MSI Jurnal
MSI Jurnal
DOI: 10.29240/alquds.v6i1.3028
Submitted: 2021-06-27|Revised: 2022-01-21|Accepted: 2022-02-09
menggunakan metode Research Lebrary. Data diperoleh menjaring artikel jurnal yang
relevan melalui google scholar dan scien direct. Analis data mengikuti miles dan
Huberman dengan pisau analisis triangulasi teori dan kisi-kisi dokumentasi. Hasil
penelitian ini menginterpretasikan bahwa hermeneutika dalam kajian hadits sangat luas
dan sangat padat cakapunnya. Tidak hanya pada cakupan al-qur’an namun pada hadits
juga sangat beragma bahkan prinsip-prinsip dalam hermeneutika hadits juga ada. Adapun
ilmuan muslim yang mempakari hermeneutika dalam kajian hadits antara lain Fazlur
Rahman dengan teori a Double Movementnya, Nhsr Abu Hamid Zaid dengan Hermeneutika
semantiknya pada kajian tentang hadits jihad, Muhammad Musthofa A’Zani dengan
kiritik otentitas haditsnya, Hans Georf Gadamer dengan hermeneutika filsafatnya, dan
Paul Ricour dengan Hermeneutika teksnya pada lingkup hadits tentang mahram. Dengan
demikian kontribusi atau implikasi penelitian ini fokus menganalisis hermeneutika yang
dikembangkan oleh ilmuan Muslim modern, Adapun hermeneutika berkorelasi erat
dengan studi ilmu hadits di masa kini.
Pendahuluan
Sejatinya orang Islam memiliki pedoman hidup dalam menjalani
kehidupan di dunia. Al-Qur’an dan hadits merupakan pedoman hidup orang Islam
dalam menjalankan perintah dan larangan Allah SWt. 1 Nabi Muhammad Saw
bersabda dalam hadits shohihnya, bahwasanya Alqur’an dan hadits adalah pedoman
orang Islam, barang siapa yang bertaqwa dan mengamalkan kandungan isinya,
niscahaya Allah Swt meridhoi baik dunia maupn di akhirat.
Berdasarkan analisis dari inseklopedia Islam menyatakan bahwa banyak di
antara genarasi Islam di masa klasik menurun, baik dalam berperang maupun
dalam mengkaji ilmu. Disebabkan kurangnya mengkaji hadits Nabi yang diajarkan
kepada sahabat. Puncak kejayaan Islam di masa Nabi, sampaia generasi Islam
penerus. Mengalami kejayaan, di sebabkan karena kuatnya kecerdasan mengkaji
hadits Nabi Muhammad Saw.2
Keterbelakangan pemikiran pada peradaban Islam mempengaruhi
stagnansi dalam kajian hadits. Hal ini dijelaskan dengan adanya informasi bahwa
‘pintu ijtihad sudah tertutup’. Menjadikan kaum muslimin di masa kini tidak lagi
melakukan ijtihad terhadap hukum-hukum Islam, cukuplah kita menggunakan
1 Lilik Ummi Kaltsum, Eva Nugraha, and Jauhar Azizy, “Map Of Study Of The Quran In
The Postgraduate Program Of Uin Jakarta And Uin Yogyakarta Period Of 2005-2012,” Jurnal Ilmu
Ushuluddin 8, no. 1 (2021): 23–42.
2 Siti Nur Hidayah, “Pesantren For Middle-Class Muslims in Indonesia (Between Religious
Commodification and Pious Neoliberalisme,” Qudus Internasional of Islamic Stuies (QIJIS) 9, no. 1
(2021): 209–44.
Mohammad Jailani et.al: Membedah Hermeneutika Perspektif Ilmuan Muslim Modern | 213
ijtihad-ijtihad yang telah dilakukan pada masa klasik.3 Salah satu pendektan tersebut
adalah hermeneutika. Walaupun masih banyak perbedaan pendapat ahli hadits
dan akademisi mengenai penggunaan hermeneutika dalam ilmu hadits karena dari
sejarahnya hermeneutika muncul dari peradaban barat.
Mengingat hal itu pokok analisis kajian dalam penelitian ini adalah
hermeneutika dalam pandangan ilmuan muslim modern di kaji dalam studi ilmu
hadits. Peneliti menyadari bahwa kajian pembahasan ini sangat penting untuk di
dikaji dan di analisis di ranah kajian akademik maupun khazanah keislaman.
Banyak peneliti temui khususnya di basis penelitian melalui kajian Islamic studies,
interpretasi hadits, dan tafsir hadits, baik di google scholar maupn di science
direct. Oleh karenanya penelitian ini relevan dengan penelitian di masa kini yang
sesuai dengan kajian hadits, tafsir, dan ushuluddin.4
Sejauh ini penelitian, yang mengkaji tentang hermeneutika dominan
trending di basis penelitian. Khususnya pada aspek hadits dan Al-Qur’an. Peneliti
menganalisis dari bebera literatur review atau fakta literatur di atas, sebagai novelty
maupun posisi peneliti dalam penelitian ini. Penelitian terdahulu yang relevan
meneliti adalah Farihin 2016, dalam penelitiannya mengkaji tentang Hermeneutika
Rabbaniy ala Hads Qudsi Riwayat Huzaifah bin Al-yaman dalam penelitian
mendeskripsikan tentang salah satu metode paling tepat dan cepat dalam
memahami apapun, termasuk al-Qur’an. Metode ini didasari dari sebuah hadis
qudsi Riwayat huzaifah bin yaman.5 Yang dikenal dengan metode rabbaniy.
Adapun penelitian yang relevan dengan pernah di nalisis oleh Wahdah
2021, yang berjudul Hermeneutika Double Movement Fazlur Rahman dalam Studi
Hadits, penelitiannya mengkaji tentang hermeneutika menurut ilmuan muslim
kontemporer Fazlur Rahman dalam kajian hadits dengan pisau analisisnya adalah
teori double movement. Penelitian relevan pernah di kaji oleh Syarifudin 2021, artikel
tersebut menganalisis metode syarah hadits ulama klasik dan ulama kontemporer
dan metode hermeneutika cendikiawan Islam dalam menjelaskan interperetasi
hadits Nabi.6
3 Benaouda Bensaid, Salah Ben Tahar Machouche, and Mustafa Tekke, “An Islamic
Spiritual Alternative to Addiction Treatment and Recovery,” Al-Jami’ah 69, no. 1 (2021): 127–62,
https://doi.org/10.14421/ajis.2021.591.127-162.
4 Nicolas Palanca-Castan, Beatriz Sánchez Tajadura, and Rodrigo Cofré, “Towards an
Hermeneutika
Hermeneutik
Ilmuan Muslim Hadits Perspektif
Hadits
Modern
Ilmuan Hadits
Tanpa MaẖRam Perspektif Hermeneutika Paul Ricoeur,” Aqlam: Journal of Islam and Plurality 3, no.
1 (2018), https://doi.org/10.30984/ajip.v3i1.633.
Mohammad Jailani et.al: Membedah Hermeneutika Perspektif Ilmuan Muslim Modern | 215
siapa saja ilmuan muslim yang respon dan berkontribusi fokus membidangi
hermeneutika dalam studi hadits di masa kini.
Pendekatan pada penelitian ini adalah berbasis kajian Pustaka (library
research) dengan dikuatkan beberapa referensi dan data teori secara padat.
Penelitian ini adalah kualitatif yang fokus tentang kajian-kajian hermeneutika,
ilmuan muslim modern, hadits dengan mengacu dan berlandaskan Internasional
journal, jurnal Nasional, buku tentang hermeneutika hadis yang relevan, dan data
primer pada tesis dan desertasi. Objek formal dalam penelitian ini adalah
hermeneutika dalam kajian studi ilmu hadits, sedangkan objek material pada
penelitian ini adalah perspektif ilmuan muslim modern.9
Research Pengumpulan
Lebrary Data dengan
Metode Penjaringan
Kualitatif Artikel
Analisis Data
Model Miles
dan Huberman
Keabashan
data dengan
Triangulasi
9 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D, 1st ed. (Bandung: Alfabeta,
2017).
10 Sugiyono.
216 | AL QUDS : Jurnal Studi Alquran dan Hadis vol. 6, no 1, 2022
Pembahasan
Berdasarkan hasil temuan pada penelitian ini dapat disajikan menjawab
rumusan masalah dan metode yang digunakan sehingga dapat di analisis data
berikut ini:
Korelasi Metode Hermeneutika pada Studi Ilmu Hadits
Korelasi metode hermeneutika dengan studi hadits saling berkaitan,
peneliti dapati dari beberapa literatur pada jurnal beriputasi. Penafsiran hadits
dengan metode hermeneutika membongkar muatan kepentingan di balik teks.
Dengan mempertanyakan hubungan hermeneutika dengan hadits dengan konteks
masyarakat yang makro. Penafsiran ini mengombinasikan antara tradisi penafsiran
tekstual yang selalu melihat teks dalam ruang tertutup dengan konteks masyarakat
yang luas. Titik perhatian terbesar dari penafsiran ini adalah melihat makna hadits
sebagai kritik kekuasaan pada penguasa yang jelek. Membawa nilai ideologis
tertentu. Bahasa, secara sosial dan historis, adalah “bentuk Tindakan” dalam
korelasi dialetik antra hadits dan hermeneutika. Mengingat hal itu pemaknaan
harus dipusatkan pada teks hadits terbentuk dari korelasi hermenutika.11
Hermeneutik, diguanakan, dan dipahami. Hal ini mencakup bagaimana
proses-proses simbolik digunakan khususnya terkait kekuasaan, ideologi, dan
lambing-lambang bahasa. Implikasinya hadits diposisikan sebagai Tindakan
“kuasa” Nabi (yang kemudian dilanjutkan rijal alhadits dan para mufassir) untuk
melakukan perubahan, karena bahasa adalah “bentuk Tindakan” yang
berkekeuatan dalam membentuk struktur sosial yang diinginkan. Oleh karena itu,
pemaknaan hadits harus difokuskan pada bagaimana hermeneutika dibentuk dari
relasi sosial dan konteks sosial tertentu, sejak zaman Nabi hingga amsa
penafsiran.12
Dengan penafsiran ini, hadits tidak hanya dipandang sebagai susunan teks
seja, tetapi juga berusaha diselami kandungan makna literaturnya, dari konteks
budaya maupun tafsir transdensi. 13 Hermeneutika berusaha menggali makna
dengan mempertimbangkan horizon-horison (cakrawala) yang melingkupi sebuah
Martian Geochemistry: From the Viking Project to the MMX Future Mission,” Analytica Chimica
Acta, no. xxxx (2022): 339499, https://doi.org/10.1016/j.aca.2022.339499.
13 Nurkholis Hauqola, “HERMENEUTIKA HADIS: Upaya Memecah Kebekuan Teks,”
teks hadits, yaitu horizon kebahasaan teks (linguistic dan sosial), penggagas
(kapasitas Nabi), dan pembaca (makharrij al-hadits dan mufassir).14
Secara termenologi, hermeneutika sebagai keterampilan
menginterpretasikan, terlebih pada teks-teks bertanggung jawab, terkhusus kitab
suci, atau sama dengan istilah tafsir. Banyak pula yang menerjemahkan
hermeneutika sebagai suatu fisafat yang mengarahkan bidang kajiannya pada topik
“pemahaman pada pemahaman” teks, terlebih pada teks Kitab Suci, yang
bersumber dari suatu fase waktu, lokasi dan kedudukan sosial bagi para
pembacanya dianggap asing. 15 Menurut Schleiermacher yang dikenal bapak
hermeneutika modern, menjelaskan bahwa menurut metode hermeneutika,
pemahaman menuntut pembaca atau ahli tafsir untuk “menghidupkan kembali
dan memikirkan kembali pikiran dan perasaan pengarang”, sehingga pembaca,
ahli tafsir atau penginterpretasi dapat menempatkan dirinya pada posisi
kehidupan, pemikiran dan perasaan penciptanya, yang akhirnya mereka mampu
mendapatkan gambaran terhadap objek yang dibahasnya secara komprehensif.16
Menurut Syarifudin dalam Edi Susanto, Hermeneutika biasa diistilahkan
sebagai “Seni dan ilmu menginterpretasikan tulisan yang bernilai tinggi, terkhusus
dalam aplikasi untuk kitab suci dan senilai dengan tafsir.” Ada juga
mengartikannya sebagai filsafat yang memfokuskan bidang penelitiannya pada
personal “understanding of understanding” (pemahaman pada pemahaman) terhadap
teks, terutama tulisan kitab suci, yang muncul dari tempat, waktu serta kondisi
sosial yang asing bagi para pembacanya. Adapun hermeneutika dalam
pembahasan Alkitab Kristen diistilahkan sebagai uapya berteologi dengan
mengikutsertakan hukum tertentu dan cara oleh seorang penafsir, dengan tujuan
menemukan pengarang atau penulis aslinya dari Alkitab.17
Pemahaman hermeneutika dapat dipahami bahwa pola kerja
hermeneutika adalah kajian yang berhubungan dari tiga aspek utama
hermeneutika yaitu pencetus (referensi), teks, dan (ahli tafsir). Hubungan yang
berbentuk dari ketiganya menghasilkan adanya tiga keterkaitan: (1) hubungan
pencetus dengan teks; (2) hubungan pendengar dengan teks dan; (3) hubungan
14 Agusni Yahya, “Pendekatan Hermeneutik Dalam Pemahaman Hadis (Kajian Kitab Fath
Al-Bari Karya Ibn Hajar Al-‘Asqalani),” Ar-Raniry, International Journal of Islamic Studies 1, no. 2
(2014): 365, https://doi.org/10.20859/jar.v1i2.23.
15 Wely Dozan and Mitha Mahdalena Efendi, “Hermene Utika Hadis Sa’dudin Al -
Utsmani: Studi Kitab Almanhaj Al-Wasthi Fi at- Ta’amil Sunnah an-Nabawiyyah,” Sophist: Jurnal
Sosial Politik Kajian Islam Dan Tafsir 2, no. 2 (2020): 183–217.
16 Nkholis Sofwan, “Kontroversi Pemikiran Hadits Mahmud Abu Rayyah (Sebuah Kajian
Kritis-Komparatif),” Al Ashriyyah: Journal of Qur’an and Tafsir Studies 6, no. 01 (2020): 31–44.
17 Muhammad Syarifudin, “Interpretasi Hadis: Antara Hermeneutika Dan Syarh Al-
Hadits.”
218 | AL QUDS : Jurnal Studi Alquran dan Hadis vol. 6, no 1, 2022
Dalam Transmisi Hadis Nabi Saw ),” Islamidina: Jurnal Pemikiran Islam 22, no. 2 (2021): 137–50.
21 Muhammad Syarifudin, “Interpretasi Hadis: Antara Hermeneutika Dan Syarh Al-
Hadits.”
Mohammad Jailani et.al: Membedah Hermeneutika Perspektif Ilmuan Muslim Modern | 219
Teori a
Double
Movement
Ke-dua:
Pertama: umum Ke
Gerakan Khusus
Khusus
ke
23 Wahdah.
Mohammad Jailani et.al: Membedah Hermeneutika Perspektif Ilmuan Muslim Modern | 221
baik yang tersurat maupun yang tersirat, sebelum menentukan keputusan dan
kesimpulan hukum. Dalam menginterpretasikan hadits, seorang ahli tafsir juga
harus mempertimbangkan konteks masyarakat Arab pada saat hadits diturunkan,
baik dari segi adat, struktur sosial, maupun kehidupan beragamanya. Kemudian,
ahli tafsir melaksanakan geralisasi terhadap pesan yang disampaikan oleh hadits.
Adapun rincian langkah-langkah dalam Gerakan pertama di antaranya adalah
sebagai berikut ini:
Langkah pertama adalah memahami hadits sebagai satu kesatuan,
mempelajari makna hadits secara tekstual sekaligus menganalisis situasi historis
juga lokasi sosial pada saat hadits diturunkan atau dengan kata lain meneliti asbabul
warud dari hadits tersebut baik secara mikro maupun makro. Ajaran-ajaran moral
dan hukum akan dihasilkan dari kajian tersebut, yang harus diperbaiki
berlandaskan prinsip umum yang diistilahkan hadits secara jelas.
Langkah kedua, menggeneralisasikan jawaban-jawaban khusus tersebut
dan disajikan sebagai pernyataan dengan tujuan moral-sosial umum yang dapat
diseleksi dari teks-teks khusus dalam konteks sosio-historis dan ratio legis (illat
hukum) yang kerap disebutkan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan narasi yang
koheren dan sistematis dari Qur’an dan hadits mengenai prinsip-prinsip dan nilai-
nilai umum yang mendasari berbagai perintahnya yang bersifat normative.
Gerakan kedua, dari umum ke khusus. Ajaran-ajaran (asas) umum yang
dihasilkan dari Gerakan pertama harus dihidupkan dalam konteks sosial sejarah
yang nyata di waktu sekarang. Apabila diteliti, hermeneutika double movement Fazlur
Rahman membiarkan teks berbicara sendiri dengan cara mengkaji historitas teks,
tidak dengan memaksa teks berbicara sesuai dengan keinginan ahli tafsir. Namun,
dalam proses historisitas teks yang dimaksud selain harus menelaah asbabul wurud
hadits yang di teleiti, juga harus memahami lokasi sosial masyarakat Arab apabila
hadits disampaikan oleh Rasulullah Saw. Tujuannya adalah menemukan nilai-nilai
universal (ideal moral), karena nilai ideal moral ini bersifat mutlak, tidak akan
berubah dan berlaku sepanjang tujuan asas moral yang disampaikan Al-Qur’an
dan hadits, dibandingkan legal spesifik yang ketepatan hukum dipraktikkan secara
khusus.24
Metode Hermeneutika Hadis Abu Zaid
Hermeneutika Nashr Hamid Abu Zaid mengarah pada tiga pilar yang
harus di deskripsikan oleh ahli tafsir, makna (dalalah), signifikasi (magza), dan
maskut ‘anhu (hal yang didiamkan tidak dikatakan). Dalam prosesnya, ahli tafsir
24 Hunaida El Abidah, Rizkyana Wahyu, and Laras Pertiwi, “Problematika Bahasa Al-
Qur’an Sebagai Tantantan Wordview Islam,” Syaihuna 11, no. 2 (2020): 173–89.
222 | AL QUDS : Jurnal Studi Alquran dan Hadis vol. 6, no 1, 2022
memosisikan dirinya masa klasik melalui ruang historis teks untuk mencari ‘makna
asal’. Setelahnya ahli tafsir kembali ke masa kini untuk merekonstruksi ulang
informasi teks ‘signifikasi’ selanjutnya ahli tafsir dapat membuka pilar ‘maskut
‘anhu’ dari informasi teksnya. Sehingga dalalah itu makna teks sesuai historisnya
Ketika disabdakan. Sedangkan signifikasi itu pemaknaan Kembali ke konteks
masa sekarang.25
Pendekatan yang dipakai dalam menafsirkan hadits tentang perang (jihad)
adalah metode hermeneutika Hashr Hamid Abu Zaid. Hadits terdapat perintah
memerangi. Berperang di sini artinya adalah jihad. Jihad mempunya banyak mana,
namun yang relevan adalah seruan kepada agama yang haq. Dikarenakan kata jihad
merujuk pada fisabilillah (di jalan Allah) yang mana bisa dilakukan dengan banyak
cara seperti melalui kontak fisik (perang), tangan atau lisan untuk
mempertahankan agama Allah. Jihad, konsep yang banyak makna, selalu
problematika pada zaman sekarang, terlebih jika berhubungan dengan aplikatif.
Sehingga memaknai Kembali konsep jihad dengan kajian hermeneutika Nash
perlu di sajikan.26
Dalam menemukan dalalah (makna) jihad, seseorang ahli tafsir harus
memahami konteks sosio-kultural historis dari jihad itu sendiri. Pada masa awal
Islam Nabi Muhammad Saw menyebarkan Islam dibagi dalam dua periode yaitu
periode Mekkah dan periode Madinah. Ketika Nabi berdakwah di Mekkah, belum
ada perintah redaksi jihad.27
Berdasarkan hal itu dalalah jihad adalah perang membela Islam dan
mendakwahkannya. Sebaliknya, dakwah menyebarkan Islam adalah bagian dari
jihad dalam pengertian yang lebih luas. Secara sejarah tradisi peperangan barulah
disyariatkan Ketika Islam sudah kuat dan perang menjadi keharusan sampai akhir
perang dunia kedua. Akan tetapi, pada konteks masa sekarang di mana peradaban
sudah berbeda jauh dan negara-negara dunia telah bersepakat dan berdamai. Maka
memaknai hadits tersebut secara tekstual menjadi sebuah persoalan. Untuk itulah
dipahami terdahulu konsep jihad.28
(Studi Artikel E-Jurnal Dalam Portal Moraref 2015-2017,” Refleksi 2, no. 1 (2018): 169–92.
27 Arif Budiman, Edi Safri, and Novizal Wendry, “Studi Kritik Hadis Perspektif Jonathan
A.C. Brown (Analisis Terhadap Three Tiered Method),” Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin 22,
no. 1 (2020): 1, https://doi.org/10.22373/substantia.v22i1.6853.
28 Halim Rane, Adis Duderija, and Jessica Mamone, “Islamic Studies in Australia’s Higher
Otentitas
Teori
Hadits
Perspektif
Projection
Orientalis
Back
Teori
Common
Link
30 Marsa.
31 Marsa.
Mohammad Jailani et.al: Membedah Hermeneutika Perspektif Ilmuan Muslim Modern | 225
memakai nama tokoh-tokoh yang menjadi andalan. Namun mereka malah justru
memilih orang-orang yang tidak dipercayai haditsnya.32
Kedua, A’Zami beragumen bahwa materi hadits kebanyakan memiliki
persamaan dikalangan kelompok-kelompok Islam, seperti Khawarij, Mu’tazilah,
Zaidiyah, dan Imamiyah, di mana mereka memisahkan diri dari Ahlussunnah
kurang lebih 25 tahun sesudah Nabi Wafat. Jika hadits-hadits yang berkaitan
dengan masalah fiqih itu pemalsuannya terjadi pada abad kedua dan ketiga hijriyah
sebagaimana tuduhan Schact, maka tentunya tidak ada satu hadits pun yang secara
bersamaan terdapat kitab-kitab terhadap kelompok-kelompok Islam tersebut.
Pada hal kenyataannya dalam kitab-kitab tersebut banyak terdapat hadits-hadits
yang materinya berkaitan dengan mereka. Adapun alasan Schactht tentang gejala
adanya hadits-hadits itu dalam kitab-kitab mereka, maka hal itu tidak dapat
diterima jika ditinjau dari kecamata sejarah.
A’Zami berkesimpulan bahwa yang selama ini dalam menganalisis
pertumbuhan dan perkembangan sanad sangat bertentangan dengan pendapat
Scheact. Sebab tidak diragukan lagi penggunaan sanad sesudah dimulai pada masa
Rasulullah Saw, hanya saja metode ahli-ahli hadits dalam menggunakan sanad
tidak sama khususnya pada masa sahabat. Dapat dikatakan bahwa perhatian
terhadap pentingnya sanad mencapai puncaknya pada akhir abad pertama.
A’Zami berpandangan adanya rawi-rawi hadits dan tempat-tempat tinggal mereka
saling berjauhan. Jika hal tersebut ditambah umur serta tradisi mereka. Oleh
karena itu teori cheacht yang dikenal dengan “Projekting Back” (Proyeksi belakang)
sangat sulit dibayangkangkan, bahkan praktiknya juga belum pasti.
A’Zami juga mengkeritik pernyataan Joseph Schcht tentang Isnad keluarga
dan Common Link. Schacht berpendapat tentang isnad, bahwa isnad bukanlah jalur
periwayatan hadits seperti yang berlaku dikalangan Umat Islam. Namun Isnad
adalah buatan umat Islam setelah masa kehidupan Rasulullah. A’zami menurutnya
ada beberapa alasan yang dikemukakan Schacht Ketika berbicara tentang Isnad,
yaitu hadirnya isnad diabad kedua atau paling awal akhir abad kedua hijriyah,
merupakan hasil rekayasa untuk mendukung pendapat kepada referensi klasik,
dan semakin mundur bentuk Isnad semakin komprehensif.
Common Link adalah perawi tertua dalam jaringan Isnad, yang dari sejumlah
jalur periwayatan mulai meluas. Schat menyatakan bahwa sebuah hadits yang
mempunyai seorang Common Link adalah Isnadnya diederkan atau disebarkan
oleh Common Link itu sendiri, dengan syarat Common Link tersebut tidak historis.
Disini A’zami mengarahkan bahwa permisalan yang di sampaikan oleh Schacht
sebagai Common Link kenyataannya bukan seorang Common Link. Ketika A’Zami
meneliti tentang hadits Barirah, contoh yang diarahkan oleh Schancht untuk
menggambarkan pernyataannya tentang Common Link. Menurut Schacht orang
Madinah membolehkan penjualan hamba maktab, hal ini dapat ditemukan sebuah
hadits Isnad Malik-Hisyam-Urwah (Bapak Hisyam)A’Isyah (bibi Urwah) Nabi,
Hisyam adalah Common Link dalam versi Isnad keluarga ini. Isnad keluarga,
menurut Schacht palsu.33
Aplikasi teori Schact mengenai common link membawa kepada asumsi
bahwa hadits tersebut adalah dipalsukan pada masa Hisyam, apakah yang
memalsukan dia sendiri atau oleh seseorang yang menggunakan namanya. A’zami
dengan pendapatnya yang sangat tajam dari Schacth. A’Zami beragumen bahwa
mustahil perawi-perawi Hisyam, yang telah belajar hadits, darinya tidak
mengetahui nama guru mereka.34
Terkait hubungannya dengan autentitas hadits, A’Zami secara umum
menuduh Schacht memiliki “inkonsistensi” baik dalam teorinya sendiri maupun
penggunaan referensi, asumsi yang tidak berdasar dan metode penelitian yang
tidak relevan, kekeliruan fakta, kelailaian terhadap realitas geografis dan politik
pada masa itu, dan misi interpretasi terhadap makna teks yang dikutip, dan misi
interpretasi terhadap makna teks yang dikutip, dan kesalahfahaman terhadap
metode pengutipan ulama’-ulama’ awal. A’Zami berpendapat bahwa pemalsuan
hadits yang disampaikan, oleh Schacht dari waktu ke waktu dan mengalami
perbaikan di masa yang akan datang.35
Hermeneutika Hans-Georg Gadamer dalam Khazanah Hadits
Hans-Georg Gadamer merupakan salah satu tokoh yang sangat terkenal
di antara para tokoh filsafat hermeneutika. Gadamer lahir pada tanggal 11
Februari 1900 ia terlahir sebagai anak kedua di tengah keluarga pasangan Emma
Caroline Johanna Gewiese (1869-1904) dan Dr. Johannes Gadamer (1867-1928)
di Kota Marburg, sebuah kota bagian selatan Jerman. Sejak usia 20 tahun, ia hijrah
ke kota Breslau yang sekarang dikenal dengan nama Kota Wroclau, Polandia
karena ayahnya diminta menjadi profesor terbang (luar biasa ) di kampus Breslau.36
Komparasi Ilmu Tafsir Dan Hermeneutika),” Al-Qur’an Hadits 1, no. 1 (2020): 20,
https://doi.org/10.31227/osf.io/qx4sk.
35 Egi Tanadi Taufik, “Two Faces of Veil in the Quran: Reinventing Makna Jilbab Dalam
Al-Qur’an Perspektif Tafsir Maqāshidi Dan Hermeneutika Ma’nā Cum Maghzā,” Panangkaran:
Jurnal Penelitian Agama Dan Masyarakat 3, no. 2 (2020): 213,
https://doi.org/10.14421/panangkaran.2019.0302-05.
36 Andriyani, Pembacaan Hermeneutika Hadits Tentang Perempuan Kekurangan Akal Dan Agama:
37 Muhammad Fahri Asep Saepudin Jahar, Amany B. Lubis, “The Use of Maqasid Al-
Sharia in Maritime and National Resilience Contex,” Al-Risalah Forum Kajian Hukum Dan Sosial
Kemasyarakatan 21, no. 1 (2021): 97–110, https://doi.org/10.30631/al-risalah.v21i1.657.
38 Fajri Zulia Ramdhani and Rusmimayani Kurniawati, “Humanizing Islamic Religious
Education in Bali During The Covid-19 Pandemic,” Tarbiya: Journal of Education in Muslim Society 8,
no. 1 (2021): 65–80.
39 Nkholis Sofwan, “Kontroversi Pemikiran Hadits Mahmud Abu Rayyah (Sebuah Kajian
Kritis-Komparatif).”
228 | AL QUDS : Jurnal Studi Alquran dan Hadis vol. 6, no 1, 2022
Pertama, dalam sebuah teks, makna yang terdapat pada “apa yang
disebutkan (what is said), terlepas dari proses pengungkapannya (the act of saying),
sedangkan dalam bahasa lisa, kedua proses itu tidak dapat dipisahkan.
Kedua, makna sebuah teks juga tidak lagi terikat kepada pembicara,
sebagaimana bahasa lisan. Apa yang dimaksud teks tidak lagi terkait denga napa
yang awalnya dimaksudkan oleh penulisnya. Bukan berarti bahwa peneliti tidak
lagi dibutuhkan, namun maksud peneliti sudah terhalang oleh teks yang sudah
tercantum.
Ketiga, karena tidak terikat pada sebuah system dialog, maka sebuah teks
tidak lagi terikat pada konteks semula (ontensive reference), ia tidak terikat paka
konteks pembicaraan.40
Keempat, dengan demikian juga tidak lagi terikat pada audiens awal,
sebagaimana bahasa lisan terikat kepada pendengarnya. Sebuah lisan terikat
kepada pendengarnya. Sebuah teks ditulis bukan untuk pembaca tertentu,
melainkan kepada siapapun yang bisa membaca, dan tidak terbatas oleh ruang dan
waktu. Maksud dari “tidak terikat” adalah tidak terikat lagi dengan makna yang
dimaksud pengarang karena ada lagi tanya jawab sebab teks telah baku.
Paul Ricouer terkenal dalam publikasi ilmiah atau basis penelitian banyak
akademisi dan peneliti mengkaji tentang hermeneutika paul Ricouer dalam hadits
mahrom. Ricaouer dalam memahami Mahram tidak mengabaikan arti hadits secara
tekstual. Mahram dalam hadits tetap dimaknai sebagai bentuk pencegahan ril bagi
perempuan.
Bacaan akhirnya adalah, bahwa hermeneutika Paul Ricoeur mampu
menguatkan paham bias gender dalam Islam yang menganggap perempuanlemah
dan butuh pendampingan, bahkan dengna pendektan tersebut sudah
memfokuskan kajian ilmu hadits maupun kajian gender tidak saling bertentangan
bahkan sangat mungkin dilakukan integrasi yang saling melengkapi. Secara
keseluruhan, pendekatan yang ditawarkan oleh hermeneutika Paul Ricoeur
memiliki banyak kesamaan dengan metode ilmu hadits, khususnya pada
perempuan sisi kontketualitas dari hadits-hadits tersebut.41
Etos Alqur’an,” Afkaruna: Indonesian Interdisciplinary Journal of Islamic Studies 13, no. 1 (2017),
https://doi.org/10.18196/aiijis.2017.0066.17-47.
Mohammad Jailani et.al: Membedah Hermeneutika Perspektif Ilmuan Muslim Modern | 229
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan
ternayta metode hermeneutika dalam studi ilmu hadits sangat luas cakupannya.
Terbukti terdapat pada banyak kajian dalam basis peneliti menliti dan menganalisis
hermeneutika dalam bidang hadits. Hal itu senada dengan hermeneutika dalam
kajian Al-Qur’an. Peneliti temukan metode hermeneutika dalam perspektif hadits
tidak lagi sebagai ilmu dan dikursus ilmu saja namun juga sebagai cermin dan
pengukur alternatif yang digunakan untuk menafsirkan dan menginterpretasikan
makna hadits.
Adapun metode hermeneutika dalam perspektif ilmuan muslim
kontemporer (modern) memunculkan kayar inovasi tersendiri dalam dunia
akademisi hadits. Antara lain seperti Fazlur Rahman ouput dari hermeneutiknya
menghasilkan teori a Double Movement atau yang dikenal dengan Gerakan ganda
hal itu digunakan untuk mempermudah kajian hadits dalam aspek teks. Nahsr
Abu Hamid Zaid ilmuan muslim dikenal dengan penggagas hermenutika makna
teks, Adapun ilmuan ini juga kritis dalam mengkritisi ilmuan-ilmuan muslim
lainnya di bidang teks. Namun pada penelitian ini penelti fokus Nashr Abu Hamid
Zaid dengan analisis hadits tentang jihad dengan pisau analisisnya hermeneutika
lingisitk (ilmud dilalah). Muhammad Mushofa A’Zami ilmuan muslim dikenal
dengan kritik pada otentitas hadit di masa kaum orientalis, yang dikenal dengan
mengkritisi hermeneutic Joseph Schacht tentang teori common linknya, dan teori
projection Back. Hans Georg Gadamer lebih dikenal dengan hermeneutic
filosofisnya terbukti Ketika masih kuliah doctoral ia mampu menciptakan bagian
output dari desertasinya dijadikan metode hermeneutika filsat. Terakhir Paul
Ricaour dikenal dengan hermeneutic membela perlindugan Wanita atau disebut
dengan kajian hadits pada Mahram. Dengan hermeneutic Paul Recouer seseuai
dengan interpretasi dan penafsiran hadits.
Peneliti merekomendasi kepada peneliti dan akademisi selanjutnya,
respon, meneliti terkait lanjutan penelitian ini semisal peneliti hermeneutika
perspektif ulama fiqih, maupun hermeneutika dalam kajian living hadits di masa
pandemic Covid-19. Penelitian ini akan berkontribusi kepada kajian keislman
hadits, alqur’an, Islamic studies terkait penafsiran dan interpretasi perspektf hadits
dan alqur’an di masa kini.
230 | AL QUDS : Jurnal Studi Alquran dan Hadis vol. 6, no 1, 2022
Bibliografi
Abidah, Hunaida El, Rizkyana Wahyu, and Laras Pertiwi. “Problematika Bahasa
Al-Qur’an Sebagai Tantantan Wordview Islam.” Syaihuna 11, no. 2 (2020):
173–89.
Ahmad, Nur. “Kajian Hermeneutika Al-Qur’an Kontemporer : Telaah Kritis
Terhadap Model Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zaid.” Hermeneutik 9, no.
1 (2015): 115–38.
Amir, abdul muiz. “Hermeneutika Negosiatif - Khaled Abou EL-Fadl (Sebuah
Gagasan Komparasi Ilmu Tafsir Dan Hermeneutika).” Al-Qur’an Hadits 1,
no. 1 (2020): 20. https://doi.org/10.31227/osf.io/qx4sk.
Andriyani, L. Pembacaan Hermeneutika Hadits Tentang Perempuan Kekurangan Akal
Dan Agama: Perspektif Hans-Georg Gadamer. Pertama. Jakarta: UIN Jakarta,
2017. http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/34433.
Anshori, Muhammad. “Geneologi Hermeneutika Hukum Islam (Fikih
Kontekstual ’Umar Bin Al-Khattab.” Asy Syar’iyyah 5, no. 1 (2018): 29–50.
Asep Saepudin Jahar, Amany B. Lubis, Muhammad Fahri. “The Use of Maqasid
Al-Sharia in Maritime and National Resilience Contex.” Al-Risalah Forum
Kajian Hukum Dan Sosial Kemasyarakatan 21, no. 1 (2021): 97–110.
https://doi.org/10.30631/al-risalah.v21i1.657.
Bensaid, Benaouda, Salah Ben Tahar Machouche, and Mustafa Tekke. “An
Islamic Spiritual Alternative to Addiction Treatment and Recovery.” Al-
Jami’ah 69, no. 1 (2021): 127–62.
https://doi.org/10.14421/ajis.2021.591.127-162.
Budiman, Arif, Edi Safri, and Novizal Wendry. “Studi Kritik Hadis Perspektif
Jonathan A.C. Brown (Analisis Terhadap Three Tiered Method).” Substantia:
Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin 22, no. 1 (2020): 1.
https://doi.org/10.22373/substantia.v22i1.6853.
Dozan, Wely, and Mitha Mahdalena Efendi. “Hermene Utika Hadis Sa’dudin Al
-Utsmani: Studi Kitab Almanhaj Al-Wasthi Fi at- Ta’amil Sunnah an-
Nabawiyyah.” Sophist: Jurnal Sosial Politik Kajian Islam Dan Tafsir 2, no. 2
(2020): 183–217.
Farihin, Habibi. “Hermeneutika Rabbāniy Ala Hadis Qudsi Riwayat H } Użaifah
Bin Al-Yamān.” Riwayah: Jurnal Studi Hadis 2, no. 2 (2016): 169–82.
Hauqola, Nurkholis. “Hermeneutika Hadis: Upaya Memecah Kebekuan Teks.”
Jurnal THEOLOGIA 24, no. 1 (2016): 261–84.
https://doi.org/10.21580/teo.2013.24.1.324.
Hidayah, Siti Nur. “Pesantren For Middle-Class Muslims in Indonesia (Between
Mohammad Jailani et.al: Membedah Hermeneutika Perspektif Ilmuan Muslim Modern | 231