? Papa hidup untuk kalian, Nak.
Jadi kalian harus bahagia agar Papa bisa ikut bahagia.”
“Hujan nggak akan pernah ninggalin Papa, Pa,”
“Pelangi juga nggak akan pernah ninggalin Papa.”
Papa tersenyum tulus. “Itu sudah cukup bagi Papa,
Nak. Kalian sudah lebih dari cukup.”
***
Kami kembali diam untuk beberapa saat, sampai
akhirnya Matcha kembali membuka suara.
“Pa,”
“Iya anakku?”
“Matcha nggak mau dijodohin sama Kak Cakra,”
“Hm? Kenapa?”
“Matcha suka sama orang lain,” katanya pelan.
Aku diam mendengarkan. “Dan Kak Cakra suka sama
Kak Ann.”
Aku membulatkan mataku.”Bohong!”
“Iya, Kak Cakra sering nanyain tentang Kak Ann ke
Matcha, mendingan Papa jodohin Kak Ann sama Kak Cakra
aja,”
“Aku nggak suka sama Cakra!”
“Bohong, Pa. Kakak suka sama dia.”
Papa tertawa dan mencubit pipi kami berdua. “Yah,
anak gadis Papa kok udah cinta-cintaan sih? Jangan cepet besar
dong kalian,”
“Aku nggak cinta-cintaan!” aku menyahut.
“Bohong Pa, Kakak tuh suka sama Kak Cacak, nanti
aku mau bilang ke Mama biar kalian aja yang dijodohin.”
“Aduh Papa pusing deh ini, jadi kalo Matcha nggak
suka sama Cakra, kamu sukanya sama siapa?”
“Sama Archer tuh, Pa!” ledekku.
“Bohong! Aku nggak suka sama Archer,”
“Terus sama siapa dong, Nak?”
“Ih ya ada, ah udahlah intinya Matcha mau bilang ke
Mama kalo aku nggak mau dijodohin sama Kak Cakra.”
Matcha berlari meninggalkan aku dan Papa, masuk ke
dalam gedung dan menghilang. Tawa Papa perlahan mereda,
lalu menatapku, “Kamu beneran suka sama Cakra, Kak?
Kenapa nggak bilang ke Papa?”
Aku menggeleng kecil, “Aku nggak mau merebut
kebahagian Matcha.” Bisikku.
Langit sore itu sudah berubah gelap, bulan dan bintik-
bintik bintang mulai terlihat di atas kepala kami. Papa
merangkul bahuku. “Perasaan orang nggak bisa dibohongi,
Kak. Matcha nggak suka sama Cakra, jadi Kakak nggak akan
merebut siapapun.”
Kami masuk kembali ke dalam gedung, berdiri di
depan lift. “Nanti Papa bilang ke Mama, kalo yang suka sama
Cakra itu Hujan bukan Pelangi, Mama pasti ngerti, karena
Mama selalu mau kamu dan Pelangi bahagia.”
Rambutku diusap oleh Papa. “Asal kamu tau, Kak.
Mama adalah orang yang sangat menyayangi kamu, percaya
sama Papa. Sekalipun dia nggak pernah membenci kamu, kamu
mungkin nggak lahir dari rahimnya, kamu mungkin berpikir
jikA kehadiran kamu merusak hubungan kami. Tapi nyatanya
kamu hadir seperti hujan yang datang menjadi penyejuk bagi
hubungan kami. Dan Mama sangat menyayangi kamu.”
Aku percaya itu. Aku tau Tante Tari juga
menyayangiku. Dan aku juga sangat menyayanginya.
“Pa?”
“Iya,”
“Makasih karena udah begitu mencintai Hujan.”
Papa mengusap rambutku dengan hangat. “Papa juga
berterimakasih karena Tuhan menitipkan kamu pada Papa.”
Sejak hari itu aku mulai berhenti menyalahkan diriku
sendiri. Dago dan Mentari berakhir bukan karenaku. Takdir
menjawab semuanya. Aku mulai menerima diriku sendiri, aku
mulai mencintai diriku sendiri sebanyak Papa mencintaiku.
Tidak semua kisah harus berakhir seperti Cinderella
yang menikahi pangeran tampan, tidak semua kisah harus
berkhir dengan senyuman. Dan ini adalah akhir cerita kami.
Pulang

Jakarta, 3 tahun kemudian.

“Kalo gitu aku nggak bisa cemburu. Cinta pertama kamu bukan
saingan aku.”
Aku tertawa kecil karena ucapan Cakra, ku genggam
tangannya erat. “Papa cinta pertama aku, Cak. Karena Papa
yang pertama kali memberikan aku cinta, Papa yang
mengajarkan aku cinta dan Papa yang bikin aku ….” Ucapanku
terhenti sebab dadaku berdenyut sakit. Air mata kembali turun
di pipiku. Tanganku meremat gundukan tanah di depan kami.
Makam Papa yang masih basah.
Dago Kalingga meninggal dua bulan yang lalu.
Saat aku baru saja menyelesaikan kuliahku. Papa
terkena serangan jantung dalam tidurnya, pagi itu aku
membuka kamar Papa karena Papa yang tak kunjung keluar
untuk sarapan, namun aku justru mendapati Papa terlelap
begitu damai dengan wajah bekunya. Papa pergi pagi itu,
sembari mendekap sebuah buku usang berisikan kerinduannya
untuk Tante Tari.
Aku ingin menua dan mati di dekapmu, Mentari.
Halaman terahir buku itu tertulis seperti itu, namun
Papa justru pulang seorang diri, kesepian dan mati terbunuh
rindu. Aku yang selama ini tidak bisa membayangkan jika
hidupku tanpa Papa kini benar-benar dihadapkan oleh
kenyataan. Dua bulan terasa seperti neraka bagiku, setiap
malam aku hanya bisa menangis di atas kasur tempat Papa
menghembuskan napasnya.
Ingatanku tentang Papa masih begitu jelas. Senyum
hangatnya, tatapan teduhnya, lembutnya usapan tangan Papa di
wajahku. Semua tentang Papa masih begitu indah bagiku.
“Biarkan Papa beristirahat dengan tenang, Ann.

Anda mungkin juga menyukai