0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan23 halaman

Bab I

Dokumen ini membahas pentingnya transportasi laut di Indonesia sebagai negara kepulauan dengan 17.000 pulau, serta tantangan dalam penyediaan fasilitas dan keselamatan pelayaran. Ditekankan perlunya pengawasan yang ketat melalui peraturan dan peran syahbandar untuk menjamin keselamatan dan keamanan pelayaran. Selain itu, dokumen ini juga menguraikan tanggung jawab syahbandar dalam menjaga kelaiklautan kapal dan mengatasi masalah pencemaran di laut.

Diunggah oleh

ekknia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online dari Scribd
Unduh sebagai pdf atau txt
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan23 halaman

Bab I

Dokumen ini membahas pentingnya transportasi laut di Indonesia sebagai negara kepulauan dengan 17.000 pulau, serta tantangan dalam penyediaan fasilitas dan keselamatan pelayaran. Ditekankan perlunya pengawasan yang ketat melalui peraturan dan peran syahbandar untuk menjamin keselamatan dan keamanan pelayaran. Selain itu, dokumen ini juga menguraikan tanggung jawab syahbandar dalam menjaga kelaiklautan kapal dan mengatasi masalah pencemaran di laut.

Diunggah oleh

ekknia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online dari Scribd
Unduh sebagai pdf atau txt
Unduh sebagai pdf atau txt
Anda di halaman 1/ 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada deklarasi Djuanda, Pemerintah Indonesia menegaskan prinsip negara

kepulauan (Archiplagic State Principles), yang menjadikan darat dan laut sebagai

kesatuan yang utuh. Konsepsi ini berasal dari konsepsi Archipelago yang

memiliki arti laut dan terdapat banyak pulau. Dalam konsep ini rasio laut lebih

besar daripada daratan.1 Indonesia merupakan negara dengan julukan negara

Maritim dikarenakan jumlah pulaunya yang sangat luas hingga tiga kali lipat dari

luas daratannya. Jumlah pulau di Indonesia mencapai 17.000 2 dan merupakan

anugerah terbesar dari tuhan sekaligus tantangan yang harus dihadapi oleh negara

Indonesia untuk mengelolanya dengan baik, termasuk permasalahan penyediaan

transportasi laut yang menghubungkan satu pulau dengan pulau lainnya.

Kondisi geografis laut yang sangat strategis menjadi hal menarik untuk

pengembangan potensi Indonesia disegala lini. Luasnya wilayah lautan dan

banyaknya pulau inilah yang membuat negara Indonesia harus menyediakan

transportasi laut dengan keselamatan yang tinggi, fasilitas yang memadai, yang

juga diiringi dengan aturan yang tepat agar dapat menjamin mobilitas barang dan

juga manusia terpenuhi dengan baik.3

Perubahan aturan yang melibatkan kepentingan para pemangku jabatan yang

bersangkutan, sering kali terjadi pada moda transportasi ini sehingga membuat
1
Hasyim Djalal, Perjuangan Indonesia Di Bidang Hukum Laut, (Bandung: Binacipta 1979),
hlm. 70
2
Yulia Nurhanisah, Jumlah Pulau di Indonesia Capai 17.000,
https://indonesiabaik.id/infografis/jumlah-pulau-di-indonesia-capai-
17000#:~:text=Indonesiabaik.id%20%2D%20Pemerintah%20mencatat%20jumlah,Names%20(U
NGEGN)%20tahun%202022. (diakses pada 24 Maret 2022, pukul 9:53)
3
Jusna, dan Nempung, T. Peranan Transportasi Laut dalam Menunjang Arus Barang dan
Orang di Kecamatan Maligano Kabupaten Muna. Jurnal Ekonomi, 2016, hlm. 189
perkembangan transportasi laut mengalami pasang surut. 4 Sebagai negara yang

menganut sistem hukum, Indonesia tentunya telah mengatur hal ini dalam pasal

34 ayat (4) Undang-undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa setiap negara

bertanggung jawab atas fasilitas pelayanan kesehatan dan pelayanan umum yang

layak.

Maka dari itu salah satu cara untuk mewujudkan pembangunan nasional di

Indonesia adalah dengan menyusun sistem transportasi nasional yang baik, efektif

dan juga efisien agar dapat mendongkrak perkembangan pembangunan nasional.

Tidak hanya itu, hal ini juga untuk mendorong mobilisasi orang maupun barang

dan jasa agar membentuk pola distribusi yang dinamis yang akan dapat membantu

pengembangan daerah serta pengembangan kehidupan masyarakat yang ada pada

wilayah tersebut.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia diharapkan untuk dapat memberikan

fasilitas umum yang memadai termasuk juga pada moda transportasi laut.

Hendaknya hal ini disediakan dengan baik dan dilaksanakan dengan pengawasan

tenaga profesional agar memberikan rasa aman serta nyaman kepada seluruh

masyarakat yang menggunakannnya. Untuk memberikan pelayanan yang baik

terutama dibidang pelayaran, dibentuklah Undang-undang Nomor 17 tahun 2008

tentang Pelayaran yang di dalamnya mencakup aturan mengenai pelayaran yang

baik, menjamin keselamatan serta keamanan saat melaksanakan pelayaran agar

tidak terjadi hal-hal yang dapat merugikan pihak manapun.5

4
Tri Cahyadi, Perlindungan Hukum Pelaut Di Kapal Indonesia Berbasis Nilai Keadilan.
Jurnal Pembaharuan Hukum, 2017,h.97.
5
Nur Yanto, Memahami Hukum Laut Indonesia, (Jakarta, Mitra Wacana Media, 2014),
hlm.44
Penjaminan keselamatan dan keamaan dalam pelayaran ini juga kemudian

diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan yang telah diperbaiki dalam

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 50 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan

Pelabuhan Laut yang berisi tentang kesyahbandaran dan otoritas pelabuhan adalah

lembaga pemerintah yang terdapat di pelabuhan yang mempunyai tugas untuk

mengawasi dan menegakkan hukum dalam pelayaran di pelabuhan dan kegiatan-

kegiatan yang ada di pelabuhan yang diusahakan secara komersil.

Pasal 207 Peraturan Menteri Perhubungan No. 20 tahun 2015 Tentang

Standar Keselamatan Pelayaran menjelaskan tentang kewajiban syahbandar dalam

melakukan fungsi keselamatan dan keamanan yang mencangkup pelaksanaan,

pengawasan dan penegakan hukum dibidang angkutan perairan, kepelabuhanan

dan perlindungan lingkungan maritim di pelabuhan. Biasanya pengangkutan yang

dilakukan di pelabuhan dalam pelayaran berguna untuk memobilisasi orang

ataupun barang dari satu pulau ke pulau lainnya.6

Berdasarkan pasal 1 angka 3 Undang-undang No. 17 Tahun 2008 Tentang

Pelayaran yang kemudian disebut dengan UUP, menyatakan bahwa pengangkutan

perairan adalah kegiatan mengangkut dan/atau memindahkan penumpang dan/atau

barang dengan menggunakan kapal. Sedangkan untuk pengangkutan perairan di

dalam negeri dilakukan oleh perusahaan pengangkutan laut nasional dengan

menggunakan kapal berbendera Indonesia serta diwakili oleh awak kapal

berkewarganegaraan Indonesia. Penggunaan kapal berbendera Indonesia oleh

perusahaan angkutan laut nasional tersebut dimaksudkan dalam rangka

pelaksanaan asas untuk melindungi kedaulatan (sovereignty), mendukung

6
Wiwoho Soedjono, Hukum Laut Khusus Tentang pengangkutan Barang, (Yogyakarta:
Penerbit Liberty, 1986), hlm. 2
perwujudan wawasan nusantara serta memberi kesempatan berusaha. Kemudian

dijelaskan lagi dalam Pasal 34 UUP yang mejelaskan keselamatan kapal adalah

keadaan kapal yang memenuhi persyaratan material, konstruksi, bangunan,

permesinan dan pelistrikan, stabilitas tata susunan serta perlengkapan alat

penolong dan radio elektronik kapal yang terbukti dengan sertifikat setelah

dilakukan pemeriksaan.7

Pengawasan merupakan kegiatan yang membandingkan antara apa yang

dilaksanakan dengan perencanaan yang sudah dibuat, maka dari itu perlu sebuah

acuan ataupun aturan yang nantinya akan mengawasi bagaimana Syahbandar

memberikan pengawasan terhadap pelayaran yang ada di Indonesia sebagaimana

yang telah disebutkan dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 64

Tahun 2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Syahbandar yang menyatakan

bahwa Syahbandar memiliki kewenangan tertinggi di Pelabuhan. Pelabuhan juga

menjadi tempat dari segala urusan perkapalan dan pusat penyelenggaraan seluruh

kewenangan Syahbandar.

Berdasarkan pasal 1 angka 1 Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009

Tntang Kepelabuhanan menyebutkan bahwa pelabuhan merupakan tempat yang

terdiri dari daratan dan perairan dengan batasan tertentu yang menjadi tempat

penyelenggaraan kegiatan pemerintahan dan juga pengusahaan yang dijadikan

tempat kapal untuk bersandar, naik turun penumpang, serta bongkar muat barang.

Pelabuhan laut juga memiliki hierarki peran dan fungsi pelabuhan terbagi menjadi

Pelabuhan Laut yang melayani angkutan laut, Pelabuhan laut yang melayani

7
Akhmad Khairi, Analisis Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Perhubungan.
Kominikasi dan Informatika dalam Pengawasan Alat Penyebrangan Kempang di Kabupaten
Kepulauan Meranti (Pekanbaru, Skripsi Uin Sultan Syarif Kasim , 2017), hlm. 7
angkutan penyebrangan, serta pelabuhan sungai dan danau. Berdasarkan Peraturan

Menteri Perhubungan Nomo PM 36 Tahun 2012 Tentang Organisasi dan Tata

Kerja Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan menjelaskan bahwa Kantor

Kesyahbandaran dan Otoritas pelabuhan diklasifikasikan ke dalam 5 kelas yang

terdiri atas:

a. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan kelas I

b. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan kelas II

c. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan kelas III

d. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan kelas IV.

e. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan kelas V.

Pasal 2 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 74 Tahun 2018 Tentang

Kriteria Klasifikasi Organisasi Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Direktorat

Jenderal Perhubungan Laut menyebutkan bahwa klasifikasi kelas dari pelabuhan

tersebut berdasarkan dari beberapa unsur penilaian terhadap keseluruhan unsur

yang berpengaruh pada beban kerja suatu kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan.

Pada pasal 4 terdapat unsur pokok dan juga unsur penunjang. Unsur pokok

tersebut seperti seluruh kunjungan kapal, arus komoditas, arus penumpang, serta

sarana dan juga prasarana di Pelabuhan. Sedangkan unsur penunjang berupa data

dan informasi yang terkait dengan pelaksanaan tugas administrasi kantor seperti

instansi pemerintahan yang dikoordinasikan, jumlah sumber daya manusia dan

juga Penerimaan negara Bukan pajak (PNBP).

Keselamatan dalam pelayaran merupakan hal yang paling penting di dunia

pelayaran, hal ini memiliki beberapa indikator seperti sikap, nilai, dan juga

aktivitas mengenai kegitaan pelayaran yang menjadi hal sangat krusial dalam
keamanan dan keselamatan di dunia perairan dan pelabuhan. Pengabaian terhadap

keselamatan dalam pelayaran ini dapat membuat kerugian termasuk di bidang

perekonomian, menyebabkan turunnya produksi, menimbulkan biaya medis,

polusi, serta penggunaan energi yang kurang efisien. Rendahnya keselamatan

pelayaran ini dapat disebabkan dari rendahnya manajemen sumber daya manusia

maupun manajemen proses yang dilakukan di dalam pelayaran tersebut.

Keselamatan merupakan bagian integral dalam manajemen pelayaran, hal

tersebut tidak hanya berlaku untuk peningkatan produktifitas saja, namun juga

perlu mengawasi kelayakan kapal dalam berlayar serta kondisi kerja di atas kapal

apakah memadai atau tidak. Di Indonesia yang menentukan kapal layak laut

ataupun tidak adalah Biro Klasifikasi Indonesia, Syahbandar dan Direktorat

Pelayaran pada Direktorat Jenderal di Perhubungan Laut. 8 Pentingnya peran

syahbandar dalam pengawasan kelaiklautan kapal dapat dilihat dalam UUP

Indonesia mengenai keselamatan kapal. Beberapa hal yang perlu mendapat

perhatian syahbandar dalam pengawasannya yaitu material kapal, konstruksi

kapal, bangunan kapal, permesinan dan pelistrikan kapal, stabilitas kapal, tata

susunan serta perlengkapan termasuk perlengkapan alat penolong dan radio, serta

elektronika kapal.

Dalam pasal 6 UUP menjelaskan jenis angkutan di perairan yaitu : (a).

angkutan laut (b). Angkutan sungai dan danau. angkutan penyebrangan.

Pengaturan untuk kapal dapat berlayar dan berlabuh terdapat dalam pasal 219

yang mewajibkan setiap kapal untuk memiliki izin yang dikeluarkan oleh

Syahbandar baik untuk berlayar maupun untuk berlabuh. Berdasarkan pasal 1

8
Abbas Salim, Manajemen Transportasi, (Jakarta: Rajawali Pers, 2008), hlm.262
angka 1 Peraturan Pemrintah No. 62 Tahun 2009 Tentag Kepelabuhanan, seluruh

angkutan tersebut berlabuh di Pelabuhan yang merupakan tempat dengan batasan

tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan pengusahaan yang digunakan

sebagai tempat bersandar, nai turun penumpang, bongkar muat barang, dan juga

sebagai terminal yang dilengkapi dengan fasilitas keselamata dan juga keamanan.

Keselamatan dalam transportasi laut bagi para pemakai jasa angkutan telah

menjadi prinsip umum dan menjadi tanggung jawab semua pihak, dan hal ini akan

lebih optimal lagi jika hal ini dijadikan kewajiban dan kebutuhan bagi semua

pihak. Setiap orang yang mengirim barang maupun penumpang kapal pasti

menghendaki adanya jaminan keselamatan jiwa dan barang mulai dari

keberangkatan sampai pada tempat tujuan. 9 Menurut UUP, untuk melakukan

kegiatan pelayaran setiap angkutan laut (kapal) memerlukan Surat Persetujuan

Berlayar/Berlabuh (SPB) yang di keluarkan oleh syahbandar agar dapat berlayar

ataupun berlabuh. Untuk dapat memperoleh SPB, maka kapal yang akan berlayar

harus memenuhi beberapa persyaratan, seperti salah satunya syarat kelaiklautan

kapal. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2002 Tentang Perkapalan juga telah

menjabarkan bagaimana tahapan pengecekan untuk memperoleh SPB tersebut.

Setiap Surat Persetujuan Berlayar dapat di berikan oleh seorang syahbandar

kepada pengguna atau pemilik kapal apabila kapal tersebut telah memenuhi

beberapa syarat penting seperti yang tercantum dalam Pasal 117 UUP. Pengguna

jasa angkutan laut yang tidak mematuhi kelaiklautan kapal dapat menimbulkan

kerugian pada barang yang diangkut, kehilangan nyawa penumpang maupun awak

9
Tommy H. Purwaka, Pelayaran Antar Pulau Indonesia Suatu Kajian Tentang Hubungan
Antara Kebijaksanaan Pemerintah Dengan Kualitas Pelayanan Pelayaran, (Jakarta: Pusat Studi
Wawasan Nusantara, 1993), hlm. 1
kapal. Untuk menghindari hal tersebut maka Syahbandar melakukan beberapa

pemeriksaan seperti:

a. Pemeriksaan Tahunan, setiap 12 bulan diperiksa dalam keadaan

dilimbungkan di atas galangan kapal.

b. Pemeriksaan besar, dilakukan setiap 4 tahun sekali bersama dengan

waktu dokumentasi tahunan.

c. Pemeriksaan kerusakan atau perbaikan dilakukan pada waktu terjadi

sesuatu kerusakan yang mempengaruhi kesempurnaan kapal.

d. Pemeriksaan tambahan, dilakukan apabila diperlukan dispensasi,

misalnya akan mengangkut penumpang, membawa muatan berbahaya

dan Iain-lain. Kondisi laiklaut harus selalu dipertahankan dengan

beberapa cara, seperti dengan perawatan oleh awak kapal sendiri

terhadap bangunan kapal, mesin kapal, alat-alat keselamatan dan

penolong lainnya sehingga semuanya dalam keadaan memungkinkan

dan siap digunakan saat diperlukan.

Tidak haya itu, Syahbandar juga bertanggung jawab dan ikut dalam proses

pencarian angkutan laut yang mengalami kecelakaan maupun gangguan lainnya. 10

peran syahbandar secara khusus telah diatur dalam UUP, namun meskipun semua

hal telah diatur sedemikian rupa, masih terdapat kasus kecelakaan maupun kasus

lainnya yang terjadi pada angkutan laut, hal ini terjadi karena kelalaian

syahbandar, seperti kesalahan memberikan izin pelayaran kepada angkutan laut

10
https://media.neliti.com/media/publications/59543-ID-tugas-dan-tanggung-
jawabsyahbandar-dala.pdf
yang tidak memenuhi standarisasi baik kelayakan fisik untuk berlayar maupun

tidak lulus uji oleh Biro Klasifikasi Indonesia, dan lainnya. 11

Banyaknya kasus yang terjadi di pelayaran membuat Syahbandar harus lebih

tegas lagi dalam menegakkan aturan. Tidak hanya permasalahan administrasi

namun juga pencemaran yang terjadi di laut juga merupakan masalah yang harus

diatasi. Dari keseluruhan pencemaran yang terjadi hampir 75% dikarenakan

pengoperasian kapal tanker di wilayah perairan dan 25% disebabkan oleh

kecelakaan kapal.12 Hal ini disebabkan karena banyaknya kapal yang melanggar

aturan keselamatan pelayaran seperti nahkoda tidak ada di kapal, Buku Pelaut

tidak lengkap, tidak adanya surat izin berlayar atau SPB, sertifikat pelayaran yang

sudah kadaluwarsa dan lain sebagainya.

Isu persoalan Syahbandar ini sudah banyak dikaji dalam karya tulis ilmiah

lainnya, baik skripsi, maupun jurnal, yang banyak ditulis dan dipublikasikan

namun hanya mengkaji pada tataran yuridis yang menjelaskan tugas ataupun

wewenangnya sebagai seorang Syahbandar di Pelabuhan serta persoalan

administrasi yang harus diselesaikan oleh petugas Kesyahbandaran. Perbedaannya

dengan karya tulis ini adalah bersifat yuridis normatif, dengan penelitian langsung

ke lapangan menggunakan metode wawancara, sehingga dapat menggali dan

mengetahui bagaimana peranan Syahbandar sebenarnya dengan melihat secara

langsung di lapangan.

Sumatera Barat merupakan provinsi yang juga memiliki banyak sekali pulau

dengan daya tariknya yang berbeda-beda. Mulai dari pariwisata, ekonomi, dan

11
JViana I R br Barus, Paramita Prananingtyas, S. M. (2017). TUgas Dan Tanggung Jawab
Syahbandar Dalam Kegiatan Pengangkutan Laut Di Indonesia. Diponegoro Law Journal, 6(1),
hlm. 1–13
12
Andre Griffin, ”Marpol 73/78 and Vessel Pollution: a Glass Half Four or Half Empty?”
Indiana Journal of Global Legal Studies, 1994, hlm. 1.
juga budayanya mencuri banyak perhatian seluruh masyarakat untuk dapat

mengunjunginya. Mobilisasi barang dan manusia yang tak ada hentinya membuat

beberapa pulau menjadi sentral pelabuhan yang sangat membantu masyarakat

dalam menjalankan kegiatannya sehari-hari. Maka sangat diperlukan adanya peran

Syahbandar yang bertanggung jawab atas jaminan keselamatan dan keamanan

yang ada di pelabuhan, salah satunya adalah di pulau Mentawai. Kepulauan

Mentawai merupakan gugusan pulau-pulau besar dan juga kecil yang terdapat di

pantai barat Sumatera, terdiri dari Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara

dan Pulau pagai Selatan serta beberapa pulau kecil disekitarnya yang totalnya

mencapai 99 pulau. Untuk menghubungkan antar pulau dan juga keperluan

mobilitas orang maupun barang maka transportasi laut menjadi salah satu

jawabannya.

Wilayah perairan yang luas membuat Mentawai berbeda dengan daerah di

Sumatera Barat lainnya, sebagian besar masyarakat juga memanfaatkan hal

tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Besarnya potensi perairan yang

ada di wilayah Mentawai ini juga didukung dengan adanya Unit Penyelenggara

Pelabuhan Kelas III Sikakap yang tercantum dalam Peraturan Menteri

Perhubungan Nomor PM 77 Tahun 2018 Tentang Perubahan Ketiga atas

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 62 Tahun 2010 Tentang Organisai

dan Tata Kerja Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan. Pelabuhan ini telah

didirikan sejak awal tahun 1992, sebagai sarana masyarakat untuk dapat

melaksanakan aktifitas yang dapat menunjang perekonomian rakyat yang ada di

kepulauan Mentawai terutama yang ada di daerah Sikakap.13

13
http://dephub.go.id/org/uppsikakap/sejarah (diakses pada tanggal 25 Maret 2022 pukul
22:34)
Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III menandakan bahwa klasifikasi

penilaian di pelabuhan Sikakap masih tergolong rendah, dikarenakan tidak dapat

mencapai target untuk menjadi pelabuhan dengan kualifikasi kelas diatasnya.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 Tentang kepelabuhanan

menyebutkan bahwa pelabuhan kelas III merupakan lintas penyebrangan sebagai

jembatan penghubung yang lokasinya tidak berada pada sebuah konsepsi

penyebrangan nasional, serta pelabuhannya belum bersifat dusahakan secara

komersial.

Tidak cukup sampai disitu, pada daerah yang kaya ini juga didirikan

pelabuhan perikanan pantai pada tahun 1997/1998 dengan luas 48.650 M 2 dengan

sertifikat pengelolaan, dan memiliki lahan seluas Areal 20.000 M 2.14 Potensi

perikanan yang sangat besar di wilayah Sikakap ini membuat pelabuhan

Perikanan Pantai Sikakap menjadi salah satu target pemerintah untuk

menjadikannya Sentra kelautan Perikanan Terpadu yang besar, dan nantinya

pelabuhan Sikakap ini dapat menampung produk perikanan budidaya maupun

hasil perikanan tangkap di lautan lepas.

Masyarakat setempat tentu akan menjadikan angkutan laut sebagai

transportasi utama bagi mereka dalam melaksanakan berbagai kegiatan, hal ini

dikarenakan selain biayanya yang terjangkau, angkutan laut juga dapat membantu

mobilitas mereka dan juga barang-barang ke tempat yang dibatasi oleh selat-selat

sehingga tak bisa ditempuh oleh transportasi darat maupun udara. Angkutan laut

14
Hendrianto L Raja, Alfian Zain dan Yuspardianto, Studi TIngkat Pemanfaatan Pelabuhan
Perikanan Pantai Sikakap dan Kebijakan Pengembangannya di Kabupaten Kepulauan mentawai
Propinsi Sumatera Barat, 2012
ini juga menjadi jawaban untuk memberantas isolasi antar daerah yang

disebabkan karena kondisi geografis. 15

Pentingnya angkutan laut ini mengharuskan pengawasan yang lebih ketat

sehingga tak terjadi hal yang dapat merugikan, dan inilah yang menjadi tugas

seorang Syahbandar. Melihat tugas dan tanggung jawabnya yang begitu besar

maka diperlukan sumber daya manusia yang mempunyai kecakapan dan disiplin

ilmu di bidang kelautan. Begitu pula untuk daerah Mentawai, wilayah yang besar

dan dihuni oleh banyak sekali masyarakat lokal dan juga dikunjungi oleh banyak

masyarakat luar membuat Syahbandar harus lebih cakap lagi dalam menjalankan

tugas kesayahbandarannya.

Kondisi geografis yang terbagi-bagi menjadi beberapa pulau membuat

pelabuhan di Sikakap Mentawai ini menjadi tempat penyebrangan yang ramai.

Keutuhan yang tinggi akan keperluan transportasi laut di kepulauan Mentawai

disebabkan karena belum adanya alternatif lain untuk menyebrangi pulau tersebut

selain dengan menggunakan transportasi laut berupa kapal. Banyaknya aktifitas

yang memanfaatkan keberadaan pelabuhan membuat syahbandar sangat berperan

penting dalam keselamatan dan keamanan pelayaran.

Pengawasan syahbandar dalam mewujudkan hal tersebut di pelabuhan

Sikakap sudah cukup baik, dapat terlihat dari pemeriksaan angkutan penumpang

kapal agar tidak melebihi kapasitas angkut kapal, kemudian syahbandar juga

melakukan pemeriksaan alat-alat navigasi, radio, alat pemadam kebakaran, dan

lain sebagainya apakah semua masih berfungsi dengan baik atau tidak. Disisi lain,

ternyata masih banyak pelanggaran yang terjadi pada kapal di pelabuhan, seperti

15
Tommy H. Purwaka, op.cit, hlm. 1
surat-surat kapal yang tidak lengkap sampai dengan kasus muatan kapal yang

berlebihan. Seperti penundaan keberangkatan KMP Ambu-ambu dari pelabuhan

Sikakap menuju pelabuhan Bungus Kota Padang dikarenakan kelebihan muatan

yang mengakibatkaan kapal tersebut miring 1,5 derajat ke arah kiri. Padahal

muatan KMP Ambu-ambu hanya berkisar 177 ton, namun dikarenakan banyaknya

barang bawaan para pedagang yang mencapai 300 ton, sehingga tidak bisa

dikeluarkannya surat izin berlayar untuk kapal tersebut.16

Tidak hanya sampai disitu, masih banyak tugas pengawasan lainnya yang

harus dilakukan oleh syahbandar, seperti mengawasi kegiatan alih muat barang di

perairan, mengawasi pengisian bahan bakar, mengawasi tertib lalu lintas kapal di

perairan, dan masih banyak lagi. Hal mengenai tertib administrasi, pengawasan,

maupun keamanan tak luput dari peran kesyahbandaran yang melekat pada diri

seorang Syahbandar. Maka dari tu, berdasarkan hal yang sudah diuraikan

sebelumnya peulis tertarik untuk mengetahui lebih lanjut terkait: Peran

Syahbandar dalam Pengawasan Keselamatan dan Keamanan Pelayaran di

Pelabuhan Kelas III Sikakap Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan

Nomor 50 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Pelabuhan Laut

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan, maka yang menjadi

permasalahan hukum dalam tulisan ini adalah:

1. Bagaimanakah peran Syahbandar dalam melakukan pengawasan untuk

menjamin keselamatan dan juga keamanan pelayaran berdasarkan

16
KMP Ambu-ambu dari Sikakap Menuju Padang Batal Berangkat Karena Kelebihan
Muatan. (2021, Agustus 26). Diakses pada 27 Maret 2022 dari artikel MentawaiKita :
https://www.mentawaikita.com/baca/5624/kmp-ambu-ambu-dari-sikakap-menuju-padang-batal-
berangkat-karena-kelebihan-muatan.
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 50 tahun 2021 tentang

Penyelenggaraan Pelabuhan Laut, di pelabuhan kelas III Sikakap,

Kabupaten Kepulauan Mentawai?

2. Apa sajakah faktor penghambat Syahbandar dalam menjalankan fungsi

pengawasan dan keamanan pelayaran terhadap pelayaran rakyat yang ada

di Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalah yang telah disampaikan, maka tujuan dari

penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui peran syahbandar saat melakukan pengawasan dalam

menjamin keselamatan dan keamanan pelayaran rakyat di pelabuhan

kelas III, Sikakap, Kabupaten Mentawai.

b. Untuk mengetahui apa saja yang menjadi faktor pengahambat syahbandar

dalam menjalankan fungsi pengawasan terhadap pelayaran rakyat di

pelabuhan kelas III, Sikakap, Kabupaten Mentawai.

D. Manfaat Penelitian

1. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang peran syahbandar

yang melakukan pengawasan dalam menjamin keselamatan dan

keamanan pelayaran berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor

50 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pelabuhan Laut.

2. Untuk menambah bahan ataupun informasi data sekunder bagi kalangan

akademis lainya yang akan melaksanakan penelitian terhadap

permasalahan yang sama.


3. Sebagai salah satu syarat untuk memenuhi persyaratan dalam

menyelesaikan program strata satu di Fakultas Hukum Universitas

Andalas.

E. Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan suatu sistem dan suatu proses yang

mutlak harus dilakukan dalam suatu kegiatan penelitian dan pengembangan

ilmu pengetahuan.17 Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang

didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan

untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan

menganalisanya.18 Penelitian Hukum atau “legal research” merupakan sebuah

kegiatan untuk menemukan sebuah kajian yang berkaitan dengan ilmu hukum

secara sistematis dalam pembahasan tertentu untuk kemajuan di bidang

hukum.19

Maka dari itu penelitian ini harus ditulis secara sistematis dan sesuai

dengan permasaahan yang diteliti. Penelitian ini dilakukan di Provinsi Sumatera

Barat, tepatya di Kecamatan Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai,

dikarenakan adanya penemuan beberapa kali kecelakaan kapal, kemudian

kelebihan muatan, dan lain sebagainya, yang dapat membahayakan penumpang

kapal saat sedang berada di tengah lautan. Selain itu, penelitian ini juga

dilakukan pada lokasi yang bisa dijangkau, sehingga penulis dapat secara

langsung melihat bagaimana kondisi di pelabuhan yang dipimpin oleh seorang

Syahbandar. Oleh karena itu penelitian dilakukan dengan cara sebagai berikut:

17
Budisutrisna. 2016. Komparasi Teori Kebenaran Mo Tzu dan Pancasila: Relevansi Bagi
Pengembangan Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jurnal Filsafat. Vol.26. No.1
18
Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hlm 18.
19
Djulaeka dan Devi Rahayu, Buku Ajar Metode Penelitian Hukum, (Surabaya: Scopindo
Media Pustaka, 2019) hlm. 2
1. Metode Pendekatan

Metode yang lakukan adalah metode penelitian hukum

sosiologis, karena penulis akan langsung terjun ke lapangan untuk

mengamati dan melakukan observasi untuk mendapatkan data yang

diinginkan.20

2. Sifat Penelitian

Sifat penelitian dalam penulisan ini adalah penelitian deskriptif.

Suatu penelitian deskriptif dimaksudkan untuk memberikan data yang

seteliti mungkin tentang manusia, keadaan atau gejala-gejala lainnya.

Maksudnya adalah untuk mempertegas hipotesa-hipotesa, agar dapat

membantu didalam memperkuat teori-teori lama atau didalam

kerangka menyusun teori-teori baru.21

3. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah, sebagai

berikut:

a. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari lapangan.

Data primer diperoleh langsung dari sumber pertama, yakni

perilaku warga masyarakat melalui penelitian.22 salah satu cara

untuk mendapatkan data adalah dengan teknik wawancara. Pada

penelitian ini penulis memakai teknik wawancara semi terstruktur

yaitu dengan mempersiapka terlebih dahulu beberapa pertanyaan

20
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukumn Normatif Suatu Tinjauan Singkat,
(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), hlm.14
21
Ibid
22
Ibid
yang akan disampaikan, namun tidak menutup kemungkinan akan

muncul pertanyaan baru kepada narasumber saat wawancara

sedang berlangsung. Berdasarkan permasalahan yang dikaji

penulis melakukan wawancara dengan Syahbandar Unit

Penyelenggara Pelabuhan Kelas III Sikakap, Bapak Sumarnun

S.H, M.M dalam melakukan pengawasan dalam menjamin

keselamatan pelayaran berdasarkan Undang-undang no.17 tahun

2008 tentang pelayaran, kemudian bersama Nahkoda Kapal

Gambolo, yaitu Kapten Wawan Yudho. Kemudian sebagai

sampel penulis juga akan mewawancarai agen kapal, serta

ebebrapa penumpang kapal.

b. Data Sekunder

Data sekunder antara lain, mencakup dokumen-dokumen resmi,

buku-buku, hasil-hasil penelitian yang berwujud laporan, buku

harian, dan seterusnya.23 Data tersebut bersumber utama dari

bahan hukum yang berupa bahan hukum primer, bahan hukum

sekunder, dan bahan hukum tersier, sebagai berikut:

1) Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang

mengikat diperoleh dengan mempelajari semua peraturan

meliputi: Peraturan Perundang-undangan, konvensi, dan

peraturan terkait lainnya berhubungan penelitian penulis.24

Bahan-bahan hukum yang digunakan antara lain :

23
Ibid, hlm 12
24
Ibid, hlm 52
a) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun

1945.

b) Reden Reglements Tahun 1925 atau Peraturan Bandar.

c) Kitab Undang-undang Hukum Dagang.

d) Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran.

e) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta

kerja.

f) Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 Tentang

Kepelabuhanan.

g) Peraturan Meteri Perhubungan Nomor 50 Tahun 2021

Tentang Penyelenggaraan Pelabuhan laut.

h) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 20 Tahun 2015

Tentang Standar Keselamatan Pelayaran.

i) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: KM 01 Tahun

2010 Tentang Tata Cara Penerbitan Surat Persetujuan

Berlayar (Port Clearance).

j) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: KM 64 Tahun

2010 Tentang Organisasi dan Tatat Kerja Kantor

Syahbandar.

k) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 77 Tahun 2018

Tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Menteri

Perhubungan Nomor KM 62 Tahun 2010 Tentang

Organisai dan Tata Kerja Kantor Unit Penyelenggara

Pelabuhan.
l) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor

Per.08/MEN/2012 Tentang Kepelabuhanan.

m) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 42

Tahun 2016 Tentang Perjanjian Kerja Laut

2) Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder, bahan penelitian yang memberikan

penjelasan maupun petunjuk terhadap bahan hukum primer yang

bersumber dari25:

Buku-buku.

a) Tulisan ilmiah dan makalah.

b) Teori dan pendapat para pakar.

c) Hasil penelitian yang sebelumnya maupun yang seterusnya.

3) Bahan Hukum Tersier

Bahan hukum yang memberikan penjelasan maupun

petunjuk terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum

sekunder, seperti:

a) Kamus-kamus hukum

b) Kamus Besar Bahasa Indonesia

Sumber data yang digunakan dalam penelitian yaitu:

a. Penelitian lapangan

Penilitian lapangan yang diperlukan sebagai data penunjang

diperoleh melalui informasi dan pendapat-pendapat dari

25
Ibid
responden.26 Melalui penelitian lapangan, penulis akan

mendapatkan data yang akurat dari hasil proses wawancara yang

penulis lakukan. Responden pada penelitian ini adalah

Syahbandar pada pelabuhan kelas III Sikakap, Kabupaten

Mentawai, Nahkoda Kapal Gambolo, Agen Kapal, dan beberapa

Penumpang kapal.

b. Penelitian Kepustakaan

Penelitian Kepustakaan merupakan penelitian yang di lakukan

terhadap buku-buku karya ilmiah, undang-undang, dan peraturan

terkait lainnya. Bahan penelitian kepustakaan ini di peroleh

penulis dari:

1) Perpustakaan Universitas Andalas.

2) Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Andalas.

3) Buku-buku serta bahan kuliah yang penulis miliki.

4. Teknik Pengumpulan Data

a. Wawancara

Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data primer.

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan

penelitian dengan cara tanya jawab, sambil bertatap muka antara

si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden

dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide

(panduan wawancara).27

26
Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada,2004). hlm.106.
27
Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2009) hlm. 193 – 194.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik wawancara

semi terstruktur, maksudnya dalam penelitian terdapat beberapa

pertanyaan akan penulis tanyakan kepada narasumber yang

pertanyaan-pertanyaan tersebut terlebih dahulu penulis siapkan dalam

bentuk point-point.

Namun tidak tertutup kemungkinan di lapangan nanti penulis

akan menanyakan pertanyaan-pertanyaan baru setelah melakukan

wawancara dengan narasumber. Dalam melakukan wawancara ini

yang menjadi respondennya adalah Syahbandar Unit Penyelenggara

Pelabuhan (UPP) Kelas III Sikakap, Bapak Sumarnun, S.H M..M,

kemudian Kapten Kapal KMP Gambolo, Kapten Wawan Yudho,

selanjutnya Agen Kapal, Bapak Abdul Malik Z.R, selanjutnya

beberapa penumpang Kapal, Bapak Ari, dan Bapak Yudha.

b. Studi Pustaka

Dengan mempelajari beberapa teori yang berkaitan

atau berhubungan dengan pelayaran, kemudian eksistensi ototritas

pelabuhan maupun syahbandar yang didasarkan pada hierarki

peraturan perundang-undangan.

c. Studi Dokumen

Merupakan proses pencarian informasi dan juga keterangan yang

benar serta nyata, dari kumpulan berkas dan juga data, yang

didapatkan dari buku, notulen, transkip, catatan, majalah dan

sebagainya.28 Studi dokumen adalah cara mengumpulkan data

28
Suteki dan Galang Taufani, Metodologi Penelitian Hukum (Filsafat, teori dan praktik), PT
Raja Grafindo Persada, (Depok: 2018). hlm 217.
melalui peninggalan tertulis, terutama berupa arsip-arsip dan

termasuk juga buku-buku tentang pendapat, teori, hukum-hukum

dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penyelidikan.

Dalam penelitian kualitatif teknik ini berfungsi sebagai alat

pengumpul data utama, karena pembuktian hipotesanya

dilakukan secara logis dan rasional melalui pendapat, teori atau

hukum-hukum yang diterima kebenarannya, baik yang menolak

maupun yang mendukung hipotesa tersebut.29

5. Pengolahan dan Analisis Data

a. Pengolahan data

Sebelum melakukan analisis data, data yang ditemukan dan

dikumpulkan akan diolah terlebih dahulu dengan cara melakukan

koreksi terhadap data yang didapat baik itu temuan-temuan di

lapangan maupun data-data yang berasal dari buku maupun

aturan-aturan hukum.

Cara pengolahan data yaitu dengan cara editing. Editing

adalah kegiatan yang dilakukan penulis yakni memeriksa kembali

mengenai kelengkapan jawaban yang diterima, kejelasannya,

konsistensi jawaban atau informasi, relevansinya bagi penelitian,

maupun keseragaman data yang diterima atau didapatkan oleh

penulis.30

29
Nawawi Hadari, Metode Penelitian Bidang Sosial, (Yogyakarta: Universitas Gajah Mada,
1991) hlm. 133.
30
Soerjono Soekanto, Op.Cit. hlm. 264.
b. Analisis Data

Setelah data yang di peroleh tersebut diolah, maka

selanjutnya data-data tersebut di analisis secara kualitatif yaitu

dengan mengelompokkan data menurut aspek-aspek yang diteliti

tanpa menggunakan angka-angka atau dengan kata lain data

muncul dengan berwujud kata-kata.31 Dari data tersebut bisa di

tarik kesimpulan yang merupakan jawaban dari permasalahan.

31
B. Miles, Matthew dan A. Michael Huberman, Analisa Data Kualitatif, Jakarta: UI
Press, 1992, hlm. 15-16.

Anda mungkin juga menyukai