Eval Ipal Industri Penyamakan Kulit
Eval Ipal Industri Penyamakan Kulit
Farid Hanafi
15513007
ABSTRACT
The Leather Tannery Industry has complicated wastewater because it contains chemicals,
raw leather, meat, etc. The contents of wastewater produce high levels of COD, BOD5, TSS,
Sulfide, Chrome. Therefore, this wastewater needs to be treated at WWTP to meet quality
requirements. However, there are still various problems in the WWTP that do not meet the needs
of WWTP and effluent wastewater that still exceeds quality standards. The tannery industry in PT.
X has an average discharge of wastewater of 61.83 m3/day and a peak discharge of 104.72
m3/day. Wastewater quality testing is carried out at each wastewater treatment unit and WWTP
outlet. The testing method is based on the Indonesian National Standard (SNI) on the method of
taking wastewater and testing each parameter. The parameters of effluent wastewater effluent
released are BOD5, COD, TSS, TDS, Sulfide, total Chromium, total Ammonia, Oil & grease, pH
and temperature. Whereas the parameters of wastewater in each treatment unit in WWTP are
COD, TSS and total Chrome. BOD5 value of 25.17 mg/l, COD of 525 mg/l, TSS 93 mg/l, TDS of
3150 mg/l, Sulfide of 0.21 mg/l, Total Chrome of 0.15 mg/l, Ammonia of 0.23 mg/l, Oil & grease
of 0.26 mg/l, a temperature of 31.9°C and pH of 9.6. Suggestions from this evaluation include
optimizing anaerobic-aerobic biofilter and if needed, a constructed wetlands unit should be added
so that the quality of waste at the outlet meets the quality standard.
Keywords: leather tannery industry, wastewater, wastewater treatment plant (WWTP)
ABSTRAK
Industri penyamakan kulit Industri memiliki air limbah yang kompleks karena terdapat bahan
kimia, kulit mentah, daging dll. Kandungan air limbah hasil penyamakan kulit memiliki kadar COD,
BOD, TSS, Sulfida, Krom yang tinggi. Oleh karena itu, air limbah ini perlu diolah di IPAL agar
memenuhi baku mutu. Namun, masih terdapat berbagai permasalahan di IPAL diantaranya
seperti tidak mencukupinya kapasitas IPAL serta efluen air limbah yang masih melebihi baku
mutu. Industri penyamakan kulit di PT. X memiliki debit rata-rata air limbah sebesar 61,83 m3/hari
dan debit puncak 104,72 m3/hari. Pengujian kualitas air limbah dilakukan pada setiap unit
pengolah air limbah dan outlet IPAL. Metode pengujian berdasarkan Standar Nasional Indonesia
(SNI) tentang metode pengambilan air limbah dan pengujian tiap parameter. Parameter air limbah
elfuen IPAL yang diuji adalah BOD5, COD, TSS, TDS, Sulfida, Krom total, Amonia total, Minyak
& lemak, pH dan suhu. Sedangkan parameter air limbah pada tiap unit pengolahan di IPAL adalah
COD, TSS dan Krom total. Nilai BOD5 sebesar 25,17 mg/l, COD sebesar 525 mg/l, TSS 93 mg/l,
TDS sebesar 3150 mg/l, Sulfida sebesar 0,21 mg/l, Krom total sebesar 0,15 mg/l, Amonia sebesar
0,23 mg/l, Minyak & lemak sebesar 0,26 mg/l, suhu 31,9°C dan pH sebesar 9. Saran dari evaluasi
ini meliputi optimalisai biofilter anaerobik-aerobik dan jika diperlukan maka perlu ditambahkan
unit constructed wetlands agar kualitas limbah di outlet memenuhi baku mutu.
Kata kunci: air limbah, Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL), penyamakan kulit
1. PENDAHULUAN
Kebutuhan akan sandang merupakan kebutuhan primer bagi manusia. Kebutuhan ini
semakin meningkat karena pertumbuhan penduduk. Salah satu sandang yang digunakan berupa
tas, sandal, pakaian, dll. Sandang yang dipakai sebagian besar berasal dari kulit hewan. Kulit
hewan ini diproses melalui kegiatan penyamakan (pengawetan) yang bertujuan menghilangkan
bulu dan urat daging di kulit sehingga menjadi kulit jadi. Industri penyamakan kulit merupakan
industri yang mengolah berbagai macam jenis kulit mentah dan kulit setengah jadi seperti kulit
pikel, kulit westblue, kulit kras menjadi kulit jadi (Hidayati, 2017).
Dalam proses penyamakan kulit menghasilkan limbah padat dan cair. Limbah padat yang
dihasilkan berupa bulu, daging dan lemak. Menurut (Setiyono and Yudo, 2014) limbah padat juga
banyak mengandung kapur, garam dan bahan kimia. Sedangkan limbah cair berupa air yang
terkontaminasi zat kimia dan bahan organik. Limbah cair penyamakan kulit mengandung BOD5,
COD, TSS, Krom Total (Cr), Minyak dan Lemak, NH3-N, H2S, dan pH yang melebihi baku mutu.
Industri penyamakan kulit termasuk industri kimia karena 90% dari proses penyamakannya
menggunakan bahan-bahan kimia sehingga menghasilkan limbah cair yang mengandung polutan
organik dari bahan baku dan polutan kimia dari bahan kimia (Hidayati, 2017). Limbah cair dari
kegiatan penyamakan kulit dapat mencemari lingkungan, salah satunya komponen yang terkena
dampak adalah sungai karena menjadi pembuangan akhir. Kegiatan penyamakan kulit secara
konvensional yang menggunakan krom akan menimbulkan dampak ke lingkungan karena
membawa sisa krom (Wu, 2014).
Permasalahan yang sering terjadi dalam proses pengolahan limbah adalah belum efektif
kinerja IPAL sesuai dengan kapasitas dan lahan yang tersedia serta air limbah yang dihasilkan.
Menurut (Fatmawati et al., 2016) operasional IPAL di industri penyamakan kulit belum efektif
mengolah air limbah yang dihasilkan, salah satu penyebab tidak efektif disebabkan proses
biologis tidak berjalan dengan baik. Belum tercukupinya kapasitas IPAL juga dijelaskan pada
penelitian dari Desyana (2017) juga mengevaluasi kinerja IPAL di industri penyamakan kulit.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi kinerja unit-unit pengolahan air limbah. Selain itu
juga mengevaluasi efisiensi pengurangan dan efektivitas bangunan IPAL terhadap parameter
yang ada agar tetap memenuhi standar baku mutu menurut Peraturan Daerah Daerah Istimewa
Yogyakarta Nomor 7 Tahun 2016.
2. METODE PENELITIAN
2.1. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan selama penulisan tugas akhir berupa alat tulis, kalkulator
dan notebook. Sedangkan alat dan bahan yang digunakan selama pengujian kualitas air limbah
yaitu alat-alat laboratorium seperti spektrofotometer uv-vis, AAS (atomic absorption
spectroscopy), furnace, waterbath, water sampler, grager, roll meter, dan lain-lain. Sedangkan
bahan-bahan yang digunakan dalam pengujian ini menggunakan bahan pro analize (p.a).
2.2. Cara Kerja
Pengambilan sampel air limbah dari industri penyamakan kulit mengacu pada SNI-6989-
59-2008 mengenai metode pengambilan air limbah. Pengambilan sampel air limbah dilakukan
pada tiap unit pengolahan air limbah dan outlet IPAL. Pengambilan sampel air limbah dilakukan
secara grab sampling pada waktu proses produksi berlangsung, yaitu pukul 09.00-12.00 WIB.
Sedangkan pengambilan data debit dilakukan dengan dua cara, pertama dengan perhitungan
dari total limbah dari proses produksi dan yang kedua adalah dengan cara pengukuran langsung
di saluran air limbah dengan cara composite sampling pada tiap satu jam selama kegiatan
produksi pabrik, yaitu pukul 09.00-16.00 WIB. Sedangkan metode pengujian tiap parameter di
laboratorium dapat dilihat pada tabel 2.1 dibawah ini.
Tabel 1 Metode Pengujian Parameter
Limbah
Debit Debit
Tanggal Tanning Dyeing Total
liter liter liter L/det m3/hari
1-Apr-19 26953,20 75468,96 102422,16 3,56 102,42
2-Apr-19 9543,60 26722,08 36265,68 1,26 36,27
3-Apr-19 16005,60 44815,68 60821,28 2,11 60,82
4-Apr-19 16560,00 46368,00 62928,00 2,19 62,93
5-Apr-19 10342,80 28959,84 39302,64 1,36 39,3
6-Apr-19 - - - 0 0
7-Apr-19 - - - 0 0
8-Apr-19 24940,80 69834,24 94775,04 3,29 94,78
9-Apr-19 21513,60 60238,08 81751,68 2,84 81,75
10-Apr-19 13644,00 38203,20 51847,20 1,8 51,85
11-Apr-19 17578,80 49220,64 66799,44 2,32 66,8
12-Apr-19 19544,40 54724,32 74268,72 2,58 74,27
13-Apr-19 5328,00 14918,40 20246,40 0,7 20,25
14-Apr-19 - - - 0 0
15-Apr-19 24883,20 69672,96 94556,16 3,28 94,56
16-Apr-19 - - - 0 0
17-Apr-19 - - - 0 0
18-Apr-19 - - - 0 0
19-Apr-19 - - - 0 0
20-Apr-19 15440,40 43233,12 58673,52 2,04 58,67
21-Apr-19 7668,00 21470,40 29138,40 1,01 29,14
22-Apr-19 27334,80 76537,44 103872,24 3,61 103,87
23-Apr-19 16974,00 47527,20 64501,20 2,24 64,5
24-Apr-19 27558,00 77162,40 104720,40 3,64 104,72
25-Apr-19 4042,80 11319,84 15362,64 0,53 15,36
26-Apr-19 18061,20 50571,36 68632,56 2,38 68,63
27-Apr-19 - - - 0 0
28-Apr-19 - - - 0 0
29-Apr-19 15120,00 42336,00 57456,00 2,00 57,46
30-Apr-19 2682,00 7509,60 10191,60 0,35 10,19
Jumlah Total 341719,20 956813,76 1298532,96
2,15 61,83
Rata-Rata/hari 16272,34 45562,56 61834,90
Dari kedua perhitungan, disimpulkan bahwa debit yang digunakan untuk evaluasi IPAL ini
menggunakan data dari perhitungan jumlah limbah berdasarkan produksi total karena lebih
mewakili jumlah limbah yang dihasilkan selama satu bulan. Debit yang digunakan untuk evaluasi
ini adalah Qrata-rata = 61,83 m3/hari dan Qpuncak = 104,72 m3/hari.
Dimensi Volume
No Unit
Panjang (m) Lebar (m) Diameter (m) Kedalaman (m) (m3)
1 Bak Ekualisasi 8,7 5,76 - 4 200,45
Bak
Pengendap I
(a) - - 3,5 3 28,85
2
Bak
Pengendap I
(b) - - 3 3 21,2
Bak Aerasi (a) 16,3 4,43 - 4 288,84
3
Bak Aerasi (b) 16,3 4,52 - 4 294,7
Bak
4
Pengendap II 5,4 5,2 - 4 122,32
5 Bak Filtrasi 5,82 2,6 - 0,8 35,39
3. Sedimentasi I
Hasil perhitungan dan analisis disimpulkan bahwa nilai td (waktu tinggal) telah memenuhi kriteria
desain, sedangkan nilai OFR (overflow rate) belum memenuhi kriteria desain. Untuk lebih
jelasnya sebagai berikut:
Tabel 9 Hasil Perhitungan Bak Sedimentasi I
Data Hasil Satuan Kriteria desain
Diameter 3,5 3 m -
Kedalaman 3 3 m -
Volume 28,85 21,19 m3 -
Td 2,2 1,62 Jam 1,5-2,5
Overflow rate 10,89 14,82 m3/m2.hari 80-120
Dari hasil perhitungan dapat dianalisis bahwa nilai SVI masih terlalu besar sehingga menunjukkan
bahwa lumpur terlalu gembur sehingga menyebabkan buruknya pengendapan. Nilai rasio F/M
belum memenuhi kriteria desain. Namun nilai ini bisa diatur dengan cara mengatur laju sirkulasi
lumpur yang masuk ke bak aerasi. Semakin tinggi laju resirkulasi lumpur maka nilai rasio F/M
semakin besar. Nilai rasio resirkulasi lumpur terlalu besar, hal ini bisa diatur dengan cara
menambah laju air limbah yang masuk ke bak aerasi atau memperlambat laju resirkulasi
lumpurnya, atau dengan cara membuang lumpur sisa yang berada di bak sedimentasi biologis.
Nilai umur lumpur sudah memenuhi kriteria. Nilai beban BOD masih terlalu kecil. Nilai HRT
(hydraulic retention time) masih terlalu besar, hal ini menunjukkan bahwa bak aerasi masih bisa
mengolah debit yang lebih besar lagi agar memenuhi HRT yang sesuai.
5. Bak Sedimentasi II
Hasil perhitungan dan analisis disimpulkan bahwa nilai OFR (overflow rate) dan td (waktu tinggal)
belum memenuhi kriteria desain. dijelaskan pada tabel berikut:
Tabel 11 Hasil Perhitungan Bak Sedimentasi II
Data Hasil Satuan Kriteria desain
Panjang 5,4 m 25-40
Lebar 5,2 m 6-10
Kedalaman 4 m 3-5
Volume 112,32 m3 -
Td 8,58 Jam 1,5-2,5
Overflow rate 3,73 m3/m2.hari 80-120
3.5.4. Saran
1. Mengoptimalisasi unit koagulasi-flokulasi yaitu mengenai dosis koagulan-flokulan serta
kecepatan putaran paddle.
2. Mengoptimalisasi unit biofilter anaerobik-aerobik untuk mendegradasi polutan organik dan
anorganik.
3. Apabila memang diperlukan, perlu penambahan unit tambahan berupa constructed
wetlands setelah unit filtrasi.
4. KESIMPULAN
Uji kualitas air limbah pada outlet IPAL menunjukkan bahwa parameter BOD5, sulfida, krom
total, amonia, minyak lemak, suhu dan pH telat memenuhi baku mutu menurut Peraturan Daerah
DIY Nomer 7 tahun 2016 untuk industri penyamakan kulit. Sedangkan parameter yang belum
memenuhi adalah COD, TSS dan TDS. Perlu pengoptimalisasi unit koagulasi-flokulasi dan
biofilter anaerobik-aerobik untuk mengurangi kadar parameter yang belum memenuhi baku mutu.
Kapasitas IPAL masih sangat memenuhi untuk debit puncak, sehingga IPAL ini masih bisa
menampung debit air limbah yang lebih tinggi dari sekarang.
5. DAFTAR PUSTAKA
As, M. G. and Salimin, Z. (2013) ‘Pengolahan Logam Berat Khrom (Cr) Pada Limbah Cair Industri
Penyamakan Kulit Dengan Proses Koagulasi Flokulasi dan Presipitasi’, 2, p. 7.
Calheiros, C. S. C. et al. (2012) ‘Use of constructed wetland systems with Arundo and Sarcocornia
for polishing high salinity tannery wastewater’, Journal of Environmental Management.
Elsevier Ltd, 95(1), pp. 66–71. doi: 10.1016/j.jenvman.2011.10.003.
Desyana, A. R. (2017) Evaluasi Kinerja Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Industri
Penyamakan Kulit di Kabupaten Magetan. Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Disperindag Kab Garut (1998) ‘Revialisasi Kunci Menggerakkan Sektor Indag’, p. 45.
Eckenfelder, W. (2000) Industrial Water Pollution Control. Third Edit. Singapore: McGraw-Hill.
Available at: www.mhhe.com.
Fatmawati, N. S. et al. (2016) ‘Optimasi Kinerja Instalasi Pengolahan Air Limbah Industri
Penyamakan Kulit Magetan’, 5(2).
Gao, B., Yue, Q. and Wang, B. (2004) ‘Coagulation Efficiency and Residual Aluminum Content
of Polyaluminum Silicate Chloride in’, 32, pp. 125–130. doi: 10.1002/aheh.200300527.
Gisi, S. De, Galasso, M. and Feo, G. De (2009) ‘Treatment of tannery wastewater through the
combination of a conventional activated sludge process and reverse osmosis with a
plane membrane’, DES. Elsevier B.V., 249(1), pp. 337–342. doi:
10.1016/j.desal.2009.03.014.
Hidayati, R. (2017) ‘Studi Evaluasi Instalasi Pengolahan Air Limbah Industri Penyamakan Kulit
Pada UPT Lingkungan Industri Kulit Kabupaten Magetan’.
Kabdash, I., Tiinay, O. and Orhon, D. (1999) ‘Wastewater Control And Management In A Leather
Tanning District’, 40(I), pp. 261–267. doi: 10.1016/S0273-1223(99)00393-5.
Lofrano, G. et al. (2006) ‘Toxicity reduction in leather tanning wastewater by improved coagulation
flocculation process’, 8(2), pp. 151–158.
Lofrano, G. et al. (2013) ‘Chemical and biological treatment technologies for leather tannery
chemicals and wastewaters: A review’, 462, pp. 265–281. doi:
10.1016/j.scitotenv.2013.05.004.
Mant, C. et al. (2006) ‘Phytoremediation of chromium by model constructed wetland’, 97, pp.
1767–1772. doi: 10.1016/j.biortech.2005.09.010.
Metcalf & Eddy (1979) Water Resources and Environmental Engineering. 2nd edn. Edited by G.
Tchobanoglous. New York: McGraw-Hill.
Metcalf & Eddy (2003) Wastewater Engineering Treatment and Reuse. 5th edn. Edited by G.
Tchobanoglous. New York: McGraw-Hill.
Nopol (1998) Nopol Aeration Manual. 2nd edn. Finland: Nopon Oy.
Norhadi, A. et al. (2015) ‘Studi Debit Aliran Pada Sungai Antasan Kelurahansungai Andai
Banjarmasin Utara’, 7(1).
Nurfitriyani, A., Wardhani, E. and Dirgawati, M. (2013) ‘Penentuan Efisiensi penyisihan Kromium
Heksavalen (Cr6+) dengan Adsorpsi menggunakan Tempurung Kelapa secara kontinyu’,
1(2), pp. 1–12.
Nurkomala, A., Nurdiani, D. and Padmadinata, L. D. (2017) ‘Evaluasi Kinerja Unit Koagulasi
Flokulasi Pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Industri Penyamakan Kulit di
Garut’, 1, pp. 89–95.
Nurmaliakasih, D. Y., Syakur, A. and Zaman, B. (2017) ‘Penyisihan COD dan BOD Limbah Cair
Industri Karet dengan Sistem Horizontal Roughing Filtration (HRF) dan Plasma Dielectric
Barrier Discharge (DBD)’, 6(1).
Nurwati, E. (2009) Pengaruh Limbah Cair Industri Penyamakan Kulit Terhadap Kadar Kromium
Dalam Tanaman Jahe (Zinggiber officanale). UIN Sunan Kalijaga.
Said, Nusa Idaman, F. (2005) ‘Uji Performance Biofilter Anaerobik Unggun Tetap Menggunakan
Media Biofilter Sarang Tawon untuk Pengolahan Air Limbah Rumah Potong Ayam’, 1(3),
pp. 289–303.
Setiyono and Yudo, S. (2014) Daur Ulang Air Limbah Industri Penyamakan Kulit (Studi Kasus di
Lingkungan Industri Kulit, Magetan, Jawa Timur). Cetakan Pe. BPPT Press. Available
at: http://www.kelair.bppt.go.id/%0A%0A.
Song, Z., Williams, C. J. and Edyvean, R. G. (2004) ‘Treatment of tannery wastewater by chemical
coagulation’, Desalination, 164, pp. 249–259.
Spellman, F. (2014) Water and Wastewater Treatment Plant Operations. 3rd edn. Edited by T. &
F. Group. Boca Raton: CRC Press. Available at: http://www.crcpress.com.