0% found this document useful (0 votes)
354 views14 pages

Tribio Technology for Soil Fertility Improvement

The document discusses the Tribio technology for accelerating soil fertility improvement in dry lands. The Tribio technology consists of three parts: (1) Hard parts like wood are turned into biochar through pyrolysis, (2) Liquid parts like fruits and vegetables are turned into liquid organic fertilizer, and (3) Soft parts like leaves are turned into compost. Biochar, liquid organic fertilizer, and compost are all useful for improving soil properties and can be produced using simple, environmentally friendly tools. When applied to dry lands, the Tribio technology allows biomass to be carefully processed to speed up increasing soil fertility.

Uploaded by

ahmad buysy
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
354 views14 pages

Tribio Technology for Soil Fertility Improvement

The document discusses the Tribio technology for accelerating soil fertility improvement in dry lands. The Tribio technology consists of three parts: (1) Hard parts like wood are turned into biochar through pyrolysis, (2) Liquid parts like fruits and vegetables are turned into liquid organic fertilizer, and (3) Soft parts like leaves are turned into compost. Biochar, liquid organic fertilizer, and compost are all useful for improving soil properties and can be produced using simple, environmentally friendly tools. When applied to dry lands, the Tribio technology allows biomass to be carefully processed to speed up increasing soil fertility.

Uploaded by

ahmad buysy
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

Prosiding Seminar Nasional-Perbaikan Kualitas Lahan Kering 2017

TEKNOLOGI TRIBIO UNTUK MEMPERCEPAT PROSES PERBAIKAN


KESUBURAN TANAH DI LAHAN KERING

Tribio Technology to Accelerate the Process of Soil Fertility


Improvement in Dry Land

Nasih Widya Yuwono

Departemen Tanah, Fakultas Pertanian UGM


*)
Email Korespondensi: nasih@[Link]

ABSTRACT

The Tribio technology is assembled from KoesPlus "stick, wood and stone become plants”
which is translated by the Biomass Trilogy as follows: (1) Hard parts (woody, eg: wood,
bamboo, branches, twigs, including paper, are processed into biochar, through a process of
pyrolysis (burning without oxygen) that produces charcoal, continued the process of turning
with immersion in the POC (liquid organic fertilizer) to become biochar. Biochar can be
applied directly into the soil, as mulch on the ground surface or included as well as in the
composting process. Biochar in the soil can last several centuries. Tools already made: Rice
husk charcoal reactor. (2). The aqueous (liquid) part, for example: vegetable, fruit, meat, milk,
are processed into liquid organic fertilizer in a Hi bio-compost reactor (using black fly larvae
or Hermetia illucens). Liquid organic fertilizer (POC) can be used as a source of nutrients,
applied through soil application or leaf application, as an inoculant source for composting,
or sources of nutrients, organic and microbes used to turn on biochar. POC is useful for a
very short period. Tools already made: bio-compost reactor Hi. (3.) Soft parts, eg: leaves,
livestock manure or manure, are made into compost through the composting process.
Composting consists of two processes: (1) decomposition/destruction and (2)
recomposition/synthesis. Compost in the soil can be useful for 3-5 years. Tools already
created: biomass barn. With tribio friendly technology, any existing biomass in dry land can
be carefully processed, and used to speed up the process of soil fertility improvement.

Keywords: tribio, pyrolysis, Hermetia illucens, soil fertility, environmentally friendly


technology

ABSTRAK

Teknologi Tribio dirakit berangkat dari tulisan KoesPlus “tongkat kayu dan batu jadi
tanaman”, yang diterjemahkan dengan konsep Trilogi Biomasa sebagai berikut: (1) Bagian
keras (berkayu), contoh: kayu, bambu, cabang, ranting, termasuk kertas, dibuat menjadi
biochar (arang hidup), melalui proses pirolisis (pembakaran tanpa oksigen) yang
menghasilkan arang, diteruskan proses menghidupkan dengan perendaman dalam POC
(pupuk organik cair) sehingga menjadi biochar. Biochar dapat diaplikasikan langsung ke
dalam tanah, sebagai mulsa di permukaan tanah atau diikutkan serta dalam proses
pengomposan. Biochar dalam tanah dapat bertahan beberapa abad. Alat yang sudah dibuat :
Reaktor arang sekam. (2) . Bagian berair (cair), contoh: sayur, buah, daging, susu, dibuat
menjadi pupuk organik cair dalam reaktor biokompos Hi (menggunakan larva lalat hitam atau
Hermetia illucens). POC dapat digunakan sebagai sumber hara, diaplikasikan lewat tanah atau
lewat daun tanaman, sebagai sumber inokulan untuk pengomposan, atau sumber nutrien,
organik dan mikroba yang digunakan untuk menghidupkan biochar. POC bermanfaat untuk

61
Prosiding Seminar Nasional-Perbaikan Kualitas Lahan Kering 2017

jangka yang sangat singkat. Alat yang sudah dibuat: reaktor biokompos Hi. (3.) Bagian lunak,
contoh: daun, kotoran ternak atau pupuk kandang, dibuat menjadi kompos melalui proses
komposting. Komposting terdiri dari dua proses: (1) dekomposisi atau
perombakan/penguraian, dan (2) rekomposisi/sintesis. Kompos dalam tanah dapat bermanfaat
sampai 3-5 tahun. Alat yang sudah dibuat : lumbung biomassa. Dengan teknologi ramah
lingkungan tribio, biomassa apa saja yang ada di lahan kering dapat diolah dengan cara
seksama, dan digunakan untuk mempercepat proses perbaikan kesuburan tanah.

Kata Kunci: tribio, pirolisis, Hermetia illucens, kesuburan tanah, teknologi ramah lingkungan

KONSEP TEKNOLOGI TRIBIO

Teknologi Tribio dirakit berangkat dari tulisan KoesPlus “tongkat kayu dan
batu jadi tanaman”, yang diterjemahkan dengan konsep Trilogi Biomasa (Gambar 1)
sebagai berikut: (1) Bagian keras (berkayu), contoh: kayu, bambu, cabang, ranting,
termasuk kertas, dibuat menjadi biochar (arang hidup), melalui proses pirolisis
(pembakaran tanpa oksigen) yang menghasilkan arang, diteruskan proses
menghidupkan dengan perendaman dalam POC sehingga menjadi biochar. Biochar
dapat diaplikasikan langsung ke dalam tanah, sebagai mulsa di permukaan tanah atau
diikutkan serta dalam proses pengomposan. Biochar dalam tanah dapat bertahan
beberapa abad. Alat yang sudah dibuat : Reaktor arang sekam. (2) . Bagian berair
(cair), contoh: sayur, buah, daging, susu, dibuat menjadi pupuk organik cair dalam
reaktor biokompos Hi (menggunakan larva lalat hitam atau Hermetia illucens). Pupuk
organik cair (POC) dapat digunakan sebagai sumber hara, diaplikasikan lewat tanah
atau lewat daun tanaman, sebagai sumber inokulan untuk pengomposan, atau sumber
nutrien, organik dan mikroba yang digunakan untuk menghidupkan biochar. POC
bermanfaat untuk jangka yang sangat singkat. Alat yang sudah dibuat: Reaktor
biokompos Hi. (3.) Bagian lunak, contoh: daun, kotoran ternak atau pupuk kandang,
dibuat menjadi kompos melalui proses komposting. Komposting terdiri dari dua
proses: (1) dekomposisi atau perombakan/ penguraian, dan (2) rekomposisi/ sintesis.
Kompos dalam tanah dapat bermanfaat sampai 3-5 tahun. Alat yang sudah dibuat :
Lumbung biomassa. Dengan teknologi ramah lingkungan tribio, biomassa apa saja
yang ada di lahan kering dapat diolah dengan cara seksama, dan digunakan untuk
mempercepat proses perbaikan kesuburan tanah.

BIOCHAR SEBAGAI PEMBENAH TANAH

Pemulihan sifat tanah dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai bahan


amelioran (pembenah tanah). Pembenah tanah adalah bahan alami atau sintetik
mineral atau organik untuk menanggulangi kerusakan atau degradasi tanah. Salah satu
pembenah tanah yang menjadi pembicaraan hangat secara global, adalah biochar atau
arang.

62
Prosiding Seminar Nasional-Perbaikan Kualitas Lahan Kering 2017

Biochar atau arang merupakan pembenah tanah alami berbahan baku hasil
pembakaran tidak sempurna (pirolisis) (Conte, 2014) dari residu atau limbah pertanian
yang sulit didekomposisi, seperti kayu-kayuan. Pembakaran tidak sempurna dilakukan
dengan menggunakan alat pembakaran atau pirolisator suhu sekitar 2500 – 3500 C,
selama 2-3,5 jam, sehingga diperoleh arang yang mengandung karbon tinggi dan dapat
diaplikasikan sebagai pembenah tanah. Pemberian biochar atau bahan pirogenik akan
meningkatkan kadar C dalam tanah, lebih banyak dan lebih tahan lama, dibandingkan
C yang diberikan dalam bentuk segar seperti pupuk organik (Whitman et al. 2016).
Pemilihan bahan baku pembenah tanah dari bahan yang sulit didekomposisi
dimaksudkan agar dapat bertahan lama di dalam tanah. Di Indonesia potensi
penggunaan biochar cukup besar, mengingat bahan baku seperti residu kayu,
tempurung kelapa, dan sekam padi cukup tersedia, pada setiap proses penggilingan
gabah akan dihasilkan 16,3 – 28 % sekam.

Gambar 1. Konsep Teknologi Tribio

Pembuatan biochar dapat dilakukan dengan beberapa model pirolisator


sederhana yaitu : (1). berbentuk vertikal, terbuat dari drum yang diberi lubang –
lubang untuk pengaturan panas dan pembakaran, dilengkapi dengan alat pengontrol
suhu (termometer) dan tekanan udara. Alat ini lebih sederhana dan mudah dibuat
namun kapasitasnya sangat terbatas, (2). berbentuk horizontal, alat ini lebih mudah
penggunaannya, kapasitas lebih besar, namun untuk pembuatannya memerlukan biaya
lebih besar, (3) pembakaran terbuka (open firing) dalam bejana.
Proses pembuatan biochar/arang dimulai dengan memasukkan limbah
pertanian (sekam padi, potongan kayu dan bambu, kulit buah kakao dan sebagainya)
ke dalam pirolisator yang terlebih dahulu dipasang rongga-rongga tersebut
dimasukkan kayu bakar atau bahan lainnya, lalu dibakar hingga membara. Rongga-
rongga tersebut berfungsi agar proses pembakaran dapat berlangsung merata. Suhu

63
Prosiding Seminar Nasional-Perbaikan Kualitas Lahan Kering 2017

dikontrol melalui termometer yang dipasang di bagian ujung dan tengah alat. Apabila
suhu telah mencapai lebih dari 2000C, pirolisator ditutup. Apabila asap mulai keluar
melalui cerobong, berarti pembakaran sudah berjalan dengan baik. Setelah 2-3,5 jam
dan sudah tidak banyak mengeluarkan asap lagi, arang dikeluarkan dan langsung
disemprot air agar tidak menjadi abu atau tidak terjadi pembakaran sempurna.
Selanjutnya biochar tersebut: (1) direndam selama 1-7 hari dengan pupuk
organik cair, mikroba, larutan hara, atau (2) dicampur selama 1-4 minggu dengan
bahan kompos. Biochar yang sudah disiapkan dengan baik ini, dapat digunakan di
lahan pertanian. Manfaat penggunaan biochar untuk perbaikan tanah adalah : (1).
Meningkatkan pH tanah dan KTK tanah, (2). Meningkatkan kemampuan tanah
merentensi air dan hara, (3). Meningkatkan kandungan C-total tanah (carbon-sink)
(Alling et al., 2014; Conte, 2014).
Dibandingkan dengan bahan pembenah tanah yang lain, biochar mempunyai
keunggulan-keunggulan antara lain: (1). Dapat mengurangi laju emisi CO2, (2) .
Bentuknya yang stabil (sulit didekomposisi) dalam tanah, biochar mampu bertahan
dalam tanah untuk waktu lama (> 400 tahun) dan berfungsi sebagai konservasi karbon,
(3). Dapat membentuk habitat yang baik bagi mikroorganisme misalnya terbentuknya
lingkungan bersifat netral pada tanah masam (Lee et al., 2013)
Aplikasi biochar dapat meningkatkan kualitas lahan pertanian (Hussain et al.,
2016). Biochar dapat diberikan dengan cara disebar secara merata atau pada larikan
(jalur tanaman). Bila diberikan dengan cara disebar, maka biochar dibenamkan
bersamaan dengan pengolahan tanah terakhir. Bila diberikan pada larikan/jalur
tanaman, biochar ditutup dengan tanah sebelum dilakukan penanaman. Dosis
penggunaan per musim pada tanah : (1). Terdegradasi ringan (bahan organik tanah 2-
2,5 %) : 1 ton/ha; (2). Terdegradasi sedang (bahan organik tanah 1,5-2%) : 1,5-2,5
ton/ha; (3). Terdegradasi berat (bahan organik tanah <1%) : 2,5 ton/ha.

REAKTOR ARANG SEKAM

Spesifikasi alat: (1). Tungku silinder, tinggi 40 cm, diameter 40 cm, dinding diberi
lubang-lubang diameter 2 cm, (2). Cerobong, diameter 9 cm tinggi 190 cm (5 ruas).
(3). Bahan seng galvallum. Alat dapat dikemas dengan ukuran 45 cm x 45 cm x 45 cm.
(4). Diproduksi secara manual oleh UKM di Ceper, Klaten, Jawa Tengah. Cara kerja:
(1). Membuat bakaran kayu /ranting sampai membara volume 30 cm x 30 cm x 30 cm.
(2). Naikkan reaktor arang sekam di atas kayu yang sudah membara. (3). Setelah
cerobong panas, hamparkan sekam menggunung disekitarnya. (4). Tunggu sampai
permukaan sekam menjadi arang berwarna hitam. (5) Setelah arang sekam jadi, segera
disiram air. Reaktor disingkirkan terlebih dahulu agar tidak terkena air. Kapasitas :
dengan alat ini sekali bakar dapat mengolah 4 karung besar sekam (3 jam, untuk demo)
sampai 60 karung besar (2 hari, produksi). Bahan yang diolah: sekam padi, dapat pula
bahan lain yang memilik tekstur serupa yaitu: limbah peternakan ayam dan serbuk

64
Prosiding Seminar Nasional-Perbaikan Kualitas Lahan Kering 2017

gergaji. Penggunaan arang sekam: (1). Untuk campuran media tanam, (2) Untuk
campuran dalam pembuatan kompos, (3). Dicampur merata dengan tanah sawah pada
lapis olah (0-20 cm), dosis ideal 5 kg/m2 dapat dilakukan langsung 1 kali atau bertahap
sesuai kemampuan petani. Sosialisasi: Reaktor arang sekam (Gambar 2) sudah dibuat
sekitar 30 unit, dan telah digunakan pada kegiatan KKN UGM (Wonogiri, Blora),
petani organik (Wonogiri, Sragen, Sleman), UPSUS (Wonosobo, Klaten),
penggilingan padi (Klaten), Hibah TTG (Bantul), kelompok masyarakat (Gunung
Kidul), pengusaha (Sleman), Litbang Tebu (Kediri).

Gambar 2. Reaktor Arang Sekam

REAKTOR BIOKOMPOS Hi

Reaktor biokompos Hi (Gambar 3.) (Yuwono dkk., 2016), memanfaatkan larva


Hermetia illucens, dirancang dengan beberapa keunggulan: tidak perlu listrik, tidak
perlu tenaga, tidak perlu bahan kimia, tidak perlu air, tidak perlu mikrobia biang
(aktivator). Reaktor tertutup sehingga aman dari gangguan hewan yang mengaduk
sampah, tidak menjadi sarang nyamuk atau serangga lainnya. Cara menggunakan
mudah: membuka tutup, memasukkan limbah organik, dan menutup kembali.
Reaktor Biokompos Hi, merupakan teknologi ramah lingkungan yang dapat
dibuat dengan beaya murah, mudah digunakan dan mudah ditiru. Teknologi ini dapat
dikembangkan di perdesaan atau perkotaan yang padat penduduknya. Larva Hermetia

65
Prosiding Seminar Nasional-Perbaikan Kualitas Lahan Kering 2017

illucens yang digunakan sebagai agensia perombak limbah sayur dan buah dapat
ditemukan di sekitar, aman bagi lingkungan karena tidak menyebarkan penyakit.
Dalam saluran pencernaannya, larva mengeluarkan enzim katalitik yang
mampu mencerna selulosa, protein, lemak dan karbohidrat dalam limbah sayur dan
buah. Ensim tersebut dihasilkan oleh mikrobia bawaan terutama bakteri dalam usus
larva tersebut (Kim et al., 2014). Hasil penelitian Supriyatna dkk. (2015) menunjukkan
aktivitas enzim perombak dipengaruhi oleh temperatur, menurut mereka enzim
amilase optimum pada 40 ℃, enzim lipase pada 40 ℃, dan enzim protease pada 45 ℃.
Kim et al. (2011) melaporkan banyak sekali ensim di dalam perut larva hermetia
illucens yaitu: Alkaline phosphatase, Esterase (C4), Esterase lipase, Lipase, Leucine
arylamidase, Valine arylamidase, Cystine arylamidase, Trypsin, α-Chymotrypsin,
Acid phosphatase, Naphthol-AS-BI-phosphohydrolase, α-Galactosidase, β-
Galactosidase, β-Glucuronidase, α-Glucosidase, β-Glucosidase, N-Acetyl-β-
glucoaminidase, α-Mannosidase, dan α-Fucosidase.
Jaminan keamanan larva Hermetia illucens dalam mengolah limbah organik
ditunjukkan oleh penelitian Lalander et al. (2013), mereka melaporkan bahwa larva
yang dipelihara pada media feses manusia terbukti mampu menurunkan populasi
Salmonella spp dibandingkan kontrol. Larva juga mampu menekan Escherichia coli
dan Salmonella enterica pada kotoran ayam (Erickson et al., 2004). Ekstrak larva
Hermetia illucens ternyata juga mengandung antibiotik (Park et al., 2014).
Hasil utama berupa cairan yang mengandung: unsur hara, ensim, mikroba.
Konversi limbah sayur dan buah menjadi cairan diperkirakan sekitar 50%. Cairan ini
dapat digunakan langsung atau diolah terlebih dahulu sebagai pupuk cair, kemudian
setelah diencerkan diaplikasikan lewat daun atau dikucurkan ke tanah. Cairan dapat
juga digunakan sebagai sumber mikroba dalam pembuatan kompos padat. Dengan
demikian akan terjadi penghematan bagi petani.
Hasil lain berupa pra pupa, analisis pra pupa kering memiliki kandungan
protein 40%, lemak 35%, serat kasar 7%, abu 15%. Kandungan protein yang tinggi
ini, sehingga cocok dimanfaatkan sebagai pakan ayam atau ikan. Kandungan lemak
yang tinggi, dapat diolah menjadi minyak atau bahan bakar. FAO (2013) menyebut
Hermatia Illucens sebagai salah satu sumber pangan untuk masa depan.
Hasil penelitian Yuwono dkk. (2016) sudah dapat membuat pupuk pupuk
organik cair, dengan bahan limbah buah dalam reaktor sederhana, dengan agensia
Hermetia illucens selanjutnya disebut POC Hi, teknologi ini telah dipromosikan
melalui media sosial sudah berhasil dicoba juga di beberapa tempat di pulau Sumatera,
Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Bali. Tahun ini akan dicoba juga di Papua. Hampir
dapat dipastikan lalat hitam (Hermetia illucens) secara lokal ditemukan di semua
tempat di Indonesia. POC Hi tersebut dapat digunakan sebagai sumber hara pada
tanaman kangkung, baik secara hidroponik, dengan media arang, atau di tanah, tahun
ini akan dicoba untuk tanaman padi sawah.

66
Prosiding Seminar Nasional-Perbaikan Kualitas Lahan Kering 2017

Gambar 3. Reaktor Biokompos Hi

UPAYA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS LAHAN KERING

Intensifikasi tanah pertanian dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan


hasil panen, dalam jangka pendek dan jangka panjang dengan mengutamakan jaminan
keberlanjutan. Produktivitas tanah pertanian dapat dinaikkan, diantaranya dengan
memperbaiki media tumbuh yakni dengan meningkatkan kapasitas dan intensitas
kesuburan tanah. Kapasitas kesuburan tanah ditingkatkan dengan cara menambahkan
koloid organik dari sumber yang dapat terbaharukan (biochar), sedangkan intensitas
kesuburan dilakukan dengan memanfaatkan hasil dekomposisi biomassa (pupuk
organik cair, pupuk organik padat dan abu). Interaksi sinergi antara mineral, bahan
organik dan mikrobiota tanah dapat membangun kesuburan dan meningkatkan
produktivitas tanah sawah. Konsep TRIBIO (trilogi biomassa) dikembangkan, agar
dengan cara mudah, murah dan lokal kita dapat memanfaatkan potensi biomassa yang
selalu tersedia di lingkungan tropika. Konsep tribio dapat diterapkan pada sistem
pertanian konvensional atau organik.
Fakta: (1). Indonesia memiliki laut yang luas, (2). Daratan dikelilingi laut, (3).
Air laut tidak pernah surut, (4). Cahaya matahari penuh sepanjang tahun, (5). Lahan
kering , menganggur. Kendala : (1). Tenaga menaikkan air laut ke daratan, (2). Air
laut dengan kadar garam tinggi tidak cocok untuk irigasi pertanian, (3). Lahan kering
kurang air. Peluang: (1). Ada tanaman halofit (hidup dengan air laut), (2). Biomasa
halofit dapat dibuat arang, (3). Arang dapat untuk menyaring air laut , menjadi air
tawar dan garam. Strategi: (1). Menanam halofit dengan air laut, biomasa diarangkan,
digunakan menyaring air laut, dihasilkan air tawar , digunakan untuk irigasi lahan
kering.

67
Prosiding Seminar Nasional-Perbaikan Kualitas Lahan Kering 2017

Gambar. Teknologi tribio untuk meningkatkan produktivitas lahan kering.

DAFTAR PUSTAKA

Alling, V., S. Hale1, V. Martinsen, J. Mulder, A. Smebye, G.D. Breedveld & G.


Cornelissen. 2014. The role of biochar in retaining nutrients in amended
tropical soils. J. Plant Nutr. Soil Sci. 2014, 177, 671–680
Conte, P. 2014. Biochar, soil fertility, and environment. Biol Fertil Soils (2014)
50:1175.
Erickson, M.C., Islam, M., Sheppard, C., Liao, J. & MP. Doyle. 2004. Reduction of
Escherichia coli O157:H7 and Salmonella enterica serovar Enteritidis in chicken
manure by larvae of the black soldier fly. J. Food Prot., 67(4): 685–690.
FAO. 2013. Edible Insects: Future Prospects for Food and Feed Security.
Hussain, M., M. Farooq, A. Nawaz, A.M. Al-Sadi, Z.M. Solaiman, SS. Alghamdi, U.
Ammara, YS. Ok & KHM. Siddique. 2016. Biochar for crop production:
potential benefits and risks. Journal of Soils and Sediments. DOI
10.1007/s11368-016-1360-2.
Kim,E, Park,J., Lee,S. & Y. Kim. 2014. Identification and Physiological Characters of
Intestinal Bacteria of the Black Soldier Fly, Hermetia illucens. Korean journal
of applied entomology. Volume 53 (1): 15-26.
Kim,W., Bae,S. Park,K. Lee,S. Choi,Y., Han,S. & Y. Koh 2011. Biochemical
characterization of digestive enzymes in the black soldier fly, Hermetia
illucens (Diptera: Stratiomyidae). Journal of Asia-Pacific Entomology. 14 : 11–
14.
Lalander,C., Diener,S., Magri,ME., Zurbrügg,C., Lindström,A. & [Link]ås. 2013.
Faecal sludge management with the larvae of the black soldier fly (Hermetia
illucens) – from a hygiene aspect Sci. Total Environ., Vol 458–460 : 312–318
Lee, JF., B. Hawkins, X. Li & D.M. Day. 2013. Biochar Fertilizer for Soil Amendment
and Carbon Sequestration in J.W. Lee (ed.), Advanced Biofuels and
Bioproducts. pp: 57-68.

68
Prosiding Seminar Nasional-Perbaikan Kualitas Lahan Kering 2017

Park,SI., Chang,BS. and Yoe,SM. 2014. Detection of antimicrobial substances from


larvae of the black soldier fly, Hermetia illucens (Diptera: Stratiomyidae).
Entomological Research, 44: 58–64.
Supriyatna,A., Jauhari,AA. dan [Link]. 2015. Aktivitas Enzim Amilase,
Lipase, Dan Protease Dari Larva Hermetia illucens yang diberi pakan jerami
padi. Jurnal kajian islam sains dan teknologi. Vol 9 (2): 18-32.
Whitman,T, C. Pepe-Ranney, [Link], C. Koechli, A. Campbell, D. Buckley and J.
Lehmann. 2016. Dynamics of microbial community composition and soil
organic carbon mineralization in soil following addition of pyrogenic and fresh
organic matter. The ISME Journal (2016), 1–13.
Yuwono, NW., C. Wulandari & U. Hani 2016a. Pembuatan Pupuk Organik Cair
Dengan Bahan Dasar Limbah Buah Dan Ikan Menggunakan Agensia Larva
Hermetia Illucens. Laporan Penelitian Hibah Fakultas Pertanian UGM.
Yuwono, NW., C. Wulandari, Fitriyani & AO. Nasution. 2016. Pembuatan Biochar
Dengan Bahan Limbah Organik Kebun Kakao. Laporan Penelitian Hibah
Fakultas Pertanian UGM – PT. Pagilaran.

69
PROSIDING

SEMINAR NASIONAL

PERBAIKAN KUALITAS LAHAN KERING UNTUK


MENINGKATKAN PRODUKSI PERTANIAN
DAN KETAHANAN PANGAN

Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala


Darussalam, Banda Aceh
19 - 20 September 2017

KERJASAMA

THE ACIAR PROJECT SMCN 2012/103


IMPROVING SOIL AND WATER MANAGEMENT AND CROP PRODUCTIVITY OF
DRYLAND AGRICULTURE SYSTEMS OF ACEH AND NEW SOUTH WALES
UNIVERSITAS SYIAH KUALA,

PROGRAM STUDI MAGISTER AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERANIAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA,

BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN ACEH

ISBN 978-602-1270-83-7
PROSIDING SEMINAR NASIONAL

PERBAIKAN KUALITAS LAHAN KERING UNTUK


MENINGKATKAN PRODUKSI PERTANIAN DAN KETAHANAN
PANGAN

Penerbit:

SYIAH KUALA UNIVERSITY PRESS


Kampus Universitas Syiah Kuala Darussalam,
Banda Aceh 23111 ACEH-INDONESIA
Telp. 0651-7552440

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang;


dilarang memperbanyak, menyalin, merekam sebagian atau seluruh buku ini
dalam bahasa atau bentuk apapun tanpa izin tertulis dari penerbit

ISBN: 978-602-1270-83-7

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)


Prosiding Seminar Nasional:
Perbaikan Kualitas Lahan Kering untuk Meningkatkan Produksi Pertanian dan
Ketahanan Pangan /
Syakur [et al.] – Banda Aceh: Syiah Kuala University Press, 2017.
x, 287 p.; ilus. 25 mm Bibliografi

ISBN: 978-602-1270-83-7

Dicetak di Banda Aceh, Indonesia

ii
ISBN 978-602-1270-83-7

Prosiding Seminar Nasional - Perbaikan Kualitas Lahan Kering


Banda Aceh, 19 - 20 September 2017

Tim Reviewer:
Prof. Dr. Ir. Sufardi, M.S. (Universitas Syiah Kuala)
Prof. Dr. Ir. Sabaruddin, M. Agr. (Universitas Syiah Kuala)
Prof. Dr. Ir. Darusman, [Link]. (Universitas Syiah Kuala)
Prof. Dr. Ir. Samadi, [Link]. (Universitas Syiah Kuala)
Prof. Dr. Ir. H. M. H. Bintoro, M. Agr. (Institut Pertanian Bogor)
Dr. Malem McLeod (Department of Primary Industries, New South Wales)
Dr. drh. T. Fadrial Kamil, [Link]. (Universitas Syiah Kuala)
Ir. T. Iskandar, [Link]. (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Aceh)

Editor:
Syakur (Universitas Syiah Kuala)
Bakhtiar (Universitas Syiah Kuala)
Zaitun (Universitas Syiah Kuala)
Teti Arabia (Universitas Syiah Kuala)
Fikrinda (Universitas Syiah Kuala)
Muhammad Jalil (Universitas Teuku Umar)
Edi Husen (Litbang Pertanian Jakarta)
M. Ferizal (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Aceh)

Setting/Layout:
Muhammad Rusdi

iii
DAFTAR ISI

BIOCHAR UNTUK PENGELOLAAN TANAH PERTANIAN


LAHAN KERING GUNA MENCAPAI PRODUKTIVITAS
BERLANJUT
Wani Hadi Utomo ................................................................................ 1-12

ACIAR AND NSW DEPARTMENT OF PRIMARY INDUSTRIES: A


DECADE OF SUPPORTING AGRICULTURE RESEARCH IN
ACEH
Malem McLeod .................................................................................... 13-16

MODIFIKASI IKLIM MIKRO UNTUK PERBAIKAN


KUALITAS LAHAN KERING
Yonny Koesmaryono, Taufan Hidayat dan Haruna ........................ 17-26

PERTANIAN TERINTEGRASI UNTUK PENINGKATAN


PRODUKSI PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN
Mochamad Hasjim Bintoro dan Agief Julio Pratama ...................... 27-34

APLIKASI PELAPIS BUAH SUGAR-ESTER BLEND KD-112 DAN


SUHU SIMPAN UNTUK MELINDUNGI BUAH PEPAYA
‘CALIFORNIA’ TERHADAP INFEKSI JAMUR Colletrotichum
gloeosporiodes (Penzs.) Sacc.
Soesiladi E. Widodo, Suskandini R. Dirmawati, Zulferiyenni,
Rachmansyah A. Wardhana, Yuana Ariyanti .................................. 35-41

PENGARUH 1-METHYLCYCLOPROPENE, PLASTIC WRAPPING,


DAN SUHU SIMPAN TERHADAP MASA SIMPAN DAN MUTU
BUAH JAMBU BIJI ‘MUTIARA’
Zulferiyenni, M. Kamal, Soesiladi E. Widodo, Bayu K.
Wardhana ............................................................................................. 43-51

PENGARUH PEMBENAH TANAH TERDAHAP PERTUMBUHAN


DAN HASIL TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) PADA
BERBAGAI POLA TANAM PADA TANAH PODSOLIK
Ridha Arjuna, Zaitun dan Syafruddin .............................................. 53-60

TEKNOLOGI TRIBIO UNTUK MEMPERCEPAT PROSES


PERBAIKAN KESUBURAN TANAH DI LAHAN KERING
Nasih Widya Yuwono .......................................................................... 61-69

DERAJAT INFEKSI DUA PULUH LIMA GENOTIPE PADI (Oryza


sativa L.) TERHADAP CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULAR
PADA KETERSEDIAAN AIR BERBEDA
Taufiq Hidayatullah, Panjisakti Basunanda, Jaka Widada ............ 71-79

vii

Common questions

Powered by AI

The larvae of Hermetia illucens (black soldier fly) in the Hi biocompost reactor facilitate efficient composting by breaking down organic waste rapidly through the action of enzymes in their gut, which can decompose cellulose, proteins, fats, and carbohydrates. This biological activity requires no external energy, chemicals, or microbial activators, making the composting process environmentally friendly and highly efficient .

Challenges in using seawater for irrigation include high salinity levels which are detrimental to most conventional agricultural crops. The Tribio technology addresses this by utilizing halophytes that thrive in saline conditions, whose biomass can be charred to create biochar for seawater filtration, subsequently providing freshwater suitable for irrigation .

The making of biochar in the Tribio technology involves the process of pyrolysis, where biomass material such as wood is subjected to a combustion process without oxygen, resulting in a charcoal-like product. This process enhances the carbon content and ensures the material is difficult to decompose, allowing it to stay in the soil for extended periods, potentially for several centuries, thus contributing to soil fertility by retaining nutrients more effectively than fresh organic matter .

For different soil degradation levels, biochar application rates are prescribed as follows: for lightly degraded soils (organic matter 2-2.5%), the rate is 1 ton/ha; for moderately degraded soils (organic matter 1.5-2%), the rate is 1.5-2.5 tons/ha; and for severely degraded soils (organic matter <1%), the rate is 2.5 tons/ha. The rationale behind these rates is the necessity to increase soil organic matter content proportionally to its depletion level to effectively enhance soil fertility and structure .

Using biochar as a soil amendment offers several environmental benefits: it significantly reduces CO2 emissions, provides a stable habitat for microbes, and its carbon forms are highly resistant to decomposition, thus sequestering carbon for long periods (over 400 years). Furthermore, biochar increases the soil's pH and cation exchange capacity (CEC), improving nutrient retention and water holding capacity more effectively than other organic matter .

The Hi Biokompos reactor is advantageous in urban settings due to its compact and low-energy design, which requires minimal space and resources, making it accessible to communities. It effectively manages organic waste from dense populations without attracting pests or pathogens, aiding in waste reduction, soil amendment, and promoting urban sustainability through localized, organic recycling initiatives .

Biochar's high carbon retention is significant for agricultural sustainability as it not only enriches soil fertility by enhancing carbon sink capability but also offers a long-term method to sequester atmospheric carbon dioxide. This leads to improved soil physical properties, enhanced nutrient retention, and better moisture management, thereby reducing the need for chemical fertilizers and supporting sustainable agricultural systems .

Vertical biochar reactors, typically made from drums with controlled air and heat flow, are simpler and cost-effective to build but have limited capacity. In contrast, horizontal models offer larger operational capacity but require higher initial investment due to complex construction. The choice depends on resource availability and production needs, balancing cost and operational efficiency .

The operational considerations for using the Reaktor Arang Sekam include ensuring proper setup with a cylindrical furnace, creating an adequate burning base using wood or brush, and monitoring the temperature for uniformity. Additionally, it requires careful handling during the cooling phase to prevent combustion completion, and keeping the device protected from water during the process cycle .

Microbial interactions enhance biochar's effectiveness by creating a conducive habitat within its porous structure, promoting microbial colonization which increases nutrient cycling and bioavailability. This synergy increases soil fertility, structure, and resilience against environmental stressors, thus significantly improving crop yield and supporting ecological balance .

You might also like