Bab I
Bab I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
kepulauan (Archiplagic State Principles), yang menjadikan darat dan laut sebagai
kesatuan yang utuh. Konsepsi ini berasal dari konsepsi Archipelago yang
memiliki arti laut dan terdapat banyak pulau. Dalam konsep ini rasio laut lebih
Maritim dikarenakan jumlah pulaunya yang sangat luas hingga tiga kali lipat dari
anugerah terbesar dari tuhan sekaligus tantangan yang harus dihadapi oleh negara
Kondisi geografis laut yang sangat strategis menjadi hal menarik untuk
transportasi laut dengan keselamatan yang tinggi, fasilitas yang memadai, yang
juga diiringi dengan aturan yang tepat agar dapat menjamin mobilitas barang dan
bersangkutan, sering kali terjadi pada moda transportasi ini sehingga membuat
1
Hasyim Djalal, Perjuangan Indonesia Di Bidang Hukum Laut, (Bandung: Binacipta 1979),
hlm. 70
2
Yulia Nurhanisah, Jumlah Pulau di Indonesia Capai 17.000,
https://indonesiabaik.id/infografis/jumlah-pulau-di-indonesia-capai-
17000#:~:text=Indonesiabaik.id%20%2D%20Pemerintah%20mencatat%20jumlah,Names%20(U
NGEGN)%20tahun%202022. (diakses pada 24 Maret 2022, pukul 9:53)
3
Jusna, dan Nempung, T. Peranan Transportasi Laut dalam Menunjang Arus Barang dan
Orang di Kecamatan Maligano Kabupaten Muna. Jurnal Ekonomi, 2016, hlm. 189
perkembangan transportasi laut mengalami pasang surut. 4 Sebagai negara yang
menganut sistem hukum, Indonesia tentunya telah mengatur hal ini dalam pasal
34 ayat (4) Undang-undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa setiap negara
bertanggung jawab atas fasilitas pelayanan kesehatan dan pelayanan umum yang
layak.
Maka dari itu salah satu cara untuk mewujudkan pembangunan nasional di
Indonesia adalah dengan menyusun sistem transportasi nasional yang baik, efektif
Tidak hanya itu, hal ini juga untuk mendorong mobilisasi orang maupun barang
dan jasa agar membentuk pola distribusi yang dinamis yang akan dapat membantu
wilayah tersebut.
fasilitas umum yang memadai termasuk juga pada moda transportasi laut.
Hendaknya hal ini disediakan dengan baik dan dilaksanakan dengan pengawasan
tenaga profesional agar memberikan rasa aman serta nyaman kepada seluruh
4
Tri Cahyadi, Perlindungan Hukum Pelaut Di Kapal Indonesia Berbasis Nilai Keadilan.
Jurnal Pembaharuan Hukum, 2017,h.97.
5
Nur Yanto, Memahami Hukum Laut Indonesia, (Jakarta, Mitra Wacana Media, 2014),
hlm.44
Penjaminan keselamatan dan keamaan dalam pelayaran ini juga kemudian
Pelabuhan Laut yang berisi tentang kesyahbandaran dan otoritas pelabuhan adalah
6
Wiwoho Soedjono, Hukum Laut Khusus Tentang pengangkutan Barang, (Yogyakarta:
Penerbit Liberty, 1986), hlm. 2
perwujudan wawasan nusantara serta memberi kesempatan berusaha. Kemudian
dijelaskan lagi dalam Pasal 34 UUP yang mejelaskan keselamatan kapal adalah
penolong dan radio elektronik kapal yang terbukti dengan sertifikat setelah
dilakukan pemeriksaan.7
dilaksanakan dengan perencanaan yang sudah dibuat, maka dari itu perlu sebuah
Tahun 2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Syahbandar yang menyatakan
menjadi tempat dari segala urusan perkapalan dan pusat penyelenggaraan seluruh
kewenangan Syahbandar.
terdiri dari daratan dan perairan dengan batasan tertentu yang menjadi tempat
tempat kapal untuk bersandar, naik turun penumpang, serta bongkar muat barang.
Pelabuhan laut juga memiliki hierarki peran dan fungsi pelabuhan terbagi menjadi
Pelabuhan Laut yang melayani angkutan laut, Pelabuhan laut yang melayani
7
Akhmad Khairi, Analisis Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Perhubungan.
Kominikasi dan Informatika dalam Pengawasan Alat Penyebrangan Kempang di Kabupaten
Kepulauan Meranti (Pekanbaru, Skripsi Uin Sultan Syarif Kasim , 2017), hlm. 7
angkutan penyebrangan, serta pelabuhan sungai dan danau. Berdasarkan Peraturan
terdiri atas:
yang berpengaruh pada beban kerja suatu kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan.
Pada pasal 4 terdapat unsur pokok dan juga unsur penunjang. Unsur pokok
tersebut seperti seluruh kunjungan kapal, arus komoditas, arus penumpang, serta
sarana dan juga prasarana di Pelabuhan. Sedangkan unsur penunjang berupa data
dan informasi yang terkait dengan pelaksanaan tugas administrasi kantor seperti
pelayaran, hal ini memiliki beberapa indikator seperti sikap, nilai, dan juga
aktivitas mengenai kegitaan pelayaran yang menjadi hal sangat krusial dalam
keamanan dan keselamatan di dunia perairan dan pelabuhan. Pengabaian terhadap
pelayaran ini dapat disebabkan dari rendahnya manajemen sumber daya manusia
tersebut tidak hanya berlaku untuk peningkatan produktifitas saja, namun juga
perlu mengawasi kelayakan kapal dalam berlayar serta kondisi kerja di atas kapal
apakah memadai atau tidak. Di Indonesia yang menentukan kapal layak laut
kapal, bangunan kapal, permesinan dan pelistrikan kapal, stabilitas kapal, tata
susunan serta perlengkapan termasuk perlengkapan alat penolong dan radio, serta
elektronika kapal.
Pengaturan untuk kapal dapat berlayar dan berlabuh terdapat dalam pasal 219
yang mewajibkan setiap kapal untuk memiliki izin yang dikeluarkan oleh
8
Abbas Salim, Manajemen Transportasi, (Jakarta: Rajawali Pers, 2008), hlm.262
angka 1 Peraturan Pemrintah No. 62 Tahun 2009 Tentag Kepelabuhanan, seluruh
sebagai tempat bersandar, nai turun penumpang, bongkar muat barang, dan juga
sebagai terminal yang dilengkapi dengan fasilitas keselamata dan juga keamanan.
Keselamatan dalam transportasi laut bagi para pemakai jasa angkutan telah
menjadi prinsip umum dan menjadi tanggung jawab semua pihak, dan hal ini akan
lebih optimal lagi jika hal ini dijadikan kewajiban dan kebutuhan bagi semua
pihak. Setiap orang yang mengirim barang maupun penumpang kapal pasti
ataupun berlabuh. Untuk dapat memperoleh SPB, maka kapal yang akan berlayar
kapal. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2002 Tentang Perkapalan juga telah
kepada pengguna atau pemilik kapal apabila kapal tersebut telah memenuhi
beberapa syarat penting seperti yang tercantum dalam Pasal 117 UUP. Pengguna
jasa angkutan laut yang tidak mematuhi kelaiklautan kapal dapat menimbulkan
kerugian pada barang yang diangkut, kehilangan nyawa penumpang maupun awak
9
Tommy H. Purwaka, Pelayaran Antar Pulau Indonesia Suatu Kajian Tentang Hubungan
Antara Kebijaksanaan Pemerintah Dengan Kualitas Pelayanan Pelayaran, (Jakarta: Pusat Studi
Wawasan Nusantara, 1993), hlm. 1
kapal. Untuk menghindari hal tersebut maka Syahbandar melakukan beberapa
pemeriksaan seperti:
Tidak haya itu, Syahbandar juga bertanggung jawab dan ikut dalam proses
peran syahbandar secara khusus telah diatur dalam UUP, namun meskipun semua
hal telah diatur sedemikian rupa, masih terdapat kasus kecelakaan maupun kasus
lainnya yang terjadi pada angkutan laut, hal ini terjadi karena kelalaian
10
https://media.neliti.com/media/publications/59543-ID-tugas-dan-tanggung-
jawabsyahbandar-dala.pdf
yang tidak memenuhi standarisasi baik kelayakan fisik untuk berlayar maupun
namun juga pencemaran yang terjadi di laut juga merupakan masalah yang harus
kecelakaan kapal.12 Hal ini disebabkan karena banyaknya kapal yang melanggar
aturan keselamatan pelayaran seperti nahkoda tidak ada di kapal, Buku Pelaut
tidak lengkap, tidak adanya surat izin berlayar atau SPB, sertifikat pelayaran yang
Isu persoalan Syahbandar ini sudah banyak dikaji dalam karya tulis ilmiah
lainnya, baik skripsi, maupun jurnal, yang banyak ditulis dan dipublikasikan
namun hanya mengkaji pada tataran yuridis yang menjelaskan tugas ataupun
dengan karya tulis ini adalah bersifat yuridis normatif, dengan penelitian langsung
langsung di lapangan.
Sumatera Barat merupakan provinsi yang juga memiliki banyak sekali pulau
dengan daya tariknya yang berbeda-beda. Mulai dari pariwisata, ekonomi, dan
11
JViana I R br Barus, Paramita Prananingtyas, S. M. (2017). TUgas Dan Tanggung Jawab
Syahbandar Dalam Kegiatan Pengangkutan Laut Di Indonesia. Diponegoro Law Journal, 6(1),
hlm. 1–13
12
Andre Griffin, ”Marpol 73/78 and Vessel Pollution: a Glass Half Four or Half Empty?”
Indiana Journal of Global Legal Studies, 1994, hlm. 1.
juga budayanya mencuri banyak perhatian seluruh masyarakat untuk dapat
mengunjunginya. Mobilisasi barang dan manusia yang tak ada hentinya membuat
Mentawai merupakan gugusan pulau-pulau besar dan juga kecil yang terdapat di
pantai barat Sumatera, terdiri dari Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara
dan Pulau pagai Selatan serta beberapa pulau kecil disekitarnya yang totalnya
mobilitas orang maupun barang maka transportasi laut menjadi salah satu
jawabannya.
ada di wilayah Mentawai ini juga didukung dengan adanya Unit Penyelenggara
dan Tata Kerja Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan. Pelabuhan ini telah
didirikan sejak awal tahun 1992, sebagai sarana masyarakat untuk dapat
13
http://dephub.go.id/org/uppsikakap/sejarah (diakses pada tanggal 25 Maret 2022 pukul
22:34)
Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III menandakan bahwa klasifikasi
komersial.
Tidak cukup sampai disitu, pada daerah yang kaya ini juga didirikan
pelabuhan perikanan pantai pada tahun 1997/1998 dengan luas 48.650 M 2 dengan
sertifikat pengelolaan, dan memiliki lahan seluas Areal 20.000 M 2.14 Potensi
transportasi utama bagi mereka dalam melaksanakan berbagai kegiatan, hal ini
dikarenakan selain biayanya yang terjangkau, angkutan laut juga dapat membantu
mobilitas mereka dan juga barang-barang ke tempat yang dibatasi oleh selat-selat
sehingga tak bisa ditempuh oleh transportasi darat maupun udara. Angkutan laut
14
Hendrianto L Raja, Alfian Zain dan Yuspardianto, Studi TIngkat Pemanfaatan Pelabuhan
Perikanan Pantai Sikakap dan Kebijakan Pengembangannya di Kabupaten Kepulauan mentawai
Propinsi Sumatera Barat, 2012
ini juga menjadi jawaban untuk memberantas isolasi antar daerah yang
sehingga tak terjadi hal yang dapat merugikan, dan inilah yang menjadi tugas
seorang Syahbandar. Melihat tugas dan tanggung jawabnya yang begitu besar
maka diperlukan sumber daya manusia yang mempunyai kecakapan dan disiplin
ilmu di bidang kelautan. Begitu pula untuk daerah Mentawai, wilayah yang besar
dan dihuni oleh banyak sekali masyarakat lokal dan juga dikunjungi oleh banyak
masyarakat luar membuat Syahbandar harus lebih cakap lagi dalam menjalankan
tugas kesayahbandarannya.
disebabkan karena belum adanya alternatif lain untuk menyebrangi pulau tersebut
Sikakap sudah cukup baik, dapat terlihat dari pemeriksaan angkutan penumpang
kapal agar tidak melebihi kapasitas angkut kapal, kemudian syahbandar juga
lain sebagainya apakah semua masih berfungsi dengan baik atau tidak. Disisi lain,
ternyata masih banyak pelanggaran yang terjadi pada kapal di pelabuhan, seperti
15
Tommy H. Purwaka, op.cit, hlm. 1
surat-surat kapal yang tidak lengkap sampai dengan kasus muatan kapal yang
yang mengakibatkaan kapal tersebut miring 1,5 derajat ke arah kiri. Padahal
muatan KMP Ambu-ambu hanya berkisar 177 ton, namun dikarenakan banyaknya
barang bawaan para pedagang yang mencapai 300 ton, sehingga tidak bisa
Tidak hanya sampai disitu, masih banyak tugas pengawasan lainnya yang
harus dilakukan oleh syahbandar, seperti mengawasi kegiatan alih muat barang di
perairan, mengawasi pengisian bahan bakar, mengawasi tertib lalu lintas kapal di
perairan, dan masih banyak lagi. Hal mengenai tertib administrasi, pengawasan,
maupun keamanan tak luput dari peran kesyahbandaran yang melekat pada diri
seorang Syahbandar. Maka dari tu, berdasarkan hal yang sudah diuraikan
B. Rumusan Masalah
16
KMP Ambu-ambu dari Sikakap Menuju Padang Batal Berangkat Karena Kelebihan
Muatan. (2021, Agustus 26). Diakses pada 27 Maret 2022 dari artikel MentawaiKita :
https://www.mentawaikita.com/baca/5624/kmp-ambu-ambu-dari-sikakap-menuju-padang-batal-
berangkat-karena-kelebihan-muatan.
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 50 tahun 2021 tentang
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian
Andalas.
E. Metode Penelitian
untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan
kegiatan untuk menemukan sebuah kajian yang berkaitan dengan ilmu hukum
hukum.19
Maka dari itu penelitian ini harus ditulis secara sistematis dan sesuai
kapal saat sedang berada di tengah lautan. Selain itu, penelitian ini juga
dilakukan pada lokasi yang bisa dijangkau, sehingga penulis dapat secara
Syahbandar. Oleh karena itu penelitian dilakukan dengan cara sebagai berikut:
17
Budisutrisna. 2016. Komparasi Teori Kebenaran Mo Tzu dan Pancasila: Relevansi Bagi
Pengembangan Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jurnal Filsafat. Vol.26. No.1
18
Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hlm 18.
19
Djulaeka dan Devi Rahayu, Buku Ajar Metode Penelitian Hukum, (Surabaya: Scopindo
Media Pustaka, 2019) hlm. 2
1. Metode Pendekatan
diinginkan.20
2. Sifat Penelitian
berikut:
a. Data Primer
20
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukumn Normatif Suatu Tinjauan Singkat,
(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), hlm.14
21
Ibid
22
Ibid
yang akan disampaikan, namun tidak menutup kemungkinan akan
b. Data Sekunder
23
Ibid, hlm 12
24
Ibid, hlm 52
a) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.
kerja.
Kepelabuhanan.
Syahbandar.
Pelabuhan.
l) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor
bersumber dari25:
Buku-buku.
sekunder, seperti:
a) Kamus-kamus hukum
a. Penelitian lapangan
25
Ibid
responden.26 Melalui penelitian lapangan, penulis akan
Penumpang kapal.
b. Penelitian Kepustakaan
penulis dari:
a. Wawancara
(panduan wawancara).27
26
Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada,2004). hlm.106.
27
Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2009) hlm. 193 – 194.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik wawancara
bentuk point-point.
b. Studi Pustaka
peraturan perundang-undangan.
c. Studi Dokumen
benar serta nyata, dari kumpulan berkas dan juga data, yang
28
Suteki dan Galang Taufani, Metodologi Penelitian Hukum (Filsafat, teori dan praktik), PT
Raja Grafindo Persada, (Depok: 2018). hlm 217.
melalui peninggalan tertulis, terutama berupa arsip-arsip dan
a. Pengolahan data
aturan-aturan hukum.
penulis.30
29
Nawawi Hadari, Metode Penelitian Bidang Sosial, (Yogyakarta: Universitas Gajah Mada,
1991) hlm. 133.
30
Soerjono Soekanto, Op.Cit. hlm. 264.
b. Analisis Data
31
B. Miles, Matthew dan A. Michael Huberman, Analisa Data Kualitatif, Jakarta: UI
Press, 1992, hlm. 15-16.